
Ibu... Ishla langsung memeluk Amine.
"Syukurlah kau sudah sadar, sayang." Ishla memberitahu Amine jika dia sudah mendapatkan ingatannya kembali.
"Kapan kau mengingat semuanya?"
"Saat aku koma, Ibu." Ishla sudah mengingat kembali jika Aiyaz adalah kekasihnya. Hanya saja setelah mendonorkan darah untuknya, dia memutuskan untuk pergi meninggalkannya karena keluarga Diaz yang tidak setuju dengan hubungan mereka. Amine membawa Ishla ke taman dekat rumah sakit, dia merasa bosan terus berada di kamar. Saat tengah menikmati pemandangan, Ishla melihat seorang bayi yang berada dalam dorongan terlepas dari genggaman ibunya.
"Putriku... teriak sang ibu anak itu. Tanpa disadari, Ishla beranjak dari kursi rodanya dan berlari menolong bayi yang ada dalam dorongan itu. Amine terkejut melihat Ishla yang sudah bisa berjalan kembali. Ishla berhasil menyelamatkan bayi kecil itu dan menggendongnya.
"Kau sangat cantik, sayang. Untung saja aku melihatmu dan segera menolongmu." Ibu bayi itu sangat berterimakasih pada Ishla karena sudah menyelamatkan putrinya. Tidak lama Amine datang memperhatikan Ishla dari atas sampai bawah.
"Ada apa, Ibu?" Ishla melihat kakinya sudah berdiri kembali. Saat akan menolong bayi kecil itu Ishla berlari tanpa memikirkan keadaan kakinya yang lumpuh. Ishla melompat-lompat di atas kakinya.
"Ibu... Akhirnya aku bisa berjalan kembali... Ishla terlihat sangat senang dan memeluk Amine.
Kembalinya dari rumah sakit, Ishla mendapat sebuah pesan dari Arash. '*Hari ini aku akan kembali*.' Ishla sangat senang akhirnya Arash akan kembali. Dia ingat dengan janjinya dulu, jika Arash kembali nanti, Ishla sudah berjalan kembali.
Di kampus, Ashika dan Aghna dikejutkan dengan kehadiran Ishla tanpa kursi roda. Mereka menatap Ishla dari atas sampai bawah.
"Ahhhh... Ashika kegirangan melihat Ishla sudah bisa berjalan kembali. Dia memeluknya dengan cukup kencang.
"Sudah hentikan! Kau bisa saja menyakitinya." ucap Aghna.
Saat istirahat mereka pergi ke kantin untuk makan siang. Aghna sempat mengambil foto kebersaman mereka disana dan mengirimnya di akun sosial media miliknya. Aiyaz orang yang pertama kali melihat postingan Aghna. Dia ikut senang dengan keadaan Ishla yang sudah bisa berjalan kembali.
Siang itu, Aiyla sedang makan siang. Dia tersedak saat melihat postingan milik Aghna.
Uhuk... Uhuk... Uhuk... Aiyla menyudahi makannya dan fokus pada gambar di layar ponselnya.
"Bagaimana mungkin Ishla bisa berjalan kembali?" Aiyla mengirim foto itu kepada Nilam.
"Tidak mungkin!"
"Ada apa?" tanya Azizah.
Nilam menunjukkan foto yang dikirim Aiyla pada Azizah.
"Kenapa dia masih hidup? Aku pikir dia sudah lenyap tenggelam di laut." ucap Nilam dalam hati. Semua yang terjadi di luar dugaannya. Nilam yang berniat melenyapkan Ishla harus melihat dia selamat dengan kaki yang sudah bisa berjalan kembali.
"Itu berarti semua ingatannya juga sudah pulih?" ucapnya dalam hati. Nilam tidak bisa membiarkan semua itu, dia tidak ingin melihat Aiyaz dan Ishla kembali. Jika semua itu sampai terjadi, dia akan melihat perasaan putrinya akan sangat hancur.
Hari sudah mulai gelap. Ishla dan Ashika sudah menunggu Arash di bandara. Seorang laki-laki tampan berjalan ke arah Ishla, dengan memakai kaca mata hitam dengan tangan kanannya yang membawa koper.
__ADS_1
"Dimana dia?" Ishla melihat ke sekitar bandara. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Arash. Arash membuka kaca matanya, dan melambaikan tangan ke arah Ishla.
"Arash... Ishla berlari dan memeluk Arash dengan sangat erat.
"Aku sangat merindukanmu." Arash melihat Ishla tidak percaya, dalam waktu cepat ini dia sudah bisa berjalan kembali.
"Apa kabar, Dokter?" ucap Ashika.
"Aku baik. Terimakasih sudah menjaga Ishla sejauh ini."
"Sekarang aku sudah menepati janjiku, aku sudah menjaga Ishla sampai kau kembali, Dokter." Tidak lama datang seorang perempuan cantik dan berdiri di dekat Arash.
"Maaf membuatmu menunggu lama, aku sangat bingung dimana toiletnya."
"Tidak apa-apa." Arash memperkenalkan perempuan itu pada Ishla dan Ashika.
"Dia Zuhairah Basan, istriku." Ishla sangat terkejut mendengarnya. Begitupun dengan Ashika. Mereka tidak percaya jika Arash sudah menikah dan memiliki seorang istri. Kebahagiaan di wajah Ishla berubah menjadi kesedihan. Dia pikir dialah yang akan menjadi pasangan hidup Arash nanti, tetapi sudah ada perempuan lain yang mengisinya.
"Selamat atas pernikahan mu dengan Zuhairah, semoga pernikahan kalian bertahan sampai akhir." Ishla mencoba menahan air matanya. Arash tahu bagaimana perasaan Ishla saat ini, dia akan menjelaskan semuanya di depan Ishla juga Amine tentang pernikahannya dengan Zuhairah.
Malam itu semua orang sedang berkumpul di meja makan. Terdengar suara bel rumah berbunyi. Seorang pelayan pergi untuk melihatnya. Saat dilihat, tidak ada siapapun di luar, dia hanya menemukan sebuah surat yang tergeletak dilantai. Pelayan itu kembali masuk dengan membawa suratnya.
"Siapa yang datang?" tanya Azizah.
"Berikan padaku!" ucap Adlar.
Saat akan membuka surat itu, ponsel Adlar berbunyi. Dia pergi untuk mengangkat teleponnya dan menaruh surat itu di atas meja. Dengan cepat Azizah mengambil surat itu dan membukanya, '*Aku memiliki semua bukti tentang kejahatan putramu*, *Ethan*.'
"Apa isi surat itu, Nenek?" tanya Aiyla.
"Teman lamaku yang mengirim surat ini, dia bilang akan datang menemuiku beberapa hari lagi."
Setelah makan malam, Azizah ingin bicara empat mata dengan Nilam. Dia menunjukkan isi surat itu padanya.
"Bukan ini saja, Ibu. Tadi pagi aku juga menerima surat yang sama. Orang itu bilang jika dia akan membongkar kejahatan Ethan."
"Kira-kira, siapa pengirim surat ini?" tanya Azizah.
"Secepatnya aku akan mencari tahu, Ibu."
Kembalinya dari bandara, Amine melihat wajah Ishla yang sedikit murung.
"Kau kenapa, sayang? Bukankah kau senang akhirnya Arash kembali?"
__ADS_1
Ishla memberitahu Amine jika Arash tidak datang sendiri. Dia datang dengan seorang perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya. Mereka sudah menikah saat di Kanada.
"Benarkah?" Amine menutup mulutnya tidak percaya. "Lalu, apa dia akan datang kemari?"
"Dia akan datang besok untuk menemui Ibu." Ishla kembali ke kamarnya. Dia sangat bersyukur karena sudah kembali berjalan dan mengingat semuanya. Hanya saja, Ishla belum bisa percaya jika Arash sudah menjadi milik orang lain.
Setibanya di rumah, pelayan membawa barang Arash dan Zuhairah ke kamarnya. Airah pergi ke dapur menyiapkan makanan untuk Arash. Dia sangat pandai memasak karena dia memiliki sebuah restoran di Kanada dimana dia salah satu juru masaknya. Arash duduk sebentar di kamarnya. Dia tidak menyangka takdir membawanya kepada seseorang yang asing dimatanya yang kemudian menjadi istrinya sekarang. Arash harus bisa menghilangkan semua perasaan yang ada untuk Ishla. Dulu, Arash sudah berjanji pada dirinya jika dia akan mengungkapkan seluruh perasaannya pada Ishla saat dia kembali dari Kanada. Airah datang dan duduk di samping Arash.
"Aku tahu kau sangat mencintai gadis yang bernama Ishla, bukan?" Arash langsung menengok ke Airah. "Semua terlihat jelas di matamu."
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu dengan masa laluku dengan Ishla." Airah memegang tangan Arash, dia bisa mengerti dengan semua perasaan Arash saat ini. Tapi dia akan menunggu sampai Arash bisa membuka hati untuknya. Airah mengerti jika pernikahannya dengan Arash karena perjodohan kedua orang tua mereka. Mereka tidak bisa melakukan apapun selain menyetujuinya.
"Ayo kita makan! Aku sudah menyiapkan makanan untukmu."
Malam itu, Adlar pergi menemui Aiyaz. Saat tahu Adlar ada di rumahnya, Aghna tidak jadi turun ke bawah. Dia memilih duduk di kamarnya.
"Untuk apa paman datang malam-malam seperti ini?" Aghna merasa sangat cemas. "Apa dia akan bertanya soal Ishla pada kakak?" Saat itu Adlar memberitahu Aiyaz jika perasaan hatinya tidak enak belakangan ini, dia merasa seperti akan ada hal buruk yang terjadi. Sejauh ini, dia dan keluarganya baik-baik saja, tidak ada yang terjadi di dalam keluarganya.
"Tentu saja kau sebagai seorang ayah pasti akan merasakan firasat jika putrimu dalam bahaya." ucap Aiyaz dalam hatinya.
"Tolong beritahu aku, siapa putri Amine? Aku ini ayahnya, aku berhak tahu siapa putriku." Adlar sangat yakin jika Aiyaz tahu siapa putri kandung Amine.
"Maaf, Paman. Aku tidak tahu tentang itu." Aiyaz terpaksa berbohong karena dia sudah berjanji pada Amine untuk tidak mengatakan apapun tentang Ishla.
"Apa benar jika Ishla itu putri dari kerabat Amine? Setahuku Amine hanya tinggal sendiri. Dia tidak memiliki kerabat ataupun yang lainnya."
"Sungguh, Paman. Aku tidak tahu apapun tentang itu."
Keesokan paginya, setelah sarapan Arash pergi ke rumah Amine. Di sana dia disambut baik oleh Amine dan Ishla.
"Apa kabar, Arash?" tanya Amine.
"Aku baik." Arash memberitahu Amine dan Ishla jika ibunya sudah meninggal. Beberapa minggu Arash di Kanada, ibunya harus masuk rumah sakit kembali dan itulah saat terakhir Alice menghembuskan nafas terakhirnya. Amine sangat sedih mendengarnya, Alice adalah sahabat juga dokter pribadinya.
"Kenapa kau baru mengatakan semua ini?" tanya Amine.
"Banyak sekali hal yang harus aku lakukan disana, sampai lupa memberitahumu." Arash memberitahu Amine dan Ishla jika dia menikahi Zuhairah karena permintaan terakhir ibunya. Alice dan orang tua Airah teman baik, mereka sempat akan menjodohkan Arash dan Airah. Arash tidak bisa menolak permintaan ibunya, mau tidak mau dia harus menikahi Zuhairah, perempuan yang menjadi pilihan ibunya.
"Maafkan aku jika tidak mengabarimu, aku tidak ingin memberitahumu semua ini lewat telepon, aku memutuskan untuk langsung memberitahumu saat kembali darisana." ucap Arash pada Ishla.
"Tidak apa-apa, Arash. Aku ikut senang melihatnya. Walau aku baru pertama kali melihatnya, tapi dari cara dia bersikap dan bicara aku yakin dia perempuan yang sangat baik." ucap Ishla.
__ADS_1
Amine meminta Arash untuk menjaga Zuhairah. Dia sudah menjadi istrinya. Seorang istri adalah pakaian bagi suaminya, begitupun sebaliknya. Itu adalah rencana terbaik yang sudah Allah takdirkan untuk Arash. Dia hanya bisa mendo'akan untuk kebahagiaan Arash dan Zuhairah. Arash merasa sedikit lega sudah menceritakan semuanya pada Amine dan Ishla. Tidak ada lagi yang harus dia tutup-tutupi dari mereka.