CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
SURAT TERAKHIR NILAM


__ADS_3

Malam itu, Ishla sedang menonton film bersama ibunya. Tidak lama seseorang menelepon Amine dan memberitahunya tentang kematian Nilam. Amine terkejut saat mengetahuinya.


"Ada apa ibu?" tanya Ishla.


"Ibu baru mendapat kabar jika Nilam meninggal saat di rumah sakit."


"Benarkah?" Amine langsung mengganti siaran televisinya. Berita kematian Nilam sudah tersebar dimana-mana. Ishla tidak percaya jika Nilam meninggal dengan cara bunuh diri. Ishla teringat dengan Aiyla, pasti sekarang ini dia sangat terpukul atas kematian ibunya. Di satu sisi, Aiyaz dan Aghna pergi ke kediaman Diaz untuk berbela sungkawa.


"Kenapa bibi Nilam bisa sampai masuk ke rumah sakit jiwa, kak?"


"Aku tidak begitu tahu, tapi Aiyla pernah memberitahuku jika ibunya itu hampir saja membunuh neneknya."


Sesampainya disana, Azizah mengajak Aiyaz ke taman belakang. Disana sudah ada Aiyla yang sejak tadi tidak berhenti menangis. "Selesai kembali dari pemakaman, Aiyla terus saja menangis. Dia tidak mau makan sejak tadi," ucap Azizah. Aiyaz menghampiri Aiyla dan duduk bersamanya. Melihat kedatangan Aiyaz, Aiyla langsung memeluknya. Dia mengeluarkan semua kesedihannya di pundak Aiyaz.


"Sudahlah, jangan menangis lagi!" ucap Aiyaz sambil menghapus air mata Aiyla. Tidak lama pelayan datang dan membawa makan malam untuk Aiyla.


"Nona, makan malamnya sudah siap."


"Aku tidak lapar! Bawa saja lagi makanannya ke dalam!"


"Berikan makanan itu padaku!" Aiyaz mulai menyuapi makan itu pada Aiyla, Makanlah dulu, jika tidak kau bisa sakit nanti." Aiyla membuka mulutnya dan memakan makanannya. Aiyla kembali menangis mengingat kepergian ibunya. Aiyaz langsung memeluk Aiyla untuk menenangkannya. Saat Aiyaz sedang menemani Aiyla, Adlar datang dan memintanya untuk ikut ke ruangannya.


Tiba di ruangan, Adlar memberitahu Aiyaz jika Aiyla sangat terpukul atas kepergian ibunya. Dia meminta Aiyaz untuk selalu menjaga Aiyla, karena hanya dengannya lah Aiyla akan bahagia. Aiyaz berjanji pada Adlar jika dia akan menjaga dan membuat Aiyla bahagia.


"Apa aku boleh meminta satu hal lagi padamu?" tanya Adlar.


"Katakan paman! Apa itu?"


"Nikahi dia, dan hiduplah bersamanya! Dengan begitu, aku yakin jika kau benar-benar akan menjaganya." Aiyaz terdiam mendengar permintaan Adlar, dalam hati kecilnya dia masih menginginkan Ishla untuk kembali.


"Aku tahu semua tidak mudah, nak. Kau tidak mencintai putriku, tapi putriku sangat mencintaimu. Saat aku melihat putriku bersamamu, disitulah aku melihat kebahagiaan yang terpancar di wajahnya. Seiring berjalannya waktu aku yakin kau juga akan mencintai putriku, nak."


"Aku tidak bisa memberikan jawabannya sekarang, paman."


"Baiklah, aku akan memberimu waktu selama tiga hari."


Setelah percakapan itu, Aiyaz kembali menemui Aiyla di halaman belakang. Di sana terlihat Aiyla yang sudah tertidur di kursi. Aiyaz merasa aneh setiap kali dia dekat dengan Aiyla, tidak ada sedikitpun perasaan yang dia rasakan seperti yang dirasakan saat bersama Ishla. Aiyaz teringat dengan perkataan Adlar padanya, "Aiyla sangat mencintaimu, nak. Hanya denganmu lah aku bisa melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah putriku."


\*\*\*


Pagi ini, Ethan bersiap untuk menemui ibunya di rumah sakit. Tiba disana, seorang perawat yang mengurus Nilam datang.


"Ada apa tuan?"


"Aku datang untuk berkunjung, dimana ibuku? Apa dia masih ada di kamarnya?"


"Apa tidak ada orang yang memberitahumu?"

__ADS_1


"Soal apa?" Perawat memberitahu Ethan jika ibunya meninggal kemarin pagi karena bunuh diri. Ethan yang mendengar itu langsung menyangkalnya. "Tidak mungkin! Kau pasti berbohong bukan?" Perawat memberi sebuah surat yang dia temukan di kamar Nilam. Surat itu kemungkian ditulis Nilam sebelum dia meninggal. Ethan tidak percaya mendengar kabar itu, dia pergi untuk mencari Nilam di kamarnya.


"Ibu... kau dimana?"


"Tolong jangan membuat keributan disini, tuan! Jika tidak aku akan segera menghubungi polisi." Mendengar nama polisi, Ethan langsung pergi karena tidak ingin penyamarannya sampai diketahui. Ethan langsung menancap gas mobilnya untuk menemui Azizah.


\*\*\*


Pagi ini, Aiyla sangat membutuhkan udara segar setelah kemarin mengurung diri di kamar. Dia mengajak Aiyaz untuk menemaninya lari pagi. Mereka lari di dekat selat. Aiyaz mengajak Aiyla sarapan di dekat selat, kebetulan kemarin Aiyla hanya bisa makan sedikit. Tidak lama seseorang datang dengan membawa dua kebab dan dua gelas teh. "Makanlah dulu, supaya kau bisa mendapatkan tenagamu kembali." Sementara itu, Ethan sudah sampai di rumah. Dia bergegas masuk mencari Azizah. "Nenek, kau dimana?" Tidak lama Azizah datang, "Ada apa? Kenapa kau berteriak seperti itu?" Ethan langsung menanyakan semua kebenaran akan kematian ibunya, dan Azizah membenarkannya.


"Kenapa nek? Kenapa kau tidak memberitahuku akan kematian ibu? Setidaknya aku bisa melihat dia untuk yang terkahir kalinya."


"Apa aku harus menyuruh orang untuk membawamu menemui ibumu? Apa kau lupa, sekarang ini kau sedang diburu polisi. Jadi, jangan bertindak gegabah!"


Di luar, sudah ada Will yang terus memantau rumah Diaz, dia langsung memberitahu Amine tentang keberadaan Ethan di rumah besar itu.


"Halo, Will! Ada apa?"


"Sekarang ini Ethan berada di rumah Azizah, nyonya."


"Beritahu polisi semua itu, jangan lupa berikan juga foto saat Azizah bersama Ethan kemarin siang. Itu akan menjadi bukti jika Azizah telah menyembunyikan Ethan dari polisi."


"Baik, nyonya."


Azizah sangat tahu kesedihan yang Ethan rasakan. Bukan hanya dia, semua orang juga bersedih atas kepergian Nilam yang seperti itu.


"Dimana makam ibu sekarang?"


"Baiklah, aku akan pergi kesana!"


Saat Ethan akan pergi, dia melihat beberapa mobil polisi yang memasuki rumahnya. Ethan langsung kembali masuk ke dalam.


"Ada apa?" tanya Azizah heran.


"Ada polisi di luar, nenek."


"Baiklah, kau bisa keluar lewat pintu belakang!


"Bagaimana dengan mobilku?" Azizah meminta Ethan untuk segera pergi.


Tok... Tok... Tok...


Seorang pelayan pergi untuk membukanya.


Saat tahu polisi yang datang, pelayan itu sedikit terkejut karena Ethan sekarang ini sedang ada di rumah.


"Siapa yang datang?" tanya Azizah.

__ADS_1


Sambil mempersilahkan duduk Azizah pergi ke dapur untuk memperingatkan pelayan untuk tidak mengatakan apapun yang berkenaan dengan Ethan.


"Ada tujuan apa kau datang kemari, pak?" tanya Azizah.


"Dimana cucumu itu? Kami tahu kau ikut membantu dia dalam persembunyiannya, bukan?"


Azizah sedikit tertawa mendengar tuduhan polisi. Dia bersikap seolah tidak tahu apapun. "Apa kau bisa membuktikan semua perkataan mu itu pak?" Polisi menunjukkan sebuah foto dimana saat itu Azizah bertemu dengan Ethan di sebuah cafe di dekat rumah sakit. Azizah sangat terkejut melihat foto itu. Dia langsung diam tidak berkutik.


"Apa kau akan menyangkal foto ini, nyonya? Tolong jangan mempersulit tugas kami! Jika kau tahu dimana Ethan, beri tahu kami! Salah seorang polisi datang dan membisikkan sesuatu pada polisi ketua.


"Mobil siapa yang terparkir di depan?" tanya ketua polisi. Azizah terdiam tidak bisa menjawab. "Apa itu mobil Ethan? Itu berarti dia...


Polisi langsung menyuruh anak buahnya untuk segera memeriksa semua ruangan di rumah itu. Pelayan terkejut saat mendapati Ethan di halaman belakang.


"Kau sedang apa disini, tuan? Polisi sedang memeriksa semua ruangan."


"Tolong bawakan aku tangga! Atap ini terlalu tinggi untuk aku panjat."


Tidak lama pelayan membawa sebuah tangga yang cukup panjang. Dia membantu Ethan untuk meloloskan diri. Tidak lama polisi datang dan melihat ada sebuah tangga. Pelayan sedikit gemetar karena takut jika sampai dia ketahuan membantu Ethan pergi.


"Untuk apa tangga itu?" tanya polisi.


"Aku akan merapikannya kembali, pak. Kebetulan kemarin tukang kebun menggunakan tangga ini untuk memotong pohon yang sudah tinggi." Azizah sedikit lega karena pelayannya itu ternyata pintar juga untuk mengelabui polisi. Saat tidak menemukan keberadaan Ethan di rumah itu, terpaksa polisi harus membawa Azizah ke kantor untuk dimintai keterangan lebih banyak lagi.


\*\*\*


Siang itu, Ishla meminta sopir untuk mengantarnya pulang. Ada beberapa berkas yang tertinggal di meja kerjanya. Di tengah perjalanan, Ishla melihat Aiyla yang berada di depan sebuah toko. Tidak lama sekumpulan anak-anak berlari ke arahnya. Mereka terlihat memainkan kursi roda Aiyla sampai akhirnya dia terjatuh. Salah seorang anak menjatuhkan kursi roda itu, lalu pergi.


"Berhenti disini pak!" ucap Ishla pada sopir. Ishla langsung turun untuk membantu Aiyla. "Kau tidak apa-apa?" Saat Aiyla melihat Ishla yang membantunya, dia langsung menolaknya.


"Untuk apa kau disini?" Aiyla mencoba menggapai kursi rodanya, namun jaraknya terlalu jauh. Ishla membenarkan kuris roda itu dan membantu Aiyla untuk berdiri.


"Lepaskan aku! Aku tidak butuh belas kasihan darimu!"


"Aku hanya ingin membantumu, apa itu salah?" tanya Ishla.


"Waktu yang salah karena sudah mempertemukanku dengan perempuan sepertimu! Kau tahu... ibuku harus masuk ke rumah sakit jiwa karena dia terus saja dibayangi wajah ibumu juga kau! Dia seperti orang gila yang dijauhi semua orang! Kau juga yang telah menyebabkan ibuku meninggal! Jangan berpura-pura baik padaku setelah apa yang sudah kau lakukan pada ibuku!"


"Apa kau sudah selesai menuduhku dengan yang bukan-bukan?" Ishla memberitahu Aiyla jika dia sama terkejutnya saat mengetahui kematian Nilam yang seperti itu.


"Kau sudah membuat hidupku hancur! Jadi tolong... jangan pernah lagi muncul di depanku! Aku muak melihat wajahmu itu!" tegas aiyla. Tidak lama Aiyaz datang dan melihat Aiyla yang sudah ada di bawah. Aiyaz mencoba membantu Aiyla ke kursi rodanya. Dia baru menyadari jika disitu juga ada Ishla.


"Untuk apa kau disini?" tanya Aiyaz.


"Tentu saja untuk menolongnya, apa lagi?" Ishla langsung meninggalkan mereka. Dia sedikit kesal dengan dirinya sendiri, andai saja dia tadi tidak turun untuk menolong Aiyla, pasti suasana hatinya tidak akan berubah menjadi buruk seperti ini.


\*\*\*

__ADS_1


Saat hari sudah gelap, Ethan baru saja tiba di makam ibunya. Dia menangis di atas kuburannya. "Ibu... kenapa kau pergi meninggalkan aku? Bukankah aku sudah berjanji untuk membawamu pergi dari tempat itu? Tapi kenapa kau justru mengakhiri hidupmu seperti ini?" Ethan teringat dengan surat yang diberi perawat saat di rumah sakit. Dia langsung membuka surat itu dan membacanya.


'Ethan, putraku... maafkan ibu karena ibu sudah tidak sanggup lagi menanggung semua penderitaan ini. Sepertinya kalian sudah melupakan aku. Nenekmu, ayahmu, Aiyla, bahkan kau sendiri sangat jarang untuk menemuiku. Aku akan pergi agar kalian semua bisa hidup bahagia. Kehadiraku selama ini di tengah-tengah kalian itu sama sekali tidak ada artinya, apa yang aku lakukan semuanya salah di mata kalian. Teruntuk putraku... saat ibumu sudah tidak ada lagi, tolong balaskan dendamku pada orang-orang yang sudah membuat hidupku hancur seperti ini, terutama pada Amine juga putrinya, Ishla'


__ADS_2