CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
BATALNYA PERNIKAHAN


__ADS_3

Malam itu, Glan dan Myra telah tiba di hotel. Kamar mereka bersebelahan. Selesai merapikan semua barangnya, Glan langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Ishla. "Kemana Ishla? Kenapa dia tidak mengangkat teleponnya?" ucapnya. Zafer mencoba menelepon ke telepon rumah tapi tidak ada jawaban sama sekali.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!" ucap Glan.


Datang beberapa pelayan dengan membawa hidangan makan malam.


"Ini makan malamnya tuan," ucap pelayan.


"Taruh saja disana!" ucap Glan.


Setelah pelayan hotel keluar, Myra datang menemui Glan. "Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu khawatir?" tanya Myra.


Glan memberitahu Myra jika ponsel Ishla sangat sulit untuk dihubungi. Dia begitu mencemaskannya setelah apa yang terjadi pada Ishla belakangan ini. Kesehatannya belum pulih betul, dia membutuhkan seseorang untuk selalu ada bersamanya.


"Sebesar itu kau mengkhawatirkan Ishla," ucap Myra dalam hati. "Dia begitu penting bagimu."


Myra meminta maaf karena dirinya dia harus ikut dalam pekerjaan ini dan membuatnya jauh dari Ishla.


"Coba telepon lagi nanti! Mungkin Ishla meninggalkan ponselnya di kamar," ucap Myra. "Aku akan memanggil yang lain untuk makan malam."


"Kalian makan saja! Aku tidak lapar," ucap Glan sambil melangkah pergi ke luar kamar.


"Kau mau pergi kemana?" tanya Myra.


"Mencari udara segar," jawab Glan.


Di satu sisi, Amine mendatangi rumah keluarga Diaz. Tiba disana banyak perayaan yang sedang berlangsung di tempat itu.


"Dimana Azizah?" tanya Amine pada seorang pelayan.


"Dia ada di kamarnya, nyonya." Azizah sangat terkejut melihat kedatangan Amine di rumahnya. Dia terlihat sangat cemas.


"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Azizah.


"Jangan berpura-pura tidak tahu! Dimana putriku sekarang? Cepat katakan!" Emosi Amine mulai naik. Azizah bersikap seakan dia tidak tahu apa-apa. Dia pergi dan tidak sengaja menabrak Adlar.


"Ada apa ibu?" tanya Adlar. Dia terkejut saat melihat kedatangan Amine di rumahnya.


"Kapan kau datang?" tanya Adlar.


Amine mengabaikan Adlar. Dia menarik tangan Azizah dengan paksa. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganmu itu! Kau sudah menyakiti ibuku," ucap Adlar.


Amine mencoba menenangkan dirinya. Dia memberitahu Adlar jika Azizah dan Ethan sudah bekerja sama untuk menculik Ishla.


"Apa benar yang dikatakan Amine?" tanya Adlar pada ibunya.


"Dia bohong Adlar! Aku tidak tahu sama sekali tentang hilangnya Ishla," jawab Azizah. Mendengar suara keributan, Aiyla dan Aiyaz datang.


"Ada apa ini?" tanya Aiyla.


"Aku mohon, pergilah dari sini sebelum penjaga yang membawamu dengan paksa," ucap Adlar.

__ADS_1


Amine memperingatkan Azizah jika sampai besok pagi dia tidak mengembalikan Ishla padanya, maka pernikahan Aiyla tidak akan berjalan. Setelah Amine pergi, Azizah mendapat telepon dari Ethan.


"Siapa yang menelepon ibu? Kenapa kau tidak mengangkatnya?" tanya Adlar.


Azizah terlihat khawatir, tangannya gemetar. Dia langsung mematikan teleponnya. Adlar merebut ponsel itu darinya. Dia terlihat marah sata tahu yang menghubunginya ternyata Ethan.


"Apa semua ini ibu? Untuk apa Ethan meneleponmu? Apa yang dikatakan Amine tadi memang benar?" tanya Adlar.


Azizah bersikeras mengatakan jika dia tidak tahu apapun tentang hilangnya Ishla. Azizah mengambil kembali ponselnya dari tangan Adlar.


\*\*\*


Ishla mulai membuka matanya. Dia sangat terkejut saat melihat dirinya berada di dalam sebuah kapal. "Dimana aku?" ucapnya. Tidak lama seseorang datang dengan membawa makanan untuk Ishla.


"Siapa kau?" tanya Ishla.


"Dia anak buahku," jawab Ethan yang muncul dari belakang. "Makanlah dulu, setelah itu kau akan melihat apa yang akan aku lakukan padamu," ucap Ethan.


Wajah Ishla terlihat sangat pucat. Dia membutuhkan obat itu untuk meringankan sakit di kepalanya. Ethan sedikit khawatir melihat keadaan Ishla, dia menyuruh anak buahnya untuk memanggil dokter. Berselang beberapa jam, seorang dokter akhirnya tiba di kapal. Will yang menyaksikan semua itu langsung memberitahu Amine. Mendengar hal itu, Amine langsung bergegas menuju pelabuhan. Dia menyuruh mereka untuk bergegas ke atas kapal.


Sementara itu, di kamarnya Azizah menelepon Ethan dan memberitahunya jika Amine sudah tahu semuanya. Dia meminta Ethan untuk segera membawa Ishla pergi jauh. Seseorang datang dan memberitahu Ethan jika mereka sedang diawasi. Sebelum Amine datang, Ethan sudah menyiapkan sebuah sangkar besi berukuran besar. Dia memasukkan Ishla ke dalam sangkar itu.


"Lepaskan aku dari sini!" ucap Ishla.


Ethan menyuruh nahkoda kapal untuk segera pergi meninggalkan pelabuhan itu. Melihat kapal itu sudah pergi, Amine meminta Dave untuk menyusulnya. Saat kapal Amine berhasil menghadang kapal Ethan, dia dan Will pergi untuk memeriksa kapal milik Ethan. Amine maupun Will tidak menemukan keberadaan Ishla disana.


"Dimana putriku?" teriak Amine.


Amine terlihat sangat marah. Jika memang Ishla tidak ada bersama Ethan, lalu dimana dia sekarang? Ethan menyuruh nahkoda untuk kembali ke pelabuhan. Dia tidak mau Amine semakin curiga padanya.


"Dimana gadis itu? Kenapa dia tidak ada di kapal?" tanya anak buahnya.


"Dia sedang menikmati pemandangan di bawah laut," ucap Ethan sambil tertawa puas. Dia menyuruh anak buahnya untuk segera mengangkat sangkar besi itu dari dalam laut sebelum Ishla kehabisan nafas. Ethan melihat Amine dan anak buahnya sudah pergi. Malam ini dia akan pergi menemui neneknya.


"Jaga dia sampai aku kembali!" perintah Ethan pada anak buahnya.


"Siap tuan!"


\*\*\*


Selesai makan malam, Myra mencari keberadaan Glan. Dia terlihat sedang duduk di area taman dekat hotel. Myra ingin sekali menghilangkan kesedihan yang dirasakan Glan tapi dia tidak berani untuk mendekatinya. Myra menatap Glan dari jauh. Di satu sisi, Glan merasa sangat kesal karena sejak tadi ponsel Ishla tidak bisa dihubungi. Jam sudah menunjukkan pukul 00.30 malam. Saat kembali ke kamar hotel, Glan melihat Myra yang sedang tertidur di kamarnya. Dia melihat jendela kamarnya terbuka dan pergi untuk menutupnya. Udara di luar malam itu sangat dingin. Dia tidak mau terjadi apapun pada Myra karena besok adalah hari yang paling menentukan untuknya. Glan melihat tubuh Myra yang menggigil kedinginan. Dia mengambil selimut dan memakaikannya pada Myra. Malam itu Glan tidak tidur. Dia menunggu Ishla untuk meneleponnya.


Pagi kembali datang menyapa. Myra menggeliat pelan. Saat membuka matanya dia sempat terperanjat karena melihat kamarnya yang berbeda. "Kamar siapa ini?" ucap Myra. Dia ingat jika tadi malam dia sempat ketiduran di kamar Glan. Myra segera bersiap dan pergi menemui Glan. Saat turun ke bawah, Myra melihat Glan sedang sarapan. Saat menemui Glan, Myra sangat malu dengan apa yang sudah dia lakukan di kamarnya.


"Maafkan aku karena sudah tidur di kamarmu," ucap Myra tulus.


"Tidak masalah, duduklah!"


Glan memesankan makanan untuk Myra.


"Dimana kau tidur semalam?" tanya Myra.


"Aku terjaga semalaman," jawab Glan.

__ADS_1


"Apa ponsel Ishla masih belum bisa dihubungi?" tanya Myra kembali.


Glan hanya menggeleng pelan. Saat makanannya sudah tiba, dia beranjak pergi dari tempat itu. Dia meminta maaf pada Myra karena tidak bisa menemaninya sarapan. Dia harus pergi untuk melakukan sesuatu. Myra hanya bisa menatap kepergian Glan. Dia tahu apa yang sedang dirasakan pria itu. Dia begitu mencemaskan Ishla, pujaan hatinya. Myra meninggalkan meja makan dengan semua makanannya yang masih utuh. Dia hanya ingin fokus pada acaranya nanti malam. Glan pergi ke sebuah cafe yang tidak jauh dari hotel. Dia menyuruh orang kepercayaannya untuk mencaritahu kondisi Ishla.


Sementara itu, di rumah besar Diaz banyak tamu undangan yang sudah berdatangan. Adlar dan Azizah berada di depan pintu untuk menyambut para tamu. Aiyaz terlihat sudah berada di bawah untuk menunggu calon mempelai wanita turun. Aghna melihat ekspresi wajah kakaknya itu campur aduk. Dia harus terlihat bahagia walau mungkin hati kecilnya itu menangis. Wajahnya terlihat jelas jika ia sangat terpukul dengan pernikahan ini. Aghna mendekati kakaknya dan memberikan semangat untuknya. Dia meyakinkan Aiyaz jika apa yang akan terjadi padanya hari ini sudah menjadi sebuah tulisan takdir yang tidak seorangpun bisa mengubahnya. Saat Adlar sibuk menyambut tamu, Ethan melakukan penyamaran supaya bisa masuk ke dalam rumah itu. Dia ingin sekali menyaksikan adik kesayangannya itu menikah dengan pria yang dicintainya. Tidak lama anak buah Ethan memberitahunya jika keadaan di kapal sedang gawat. Ethan tidak ingin ada kegagalan dalam rencananya ini. Dia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Tiba di kapal, Ethan meminta nahkoda untuk segera berangkat. Dave yang mengetahui akan hal itu, langsung menghubungi Amine.


"Halo nyonya! Kapal itu akan segera berangkat," ucap Dave.


"Baiklah, terus ikuti kapal itu dan jangan sampai kita kehilangan jejak!"


Amine meminta anak buahnya untuk menculik Aiyla dari rumah itu. Hanya dengan cara ini Ethan akan memberitahu dimana keberadaan Ishla sebenarnya. Semua orang terpesona dengan kecantikan Aiyla. Dia mulai menuruni anak tangga satu persatu. Di bawah sudah ada Aiyaz yang sedang menunggunya. Saat mereka akan melakukan ijab kabul, beberapa orang datang dan mengacaukan semuanya.


Dor! Dor! Dor!


Semua orang berlarian keluar. Orang itu langsung membawa Aiyla pergi.


"Ayah, tolong aku!" teriak Aiyla.


Adlar dan Aiyaz mengikuti mobil itu dari belakang. Azizah bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.


"Halo! Siapa ini?" suara Azizah terdengar sangat panik.


"Sudah aku peringatkan nyonya, jika sampai besok pagi putriku belum juga kembali, maka tidak akan ada perayaan di rumahmu," Amine segera menutup teleponnya. Azizah tahu kemana dia harus pergi. Amine pasti membawa Aiyla ke pelabuhan. Dia meminta sopir untuk mengantarnya kesana. Di dalam perjalanan, Azizah menghubungi Ethan dan memintanya untuk kembali. Ethan yang selalu mendengar perkataan neneknya, tapi tidak sekarang ini. Dia sudah tidak sabar ingin membuang Ishla jauh dari kota ini. Tiba di pelabuhan, Amine dan anak buahnya langsung naik ke atas kapal. Dave sudah mengirim letak lokasinya. Adlar sangat terkejut saat mengetahui jika Amine yang sudah membawa pergi Aiyla. Dia meminta seseorang untuk segera menyewakan kapal. Saat akan pergi menyusul mereka, Azizah datang dan naik ke atas kapal. Dia terus menghubungi Ethan untuk membawa Ishla kembali sebelum Amine bertindak lebih jauh lagi pada Aiyla. Di kapal, Ishla sudah cukup lama terkena sinar matahari. Dia terlihat sangat lemas dan pucat. Dia mendapati hidungnya yang kembali mengeluarkan darah.


"Ethan..." teriak Amine.


Ethan melihat tiga kapal yang sedang mengikutinya dari belakang. Dia meminta nahkoda untuk mempercepat perjalanannya. Saat Ethan melihat posisi Amine dengan teropong, dia melihat Aiyla berada di atas kapal yang sama dengan kaki dan tangannya terikat. Ethan menghentikan kapal itu. Dia memilih kembali demi keselamatan adiknya. Saat kapal mereka saling bertemu, Amine mendesak Ethan untuk memberitahu keberadaan Ishla.


"Lepaskan adikku!" ucap Ethan.


"Kembalikan dulu putriku, baru aku akan melepaskan adikmu," ucap Amine.


Saat mereka sedang berdebat, Adlar datang untuk menyelamatkan putrinya. Amine segera mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkannya ke kepala Aiyla.


"Diam kalian semua disana! Jika satupun ada yang mencoba untuk mendekat, aku tidak segan untuk menembak kepala putrimu ini," ucap Amine. Azizah memohon pada Ethan untuk melepaskan Ishla demi keselamatan Aiyla. Dia tidak ingin terjadi hal buruk pada cucunya. Aiyla menatap neneknya penuh amarah.


"Kau sudah menghancurkan semua impianku, nenek. Seharusnya hari ini menjadi hari paling bahagia bagiku karena akan menikah dengan Aiyaz, tapi semua hancur gara-gara kau!" Azizah tidak bisa menahan tangis. Dia begitu terpukul saat Aiyla menyalahkan dirinya untuk semua yang terjadi. Amine melihat gelembung yang muncul dari dalam laut. Dia meminta Will untuk mencaritahu. Ethan tidak tinggal diam, dia meminta anak buahnya untuk menyerang Will. Amine memperingatkan Azizah jika terjadi hal buruk pada putrinya, dia akan melakukan hal sama pada Aiyla. Saat mereka saling menghajar satu sama lain, Ethan mengeluarkan pistol dan mengarahkannya pada Will. Amine sangat terkejut saat Azizah merebut pistol itu darinya.


Dor! Dor! Dor!


"Kakak..., teriak Aiyla histeris. "Nenek, kenapa kau menembaknya?" Azizah langsung membuang pistol itu dari tangannya. Dia melihat tubuh Ethan yang berlumuran darah karena tembakan itu. Tidak lama Ethan jatuh dan tidak sadarkan diri. Saat Will memeriksa keadaannya, dia sangat terkejut saat mendapati Ethan yang sudah tidak bernyawa lagi. Semua orang diam tidak percaya.


"Ethan..." teriak Azizah histeris. "Maafkan aku, nak...


"Kau ini sebenarnya penjahat atau apa? Tega sekali kau menembak cucumu sendiri," ucap Aiyla.


Azizah tidak bisa menerima semua tuduhan itu, dia tidak sanggup jika harus dipenjara seumur hidupnya. Dia tidak sanggup hidup dengan kebencian semua orang padanya. Azizah mengambil pistol itu dan menembakkannya tepat di kepala.


Dor! Dor! Dor!


"Ibu..."


Aiyla begitu terpukul melihat dua orang yang amat dicintainya meninggal di depan matanya.

__ADS_1


__ADS_2