CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
KECURIGAAN MUSTAFA


__ADS_3

Sore itu Amine baru selesai meeting. Dia segera menemui Mustafa di ruangannya.


"Maaf membuatmu menunggu lama, ucap Amine.


"Tidak masalah, Nak."


"Apa hal penting yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Amine.


Mustafa memberitahu tentang kecurigaannya pada seorang pemuda yang pernah mengunjungi toko bukunya beberapa hari yang lalu. Dia datang bukan untuk mencari buku, tetapi menanyakan rekaman CCTV tentang kecelakaan tiga tahun yang lalu.


"Apa dia memberitahu namanya?" tanya Amine.


"Tidak, tetapi aku sangat mengingat wajahnya. Dia seperti berasal dari keluarga kaya. Itu terlihat dari cara dia berpakaian dan membawa sebuah mobil mewah.


"Kenapa dia mencari rekaman CCTV itu?" tanya Amine.


Mustafa yakin pemuda itu terlibat dalam kecelakaan tiga tahun yang lalu. Bisa jadi dia itu seorang saksi mata, tetapi tidak menutup kemungkinan jika dia pelaku tabrak lari itu. Tidak mungkin orang datang begitu saja dan menanyakan hal yang sudah lama terjadi. Itu kemungkinan dia mengetahui sesuatu.


"Bagaimana aku bisa menemukan pemuda itu?" tanya Amine.


Mustafa mencoba mengingat sesuatu, sebelum pergi meninggalkan toko, pemuda itu menerima telepon dari seseorang, dia akan pergi untuk mengikuti balapan. Sore itu Amine membawa Mustafa ke rumahnya. Dia masih memerlukan Mustafa untuk mencari tahu tentang pemuda itu.



Sore itu, Ishla mengantar keberangkatan Arash menuju bandara. Dia terlihat sangat sedih. Arash berjanji akan kembali secepatnya. Dia ingin saat dia kembali, Ishla sudah bisa berjalan lagi.


"Saat aku tidak ada, kau yang harus membantunya terapi sampai dia sembuh." ucap Arash pada Ashika.


"Siap, Dokter!" ucap Ashika dengan sangat semangat.


"Tolong jaga dia! ucap Arash.


"Tanpa kau minta sekalipun, aku pasti akan menjaga Ishla."


Arash berjalan masuk ke pesawat. Dia menatap Ishla ke belakang, dan berlari untuk memeluknya. Disitu air mata Ishla tidak bisa lagi dibendung.


"Aku akan sangat merindukanmu," ucap Arash.


"Sampai jumpa."


"Sampai jumpa." Ashika mencoba untuk menghapus air mata Ishla.


"Jangan bersedih, dia sudah berjanji akan kembali untukmu." ucap Ashika.



Adlar mengundang Aiyaz dan Aghna untuk makan malam di rumahnya. Saat makan, Nilam kembali membahas pertunangan Aiyaz dan Aiyla.


"Bagaimana jika kita melakukan acaranya saat musim panas nanti? Itu sekitar dua sampai tiga bulan lagi."


"Aku ikut saja denganmu, Ibu." ucap Aiyla.


Aiyaz sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya, tanpa dia makan sedikitpun. Aghna tahu jika kakaknya itu masih memikirkan pertemuannya dengan Ishla siang tadi.


"Aiyaz, bagaimana menurut mu?" tanya Aiyla.

__ADS_1


"Apa?" Semua orang melihat tingkah Aiyaz yang sedikit berbeda.


"Apa kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan?" tanya Nilam.


"Maaf Bibi, mungkin kakak sedang memikirkan masalah yang ada di kantornya. Dia mendapat sedikit kesulitan dalam membangun proyek ini, itu sebabnya pikiran kakak sedang kacau." Aiyaz menatap Aghna, dia pandai sekali berbohong, darimana dia mendapat alasan sebagus itu?


"Masalah apa? Katakan saja, aku mungkin bisa membantumu." ucap Adlar


"Haha, kau tidak perlu repot-repot, paman. Ini hanya masalah kecil. Kakak sampai saat ini belum bisa menyelesaikan arsitektur pembangunannya. Ya.. kau tahu belakangan ini kakak lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kakak ipar.



Malam itu Amine melihat Ishla dan Ashika yang baru saja datang. Dia melihat wajah putrinya tidak seceria biasanya.


"Ada apa dengan putriku ini?" tanya Amine sambil memegang wajah Ishla.


"Apa kau sudah mengantarnya ke bandara?" tanya Amine.


"Dia sudah pergi, Ibu." Amine tahu seperti apa perasaan Ishla saat ini. "Dia akan kembali untukmu, kau harus sabar menunggunya." Amine membawa Ishla ke kamarnya. Dia harus membersihkan dirinya dan pergi untuk makan malam.


Semua orang sudah berada di meja makan, termasuk Mustafa.


"Kakek ini siapa, Ibu?" tanya Ishla.


"Dia teman lama Ibu." Amine terpaksa berbohong karena tidak ingin mengingatkan Ishla pada masa lalunya.


"Semoga Allah segera menyembuhkan mu, Nak." ucap Mustafa.


"Aamiin."


Saat makan, Ishla terus saja menatap ke arah Mustafa. Di dalam kepalanya, dia melihat Mustafa di sebuah toko buku. Dia membantu Ishla menemukan buku yang dia cari.


"Apa kau mengingatnya?" tanya Amine.


"Tentu saja, Ibu. Dia orang yang membantuku mencari buku saat itu. Kau tahu? Lucunya lagi, buku yang aku cari itu ternyata berada di rak dekat aku berdiri." Ishla tertawa saat mengingatnya. Amine sangat senang jika ingatan Ishla sedikit demi sedikit sudah kembali. Tawanya itu seketika hilang,


"Tapi aku lupa, setelah keluar dari toko itu... Ishla mencoba mengingatnya kembali.


"Sudahlah, sayang. Kau tidak harus mengingatnya lebih jauh lagi." Amine takut jika perkataan dokter benar-benar terjadi.



Selesai makan malam, Amine meminta Zafer untuk datang menemuinya. Amine, Mustafa, dan Zafer sudah berada di ruangan yang tidak satupun orang bisa mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kau memanggilku? tanya Amine.


"Bukankah kau pernah ikut balapan liar? tanya Amine.


"Hanya sekali itu saja, Nyonya. Apa ini ada hubungannya dengan pelaku tabrak lari itu?" Pemikiran Zafer langsung mengarah kesana.


"Apa kau bisa membawaku ke tempat itu?" tanya Amine.


"Tentu saja, kapan kita akan pergi?


"Malam ini juga kita harus akan pergi." Zafer segera menyiapkan mobil. Amine mengintip Ishla di kamarnya, dia sedang berlatih berjalan dengan dibantu Ashika. Amine menemui Selma di dapur.

__ADS_1


"Apa kau membutuhkan sesuatu, Nyonya?" tanya Selma.


"Aku akan pergi sebentar, jika Ishla bertanya katakan saja aku pergi ke kantor untuk mengambil berkas penting yang tertinggal."


"Baik, Nyonya."



Malam itu Aiyaz dan Aghna pamit pulang. Mengenai pertunangannya dia sudah setuju akan melakukannya di musim panas nanti.


"Terimakasih banyak, paman. Kau sudah mengundang kami untuk makan malam disini."


"Kenapa harus berterimakasih, sebentar lagi kakakmu ini akan menjadi suami dari putriku, kita akan tinggal bersama di rumah ini."



Setelah kepergiaan Aiyaz, Aiyla datang menemui neneknya. Dia meminta maaf karena telah mempermalukan kelurga Diaz dihadapan banyak orang. Azizah melihat penyesalan di wajah Aiyla.


"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Kau harus fokus pada masa depanmu."



Sesampainya di arena balapan, benar saja seperti biasa banyak orang yang akan melakukan balapan liar.


"Itu mobil yang dipakai pemuda itu!" ucap Mustafa sambil menunjuk salah satu mobil yang ada di depannya. Mereka segera turun dari mobil. Ketika balapan akan dimulai, Amine berhenti di tengah-tengah dan menyuruh mereka semua untuk turun.


"Hey! Apa kau ingin mati? Cepatlah minggir! teriak salah satu pembalap itu.


"Jika kalian tidak turun, dalam hitungan ketiga polisi akan datang dan membawa kalian semua." Mendengar nama polisi para pembalap itu turun dari mobilnya.


"Siapa pemilik dari mobil ini?" tanya Amine sambil menunjuk salah satu mobil.


"Aku!" jawab seorang pria yang muncul dari belakang.


"Kau benar pemilik mobil ini?" tanya Amine.


"Apa aku pernah membuat masalah denganmu? tanya pria itu.


"Bukan dia orangnya," Mustafa membantahnya.


"Tapi dia pemilik mobil ini." ucap Amine.


"Mataku masih sangat jelas, aku melihat pemuda itu mengenakan mobil ini. Aku bahkan masih ingat dengan plat mobilnya. Tapi bukan dia pemuda itu.


Zafer mengingat sesuatu, pemilik mobil itu pernah mengikuti balapan liar juga. Dia kalah dan menyerahkan mobil miliknya pada orang lain .


"Kau Giorgino, bukan? Kau yang memenangkan balapan saat itu."


"Ya, aku mengingatmu. Saat itu kau kalah, dan harus menyerahkan mobil putih milikmu itu padaku."


"Sebelum kau mendapatkan mobil ini, siapa pemilik dari mobil ini?" tanya Zafer.


"Aku mendapatkan mobil ini dari Ethan, musuh bebuyutan ku saat masih SMA."


Zafer meminta foto Ethan pada Giorgino dan menunjukkannya pada Mustafa.

__ADS_1


"Apa dia orangnya?" tanya Zafer.


"Ya, dia pemuda yang datang menemui ku." ucap Mustafa.


__ADS_2