
Amine dan Celine telah tiba di bandara Istanbul. Mereka pergi untuk memesan taksi. Sebuah mobil berhenti di depan Amine. Saat dilihat, ternyata di dalam mobil itu ada Keenan. "Ayolah masuk! Aku akan mengantarmu sampai ke rumah." Amine langsung menolaknya, "Tidak, Keenan. Aku akan pergi dengan taksi saja. Lagi pula, aku harus segera pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan putriku." Saat mereka sedang berbincang, Celine datang dan memberitahu Amine jika taksi pesanannya sudah datang. Celine membantu Amine membawa koper miliknya. Saat Amine pergi dengan taksi itu, Keenan meminta sopir untuk mengikutinya. Dia sangat penasaran dengan kehidupan Amine juga putrinya. Di satu sisi, Ethan sangat senang karena dia sudah berhasil menyingkirkan Ishla. Malam ini, Ethan akan pergi menemui keluarganya, dia sangat merindukan mereka.
Malam itu penjaga rumah Diaz sedang tidak ada. Ethan dengan mudah bisa masuk ke dalam rumah itu.
Tok... Tok... Tok...
Seorang pelayan pergi untuk membukanya. Saat tahu Ethan yang datang, pelayan itu terlihat sangat terkejut. Dia langsung menyuruh Ethan untuk masuk. Semua ruangan di sudut rumah terlihat masih sama, Ethan melihat neneknya yang menuruni anak tangga. Azizah tidak percaya melihat Ethan ada di rumahnya.
"Nenek?" Ethan langsung menghampiri Azizah dan memeluknya.
"Ethan? Apa kabar, nak? Aku sangat merindukanmu," Azizah mengajak Ethan ke ruang tengah. Di sana sudah ada Adlar juga Aiyla yang sedang menonton film. Di saat yang bersamaan, Adlar dan Aiyla menatap ke arah Ethan.
"Kakak? Apa aku sedang bermimpi?" Aiyla mencubit pipinya, tapi terasa sakit. Itu berarti semua yang dia lihat itu nyata.
"Kakak... Aiyla berlari memeluk Ethan. "Akhirnya kau pulang juga, Kak. Aku sangat merindukanmu,"
Saat semua terlihat senang akan pertemuannya dengan Ethan, Adlar sendiri terlihat tidak senang. Dia hanya menatap Ethan dingin. "Apa ayah tidak merindukanku?" Adlar meminta Ethan untuk segera menyerahkan diri ke polisi. Sikap cerobohnya itu akan membuat dia dihukum lebih lama lagi.
"Aku tidak akan melakukan semua itu, ayah." bantah Ethan.
"Baiklah, kalau begitu jangan pernah kembali ke rumah ini lagi, karena kau hanya akan menambah masalah keluarga ini. " Adlar memperingatkan Ethan jika dia masih ada di rumahnya sampai besok pagi, jangan salahkan dia jika polisi akan datang untuk membawanya kembali. Adlar pergi meninggalkan ruangan. Ethan merasa sakit hati dengan perkataan ayahnya, tapi dia tidak terlalu menghiraukannya, dia datang untuk menemui ibunya
"Dimana ibu? Kenapa sejak tadi aku tidak melihatnya? Apa dia sudah tidur?" Aiyla menatap neneknya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Azizah memberitahu Ethan yang sebenarnya. Saat dia dipenjara, mental ibunya mulai terganggu. Dia sering kali meminum obat anti depresi. Semakin hari sikapnya itu membuat orang di sekelilingnya dalam bahaya, bahkan Nilam hampir saja melukai Azizah dengan pisau.
"Lalu, dimana ibu sekarang?" Azizah memberikan sebuah kertas yang berisikan alamat.
"Ini alamat ibumu dirawat, nak. Jika bisa temui dia disana. Dia pasti akan sangat senang melihatmu. Tapi ingat, jangan sampai penyamaran mu ini terbongkar." Azizah sangat mendukung perbuatan Ethan, walau itu menentang hukum. Dia tidak perduli sama sekali. Dengan Ethan berkeliaran bebas seperti itu, Azizah yakin Amine akan sangat terganggu. Dia tidak akan merasa aman sebelum polisi kembali menangkap Ethan. Sebelum Ethan pergi, Azizah memberikan sebuah kunci padanya.
"Kunci apa ini, nek?"
"Ini kunci rumah untukmu. Pergilah kesana! Rumah itu sudah lama tidak dihuni, dan sekarang kau akan tinggal disana."
"Terima kasih, nenek." Ethan melihat neneknya ragu
"Ada apa?" tanya Azizah. "Apa nenek akan memberitahu polisi dimana aku berada?"
"Kau tenang saja, nak. Aku tidak akan mengatakan apapun pada mereka.
"Lalu, bagaimana dengan ayah?"
"Ayahmu akan menjadi urusanku, pergilah!"
\*\*\*
Tidak lama taksi yang ditumpangi Amine dan Celine sampai di rumah sakit.
"Permisi, dimana kamar pasien yang bernama Ishla Diannova Laraz?" tanya Celine pada bagian resepsionis.
__ADS_1
"Ruang VIP A, nomor 309. Kamarnya ada di lantai 5, sebelah kanan kamar ke 2."
Amine dan Celine langsung menuju kesana dengan menggunakan lift. Dari bawah Keenan melihat Amine yang ada di dalam lift. "Kemana Amine pergi?" Keenan bertanya pada bagian resepsionis,dan dia pun langsung menyusul Amine. Di sana sudah ada Glan dan Myra.
"Nyonya Amine?"
"Dimana Ishla, Glan?" tanya Amine penuh cemas.
"Dia sedang ditangani oleh dokter, nyonya." Tidak lama dokter keluar dan memberitahu semua orang jika keadaan Ishla baik-baik saja. Dia juga memberitahu jika terdapat luka bakar ringan di tangannya.
"Luka bakar?" tanya Amine kaget.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ada luka bakar yang dialami putriku?"
"Kami menemukan Ishla di dalam hutan, dalam sebuah gubuk tua dengan kaki dan tangan terikat.
"Lalu?"
"Gubuk itu terbakar, nyonya."
Amine tidak percaya mendengarnya. "Siapa yang melakukan semua itu?"
"Aku tidak tahu, nyonya." Amine menunggu Ishla siuman. Kurang dari satu jam, akhirnya Ishla membuka matanya.
"Putriku?"
"Tenanglah, sayang. Ibu disini untukmu. Ibu tidak akan lagi pergi meninggalkanmu."
"Api itu hampi saja membakar ku ibu....
Amine mencoba menenangkan putrinya.
"Siapa yang melakukan semua ini padamu?"
"Ethan!" Amine sangat murka setelah mendengar nama Ethan. Saat Glan dan Myra masuk untuk melihat Ishla, Amine pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Argh...
Amine terlihat sangat marah. Dia melempar vas ke kaca kamar mandi. "Ethan!!! teriak Amine penuh amarah. "Kau mencoba membakar putriku hidup-hidup, jangan pernah harap aku akan diam saja. Aku akan membalas semua perbuatanmu itu lebih dari apa yang sudah kau lakukan." Saat Ishla sedang ditemani Myra dan Glan, tiba-tiba Keenan datang,
"Semoga kau cepat sembuh, nak." ucap Keenan.
"Maaf paman, kau siapa?" tanya Myra. Tidak lama Amine datang. "Keenan, kau disini?"
"Ibu mengenalnya?" tanya Ishla.
"Dia teman kuliah ibu, sayang."
__ADS_1
Amine sangat berterimakasih pada Myra dan Glan karena sudah menolong Ishla. Amine menyuruh mereka untuk pulang, karena dia yang akan menjaga Ishla di rumah sakit. Tidak lama seorang perawat datang dengan membawa makanan untuk Ishla. Saat dilihat, Ishla menolak untuk makan
"Kenapa kau tidak memakan makanannya?" tanya Amine.
"Aku ingin makan yang lain ibu, semua makanan di rumah sakit rasanya sangat hambar. Aku tidak mau." ucap Ishla.
"Kau ingin makan apa?" tanya Keenan. Ishla memberitahu Keenan beberapa makanan kesukaannya. Tidak lama Keenan langsung memesannya. Dia juga memesan makanan untuk dirinya juga Amine. Mereka akan makan malam bersama di rumah sakit.
"Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
"Ishla Diannova Laraz, kau bisa memanggilku Ishla."
"Nama yang sangat cantik, begitupun wajahmu sama cantiknya dengan ibumu." ucap Keenan sambil menatap Amine. Ishla tersipu malu mendengar pujian Keenan.
"Terima kasih paman, tapi sepertinya paman sedang memuji ibuku, bukan aku."
"Itu tidak benar, nak."
"Itu benar, paman. Sedari tadi kau terus saja menatap ibuku."
"Ishla, sudahlah. Bicara apa kau ini?"
Beberapa menit kemudian, perawat datang dengan membawa makanan yang dipesan Keenan. "Permisi, Tuan. Ini makanan yang kau pesan tadi." Keenan menerima semua pesanan itu. "Terima kasih, suster." Mereka berkumpul untuk makan malam bersama. Ishla mulai menyantap makanannya. "Mmm... Makanan ini sangat lezat. Terima kasih untuk makanannya, paman." Amine sangat senang melihat putrinya makan dengan lahap.
\*\*\*
Malam sudah sangat larut. Ethan pergi dari rumah Diaz dengan mobil lamanya yang masih tersimpan baik di dalam garasi. Mobil itu sudah lama sekali tidak Ethan pakai, semenjak dia pergi ke Amerika. Kembalinya dari sana, Ethan membeli mobil baru. Azizah menyarankan Ethan untuk menggunakan mobil lamanya, supaya polisi tidak bisa melacaknya. Saat itu juga Ethan pergi ke rumah Azizah yang sudah lama tidak ditempati. Sementara itu, jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Ishla terbangun karena merasa sangat haus. Dia melihat Keenan yang duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya.
"Paman? Apa kau belum tidur?" Keenan langsung menutup ponselnya dan berfokus pada Ishla. "Aku baru saja selesai meeting dengan rekan kerjaku."
"Di jam malam seperti ini?" tanya Ishla.
"Ya, itu sudah biasa bagiku."
"Jika sudah selesai, kenapa kau tidak tidur, paman?" Keenan memberitahu Ishla jika dia sedang menonton film kesukaannya. Ishla penasaran dengan film itu. Dia beranjak dari tempat tidurnya, dan duduk bersama Keenan di sofa. Keenan mulai memutar film itu.
"Ya ampun, paman... Ini film kesukaanku juga. Aku sudah lama tidak menontonnya karena sibuk dengan pekerjaan." ucap Ishla terlihat gembira.
"Benarkah? Bagaimana mungkin kita menyukai film yang sama?" ucap Keenan.
"Entahlah, aku sendiripun tidak tahu,"
Mereka berdua sangat menikmati filmnya. Sudah dua jam lamanya film itu diputar, Ishla merasa sangat mengantuk, dia tidak bisa lagi menonton filmnya.
"Paman, bisakah filmnya berhenti di eps 10? Mataku sudah sangat berat. Aku akan pergi tidur." ucap Ishla yang langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Keenan langsung menahannya. Dia mengangkat Ishla ke tempat tidur, dan menyelimutinya. Amine sempat terbangun dan melihat perhatian kecil Keenan pada putrinya.
"Jika saja Adlar yang melakukan semua itu, aku akan sangat bahagia. Begitupun putriku, dia pasti akan merasakan seperti apa perhatian seorang ayah terhadap dirinya." Amine tidur kembali sebelum Keenan menyadari jika sejak tadi dia memperhatikannya. Saat itu Keenan pun tidur di sofa.
__ADS_1