CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
MASALAH YANG DIHADAPI ISHLA


__ADS_3

Malam itu, tanpa sepengetahuan Amine, Ishla pergi menemui Ashika. Dia sangat membutuhkan seorang teman untuk mendengarkan semua ceritanya. Ashika saat itu sedang menonton televisi, saat tahu Ishla datang ke rumahnya, dia langsung mematikan televisinya.


"Kenapa kau tidak bilang akan datang?" Wajah Ishla terlihat sebam karena menangis.


"Ayolah masuk!" Ashika membawa Ishla ke kamarnya. "Apa yang terjadi?" Ishla menceritakan semuanya, dia tidak tahu apa kebenarannya, dia benar-benar tidak bisa mengingat kejadian tiga tahun yang lalu.


"Hanya itu?"


"Maksudmu?" Ashika berfikir jika Ishla belum melihat berita itu. "Sebaiknya aku tidak memberitahu Ishla tentang berita itu, kasihan Ishla, banyak sekali masalah yang dia hadapi." ucapnya dalam hati.



Sesampainya di rumah, Amine sangat terkejut melihat Ishla tidak ada di kamarnya. Dia bertanya pada Selma, "Dimana putriku? Kenapa dia tidak ada di kamarnya?"


"Maaf, Nyonya. Aku tidak melihatnya."


Amine mencoba menghubungi ponsel Ishla,


Saat itu, Ishla sudah tertidur. Ashika mendengar ponsel Ishla berbunyi dan mengangkatnya.


"Halo, kau dimana?"


"Maaf, Nyonya. Ini aku, Ashika. Kau tidak perlu khawatir, Ishla ada bersamaku disini." Amine langsung pergi ke kediaman Ashika untuk menjemput Ishla kembali.


Malam itu, Aiyla belum juga tidur. Dia berada di luar sambil menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Adlar datang dan memasangkan baju hangat padanya.


"Terimakasih, ayah."


"Kenapa kau melakukan semua itu?" tanya Adlar. Aiyla tidak pernah membayangkan jika hubungannya dengan Amine menjadi tidak baik karena kejadian kemarin.


"Aku ingin semuanya kembali baik seperti semula, ayah." Aiyla menyalahkan Ishla untuk semua yang terjadi. Aiyla hanya ingin membuat Ishla jauh dari Aiyaz, bukan membuat hubungannya dengan Amine rusak.


"Kenapa tidak ada yang mengerti perasaanku, ayah? Bahkan Amine lebih membela gadis itu daripada aku." Aiyla heran dengan sikap Amine yang sangat peduli dengan Ishla, mereka terlihat sangat dekat.


"Apa hubungan yang ada diantara mereka? Apa jangan-jangan... Amine ibu dari gadis itu?" Pemikiran Adlar dan Aiyla sama, mereka beranggapan jika Ishla putri dari Amine. Seingat Adlar, sebelum dia kembali ke Istanbul Amine tidak dalam keadaan hamil, jikapun hamil Amine akan langsung memberitahunya.


"Kenapa ayah tidak tanyakan saja pada Aiyaz? Mungkin saja dia tahu siapa orang tua gadis itu." Dulu, sebelum Aiyaz dijodohkan dengan Aiyla, dia sudah memiliki hubungan dengan Ishla. Mereka adalah sepasang kekasih, bisa saja Ishla pernah mengajak Aiyaz menemui keluarganya.


"Kau benar, sayang. Ayah akan tanyakan pada Aiyaz tentang ini." Aiyla meminta Adlar untuk membantunya memperbaiki semua ini. Dia tidak ingin hubungannya dengan Amine semakin memburuk.



Kedatangan Amine disambut baik oleh Bahar dan Kemal. Dia datang untuk menjemput Ishla pulang. Tidak lama Ashika ke luar dari kamarnya.


"Selamat datang, Nyonya."


"Terimakasih." Ashika memberitahu Amine jika Ishla sudah tidur sejak tadi. Dia terlihat sangat lelah. Tidak ada yang harus Amine ceritakan pada semua orang, mereka sudah melihat tayangan televisi yang mengatakan jika Ishla adalah orang ketiga dalam hubungan Aiyla dan Aiyaz.


"Kau tidak perlu khawatir, Nyonya. Ishla tidak tahu tentang berita itu, tapi... Aku takut bagaimana reaksi Ishla setelah melihat berita itu?"

__ADS_1


"Apa aku boleh melihat Ishla?" Ashika membawa Amine ke kamarnya dan meninggalkannya disana. Amine melihat Ishla sangat lelah, tidak seharusnya dia menanggung beban seberat ini. Amine mengelus rambut Ishla perlahan, dia tidak ingin membangunkannya. Amine akan menjaga Ishla dari siapapun, dia akan membalas orang yang telah membuat putrinya seperti itu tidak peduli jika sekalipun itu Aiyla, putri Adlar.


Di sisi lain, Kemal meminta Zafer untuk datang. Dia sudah menyelesaikan mobil seperti apa yang Zafer minta. Secepatnya Zafer akan membawa mobil itu kepada Ethan.



Keesokan paginya, cahaya mentari kembali menyapa. Saat Ishla membuka matanya dia melihat Amine tertidur disampingnya. Dia menunggu Amine untuk bangun.


"Selamat pagi." ucap Amine.


"Selamat pagi." ucap Ishla dengan wajah yang masih murung. Amine membawa Ishla menemui semua orang. Dia berpamitan untuk pulang.


"Terimakasih sudah mengizinkan kami untuk bermalam disini, kami harus segera pergi." Ishla menolak untuk ikut. Hari ini dia tidak akan pergi bersama Amine ke kantor, dia akan pergi kuliah bersama Ashika.


"Baiklah, jika kau ingin kuliah biar Ibu yang akan mengantarmu."


"Ada Ashika yang akan menemaniku, kau tidak perlu khawatir." Amine sangat sedih dengan sikap Ishla, dia seperti menjaga jarak dengannya.


"Baiklah, nanti Ibu akan menyuruh sopir untuk membawa semua barang yang kau butuhkan." Ishla masuk lagi ke kamar, tanpa melihat kepergian Amine terlebih dahulu. Amine pergi dengan perasaan sedih.



Pagi itu, Aiyaz pergi untuk menemui Ishla. Disana terlihat Amine baru saja datang dari luar. Dia pergi ke kamar Ishla menyiapkan semua keperluannya untuk kuliah. Saat akan menyuruh sopir mengantar barang Ishla, Amine melihat kedatangan Aiyaz di rumahnya.


"Permisi, Nyonya. Apa Ishla ada di dalam? Aku ingin menemuinya."


"Untuk apa kau datang?" Aiyaz sangat menghawatirkan keadaan Ishla, dari kemarin dia tidak menjawab teleponnya.


"Kenapa?"


"Banyak orang yang tidak menyukai kedekatan kalian, jika kau tidak ingin banyak lagi masalah yang dihadapi putriku, jauhi dia dan jangan berhubungan lagi dengannya!" Amine memberitahu Aiyaz jika Aiyla sangat membenci Ishla, sampai dia melakukan cara dengan muncul di televisi dan menyebut Ishla sebagai orang ketiga dalam hubungannya dengan Aiyla. Di sisi lain, Adlar pergi ke rumah Aiyaz. Disana hanya ada Aghna yang sedang bersiap-siap untuk pergi kuliah.


Tok... Tok... Tok...


Aghna pergi untuk melihatnya. Saat tahu itu Adlar, dia langsung menyuruhnya masuk.


"Apa kabarmu, Nak?"


"Aku baik, Paman."


"Dimana Aiyaz? Apa dia sudah pergi ke kantor?"


"Kakak pergi ke rumah Nyonya Amine sejak tadi pagi." Adlar sedikit terkejut dengan pernyataan Aghna.


"Untuk apa?"


"Tentu saja untuk menemui Ishla, Paman. Siapa lagi?"


Ups... Aghna langsung menutup mulutnya. "Kenapa aku tidak bisa menjaga rahasia ini?" ucapnya dalam hati.

__ADS_1


"Ishla? Apa dia tinggal di rumah Amine?" Aghna terlihat sangat cemas, dia bersikap serba salah. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Ponsel Aghna berbunyi, dia bisa menggunakan kesempatan itu untuk mengelak dari semua pertanyaan Adlar.


"Baiklah, aku akan segera kesana."


"Kenapa?" tanya Adlar.


"Maaf, paman. Aku harus segera ke kampus. Aku memiliki kelas pagi ini." Aghna melangkah pergi.


"Aku bisa mengantarmu, Nak!"


"Tidak perlu paman, aku akan naik taksi saja."


"Tapi kau belum menjawab pertanyaanku... Aghna sudah tidak lagi terlihat, dia hilang dari pandangan.


Adlar langsung pergi ke rumah Amine. Dia akan memastikan jika Aiyaz benar ada disana. Semua orang bersikap sangat aneh.


"Jika Aghna tahu siapa Ishla, itu berarti...


Adlar sangat yakin jika Aiyaz mengetahui sesuatu tentang Amine, hanya saja dia berusaha untuk menyembunyikannya. Tiba disana, benar saja Adlar melihat mobil Aiyaz yang terparkir di depan rumah Amine. Dia langsung masuk menemuinya.


"Aiyaz? Mereka sangat terkejut melihat kedatangan Adlar. "Untuk apa kau disini?" Amine semakin bingung, satu masalah belum selesai, muncul lagi masalah baru. Adlar meminta penjelasan pada Aiyaz tentang kedatangannya menemui Amine. Aiyaz terus menatap Amine. Dia sudah berjanji untuk tidak mengungkap siapa Ishla yang sebenarnya.


"Cepatlah pergi dari rumahku!" Amine tidak banyak bicara lagi, dia meminta keamanan membawa Adlar dan Aiyaz pergi dari rumahnya. Sempat terjadi keributan di rumah Amine, Adlar menolak untuk pergi.


"Siapa Ishla? Apa dia putriku?"


"Dia putri kerabatku. Orangtuanya memberikan dia padaku sebelum mereka meninggal." Adlar tidak percaya dengan perkataan Amine begitu saja, setahu dia Amine tidak memiliki kerabat ataupun teman dekat. Dia hanya hidup seorang diri.


"Cepat pergi dari rumahku!" teriak Amine. Amine sudah lelah dengan semua kebohongan ini, cepat atau lambat Adlar pasti tahu jika Ishla adalah putrinya. Bagaimanapun caranya Amine harus menjaga Ishla dari keluarga Diaz, mereka bisa saja melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan pada Amine dulu.



Zafer mengantar Ashika dan Ishla ke kampus. Sesampainya disana semua mata tertuju pada Ishla, mereka membicarakan tentang berita tadi malam.


"Ada apa dengan semua orang? Kenapa mereka menatapku seperti itu?" tanya Ishla heran.


"Sudahlah, biarkan saja!" Ashika membawa Ishla ke kelas. Seseorang datang melabrak Ishla, "Hey! Dasar perempuan tidak tahu malu! Apa kau tidak bisa mencari pria lain selain merebut pria temanmu sendiri?" Ishla heran dengan perkataan orang itu.


"Jaga bicaramu itu! Kau tidak tahu apapun." Ashika mencoba membela Ishla.


"Ada apa? Kenapa aku tidak tahu apapun?" Orang itu menunjukkan berita tadi malam. Ishla sangat terkejut setelah melihat semuanya.


Huh... Semua orang menyuraki Ishla. Mereka melempar Ishla dengan gulungan kertas. Ashika mencoba melindungi Ishla, diantara mereka ada yang melempari Ishla dengan batu, karena merasa sangat kesal.


"Pergi darisini! Perempuan sepertimu tidak pantas berada di kampus ini!


Buk! Jidat Ishla berdarah. Dia mencoba menahan malu untuk apa yang sama sekali tidak dia perbuat. Ashika segera menghubungi Amine dan memberitahu keadaan Ishla sebenarnya. Ishla dan Ashika masih berdiri di tengah keramaian. Tiba-tiba datang seorang lelaki melindungi Ishla dan Ashika, dia adalah Zafer.


"Sudah hentikan!" teriak Zafer. "Kalian bisa saja dihukum atas apa yang kalian lakukan ini. Yang aku tahu, kampus ini kampus terbaik di kota ini, tapi jika mahasiswanya seperti kalian semua pasti masa depan kampus ini akan hancur."

__ADS_1


"Cepatlah minggir jika kau tidak ingin terkena masalah!" Darah di jidat Ishla masih mengucur, kepalanya merasa sangat pusing, penglihatannya tidak lagi jelas, akhirnya Ishla pingsan dalam dekapan Zafer.


"Ishla? Ishla... Bangunlah!" Zafer langsung membawa Ishla ke rumah sakit.


__ADS_2