CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
PENOLAKAN ISHLA TERHADAP AIYAZ


__ADS_3

Di tengah perjalanan, Ishla bingung harus kembali ke hotel, atau pergi meneruskan perjalanannya ke kantor. Dia bukan lagi bekerja di perusahaan ibunya, Ishla sudah menjadi seorang pemilik perusahaan. Dia harus bisa bersikap profesional dalam posisi barunya itu. Akhirnya, Ishla meminta sopir taksi untuk mengantarnya ke kantor. Tiba disana, semua orang tengah menunggu Ishla, dan menyambutnya dengan sangat gembira.


"Selamat datang, nona. Kami berharap bisa bekerja dengan sangat baik di perusahaan barumu ini," ucap salah satu pria yang bernama Lais. Dia adalah orang yang dipilih Ishla untuk menjadi manajer di perusahaannya. Ishla terus melihat jam yang ada ditangannya, dia sepertinya sedang menunggu seseorang. Dari arah pintu masuk, terlihat seorang gadis berlarian dan menerobos keramaian. Dia tidak lain adalah Myra.


"Maaf, aku terlambat." ucap Myra dengan nafas yang masih terengah-engah.


"Tidak masalah, tapi lain waktu kau harus lebih disiplin, dan datang tepat waktu." ucap Ishla.


Ishla memperkenalkan Myra dihadapan semua pegawainya. Myra akan menjadi asisten pribadi Ishla, dia seorang mahasiswi terbaik jurusan manajemen perusahaan di salah satu kampus terbaik yang ada di kota. Ishla harap semua pegawai tidak merasa iri dengan posisi yang dimiliki pegawai lain. Semua pegawai sudah Ishla tempatkan dalam posisi yang tepat sesuai kemampuan yang Ishla baca dari data mereka, Ishla sangat tidak suka jika ada persaingan diantara pegawai, dia berharap semua pegawai saling mendukung dan mensuport satu sama lain. Ishla pergi ke ruangannya, dengan diikuti Myra dari belakang. Saat masuk, Myra sangat takjub dengan penataan ruang kerja Ishla, terlihat sangat unik dan berbeda dari ruangan yang sering Myra lihat di tempat kerjanya. Ruangannya sangat luas, disana juga terlihat jelas kapal-kapal yang berlayar di atas selat Bosphorus. Disana sudah ada dua meja, satu untuk Ishla, satunya lagi untuk Myra. Dia bekerja dalam satu ruangan yang sama dengan Ishla.


"Kenapa aku ditempatkan disini? Mmm... Maksudku kenapa tidak di tempat terpisah? Aku tidak enak dengan pegawai lain," ucap Myra.


"Tidak perlu kau pikirkan hal seperti itu, aku melakukan semua ini supaya lebih mudah untuk berkomunikasi denganmu," ucap Ishla.


\*\*\*


Hari itu, Azizah sudah bisa pulang. Dia terlihat sudah membaik. Sesampainya di rumah, Adlar mengantar ibunya ke kamar.


"Apa yang sebenarnya terjadi antara ibu dan Amine? Kenapa sepulang darisana, kondisi ibu tiba-tiba saja drop?" tanya Adlar penasaran.


Azizah mengingat kembali perkataan Amine waktu itu, jika dia akan membalas dendam atas apa yang sudah Azizah lakukan padanya di masa lalu, ditambah lagi tentang Amine yang memiliki bukti tentang kejahatan Ethan tiga tahun yang lalu.


"Ibu?" Amine tersadar dari lamunannya.


"Sudahlah, tidak terjadi apapun saat itu. Kami hanya mengobrol saja, lagi pula sudah lama kami tidak berbincang berdua." ucap Azizah.


Saat Adlar akan pergi ke kantor, Nilam sempat bertanya tentang Ethan padanya. Semenjak kepulangan Aiyla dari rumah sakit, Ethan tidak terlihat berkeliaran di rumah. Dia sudah mencoba menghubungi ponselnya, tapi mati.


"Apa kau tahu dimana Ethan?" tanya Nilam pada Adlar.


"Ethan? Mungkin dia masih ada di kamarnya," ucap Adlar.


"Aku sudah mencarinya di semua ruangan, tapi tidak ada. Pelayan juga tidak tahu kemana Ethan pergi. Tolong cari dia! Aku sangat mengkhawatirkannya, Adlar." ucap Nilam.


"Baiklah, aku akan menyuruh orang untuk mencari Ethan. Aku akan pergi ke kantor, tolong jaga ibuku dengan baik!" pinta Adlar.


"Tentu saja, aku akan melakukan seperti apa yang kau minta."


\*\*\*


Hari pertama Ishla bekerja, sudah banyak perusahaan lain yang mengajukan kerja sama dengan perusahaannya.


"Cobalah lihat, banyak sekali perusahaan yang mengajukan kerja sama dengan perusahaan mu. Tetapi kau jangan khawatir, aku sudah memilih tiga perusahaan terbaik diantara semua perusahaan." ucap Myra sambil memberikan dokumennya pada Ishla.


Saat dilihat, dua diantara perusahaan itu adalah milik Adlar dan Aiyaz. Sebelum membaca semua dokumen itu, Ishla sudah lebih dulu menolaknya. Dia tidak ingin berhubungan dengan kedua perusahaan itu.


"Aku tidak setuju dengan kedua perusahaan ini, cari saja yang lain!" ucap Ishla. "Aku tidak ingin bekerjasama dengan perusahaan besar, aku ingin memilih perusahaan kecil, tapi memiliki kualitas baik. Aku akan membuat perusahaan kecil lebih maju, dan diakui oleh perusahaan lain, termasuk perusahaan-perusahaan besar. Mereka yang memiliki perusahaan besar, tidak dapat lagi merendahkan perusahan kecil yang ada di bawahnya."


Myra sangat terkesan mendengar tujuan baik Ishla, memang sekarang ini banyak sekali perusahaan kecil yang berkualitas, namun mereka tidak diakui karena kalah saing dengan perusahaan besar. Myra berharap dengan berdirinya IDL Company ini, akan menjadikan perusahaan besar maupun kecil setara. Myra segera mencari data perusahaan seperti yang Ishla minta.


\*\*\*

__ADS_1


Tiba saatnya makan siang. Amine baru saja mendapat kabar dari orang kantornya, jika Ishla ada di perusahaannya. Dia sudah mulai bekerja dan merekrut pegawai baru. Amine sangat senang mendengarnya. Dia langsung pergi ke kantor Ishla untuk menemuinya. Saat keluar dari ruangannya, Glan melihat Amine yang berjalan sangat terburu-buru.


"Apa yang terjadi?" ucapnya.


Glan turun ke bawah untuk mencari tahu semuanya.


"Apa kau tahu kemana nyonya Amine pergi? Kelihatanya dia sangat terburu-buru." tanya Glan pada salah satu pegawainya.


"Nyonya Amine pergi ke kantor putrinya untuk bertemu dengannya."


"Benarkah?"


Glan langsung pergi dengan mobilnya. Beberapa hari ini dia tidak melihat Ishla, rasanya saat bertemu dengannya nanti, ingin sekali dia memeluk dan mengatakan jika dia sangat merindukannya. Tidak lama, Amine sampai di kantor Ishla. Dia langsung pergi ke ruangannya. Tiba disana, tidak ada siapapun di dalam.


"Selamat datang, nyonya. Apa kau mencari nona Ishla?" tanya Bella sekretaris Ishla.


"Dimana dia?" tanya Amine.


"Maaf, nyonya. Nona Ishla sedang makan siang di luar. Mungkin sebentar lagi dia akan kembali."


"Baiklah, terima kasih."


Sementara itu, Glan baru saja tiba di kantor Ishla. Saat akan turun dari mobil, Glan melihat Ishla yang sedang berjalan di depannya bersama seseorang.


"Ishla?" ucapnya. Glan tidak langsung turun, dia tau jika di dalam sudah ada Amine yang akan bertemu dengan putrinya. Glan memutuskan untuk menunggu di mobil, dia akan menemui Ishla setelah Amine pergi. Kurang lebih tiga puluh menit Amine menunggu, akhirnya Ishla tiba di ruangannya.


"Ibu?" Ishla berlari memeluk ibunya dengan sangat erat.


Myra yang melihat semua itu merasa terharu. Mereka seperti seorang ibu yang baru saja bertemu anaknya setelah sekian tahun lamanya. Myra meninggalkan mereka berdua di ruangan.


"Bagaimana kabar ibu?" tanya Ishla.


"Ibu sangat tidak baik, nak. Ibu terus saja memikirkan mu. Ibu minta maaf jika kau pergi seperti ini karena ibu."


"Tidak, ibu. Jangan berkata seperti itu, ini keinginan ku sendiri. Aku hanya membutuhkan suasana baru."


Setelah lama mereka berbincang, Amine meminta Ishla untuk kembali pulang ke rumah. Dia sangat kesepian tanpa kehadiran Ishla disampingnya. Mendengar permintaan ibunya, Ishla sangat minta maaf karena tidak bisa pulang hari ini. Dia butuh waktu untuk memulihkan perasaannya kembali. Tapi Ishla janji, secepatnya dia akan pulang. Ishla menghapus air mata ibunya yang sempat terjatuh.


"Sudahlah, jangan menangis seperti ini. Jika ibu menangis, aku akan sangat sedih. Walau aku belum bisa kembali ke rumah, kau masih bisa datang ke kantorku ini setiap hari." ucap Ishla.


"Benarkah?"


Ishla mengangguk mengiyakan. Amine kembali memeluk putrinya itu sebelum dia pergi.


"Baiklah, kalau begitu ibu harus kembali bekerja," ucap Amine.


"Baiklah, hati-hati. Jaga diri ibu dengan baik! Aku akan sangat merindukanmu...


Sementara itu, Glan masih menunggu di dalam mobil. Saat melihat Amine sudah keluar dari kantor, Glan bergegas masuk. Dia menanyakan ruangan Ishla pada Bella, sekretarisnya. Saat Glan sudah berada di depan pintu, tiba-tiba saja dia menerima telepon dari kantornya. Dia pergi untuk menjawabnya.


"Ada apa?" tanya Glan. "Apa? Tuan Ziyan datang? Bukankah kau bilang dia akan tiba besok?"

__ADS_1


"Maaf tuan, aku keliru tentang informasi ini. Dia sebenarnya sudah tiba pukul 4 pagi." jawab seseorang di telepon.


"Baiklah, aku akan segera kembali ke kantor." Setelah selesai berbicara di telepon, wajah Glan terlihat sedikit kesal. Dia baru saja akan bertemu dengan Ishla, tapi ada saja hal lain yang mengganggunya. Tuan Ziyan adalah seseorang yang sangat berpengaruh untuk perusahaannya. Glan sedang berusaha untuk mendapatkan kontrak kerja sama dengannya, hari ini dia datang langsung dari Dubai. Glan harus kembali karena tidak ada hal yang penting dari ini.


\*\*\*


Setelah makan siang, Aiyaz menerima laporan dari sekretarisnya jika IDL Company telah menolak pengajuan kerja sama dengan perusahannya.


"Apa semua ini? Kenapa Ishla tidak menerima kerja sama ini?"


Aiyla yang saat itu berada di ruangan Aiyaz, mencoba membuat panas suasana.


"Kau seperti tidak tahu saja, perusahaan Ishla jauh lebih besar dan berada di atas perusahaan milikmu. Jadi, mana mungkin Ishla menerima tawaran kerja sama ini." ucap Aiyla.


Mendengar hal itu, Aiyaz mulai terpancing dengan semua perkataan Aiyla. Dia pergi untuk menanyakan langsung pada Ishla. Aiyla sangat senang melihat reaksi Aiyaz, dia tidak ingin ketinggalan berita seru ini, dia ikut bersama Aiyaz untuk pergi menemui Ishla. Sesampainya di sana, Aiyaz pergi ke ruangan Ishla. Di sana hanya ada Myra yang sedang memeriksa beberapa dokumen penting untuk meeting sore nanti.


"Dimana Ishla?" tanya Aiyaz.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?" tanya Myra.


"Jawab saja pertanyaanku itu! Dimana Ishla?"


"Aku tidak tahu dimana dia. Lagi pula, kalaupun aku tau, aku tidak akan memberitahumu. Dasar orang yang tidak punya sopan santun!" ucap Myra sambil melanjutkan pekerjaannya kembali.


Aiyla yang mendengar hal itu, merasa tidak terima. Dia memperingatkan Myra untuk menjaga sikapnya itu, dia dan Aiyaz adalah teman baik Ishla. Jika mau, Aiyla akan menceritakan semua ini pada Ishla dan membuat dia dipecat dari pekerjaannya.


"Apa kau kekasihnya? Aku sangat menyayangkan jika kau maupun kekasihmu itu, sama-sama tidak punya sopan santun." ucap Myra.


"Hey, jaga bicaramu itu!"


"Kau yang seharusnya menjaga sikapmu, Aiyla!" ucap Ishla yang tiba-tiba muncul dari belakang. "Jangan lupa, jika kau saat ini berada di perusahaan ku. Jika sikapmu seperti ini, aku bisa saja memanggil penjaga untuk menyeretmu keluar."


Aiyla terlihat sangat kesal. Dia melihat Ishla yang sekarang sudah berani padanya. Walaupun Ishla sudah menjadi seorang pemilik perusahaan besar, Aiyla tidak tertarik untuk menandinginya. Dia akan membuat Ishla sangat menderita karena tidak akan pernah bisa merebut Adlar darinya. Dengan kata lain, Aiyla akan membuat Ishla tidak akan pernah merasakan sosok seorang ayah selamanya.


"Ikutlah denganku!" Aiyaz sempat menarik tangan Ishla, tapi Ishla langsung melepaskannya.


"Lepaskan tanganku! Aku tidak akan pergi kemanapun. Jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja disini!" ucap Ishla.


"Kenapa kau menolak tawaran kerja sama yang aku ajukan?" tanya Aiyaz.


"Jawabannya sangat sederhana, aku tidak ingin jika setiap hari harus berhubungan denganmu juga perempuan ini!" ucap Ishla sambil menunjuk Aiyla.


"Kenapa kau mengatakan semua itu?" tanya Aiyaz.


"Sudah cukup aku menjawab pertanyaanmu itu. Jika sudah selesai, kau bisa pergi dari ruangan ku!" ucap Ishla.


"Aku tidak tahu kenapa kau bersikap aneh seperti ini? Aku ingin kita bicara nanti malam pukul 7. Datanglah ke tempat biasa! Aku akan menunggumu disana!" pinta Aiyaz.


Saat Aiyaz pergi, Ishla sempat menghentikan langkah Aiyla. Dia mendengar Aiyla mengatakan pada Myra bahwa mereka adalah teman. Saat itu juga, Ishla dengan tegas memberitahu Myra jika dia dengan Aiyla bukanlah teman, bahkan mereka tidak akan pernah menjadi teman, tidak akan pernah! Aiyla pergi dengan wajah yang sangat kesal. Myra melihat ada kebencian yang Ishla tunjukan pada Aiyla, tapi entah apa penyebabnya. Myra menghilangkan rasa penasarannya itu, dia ada di kantor Ishla hanya untuk bekerja, bukan untuk memata-matai kehidupan yang Ishla jalani.


"Sudah cukup! Fokus saja pada pekerjaanmu Myra! Kau tidak perlu tahu apa yang sedang terjadi di depan matamu, karena semua itu bukan urusanmu!" ucapnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2