CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
MENERIMA PERTUNANGAN


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, semua orang berkumpul di ruang tengah. Zafer memberikan sebuah kotak kecil pada ibunya, itu adalah hadiah ulang tahunnya.


"Apa ini, Nak?" tanya Bahar.


"Ibu buka saja sendiri." Saat di buka sebuah barang kecil yang menyilaukan mata.


"Masya Allah.. Kau dapat uang darimana untuk membeli barang semahal ini?" Sebuah cincin berlian yang sangat indah. Zafer memasangkan cincin itu di jari ibunya. Dia memberitahu Bahar jika Amine yang membelikan berlian untuknya.


"Berlian itu sangat cocok di jarimu, Bibi." ucap Ishla.


"Terimakasih, Nak."



Aiyla membawa mobilnya dengan pikiran yang sangat kacau. Dia terus saja menangis mengingat semua perkataan Aiyaz di acara itu.


Ahhh...


"Kenapa ini semua terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau?" Aiyla semakin menancap gas mobilnya. Ethan mencoba menghubungi ponsel Aiyla, dia hanya mengangkat ponsel itu, dan mendengar semua yang dikatakan Ethan padanya.


"Aiyla kau dimana? Kami semua mengkhawatirkan mu."


"Kenapa semua ini harus terjadi padaku? ucap Aiyla sambil menangis. "Jika aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau, lebih baik aku mati saja." Aiyla menutup teleponnya.



Tidak mudah berada di posisi Aiyaz seperti sekarang ini. Dia harus memilih diantara dua pilihan. Perempuan yang dia cintai, atau perempuan yang mencintainya? Keberadaan Ishla tidak pernah Aiyaz tahu sampai saat ini tetapi, perasaannya masih sama, dia masih sangat mencintainya. Selama ini, Aiyla selalu ada bersamanya, tapi tidak sedikitpun dalam hati Aiyaz untuk bisa mencintainya.


"Kakak! Apa kau baik-baik saja?" Aghna melihat Aiyaz yang sedari tadi melamun.


"Aku tidak tahu. Kenapa takdir harus menempatakan ku dalam posisi sulit seperti ini?"


"Kau tahu kak, Allah tidak pernah menguji seorang hamba di luar batas kemampuannya. Jika semua ini terjadi padamu, itu karena Allah tahu kau bisa menghadapi semua ini."


"Aamiin, semoga saja."


Aiyaz mendapat telepon dari Ethan. Dia mengatakan jika Aiyla mencoba untuk mencelakakan dirinya sendiri. Aiyaz mencoba menghubungi Aiyla.


"Kau dimana?"


"Apa peduli mu?" dari suaranya Aiyla terdengar tidak baik-baik saja.


"Jangan berbuat gegabah! Kita bisa membicarakan ini secara baik-baik."


"Untuk apa aku tetap hidup jika tidak bisa memiliki apa yang aku mau?"


"Hentikan mobilnya sekarang juga! Aku akan kesana menjemput mu."


Aaaa...


"Aiyla, apa kau baik-baik saja?" Tidak terdengar lagi suara Aiyla.


"Halo, Aiyla...


"Ada apa kakak?" tanya Aghna.


Sesuatu telah terjadi pada Aiyla, mobilnya menabrak bahu jalan dan rusak parah. Ambulan segera datang dan membawa Aiyla secepatnya ke rumah sakit. Dokter harus segera melakukan operasi karena kecelakaan yang dialami Aiyla cukup parah. Perawat memeriksa ponsel Aiyla, panggilan terakhir yang masuk adalah Aiyaz, dia mencoba untuk menghubunginya.


"Aiyla, kau dimana?"


"Maaf, apa kau keluarga pasien?

__ADS_1


"Siapa ini?"


"Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahu jika pasien bernama Aiyla Shahinaz Diaz mengalami kecelakaan."


Aiyaz dan Aghna langsung pergi ke rumah sakit, tidak lupa dia juga memberitahu Adlar.


Sesampainya di rumah, Amine melihat semua orang tengah berkumpul di ruang tengah, mereka sangat menikmati perayaannya.


"Ibu, kau sudah pulang?" ucap Ishla.


"Bagaimana perayaannya? Apa kau suka?" Amine ikut bergabung bersama mereka. Bahar sangat menyukainya, dia tidak pernah berfikir jika ulang tahunnya akan dirayakan seperti ini.



Amine melihat berlian di jari tangan Bahar, "Hadiah itu sangat cocok untukmu." Bahar sangat berterimakasih untuk semua ini, dia tidak akan melupakan semua kebaikan Amine padanya, ini akan menjadi ulang tahun terindah dalam hidupnya. Hari sudah mulai larut, Bahar dan Kemal harus pergi. Amine sangat berharap jika mereka akan sering datang kemari untuk mengunjunginya.


"Sampai jumpa, ayah, Ibu." ucap Ashika.


"Sampai jumpa, sayang."


Amine menyuruh Ishla dan Ashika untuk segera tidur, besok mereka harus melakukan kegiatan rutin seperti biasa.


Aiyaz dan Aghna tiba di rumah sakit.


"Dimana Aiyla?" tanya Aiyaz pada seorang perawat.


"Dokter sedang melakukan operasi pada pasien." Aghna meminta Aiyaz untuk tetap tenang. Tidak lama Adlar dan keluarganya datang.


"Dimana putriku?" ucap Adlar.


"Dokter sedang melakukan operasi pada Aiyla." ucap Aghna.


"Bagaimana jika Aiyla...


"Ini semua gara-gara kau!"


"Maaf, jangan membuat keributan disini!" ucap salah satu perawat. Ethan yang baru saja datang langsung memukul wajah Aiyaz.


"Sudah cukup! Apa yang kau lakukan?" ucap Aghna sambil menangis. Dia melihat hidung Aiyaz berdarah.


"Jika terjadi sesuatu pada adikku, aku akan membunuhmu!" Aghna membawa Aiyaz pergi dari sana. Dia membawa kakaknya ke ruang perawatan untuk mengobati hidungnya.


"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Aghna.


"Sudahlah jangan menangis seperti itu, aku baik-baik saja."


Malam itu Mustafa baru menutup toko bukunya. Sesampainya di rumah, dia teringat kembali dengan pemuda yang pernah mengunjungi tokonya beberapa hari yang lalu. Pemuda itu menanyakan sebuah rekaman CCTV. Dia tidak bisa tinggal diam, Amine harus mengetahui semua ini. Bukan hanya rekaman CCTV itu buktinya, bisa jadi pemuda itu akan membawa Amine pada pelaku yang sebenarnya.



Saat semua telah terlelap dalam tidurnya, Amine pergi ke kamar putrinya. Dia menatap lama putrinya itu.


"Kau tahu, sayang? Cinta dalam hidupmu sudah kembali, Ibu berfikir jika dia sudah tidak lagi memikirkan mu, tetapi kenyataannya dia masih sangat mencintaimu." Amine sangat berharap jika ingatan Ishla segera pulih kembali, dia tidak sabar melihat putrinya itu kembali bersama dengan Aiyaz.



Dokter yang baru saja menangani Aiyla, tidak lain adalah Arash.


"Bagaimana keadaannya, dokter?" tanya Adlar.


"Keadaan pasien sangat kritis," ada cedera di bagian kepalanya, aku harap ini tidak serius, karena jika tidak pasien kemungkinan akan mengalami amnesia."

__ADS_1


Semua hanya bisa melihat kondisi Aiyla dari luar, dokter belum bisa mengizinkan siapapun untuk masuk. Saat itu Aghna pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli minuman. Dia melihat Arash yang sedang berjalan di depannya.


"Dokter Arash?" ucap Aghna.


"Kau disini?" tanya Arash.


"Temanku baru saja mengalami kecelakaan,"


"Oh begitu ya...


"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Arash. Tidak ada angin, tidak ada hujan entah kenapa Arash kelihatan begitu perhatian pada Aghna.


"Sangat baik. Apa kau tidak akan lagi mengajar disana?" tanya Aghna.


Arash memberitahu jika dia lebih fokus pada pekerjaannya sebagai seorang dokter. Dia mengajar di kampus hanya menggantikan dosen utama ketika berhalangan masuk.


"Dokter!" Salah satu perawat menghampirinya. Dia memberitahu jika keadaan Aiyla semakin memburuk. Arash segera pergi untuk melihatnya.


"Jadi.. dokter yang menangani Aiyla adalah dia?" ucap Aghna tidak percaya. Dia langsung memberitahu Aiyaz jika keadaan Aiyla semakin buruk. Aiyaz pergi untuk melihat Aiyla, tidak peduli jika Ethan harus mengajarnya lagi.


Arash meminta perawat untuk menyiapkan alat Defibrilator atau setrum jantung. Arash mulai mencobanya tapi tidak ada reaksi apapun, jantung Aiyla seakan berhenti berdetak.


"Aiyla!" teriak Nilam histeris.


"Bangunlah, putriku. Kau gadis yang kuat, kau bisa melewati semua ini." ucap Adlar.


Aiyaz sangat sedih jika dia harus kehilangan Aiyla. Aiyaz menerobos masuk, dia mendekati Aiyla dan memegang tangannya.


"Bangunlah, Aiyla. Aku disini untukmu, jika kau sadar nanti aku berjanji kita akan bertunangan seperti yang kau inginkan, Tolong jangan tinggalkan aku seperti ini!"


Detak jantung Aiyla kembali muncul. Aiyaz tidak percaya melihatnya. Arash membiarkan Aiyaz untuk tetap menemani Aiyla di dalam. Aiyla seakan mendengar semua yang dikatakan Aiyaz barusan.


Arash memberitahu semua anggota keluarga jika Aiyla sudah melewati masa kritisnya, dia akan dipindahkan ke kamar VIP. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Aiyla akan bangun.


Semua anggota keluarga diperbolehkan masuk, namun harus bergiliran. Aiyaz akan menemani Aiyla sampai dia sadarkan diri. Setelah mendengar keadaan Aiyla membaik, Azizah memutuskan untuk pulang lebih awal. Ada sesuatu yang harus dia selesaikan malam ini juga.



Hari sudah pagi, mentari kembali menyapa dengan cahayanya yang membuat tubuh terasa hangat. Aiyla mulai membuka matanya, dia melihat Aiyaz yang ada disampingnya. Aiyaz terbangun karena tangan Aiyla yang menyentuh wajahnya.


"Kau sudah sadar?" ucap Aiyaz.


"Aku dimana?" tanya Aiyla.


"Kau di rumah sakit." Aiyla ingat kejadian tadi malam yang membuatnya celaka seperti ini. Aiyaz memegang tangan Aiyla dan meminta maaf untuk semua sikap kasar Aiyaz padanya. Dia tidak akan mengulanginya lagi. Dia akan mencoba untuk membuka hati untuk Aiyla, dia juga akan menerima pertunangannya. Aiyla sangat senang mendengarnya. Adlar yang sedari tadi berdiri di balik pintu, mendengar semua yang dikatakan Aiyaz pada putrinya. Dia yakin Aiyaz akan menepati semua perkataannya itu.



Hari ini Amine sudah tidak sabar ingin melihat berita tadi malam di internet maupun surat kabar. Di meja makan sudah ada dua gadis cantik yang sedang menunggunya.


"Selamat pagi, semua." ucap Amine


"Selamat pagi." Saat sarapan Amine terus saja memainkan ponselnya. Dia sedang mencari berita terbaru pagi ini.


"Ibu, apa yang sedang kau cari diponselmu itu?"


"Ibu hanya penasaran dengan kabar baru pagi ini." Amine menanyakan sebuah surat kabar pada Selma. Saat pulang dari pasar, Selma tidak lupa untuk membeli surat kabar yang ada di pinggir jalan. Saat membuka semua halaman surat kabar itu, tidak ada satupun tentang kejadian tadi malam. Mereka hanya menuliskan jika keluarga Diaz adalah keluarga yang sangat harmonis, mereka adalah keluarga yang diimpikan banyak orang.



Tadi malam Azizah menyuruh orang untuk mendatangi tempat penyiaran berita. Dia menyuruh agar kejadian baru saja tidak boleh sampai tersebar di media cetak ataupun internet. Dia mengancam jika berita itu sampai tersebar maka pekerjaan mereka yang akan menjadi taruhannya.

__ADS_1



Pagi ini Azizah tidak lagi harus memikirkan kejadian tadi malam. Dia sudah berhasil membuat awak media bungkam. Azizah mulai memakan sarapannya, dia hanya tinggal menunggu kedatangan semua orang di rumahnya.


__ADS_2