CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
KEKECEWAAN AMINE


__ADS_3

Pagi itu Amine tiba di kantornya. Dia meminta sekretarisnya untuk membuat janji pertemuan dengan Aiyaz. Amine menghubungi Zafer dan memintanya untuk menemui dia di ruangannya.


Tok... Tok.. Tok...


"Masuk!"


"Kau memanggilku, Nyonya?" Amine mempersilahkan Zafer untuk duduk. Amine meminta Zafer untuk membawa kembali mobilnya.


"Mobilku?" tanya Zafer.


"Iya, mobil yang sudah kau pertaruhkan untuk balapan itu. Aku sangat menginginkan mobil itu kembali, itu akan membawaku menemukan siapa pelaku tabrak lari itu."


"Bagaimana jika orang itu menolaknya?" tanya Zafer.


"Kita akan membeli mobil itu dengan harga yang sangat mahal." Zafer memahami perkataan Amine, uang memang senjata ampuh untuk menaklukkan siapa saja.



Sesampainya di kampus, Aiyaz mengingatkan Aghna untuk melakukan rencananya. Dia harus berhasil mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dari Ishla. Mobil yang ditumpangi Ishla berhenti tepat di depan mobil Aiyaz. Saat itu, Ishla keluar dengan dibantu Ashika ke kursi rodanya. Aiyaz terus memperhatikan Ishla dari dalam mobil. Entah apa yang mereka bicarakan, sampai membuat senyum Ishla terukir di wajahnya.


"Aku sangat merindukanmu, jika saja aku bisa memelukmu, pasti aku sudah melakukannya." Aiyaz tidak tinggal diam, dia akan membuat Ishla kembali mengingatnya. Dia berjanji akan membawa Ishla ke dalam hidupnya kembali.


Ponsel Aiyaz tiba-tiba berbunyi,


"Halo, Baiklah aku akan menemuinya disana, kau kirimkan saja tempat pertemuannya!" Aghna melihat mobil Aiyaz yang belum juga pergi. Pandangan Aghna tiba-tiba teralihkan pada Ishla yang baru saja sampai.


"Apa kakak sedang memperhatikan Ishla?" ucap Aghna.


Saat Ishla sampai di depan kelasnya, baru itu juga Aiyaz pergi meninggalkan kampus.


"Dugaaanku benar, kakak memperhatikan Ishla sedari tadi."


Saat semuanya sedang sarapan, tiba-tiba Aiyla datang dengan wajah yang sangat kesal. Dia pergi ke kamarnya, dan membanting pintu sampai terdengar ke meja makan.


"Ada apa lagi ini?" tanya Azizah.


"Aku akan melihatnya, Ibu." Nilam sangat takut jika kejadian itu terulang kembali. Dia mencoba mengetuk pintu kamar Aiyla, tapi dia tidak membukanya. Nilam segera pergi ke bawah dengan wajah yang sangat cemas.


"Adlar, tolong bujuk Aiyla untuk membuka pintu kamarnya. Aku takut jika dia melakukan hal buruk lagi. Adlar berlari menuju kamar Aiyla, "Putriku, sayang. Tolong buka pintunya! ucap Adlar.


Tidak lama Aiyla membuka pintunya, Nilam langsung memeluknya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Nilam.


"Kau ini kenapa? Memang apa yang Ibu pikirkan?" tanya Aiyla.


"Kami hanya mengkhawatirkan mu, kau ini putri kami satu-satunya." ucap Adlar.


Nilam membawa Aiyla ke bawah untuk sarapan.


"Apa kau bertengkar lagi dengan Aiyaz?" tanya Adlar.


Aiyla memberitahu keluarganya jika Aiyaz masih mencintai Ishla. Bahkan sampai detik ini dia tidak pernah lenyap dalam pikiran Aiyaz.


"Apa kau memiliki bukti untuk itu?" tanya Azizah.


"Aku menemukan foto Ishla yang berada di bawah sofa, di rumah Aiyaz." Semua terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Sepertinya dia sengaja menjatuhkan foto itu, supaya kau bisa melihatnya. Perkataan Ethan membuat hati Aiyla semakin panas.


"Apa yang ingin dia tunjukkan sebenarnya?" tanya Aiyla.


"Kau ini bodoh atau apa? Itu artinya secara tidak langsung Aiyaz ingin mengatakan bahwa dia sangat mencintai gadis itu, dan tidak menginginkan mu ada dalam kehidupannya."


"Cukup Ethan!" ucap Nilam.


Adlar meminta Aiyla untuk tetap tenang. Dia akan berbicara dengannya tentang masalah ini.


Siang ini, Amine menemui Selim di tempat biasa.


"Ada apa Nyonya?" tanya Selim.


"Aku membutuhkan bantuan mu, tolong cari tahu identitas orang ini!" Amine memperlihatkan foto Ethan pada Selim.


"Kau kirim saja foto itu ke ponselku!"


"Aku mengenalnya dengan nama Ethan, tapi entah siapa dia sebenarnya."


"Baiklah, seperti biasa aku akan langsung memberitahumu jika sudah menemukannya."


"Terimakasih."



Amine melihat jam yang ada ditangannya. Ini adalah saatnya dia menemui Aiyaz.


Saat makan siang, Adlar datang ke kantor Aiyaz, tetapi tidak mendapati dia disana. Adlar mencoba menghubungi Aiyaz, tetapi diluar jangkauan. Dia pergi menemui Ishy, sekretaris Aiyaz.


"Ishy, apa Aiyaz ada rapat di luar siang ini? Dia tidak ada di ruangannya."


"Siapa?"


"Dia akan bertemu dengan Nyonya Amine Laraz, pemilik AL Group."


"Tolong kirimkan alamatnya, aku harus menemui Aiyaz untuk hal penting."


"Baiklah, tunggu sebentar."


"Alamatnya sudah dikirim ke ponselmu, Tuan Adlar."


"Terimakasih, Ishy."



Amine sudah sampai di restoran, dimana dia akan bertemu dengan Aiyaz.


Seorang pelayan datang dan memberikan sebuah daftar menu.


"Aku akan memesannya nanti." ucap Amine. Tidak lama Aiyaz datang,


"Maaf sudah membuatmu menunggu, Nyonya Amine."


"Tidak masalah."


"Apa kau ingin minum?" tanya Aiyaz.

__ADS_1


"Tidak, kau saja."


Saat Amine akan mengatakan semuanya, tiba-tiba saja Adlar datang menghampiri mereka.


"Paman? Kau disini?" tanya Aiyaz.


"Tadi aku ke kantormu, Ishy bilang kau ada disini." Adlar menatap Amine, dia meminta izin untuk ikut bergabung bersama mereka.


"Berapa lama dia disini? Tidak mungkin aku mengatakan semuanya dihadapan dia." ucap Amine dalam hatinya. Semua bungkam tidak ada yang memulai pembicaraan lebih dulu. Adlar menatap Amine, tapi sikapnya terlihat sangat dingin.


"Ada apa, Paman? Kenapa kau ingin menemui ku?" tanya Aiyaz.


"Aku ingin membicarakan soal pertunangan mu dengan Aiyla." Perkataan Adlar membuat Amine terkejut.


"Pertunagan?" tanya Amine heran.


"Musim panas nanti, Aiyaz akan melangsungkan pertunangan dengan putriku, Aiyla."


"Bukankah sebelumnya kau menolak pertunangan itu? Lalu, kenapa sekarang kau malah menerimanya?" tanya Amine.


"Kau kelihatanya tidak senang mendengar kabar ini."


"Kau benar, aku terkejut saat mendengarnya." Amine sangat kecewa mendengarnya, Aiyaz ternyata menerima pertunangan itu. Sebenarnya, Amine ingin memberitahu Aiyaz jika dia adalah ibu dari Ishla, perempuan yang dicintainya. Dari awal mengenal Ishla, Aiyaz tidak pernah tahu siapa orang tua dari Ishla. Saat itu Amine harus menetap di luar negeri karena urusan pekerjaan.


Saat Amine pulang, dia berencana untuk menemui keluarga Aiyaz, tetapi mendengar orang tua Aiyaz meninggal sejak lama, dia mengurungkan niatnya saat tahu jika keluarga Diaz lah yang menjadi keluarga angkat Aiyaz saat itu.


"Nyonya, apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Aiyaz.


"Aku lupa, hari ini aku harus pergi untuk menemui seseorang, aku akan menemuimu lain kali." Amine pergi meninggalkan restoran.



Siang itu Amine sendiri yang menjemput Ishla dan Ashika di kampus. Saat akan turun, Amine melihat seorang gadis menghampiri Ishla. Dia memutuskan untuk menunggunya di mobil.


"Ishla, apa kau akan pulang?" tanya Aghna yang muncul dari belakang.


"Ada apa?" tanya Ishla.


"Aku sangat ingin mengunjungi mu, tetapi aku tidak tahu dimana rumahmu."


Saat akan memberitahu Aghna, ponsel Ashika berdering. Sebuah pesan dari Amine masuk ke ponselnya.


"Ashika, siapa gadis yang ada bersama kalian?" Ashika membalasnya dengan cepat.


"Dia teman Ishla, namanya Aghna. Dia jurusan kedokteran."


"Apa yang dia inginkan dari Ishla? Kenapa kalian lama sekali berbincang?" tulis Amine.


"Aghna bertanya tentang keberadaan Ishla, dia bilang ingin mengunjunginya." jawab Ashika.


"Aku sudah ada di depan kampus, langsung bawa Ishla pergi dari sana, jangan biarkan orang itu tahu dimana Ishla tinggal." pinta Amine dalam pesan itu.


Aghna melihat mobil hitam milik Amine yang sudah ada di depan kampus.


"Ishla, ayo kita pergi! Mobil yang akan menjemput kita sudah sampai." Ashika mendorong Ishla menjauh dari Aghna.


"Tapi Ashika, aku belum memberikan alamat rumahku pada Aghna."

__ADS_1


"Sudahlah, besok saja."


"Menyebalkan! Baru saja Ishla akan memberitahuku, tapi gadis itu terus saja membawa Ishla pergi dariku." ucap Aghna sedikit kesal .


__ADS_2