
Pagi ini, Amine membawa Ishla ke perusahaannya. Dia mengenalkan Ishla sebagai putrinya di depan semua orang. Mulai saat ini Ishla akan banyak menghabiskan waktunya di perusahaan. Dia akan belajar untuk menjadi seorang pemimpin perusahaan. Sebentar lagi, proyek yang Amine siapkan untuk Ishla akan selesai. Dia akan melihat putrinya itu memimpin di perusahaannya sendiri.
Hari ini Amine akan mengadakan rapat penting, Ishla sangat nyaman berada di ruang kerja Amine. Di sana dia bisa melihat keindahan kota dan jembatan yang terbentang di atas selat Bosphorus.
"Permisi, Nona. Ini dokumen yang diminta Nyonya Amine untuk meeting pagi ini."
"Terimakasih." Ishla membuka dan membaca dokumen itu. Walau ini kali pertama di perusahaan, tetapi Ishla sudah belajar sedikit tentang perusahaan saat dia kuliah. Ishla merasa ada sedikit kekurangan dalam dokumen itu. Tidak lama Amine datang dan melihat dokumen yang dia minta sudah ada di atas mejanya.
"Kapan meetingnya dimulai, Ibu?" Amine melihat jam yang ada ditangannya, "Sekitar tiga puluh menit lagi, sayang. Memang kenapa?" Ishla meminta izin untuk meminjam laptop Amine. Dia akan menambah sedikit materi dalam presentasi itu.
"Kau sedang apa?" tanya Amine.
"Aku merasa isi dokumen ini kurang lengkap, aku akan mencoba menambah materi di dalamnya." Amine memperhatikan Ishla selama dia bekerja. Hasil akhir, saat Amine membaca dokumen itu rasanya sempurna sudah isi dalam dokumen itu. Amine sangat bangga pada putrinya itu, dia sudah menunjukkan kemampuannya di hari pertamanya di perusahaan.
Saat akan pergi meeting, langkah Amine terhenti saat melihat kedatangan Zafer, wajahnya terlihat sangat serius.
"Ada apa? Apa semua baik-baik saja?" tanya Amine.
"Ada sedikit masalah yang ingin aku ceritakan padamu, Nyonya. Ini tentang Ethan." Amine sangat penasaran dengan cerita Zafer, tetapi dia juga tidak bisa meninggalkan meeting hari ini. Ishla melihat ibunya sedang berbincang dengan seseorang. Dia pergi untuk melihatnya.
"Zafer? Kau disini?"
"Maaf, Nyonya. Semua sedang menunggumu di ruang meeting." Amine bingung harus mendahulukan Zafer atau meeting hari ini? Keduanya penting bagi Amine. Ishla melihat Amine seperti sedang bingung.
"Ada apa, Ibu? Kelihatannya kau sedang bingung." Amine menyuruh sekretarisnya untuk membatalkan meeting hari ini. Ada urusan lain yang lebih penting yang harus dia selesaikan.
"Maaf, Nyonya. Ini tentang kerjasama perusahaan ini dengan perusahan Lee di Jepang, sangat sayang jika kita melewatkan kesempatan ini." Sekretaris Amine membujuk Amine untuk tidak membatalkan meeting penting ini. Tidak mudah bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan Lee. Kerja sama ini sudah Amine nantikan sejak lama, tidak mungkin dia melepaskannya begitu saja.
"Biar aku yang akan mengganti Ibu dalam meeting ini. Aku akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini."
"Benarkah? Tapi... Bukan Ibu tidak percaya padamu, sayang. Ini hari pertamamu disini."
"Aku tahu, Ibu. Percayalah! Aku akan mendapatkan kontrak kerja sama ini." Sekretaris itu membawa Ishla ke ruang meeting, sedangkan Amine menyuruh Zafer untuk ikut ke ruangannya.
Pagi itu semua orang dikejutkan dengan penampilan Aiyla yang sangat berbeda dari biasanya. Dia terlihat sangat elegan saat menuruni anak tangga. Dia mengenakan pakaian layaknya seorang wanita karir. Aiyla duduk dan sarapan dengan semua orang.
"Ada apa dengan penampilanmu hari ini? Apa kau akan membintangi iklan dengan pakaian seperti ini?" tanya Ethan.
"Aku bukan lagi seorang model, aku akan bekerja di perusahaan Diaz sebagai asisten pribadi Tuan Adlar Diaz."
Semua orang dibuat terkejut dengan perkataan Aiyla.
"Kau akan menjadi asisten pribadi ayah?" tanya Ethan tidak percaya.
"Kenapa? Lagi pula aku sudah bosan dengan pekerjaanku sebagai model. Aku ingin mencoba hal baru."
"Selamat pagi, semua." ucap Adlar yang baru saja datang. "Waw... Penampilanmu sangat keren, sayang. Apa kau sudah siap bekerja denganku?"
"Tentu saja, Tuan Adlar Diaz. Aku siap!" Adlar tersenyum mendengar perkataan Aiyla.
"Jangan memanggilku seperti itu, aku ini ayahmu bukan atasanmu."
__ADS_1
"Baiklah."
"Kenapa kau tidak memberitahu Ibu sebelumnya tentang ini?" Nilam terlihat sangat kesal karena Aiyla memutuskan sesuatu begitu saja tanpa bertanya dulu padanya.
"Aku sudah besar, Ibu. Aku bisa memutuskan mana yang baik untukku dan tidak." Adlar menyudahi makannya. Dia tidak ingin suasana hati Aiyla berubah buruk dengan menjawab semua pertanyaan Nilam.
"Kau sudah selesai, sayang? Ayo kita pergi!"
"Aku pergi, Nenek." Aiyla mencium pipi Azizah namun tidak dengan Nilam. Dia bersikap seperti Nilam itu orang lain baginya. Nilam mencari cara agar Aiyla kembali menuruti semua perkataannya.
"Apa salahku, Ibu? Kenapa putriku bersikap seperti itu padaku?"
"Kau terlalu mengekangnya, biarkan saja dia melakukan semua hal yang dia suka. Kau tidak harus selalu ikut campur dalam keputusannya."
Saat di perjalanan, Aiyla menanyakan banyak hal tentang Amine. Dia memberitahu Adlar jika dia melakukan semua ini untuk bisa bertemu dengan Amine.
"Ayah, apa kau tahu dimana Amine bekerja?"
"Ayah tidak tahu, sayang. Ayah belum pernah bertemu dengannya dalam rapat apapun." Adlar terpaksa berbohong pada Aiyla.
Zafer memberitahu Amine tentang kedatangan Ethan menemui ayahnya pagi ini. Dia terus memaksa sang ayah untuk mengembalikan mobil miliknya. Bahkan, Amine dibuat terkejut saat Zafer memberitahunya jika Ethan sempat mengancam keluarganya. Dia akan menghancurkan bengkel ayahnya dan membuat hidup keluarganya tidak tenang. Zafer sangat takut jika Ethan melakukan hal buruk pada Ashika. Dia mengatakan hal itu langsung pada ayahnya.
"Maafkan aku, Zafer... Amine merasa sangat bersalah pada Zafer dan keluarganya, dia sudah membuat mereka terseret ke dalam masalahnya. Mereka harus hidup ketakutan di bawah ancaman Ethan. Amine harus segera memikirkan cara agar keluarga Zafer terbebas dari Ethan, dia tidak ingin membahayakan nyawa siapapun.
Semua orang terpukau saat melihat Ishla masuk ke ruang meeting. Mereka saling bertanya siapa gadis di kursi roda itu. Sekretaris memberitahu semua orang jika Amine tidak bisa hadir dalam meeting ini, dia ada keperluan yang mendesak. Semua mata tertuju pada Ishla. Untuk pertama kalinya Ishla berdiri di depan orang penting semua. Dia mengambil napas panjang sebelum memulai presentasi. Ishla memperkenalkan diri pada semua orang sebagai Ishla Diannova Laraz, putri dari Amine Laraz. Kehadirannya disini untuk menggantikan Amine yang sedang berhalangan hadir. Ishla memulai presentasinya.
"Bagaimana jika Ethan tahu mobil itu bukan mobil miliknya?"
"Bairkan saja untuk sementara ini, dia akan percaya. Apa yang akan terjadi selanjutnya biar aku sendiri yang akan menanganinya."
"Lalu, mobil yang aslinya aku harus membawanya kemana?" Amine meminta Zafer membawa mobil itu ke rumahnya. Dia akan menyuruh orang rumah untuk memasukkan mobil itu ke dalam garasi dan menutupnya dengan kain. Amine tidak akan membiarkan siapapun tahu jika mobil Ethan yang sebenarnya ada padanya.
"Buat ayahmu merubah mobil itu semirip mungkin. Jangan sampai Ethan tahu jika mobil itu bukan miliknya. Setelah selesai, langsung berikan mobil itu padanya. Aku ingin lihat apa yang akan dia lakukan pada mobil itu?" Zafer segera pergi untuk melakukan apa yang Amine minta. Dia membawa mobil Amine ke rumahnya, setelah itu dia akan membeli dua mobil baru.
Siang itu Adlar melihat Aiyla sedang menyesuaikan diri dengan orang-orang yang ada di kantornya. Dia terlihat sedang asyik berbincang dengan salah satu karyawan di kantor. Adlar berkesempatan pergi untuk menemui Amine di perusahaannya. Dia ingin tahu apa sebenarnya tujuan Amine membuat kejutan untuk Aiyla. Adlar pergi tanpa memberitahu Aiyla.
Amine masih menunggu Ishla di ruangannya. Meeting belum juga selesai. Amine tidak takut jika harus kehilangan kerja sama itu, dia hanya mengkhawatirkan Ishla, putrinya. Setelah selesai presentasi, Ishla mendapat tepuk tangan dari semua orang.
"Kau hebat sekali, Nak. Aku menyukai cara presentasimu. Kau menyampaikan semua materi dengan sangat baik. Aku sangat yakin jika perusahaanku bisa bekerja sama dengan perusahaan ini, itu akan sangat menguntungkan." Perwakilan perusahaan Lee mengeluarkan sebuah kertas kontrak dan langsung menandatangani kontrak itu, perusahan Lee bersedia untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan AL Group.
"Selamat untukmu, Nona. Kau sudah membuatku bangga dengan presentasimu itu."
"Terimakasih, Tuan." Ishla sangat senang akhirnya dia bisa mendapatkan kontrak kerja sama ini. Dia akan memberitahu Amine kabar baik ini.
__ADS_1
Saat tiba di perusahaan, Adlar melihat karyawan di perusahaan Amine sedang berkumpul dan membicarakan sesuatu.
"Apa kalian lihat tadi? Gadis itu sangat cantik, tapi sayang dia harus duduk di kursi roda seperti itu." ucap salah satu karyawan.
"Ini pertama kalinya Nyonya Amine membawa putrinya dan mengenalkannya pada kami semua." ucap karyawan lain.
Langkah Adlar terhenti. Dia menghampiri karyawan yang sedang berkumpul siang itu.
"Maaf, aku tidak sengaja mendengar kalian yang baru saja mengatakan jika Amine membawa putrinya kemari? Apa itu benar?"
"Iya, Tuan."
"Dimana dia sekarang?"
"Nona itu bersama Nyonya Amine di ruangannya." Adlar mempercepat langkahnya menuju ruang kerja Amine. Dia sudah tidak sabar ingin melihat wajah putrinya. Keberadaan Adlar diketahui lebih dulu oleh sekretaris Amine, dia langsung pergi memberitahu Amine tentang adlar. Amine meminta sekretarisnya menahan Ishla untuk tidak ke ruangannya sekarang. Amine menyuruh sekretarisnya membawa Ishla pergi jauh dari ruangannya. Dengan cepat sekretaris itu menjalankan apa yang Amine perintahkan. Amine dikejutkan dengan kedatangan Adlar di ruangannya.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?"
"Dimana putriku? Aku ingin menemuinya." Adlar melihat ke sekeliling ruangan, tapi tidak ada siapapun kecuali Amine sendiri.
"Dimana putriku?"
"Jika kau datang untuk itu, percuma saja. Kau tahu apa jawabannya."
Sekretaris memutar kursi roda Ishla dan membawanya ke arah yang berbeda.
"Kau mau membawaku kemana? Bukankah ruangan Ibuku di sebelah sana?"
"Maaf, Nona. Nyonya Amine memintaku untuk membawamu berkeliling melihat perusahaan ini. Kebetulan dia masih ada tamu di ruangannya."
"Baiklah." Sekretaris itu memperkenalkan pada Ishla setiap ruangan dan tempat yang ada disana. Baru pertama Ishla di perusahaan, dia sudah mempelajari banyak hal.
Adlar meminta waktu Amine sebentar.
"Apa tujuanmu memberikan kejutan pada putriku seperti kemarin?"
"Yang jelas aku tidak memiliki niat buruk pada siapapun. Itu hanya sebuah kejutan biasa, kenapa harus dipertanyakan?"
"Tentu saja, kau ini orang asing baginya, tapi sikapmu itu menunjukkan jika dia itu orang penting bagimu."
"Aku melihat dia seperti putriku sendiri. Hari ulang tahun mereka sama, hanya saja usia mereka terpaut satu tahun. Usia putriku 27 tahun, dan putrimu 26 tahun."
"Putrimu berulang tahun kemarin? Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Memang kau ini siapanya? Kenapa aku harus memberitahumu tentang putriku?" Mata Amine terlihat berkaca-kaca. Dia memberitahu Adlar jika putrinya hidup tanpa seorang ayah selama dua puluh tujuh tahun. Saat itu juga, setiap perayaan hari ulang tahunnya dia hanya merayakannya berdua bersama ibunya, tanpa kehadiran seorang ayah disampingnya. Amine sangat marah saat Adlar mencoba mencari tahu tentang putrinya, dan mulai peduli padanya.
"Beritahu aku dimana putriku? Tolong jangan jauhkan aku darinya. Aku ini adalah ayahnya, dia berhak tahu semua itu."
__ADS_1
"Bukan aku yang menjauhkanmu darinya, tapi kau sendiri yang menjauh dari putrimu. Dia tidak membutuhkan siapapun disampingnya, kecuali aku. Hanya akulah orang yang dia butuhkan dalam hidupnya."