
Malam itu, Adlar terlihat sedang menunggu sang ibu yang masih belum sadarkan diri. Raut wajahnya terlihat sangat sedih. Tidak berselang lama Nilam datang. Dia langsung berlutut di hadapan Adlar dengan meneteskan air mata. Adlar yang melihat sikap istrinya itu merasa terkejut.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Adlar. Dia mencoba membangunkan istrinya tetapi Nilam tetap saja berlutut di hadapan Adlar.
"Aku mohon padamu Adlar, bebaskan Ethan segera. Aku tidak ingin melihat putraku menderita di dalam penjara." ucap Nilam. "Kau boleh membenciku sesukamu, tapi tolong lihatlah aku sebagai seorang ibu, bukan seorang istri. Aku adalah seorang ibu yang tidak mau hal buruk terjadi pada putranya."
"Bangunlah!" pinta Adlar. "Kau tenanglah, aku sudah menyewa pengacara terbaik untuk menangani kasus ini."
"Kemungkinannya sangat kecil, Adlar."
Nilam memberitahu tahu Adlar jika kasus Ethan ini akan dibawa ke rana hukum. Kemungkinan besar Ethan akan dipenjara karena semua bukti yang ada sangat kuat menuju padanya. Satu-satunya cara agar Ethan segera terbebas adalah si korban bersedia untuk mencabut tuntutannya. Setelah itu kasus ini akan ditutup dan dianggap selesai.
"Bagaimana mungkin Amine bersedia mencabut gugatannya itu?" tanya Adlar.
"Bukan Amine, kau harus meminta Ishla untuk mencabut tuntutannya." ucap Nilam.
"Apa? Itu tidak mungkin Nilam. Aku tidak ingin menyakiti perasaannya. Dia adalah korban dari kejahatan Ethan. Jika aku menyuruhnya mencabut gugatan itu, semua akan tidak adil baginya." ucap Adlar.
"Jadi... Kau lebih memilih gadis itu dan membiarkan putramu dipenjara?" ucap Nilam dengan suara tinggi.
Kebetulan malam itu ada perawat yang sedang memeriksa kondisi Azizah, mendengar hal itu dia menyuruh mereka untuk tidak membuat keributan di kamar pasien. Adlar langsung menarik Nilam ke luar.
"Itu pilihan yang sangat sulit untukku, Nilam. Aku tidak ingin Ethan dipenjara, tapi aku juga tidak mungkin menyakiti perasaan putriku sendiri."
Nilam memberitahu Adlar jika Ethan akan menerima hukuman lima sampai sepuluh tahun penjara. Jika semua itu sampai terjadi dia berjanji akan pergi meninggalkan rumah bersama Aiyla. Kini kebingungan menyelimuti Adlar. Kebebasan putranya ada di tangannya.
\*\*\*
Malam itu, Aghna menemui Aiyaz di ruangannya.
"Kau sedang apa kakak?" tanya Aghna. Saat dilihat, ternyata kakaknya itu sedang melihat-lihat sebuah cincin. Aghna pikir kakaknya itu sudah ingin cepat menikah.
"Cincin apa itu kakak?" tanya Aghna penasaran.
Aiyaz meminta adiknya untuk membantu memilih cincin lamaran untuknya. Dalam waktu dekat ini, Aiyaz berniat untuk melamar Ishla. Dia sangat bingung memilih cincin yang cocok untuknya. Begitu banyak cincin yang dilihat Aghna, dia memilih salah satu cincin yang menurutnya sangat cocok untuk Ishla.
"Menurutku ini sangat cocok, kakak. Cincinnya sederhana, tapi sangat elegan. Itu akan cocok dipakai oleh Ishla." pikirnya.
"Baiklah, besok aku akan mendatangi toko perhiasannya sekaligus mengukur jari Ishla untuk mengetahui ukurannya. Ini bukan hanya untuk sekarang saja, tapi masih ada acara-acara lain setelah ini." ucap Aiyaz.
__ADS_1
Aghna sangat mendukung niat baik kakaknya itu. Dia senang akhirnya cinta kakaknya dengan Ishla bersatu kembali. Dia akan terus mengawal hubungan kakaknya itu sampai ke pernikahan. Sementara itu, saat tiba di rumah keadaan Nilam sangat kacau. Dia diselimuti dengan kesedihan dan kecemasan. Aiyla yang melihat semua itu merasa sangat sedih. Dia pergi ke dapur untuk membuatkannya teh hangat.
Tok... Tok... Tok....
"Ibu, ini aku bawakan teh hangat untukmu," ucap Aiyla.
Nilam terus saja melamun. Dia tidak menyadari jika putrinya itu datang. Aiyla mencoba untuk merapikan rambut ibunya yang sedikit berantakan. Setelah itu Nilam baru sadar akan kedatangan putrinya.
"Kapan kau datang, sayang?" tanya Nilam.
"Baru saja ibu," ucapnya.
Aiyla memeluk ibunya untuk menenangkannya. Dia meyakinkan sang ibu bahwa semua akan baik-baik saja. Semua akan kembali seperti dulu di rumah ini. Ethan akan bebas, dan neneknya akan segera sembuh. Seketika Nilam membantah semua itu. Dia memberitahu Aiyla jika kasus Ethan akan dibawa ke meja hijau. Jika dia terbukti bersalah, maka dia harus menerima hukuman paling sedikit lima tahun penjara.
"Apa tidak cara lain untuk kakak bebas dengan mudah?" tanya Aiyla.
"Ada, itupun jika Amine atau Ishla mencabut semua tuntutannya."
Mendengar hal itu, Aiyla langsung pergi menemui Ishla. Dia akan melakukan apapun supaya Ethan bisa bebas sekalipun jika dia harus bertekuk lutut dihadapannya.
\*\*\*
Malam itu, Ishla sedang asyik berbincang dengan Ashika. Mereka sangat merindukan satu sama lain. Belakangan ini mereka sangat sibuk dengan urusannya masing-masing sampai tidak pernah ada waktu untuk bisa bertemu. Disana juga ada Myra yang sedang membantu Ishla menyiapkan bahan presentasinya untuk besok. Myra dan Ashika walau baru pertama bertemu tapi mereka terlihat sudah sangat akrab. Mereka berbincang bersama sambil menikmati cemilan lezat yang dibuat bibi Selma. Amine yang melihat keseruan mereka ikut bergabung. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Amine menyuruh mereka untuk segera beristirahat. Myra dan Ashika mereka tidur dalam satu kamar yang sama. Saat Ishla akan pergi ke kamarnya, bibi Selma memberitahunya jika ada seorang gadis yang mencarinya.
"Tidak ibu," jawabnya.
Mereka langsung pergi untuk melihatnya. Kedatangan Aiyla membuat Ishla sedikit terkejut. Dia langsung menyuruhnya masuk dan meminta bibi Selma membawakan secangkir teh. Amine sudah memiliki firasat jika kedatangan Aiyla ada hubungannya dengan Ethan. Dia akan sedikit bersabar untuk mendengar sendiri tujuannya datang kemari.
"Ada apa kau datang malam-malam seperti ini?" tanya Ishla.
Aiyla memohon pada Ishla untuk mencabut semua tuntutannya terhadap Ethan. Amine yang mendengar itu tersenyum kecil, ternyata apa yang dia duga sebelumnya ternyata benar.
"Apa kau sudah selesai apa yang ingin kau katakan?" tanya Amine. "Jika sudah kau tahu dimana pintu keluarnya."
Aiyla berlutut di hadapan Ishla sambil meneteskan air mata. Ishla langsung mejauhkan diri dari Aiyla.
"Tidak, aku tidak akan mencabut tuntutan itu. Biarkan saja dia mendapatkan hukumannya." ucap Ishla. Setelah itu dia langsung pergi ke kamarnya. Aiyla langsung berdiri dan menghapus air matanya. Dia menatap ke arah Amine.
"Kenapa kau menatapku? Kau sudah dengar bukan apa yang dikatakan putriku? Dia tidak akan mencabut tuntutannya!"
__ADS_1
"Kenapa kau ingin sekali menghancurkan keluarga ku?" tanya Aiyla.
"Terlalu banyak kesalahan yang keluarga mu perbuat padaku juga putriku."
Saat melangkah pergi, Amine sempat mengatakan sesuatu yang membuat Aiyla bersedih.
"Saat pertama bertemu denganmu, aku tahu jika kau putri dari Adlar. Walau aku sangat membenci orang tuamu, tapi aku tidak pernah membencimu sedikitpun karena kau seperti putriku. Tapi setelah aku melihat semua perlakuan burukmu pada Ishla, saat itu juga aku kehilangan rasa simpatiku padamu. Keluargamu lengkap, nak. Kau memiliki seorang ayah sejak lahir sampai saat ini. Tapi putriku, dia hidup dan besar tanpa sosok ayah. Jika kau berada dalam posisi Ishla saat ini, mungkin kau tidak akan meminta semua ini. Aku pikir kau bisa menjadi teman baik putriku setelah mengetahui semua kebenarannya, tapi tidak. Kau membuat Ishla semakin jauh dari ayahnya!"
Aiyla langsung pergi dari hadapan Amine. Di perjalanan, dia sempat menghentikan mobilnya. Dia membayangkan jika dirinya itu begitu buruk. Dulu, walau Amine tahu dia putri Adlar dia tidak menyimpan rasa benci sedikitpun padanya. Dia bersikap sangat baik juga hangat, bahkan dia sudah menganggapnya seperti putrinya sendiri. Tapi sekarang, semua berubah setelah semua kebenarannya terungkap satu persatu. Di satu sisi, Aiyla juga merasa sangat iri karena Ishla putri dari Amine. Dia seorang ibu yang sangat sempurna dimata Aiyla. Dia selalu ada untuk Ishla, bahkan disaat tersulit sekalipun dia masih berjuang untuk putrinya. Sedangkan Nilam, dia sangat sibuk dan kebanyakan waktunya terbuang di luar. Aiyla selalu memimpikan seorang ibu seperti Amine, tapi sayang dia ibu dari putri lain. Aiyla menghapus air matanya, dia mencoba untuk lebih tenang lagi. Setelah itu, dia kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit.
\*\*\*
Saat sedang menjaga ibunya, seorang pengacara menghubungi Adlar dan memintanya untuk segera bertemu. Adlar menyuruh perawat menjaga ibunya sampai dia kembali. Mereka bertemu di sebuah cafe. Disana Adlar melihat Antonio yang sudah menunggunya.
"Selamat malam," ucap Adlar sambil menjabat tangan Antonio.
"Selamat malam, tuan Adlar."
"Bagaimana?" tanya Adlar.
Antonio sangat meminta maaf karena kasus Ethan harus masuk ke meja hijau. Dia tidak bisa melakukan apapun karena rekaman CCTV itu bukti yang sangat kuat untuk menunjukkan semua kejahatan Ethan. Besok hari terakhir jika si korban ingin mencabut tuntutannya, dengan begitu Ethan akan langsung dibebaskan dan kasus ini dianggap selesai. Jika tidak, maka pengadilanlah yang akan memutuskan. Ethan akan ada dalam penjara sekurang-kurangnya lima tahun. Mendengar hal itu, Adlar akan mencoba untuk meminta Ishla agar mau mencabut tuntutannya.
\*\*\*
Pagi ini, mobil Aiyaz sudah terlihat di depan rumah Ishla. Dia datang untuk menjemput Ishla sekaligus mengajaknya ke toko perhiasan. Hari ini Ishla melihat wajah Aiyaz yang begitu cerah secerah mentari pagi.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Ishla.
"Kenapa? Apa kau bermasalah dengan wajahku yang seperti ini?" tanyanya.
"Tidak, hanya saja wajahmu terlihat sangat senang dan kali ini senangnya melebihi di atas rata-rata."
Perkataan Ishla membuat Aiyaz tertawa. Saat menatap ke depan ternyata arah jalan ke kantornya salah. Ishla meminta Aiyaz untuk segera putar balik. Tapi Aiyaz seolah tidak mendengar apa yang baru saja Ishla katakan.
"Kau akan membawaku kemana?" tanya Ishla.
"Kau duduk saja dengan manis, nanti juga kau sendiri akan tau."
Tidak lama, akhirnya mereka berhenti di sebuah toko perhiasan yang terkenal di kota. Banyak orang dari luar yang memesan perhiasan di toko itu untuk acara apapun. Aiyaz memegang tangan Ishla dan membawanya masuk ke dalam. Disana seorang pelayan sudah menunggunya. Dia meminta Ishla untuk ikut bersamanya. Ishla masih bertanya-tanya untuk apa semua ini. Dia diperlihatkan berbagai cincin indah juga mewah. Beberapa kotak perhiasan dikeluarkan dan satu persatu dicoba di jari Ishla.
__ADS_1
"Untuk apa semua ini?" tanya Ishla.
Aiyaz memberitahu Ishla jika putri dari bosnya yang ada di New Zealand akan berulang tahun besok. Dia memintanya untuk membelikan sebuah cincin langsung di toko ini. Putrinya itu seumuran dengan Ishla, dan postur tubuhnya juga tidak beda jauh. Setelah mendengar penjelasan Aiyaz, Ishla baru mengerti. Dia dengan senang hati mencoba beberapa cincin dan memilih cincin yang menurutnya bagus. Saat dilihat, ternyata cincin itu sangat indah terpasang di jari ishla. Aiyaz membeli cincin itu dan langsung membayarnya. Setelah darisana, barulah Aiyaz mengantar Ishla ke kantornya.