
Hari sudah malam, tiba di rumah Aiyla tidak melihat siapapun kecuali pelayan rumahnya.
"Dimana nenekku?" tanya Aiyla pada pelayan.
"Tadi polisi datang kemari nona, mereka membawa nyonya besar ke kantor," jawab pelayan. Aiyla langsung pergi ke kantor polisi ditemani Aiyaz. Di sisi lain, Adlar sedang makan malam bersama rekan kerjanya untuk membahas pekerjaan. Tidak lama ponselnya berbunyi, saat tahu ibunya dibawa ke kantor polisi dia langsung meninggalkan makan malam itu. Tiba di kantor polisi, disana sudah ada Aiyla juga Aiyaz.
"Apa yang terjadi?" tanya Adlar yang baru datang.
"Aku tidak tahu, ayah. Mereka tidak mengizinkanku untuk menemui nenek,"
Adlar masuk menemui Azizah. "Ada apa ibu?" Polisi memberitahu Adlar jika Azizah terlibat dalam persembunyian yang dilakukan Ethan. Polisi menunjukkan sebuah foto yang membuktikan bahwa ada interaksi langsung yang dilakukan Azizah dengan Ethan. "Kami mendapat bukti ini dua hari yang lalu saat Azizah sedang di rumah sakit. Saat itu, dia pergi ke cafe untuk bicara dengan Ethan." Adlar meminta polisi untuk membebaskan ibunya. Dia yang akan bertanggung jawab untuk semuanya. Azizah menandatangani surat perjanjian yang menyatakan jika dia menemui Ethan kembali dan mencoba untuk membantunya lari, tidak segan polisi akan menahannya. Di luar sudah ada Aiyla juga Aiyaz yang menunggunya. "Nenek, apa yang terjadi?" tanya Aiyla. Azizah menatap sikap Adlar yang sedikit dingin padanya. "Sudahlah, sayang. Nanti kita bicarakan di rumah."
\*\*\*
Malam itu, Ishla baru tiba di rumah. Dia melihat ibunya dan Keenan yang sedang duduk di ruang tengah. "Kau sudah pulang, sayang?" kata Amine. Ishla melepas rasa lelah dengan menyenderkan tubuhnya di sofa. "Iya, ibu." Keenan melihat lelah yang ada di wajah Ishla.
"Kenapa kau memaksakan diri untuk bekerja, nak? Kau masih harus istirahat,"
"Tidak apa-apa, paman. Pekerjaan kantor sangat banyak, tidak mungkin aku menyerahkan semuanya pada Myra."
Amine mengajak putrinya untuk makan malam di luar, tapi dia menolaknya karena tubuhnya yang begitu lelah dan mengharuskannya untuk istirahat. Akhirnya malam itu Amine hanya pergi berdua dengan Keenan untuk makan malam. Sementara itu, Adlar telah tiba di rumah. Dia terlihat sedikit kesal pada Azizah.
"Sudah aku katakan, bukan? Jangan pernah menemui Ethan lagi, ibu! Dia sedang dalam incaran polisi, kenapa kau tidak mengerti? Kau pergi menemui dia tanpa sepengetahuanku,"
Aiyla meminta ayahnya untuk tidak memarahi neneknya, dia melakukan semua itu karena Ethan adalah cucunya, dia sangat peduli padanya.
"Biarkan saja dia memarahiku, nak!" kata Azizah sambil menunjuk Adlar.
"Aku menyalahkanmu karena kau memang salah, ibu. Kau sudah membantu Ethan dalam pelarian ini,"
"Aku sangat menyayangi cucuku!"
"Kau menyayanginya? Tapi, bukan dengan cara seperti ini. Dimana dia sekarang?" tanya Adlar.
"Untuk apa kau bertanya tentang Ethan?"
"Tentu saja, aku akan menyerahkannya kembali kepada polisi," ucap Adlar.
"Tidak akan aku biarkan kau melakukan itu, Adlar! Selama aku masih ada, siapapun tidak akan bisa mengusik cucuku itu, termasuk kau, ayah kandungnya sendiri!"
"Baiklah, ini terakhir aku menolongmu, ibu. Jika polisi benar-benar menahanmu karena masalah ini, aku tidak akan membantumu lagi," ucap Adlar sambil pergi meninggalkan rumah. Aiyla tidak tahu harus berpihak pada siapa. Dia sudah sangat lelah dengan semua masalah yang ada di rumahnya. Aiyla meminta Aiyaz untuk membawanya ke kamar. Tiba di kamar, Aiyaz memberitahu Aiyla untuk tidak mengambil pusing setiap masalah yang terjadi di rumahnya. Dia harus fokus pada penyembuhannya. "Besok adalah jadwal terapimu, jadi beristirahat! Besok aku akan datang untuk menjemputmu," ucap Aiyaz.
Aiyla sangat senang dengan perhatian kecil yang Aiyaz tujukan untuknya. "Terima kasih, kau selalu ada untukku, bahkan ketika keadaanku seperti ini," ucap Aiyla sambil tersenyum kecil.
\*\*\*
Saat di kamarnya, Ishla kebingungan mencari tas laptop miliknya. "Dimana tas itu?" Ishla keluar untuk mencari tasnya. Dia ingat jika saat pulang tadi, dia pergi ke ruang tengah untuk menemui ibunya. Mungkin tas itu tertinggal disana. Tiba di ruangan, benar saja Ishla melihat tas laptop miliknya ada di sana. Di sofa yang lain, Ishla melihat sebuah kotak kecil. "Kotak apa itu?" Saat Ishla membuka kotak itu, ternyata isinya sebuah cincin berlian. "Apa cincin ini milik ibu?" Ishla mencoba menghubungi ponsel Amine untuk menanyakan tentang cincin itu, tapi ponselnya mati karena kehabisan baterai. "Ah, sudahlah! Akan aku tanyakan nanti setelah ibu pulang makan malam," Ishla membawa kotak kecil itu ke kamarnya. Di satu sisi, Keenan dan Amine telah sampai di sebuah restoran mewah di dekat selat. Keenan membawa Amine ke meja yang sudah dihiasi dengan bunga.
__ADS_1
"Apa semua ini?" tanya Amine.
"Kenapa? Aku hanya meminta pelayan untuk merias meja ini seindah mungkin,"
Tidak lama datang beberapa pelayan dengan membawa hidangan makan malamnya. Saat makan, Keenan memberikan kode pada seseorang untuk melakukan sesuatu. Amine sempat terkejut saat mendengar alunan musik indah yang ada di tempat itu. Dia mencari asal suara itu, "Dari mana asal alunan musik itu?" Amine dikejutkan dengan kedatangan seorang pria dengan biola kecilnya. Dia mulai memainkan alunan musik yang sangat indah.
"Apa kau yang menyiapkan semua ini?" tanya Amine sambil tersenyum.
"Apa kau senang?" tanya balik Keenan.
"Tentu saja, I'm very happy," Amine merasa menjadi perempuan yang sangat spesial bagi Keenan, semua perlakuan Keenan padanya membuat Amine sangat bahagia. Sudah setengah jalan Ishla mengerjakan tugas kantornya, dia membuka kotak itu kembali dan melihat cincin itu dengan teliti. "Jika memang cincin ini milik ibu, untuk siapa dia membelinya?" Ishla baru menyadari jika kotak kecil itu tertinggal di sofa yang tadi diduduki Keenan. Ishla langsung terperanjat dari tempat duduknya. "Apa jangan-jangan... kotak ini milik paman Keenan? Lalu, cincin ini..." Ishla pergi ke dapur menemui bibi Selma. "Bibi, apa boleh aku pinjam ponselmu sebentar? Ponselku mati!" Selma langsung memberikan ponselnya pada Ishla. Dia mencoba menghubungi Myra untuk membantunya, tapi sepertinya dia sudah tidur. Ponselnya berdering, hanya saja dia tidak mengangkatnya.
"Ayo angkat teleponnya...
Setelah tidak ada jawaban dari Myra, Ishla menghubungi Glan, dia memintanya untuk segera menjemputnya di rumah. Glan sedikit khawatir saat mendengar suara Ishla di telepon yang terdengar panik, dia langsung bergegas pergi. Beberapa menit kemudian akhirnya Glan datang. Dia langsung membuka pintu mobilnya untuk Ishla.
"Ada apa?" tanya Glan.
"Akan aku ceritakan nanti, apa kau tahu dimana tempat ini?" tanya Ishla sambil menunjukkan ponselnya pada Glan.
"Tentu saja,"
"Baiklah, sekarang juga kita harus pergi kesana!"
\*\*\*
Saat Azizah sedang tidur, seseorang masuk ke dalam kamarnya. Azizah terbangun dan langsung menyalakan lampunya. "Ethan? Kenapa kau kemari?" Azizah takut jika kedatangan Ethan terekam kamera CCTV rumahnya. Dia sedikit lega karena Adlar sedang tidak ada di rumah. Ethan memberikan surat terakhir Nilam pada neneknya. "Aku harus memenuhi permintaan terkahir ibu, nek. Aku berjanji akan membalaskan dendam ibu pada Amine dan Ishla!" Baru mereka berbincang, Azizah sudah menyuruh Ethan untuk pergi dari rumahnya.
Azizah menceritakan tentang kejadian siang tadi. Dia takut jika keberadaan Ethan di rumahnya saat ini diketahui Adlar. Dia tidak akan segan untuk menyerahkannya kembali pada polisi. Azizah memberitahu tentang surat perjanjian itu, jika dia sampai menemui Ethan lagi, polisi akan langsung menahannya. Mendengar apa yang terjadi pada neneknya, Ethan sangat meminta maaf. Kehadirannya sudah membuat Azizah dalam masalah.
"Cepatlah pergi sebelum ayahmu kembali dari luar!" ucap Azizah.
"Baiklah, nek. Terima kasih sudah membantuku sejauh ini," ucap Ethan.
Azizah sangat mendukung apapun yang Ethan lakukan, dia juga meminta Ethan untuk segera membalaskan dendam ibunya. Ethan pergi dengan menggunakan mobil miliknya. Di sisi lain, Adlar pergi menemui Aiyaz di rumahnya. Mereka berbincang di ruang tengah. Aghna yang melihat Adlar di rumahnya, merasa sedikit heran. "Untuk apa paman datang malam-malam begini?" Tidak mungkin jika hanya ingin membahas tentang pekerjaan, pasti ada hal lain," ucapnya. Karena penasaran, Aghna menguping semua pembicaraan mereka dari atas.
"Apa kau sudah mengambil keputusan?" tanya Adlar.
"Sudah paman," jawab Aiyaz.
"Lalu?"
Aiyaz menarik napasnya dalam-dalam, dia memberitahu Adlar jika dia bersedia untuk menikahi Aiyla. Akhirnya... Adlar sangat lega dan senang mendengarnya. Di satu sisi, Aghna tidak percaya dengan keputusan kakaknya yang ingin menikahi Aiyla. Dia tahu jika kakaknya itu hanya mencintai Ishla, bukan Aiyla.
"Kapan kau akan menikahi putriku?" tanya Adlar.
"Lebih cepat lebih baik, paman."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menyiapkan semuanya," jawab Adlar.
Setelah Adlar pergi dari rumahnya, Aghna menemui kakak di ruang tengah. "Apa kau mencintai Aiyla?" Pertanyaan Aghna membuat Aiyaz sedikit heran. "Kenapa datang-datang kau langsung menanyakan hal itu?" Aghna memberitahu kakaknya jika sejak tadi dia menguping semua pembicaraannya dengan Adlar. "Kenapa kau diam saja, kakak? Apa kau sudah mulai mencintai Aiyla?" Aiyaz bingung harus menceritakannya dari mana. Dia melakukan semua itu bukan karena cinta, tapi karena rasa kasihan pada Aiyla. "Lalu, apa kau harus berkorban sebesar ini? Bagaimana dengan perasaan Ishla jika dia tahu kau akan menikahi Aiyla?" Aiyaz menceritakan semua tentang keputusannya itu dan hubungannya dengan Ishla.
\*\*\*
Tiba disana, Ishla langsung mencari keberadaan ibunya.
"Itu disana! Ayo kita hampiri mereka, Glan!" ajak Ishla.
"Pergilah dulu, aku akan ke toilet sebentar," jawab Glan.
Amine sangat terkejut melihat keberadaan putrinya di tempat itu yang secara tiba-tiba. "Kau disini, sayang? Bukannya kau tadi bilang akan istirahat?" Ishla langsung mengeluarkan kotak kecil itu dan memberikannya pada Keenan. "Ini kotak milik paman, bukan?" Keenan menatap kotak itu lama, perasaan... dia tidak memiliki kotak seperti itu.
"Kotak apa ini, sayang? Aku tidak merasa memilikinya," ucap Keenan.
Ishla membuka isi kotak itu, dan memberitahu Keenan jika dia menemukan kotak itu di atas sofa yang ada di ruang tengah. Semua dibuat bingung dengan kotak kecil itu. Keenan baru ingat jika kotak itu dia temukan di bawah tempat tidur Ishla.
"Bagaimana bisa paman?" Keenan mendapatkan kotak itu dari Selma yang saat itu sedang membersihkan kamar Ishla. Tidak lama Glan datang, dan melihat kotak kecil itu.
"Kotak itu..."
"Apa kau tahu kotak siapa ini?" tanya Ishla.
"Tentu saja, ini kotak milikku. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak juga menemukannya. Dari mana kau mendapatkan kotak ini?"
"Bibi Selma menemukannya di bawah tempat tidurku," jawab Ishla.
Ishla tertawa karena sudah dibuat bingung dengan kotak itu, "Ya ampun... aku pikir kotak itu milik paman, dan cincin itu akan paman berikan pada ibu, tapi ternyata... kotak ini milikmu, Glan?" Amine dan Keenan menatap Ishla tersenyum.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Ishla.
"Apa kau tidak ingin tahu untuk siapa Glan membeli cincin itu?" tanya Amine.
"Tidak! Memangnya untuk siapa?"
Keenan meminta perhatian semua orang yang ada di tempat itu. Semua pandangan tertuju kepada mereka.
"Glan, ini waktu yang tepat untuk kau mengatakan semuanya," ucap Amine.
"Ada apa ini?" Ishla terlihat semakin bingung. Dengan penuh keberanian Glan membawa Ishla untuk maju ke depan. Dia mengungkapkan semua perasaannya di hadapan semua orang. "Apa yang kau lakukan, Glan?" bisik Ishla pelan.
Glan mengambil kotak itu dan berlutut di hadapan Ishla, "Will You Marry Me?"
Jantung Ishla berdegup tidak karuan. Dia melihat Glan yang melamarnya dihadapan banyak orang. Ishla menatap Amine juga Keenan. Senyum yang mereka pancarkan seakan menandakan jika mereka menyetujui lamaran ini.
"Jika kau memang tidak memiliki perasaan apapun padaku, kau bisa langsung menolaknya," ucap Glan.
__ADS_1
"Will You Marry Me, Ishla Diannova Laraz?" tanya Glan sekali lagi.
"Ya, aku bersedia!" Semua orang bertepuk tangan dengan meriah. Glan memasangkan cincin itu di jari manis Ishla. Dia langsung memeluk juga mencium kening Ishla. Setelah beberapa hari menanti, akhirnya hari ini telah tiba. Glan sangat bahagia karena Ishla mau menerima lamarannya.