
Pagi ini, Nilam pergi ke kantor polisi untuk menemui Ethan. Di sana, dia tidak tega melihat putranya itu harus bermalam di dalam tahanan apalagi jika sampai bertahun-tahun. Ethan langsung memeluk ibunya, "Ibu, tolong bebaskan aku dari sini! Aku tidak mau di penjara," ucapnya.
"Ibu akan berusaha untuk membebaskanmu, nak. Tenanglah!"
Tidak sampai satu jam, akhirnya waktu berkunjung sudah habis. Ethan kembali dibawa masuk ke dalam sel tahanan. Setelah dari sana Nilam pergi menemui Adlar di kantornya. Dia memaksa Adlar untuk secepatnya menemui Ishla. Waktu terus saja berjalan, jika hari ini dia tidak juga berhasil membujuk Ishla mencabut tuntutannya, maka kasus Ethan akan resmi dibawa ke meja hijau.
\*\*\*
Tiba di kantor, Aiyaz menyuruh sekretarisnya untuk menyiapkan semua berkas untuk presentasinya hari ini. Saat Aiyaz sedang memikirkan kejutan apa yang akan dia buat untuk Ishla, tiba-tiba Aiyla datang. Dia melihat sebuah kotak kecil yang ada di atas meja kerja Aiyaz.
"Apa ini?" tanya Aiyla sambil melihat-lihat kotak itu. Tidak lama Aiyaz mengambilnya kembali, dia tidak ingin hal yang sama terjadi dimana Aiyla lah yang sudah mengambil kalungnya dulu saat akan diberikan pada Ishla.
"Ini bukan apa-apa," ucapnya. Tidak lama sekretaris datang dan memberitahu Aiyaz jika semua orang sudah berada di ruang meeting. Aiyaz langsung pergi dan tidak lupa membawa kotak kecil itu bersamanya.
"Apa itu kalung yang sama, atau bisa jadi sebuah cincin?" gumam Aiyla. Tidak banyak berpikir lagi, Aiyla mengikuti Aiyaz ke ruang meeting.
\*\*\*
Pagi ini, Myra datang ke kantor ditemani ibunya. Tiba disana, sang ibu tidak percaya jika putrinya itu bekerja di perusahaan yang begitu besar dan terkenal. Myra mengajak ibunya ke ruang tempat dia bekerja. Di sana, sudah ada Ishla yang datang lebih awal. Myra merasa tidak enak, dia melihat jam ditangannya untuk memastikan jika dirinya itu tidak terlambat.
"Selamat pagi," sapa Ishla ramah.
"Selamat pagi, nak. Semoga harimu baik." ucap bibi Lea.
"Aku sengaja datang lebih awal untuk menyiapkan bahan presentasi untuk siang nanti, karena semalam aku tidak sempat mengerjakannya." ucap Ishla seakan tau apa yang sedang dikhawatirkan Myra.
Pagi ini bibi Lea membawa banyak makanan ke kantor untuk dibagikan kepada semua pegawai dan tidak lupa dia juga membuat makanan khusus untuk Ishla. Saat melihat makanan itu baunya sudah tercium sangat lezat. Ishla langsung mencobanya.
"Mmm, makanan ini sungguh enak bibi, terima kasih." ucap Ishla.
"Syukurlah jika kau menyukai makanannya, nak." jawab bibi Lea.
Setelah berkunjung ke kantor putrinya, bibi Lea langsung berpamitan pada Ishla. Hari ini dia akan mencari tempat untuk membuka usahanya. Jika harus terus berada di rumah, rasanya itu akan sangat membosankan baginya. Dia berniat untuk membuka usaha kecil-kecilan.
"Usaha apa yang ingin kau kembangkan bibi?" tanya Ishla.
"Aku sangat senang membuat kue, nak. Impianku sejak kecil adalah ingin memiliki toko kue sendiri. Mungkin ini saatnya untuk bisa mewujudkan mimpiku itu." ucap bibi Lea.
Ishla sangat senang dan mendukung usaha bibi Lea itu. Dia meminta Myra untuk pergi menemani ibunya mencari tempat untuk usaha kuenya itu. Walaupun bibi Lea bisa menjaga diri dengan baik, tapi rasanya Ishla akan sangat khawatir jika dia pergi seorang diri.
__ADS_1
"Cepatlah pergi, tunggu apa lagi?" ucap Ishla.
"Tapi... Bagaimana dengan pekerjaanku disini? Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja." ucap Myra.
"Itu tidak perlu, nak. Bibi akan pergi sendiri. Biarkan Myra mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan." tambah bibi Lea.
Ishla mengingatkan Myra jika dia adalah atasannya dan tidak seharusnya seorang bawahan menolak perintah dari sang atasan. Myra terdiam mendengar perkataan Ishla yang sangat serius dan juga tegas. Melihat ekspresi wajah Myra, Ishla tidak tahan untuk tertawa. Dia memeluk Myra dan mengatakan jika semua itu tidak sungguhan. Myra lega mendengarnya.
"Pergilah, beritahu aku jika kalian sudah mendapatkan tempatnya." pinta Ishla.
Mau tidak mau karena Ishla terus saja memaksa akhirnya dia pergi menemani sang ibu mencari tempat untuk usahanya. Ishla sangat senang melihat kebersamaan seorang ibu dengan anak gadisnya. Myra adalah harta satu-satunya yang dimiliki bibi Lea. Jika salah satu dari mereka ada yang terluka, maka yang lain akan merasakan rasa sakit yang sama. Bagi Ishla, pekerjaan tidak lebih penting dari waktu yang bisa seorang anak beri untuk ibunya. Pekerjaan masih bisa dikejar, tapi saat seorang gadis sudah menemukan pasangannya, disaat itulah dia pergi meninggalkan ibunya untuk menempuh kehidupan baru bersama suaminya. Ishla tidak bisa membayangkan jika suatu hari nanti datang seorang laki-laki yang akan menjemputnya, dan mau tidak mau dia harus berada jauh dari ibu yang selama ini ada bersamanya. Ishla menghilangkan pikiran buruknya itu. Dia kembali menyelesaikan bahan presentasi untuk meeting siang nanti.
\*\*\*
Selesai meeting, Aiyaz bersama Aiyla pergi untuk melihat proyek barunya yang sedang dibangun. Dalam perjalanan Aiyla masih penasaran dengan isi dari kotak kecil itu. Beberapa kali dia bertanya pada Aiyaz, tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulutnya. Dia kembali bersikap dingin pada Aiyla. Sesampainya disana, Aiyaz terlihat sedang berbincang dengan para pekerjanya. Aiyla merasa sangat bosan. Dia pergi ke dalam mobil untuk mengambil kotak kecil itu. Saat mendapatkannya, dia tertangkap basah oleh Aiyaz.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Aiyaz.
"A-aku... Aiyla terlihat sangat gugup. Aiyaz melihat kotak miliknya berada di tangan Aiyla. Dia langsung mengambilnya. Tidak berselang lama setelah selesai melihat proyek barunya Aiyaz langsung pergi. Dia meninggalkan Aiyla disana karena merasa sangat kesal dengan sikapnya itu.
"Aiyaz! Jangan tinggalkan aku disini," teriak Aiyla. Mobil Aiyaz sudah hilang dari pandangan. Akhirnya Aiyla memesan taksi untuk kembali ke kantor.
"Kau akan menerima akibatnya karena sudah mencampakkan aku seperti ini, Aiyaz." ucapnya terlihat kesal.
Siang ini Adlar datang ke kantor Ishla. Kebetulan siang itu Ishla sedang mengadakan rapat penting. Sekretaris menyuruh Adlar untuk menunggunya di ruangan. Disana Adlar melihat sebuah foto yang ada di atas meja kerja Ishla. Foto itu tidak lain adalah foto Ishla bersama Amine. Mereka terlihat sangat bahagia. Jika saja Adlar saat itu tidak pergi, mungkin dia akan menjadi bagian dalam foto itu. Adlar menciumi foto itu. Saat tahu Ishla datang, Adlar segera menyimpan foto itu kembali di tempatnya.
"Kau disini?" ucap Ishla sedikit terkejut.
"Apa kau sibuk hari ini?" tanya Adlar.
"Tidak,"
"Apa kau ingin makan siang di luar bersamaku?" tanya Adlar.
Ini adalah kali pertama Adlar mengajaknya makan siang. Hanya ada mereka berdua tanpa kehadiran siapapun lagi. Ishla tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, mungkin ini saatnya untuk memperbaiki hubungan dia dengan Adlar.
"Baiklah, aku mau." ucap Ishla.
Adlar sangat senang mendengar hal itu. Dia membawa Ishla ke restoran favoritnya. Tiba disana, seorang pelayan datang dengan membawa beberapa daftar menu makanan. Sejak tadi Adlar terus saja menatap Ishla, dia tidak membuka daftar menunya sama sekali.
__ADS_1
"Kau ingin pesan apa?" tanya Ishla.
"Aku? Aku sedang tidak ingin makan. Kau saja yang pesan." ucap Adlar.
Mood Ishla kembali buruk. Jika Adlar tidak ingin makan untuk apa dia mengajaknya makan siang?
"Kau ingin pesan apa, nona?" tanya pelayan.
"Aku akan pesan nanti," ucap Ishla mencoba bersikap ramah walau hatinya sangat kesal.
"Kenapa tidak pesan sekarang saja?" tanya Adlar.
"Untuk apa kau membawaku kesini?" tanya Ishla datar.
Sebelumnya, Adlar sungguh meminta maaf jika apa yang dia katakan akan membuat perasaannya sangat sedih. Dia memegang tangan Ishla, dan menatapnya dalam-dalam.
"Apa aku boleh meminta sesuatu darimu?" tanya Adlar.
"Memang kau ini siapa? Beraninya ingin meminta sesuatu dariku," ucap Ishla.
Dia melepaskan tangannya dari Adlar dan beranjak dari tempat duduknya lalu pergi. Adlar masih mencoba menahannya.
"Tunggu aku, nak!"
"Apalagi? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanya Ishla.
"Tolong cabut tuntutanmu terhadap Ethan!"
Mendengar hal itu, Ishla sungguh tidak percaya. Kali ini Adlar benar-benar telah menghancurkan perasaannya.
"Aku tahu kau gadis yang sangat baik, kau pasti bisa memaafkan kesalahan putraku. Jika kau bersedia mencabut gugatannya, dia akan segera terbebas. Jika tidak, dia terancam hukuman lima sampai sepuluh tahun penjara."
"Jika kau seorang ayah dari putramu, bisakah kau menjadi seorang ayah dari anak gadismu ini?" tanya Ishla. "Aku pikir... Hari ini aku bisa menghapus jarak yang selama ini ada diantara kita, tapi tidak. Lagi-lagi kau yang membuat jarak itu semakin besar."
"Baiklah, tapi sebelum itu kau harus ikut aku dulu ke sebuah tempat."
Ishla mengajak Adlar ke kampusnya. Tiba disana, Adlar merasa sangat bingung.
"Kau lihat orang-orang yang ada disana? ucap Ishla sambil menunjuk kepada sekumpulan orang. "Mereka memiliki kebebasan untuk melakukan setiap hal yang mereka inginkan. Mereka berlarian, melompat, mereka sangat bahagia bukan?"
__ADS_1
Ishla memberitahu Adlar bagaimana sulitnya dia duduk di atas kursi roda. Dia sangat tidak berdaya. Selalu saja ada orang yang harus mendorong kursi rodanya. Saat berada di atas kursi roda, dia tidak sebebas mereka yang bisa berjalan. Sepanjang hari dia harus duduk di atas kursi roda tanpa melakukan apapun. Mendengar itu semua rasanya Adlar sangat sedih. Tidak sampai disitu, Ishla menceritakan bagaimana dia harus mengulang kuliahnya karena mengalami amnesia. Yang seharusnya dia lulus dengan peringkat terbaik di kampusnya, dia harus kembali mengulang dari awal karena semua memori benar-benar hilang dari ingatannya. Sebelum Ishla pergi, dia menegaskan pada Adlar jika dia tidak akan mencabut tuntutannya itu.
"Aku tidak pernah menyangka jika pelaku tabrak lari itu adalah putramu. Kau tau? Saat mengetahui hal itu rasanya aku bingung harus senang atau sedih. Aku senang karena pelaku itu akhirnya tertangkap. Tapi disatu sisi, aku juga memikirkan mu. Aku tau kau sangat sedih melihat putramu masuk ke dalam penjara. Tapi bukankah itu yang seharusnya terjadi? Biarkan saja dia menerima hukumannya! Jika kau menganggap aku putrimu sedikit saja, kau tidak akan meminta semua ini dariku. Kau benar-benar sudah menghancurkan perasaanku. Jangan pernah temui aku lagi, dan mengatakan jika kau adalah ayahku! Kau orang asing bagiku, kau tidak memliki tempat sedikitpun dalam hatiku. Aku tidak akan membiarkanmu masuk dalam kehidupanku," ucap Ishla sambil berlinang air mata.