CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
TOKO PERHIASAN


__ADS_3

Malam itu Amine baru saja tiba di rumah. Dia melihat putrinya sudah tidur di kamarnya. Amine pergi menemui pelayan.


"Kapan Ishla datang? Kenapa dia tidur lebih awal?"


"Ishla kembali sejak tadi sore, tubuhnya terlihat lemas dan wajahnya sedikit pucat."


"Apa dia sudah meminum obatnya?"


"Sudah, nyonya."


Amine pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu, dia turun untuk makan malam. Suasana malam itu sangat hening, hanya ada dirinya di meja makan. Ishla yang biasa makan bersamanya, kini dia sudah tidur lebih awal. Amine mengingat masa-masa dimana dia masih hidup bahagia bersama Adlar. Dia selalu menunggu Adlar pulang dari kantor. Sebelum itu dia tidak akan makan lebih dulu sebelum mantan suaminya itu pulang. Tapi sekarang semenjak kejadian itu semua telah merubah segalanya. Amine menyudahi makannya, dan pergi ke kamar putrinya. Saat masuk, kamar Ishla selalu terlihat rapi dan wangi. Setiap buku maupun barang yang ada di kamarnya tidak pernah keluar dari tempatnya. Amine duduk di samping tempat tidur putrinya sambil mengelus-elus rambutnya. "Terima kasih sudah menjadi kekuatan untuk ibu, nak. Jika kau tidak ada mungkin ibu tidak akan pernah bisa melewati semua ini." Ingatan Amine kembali ke masa lalu dimana saat itu dia sedang sibuk menyiapkan berkas lalu, putri kecilnya itu baru pulang sekolah. Saat itu Ishla datang dengan wajah yang lebam seperti habis menangis. "Kenapa dengan matamu? Apa kau menangis?" Ishla kecil itu langsung memeluk ibunya dan memberitahu dia jika semua temannya di sekolah telah mengejeknya. Mereka mengatakan jika Ishla itu anak yang tidak jelas asal usulnya. Saat mereka menanyakan siapa ayahnya, Ishla hanya diam karena dia memang benar-benar tidak tahu siapa ayah kandungnya. Entah ayahnya itu sudah meninggal atau masih hidup. Air mata Amine menetes saat dia mengingat perkataan Ishla yang satu ini, "Ibu, setelah aku bertemu dengan ayah kandungku nanti, aku akan beritahu semua orang jika dia adalah ayahku, dia pahlawan dalam hidupku. Setelah itu aku yakin tidak akan ada lagi yang mengejekku." Lamunan Amine seketika hilang saat ponselnya berbunyi. Dia pergi untuk mengangkatnya.


\*\*\*


Hari ini adalah hari libur. Saat sarapan Amine memberitahu putrinya jika pagi ini dia akan pergi ke London untuk suatu pekerjaan. Dia akan pergi selama dua minggu. Tidak lama Selma datang dan memberitahu Amine jika mobil sudah siap. Ishla ikut mengantar ibunya ke bandara.


"Jaga dirimu dengan baik, sayang. Ibu pasti akan sangat merindukanmu."


"Aku juga akan sangat merindukan ibu,"


"Saat ibu pergi nanti, ajak Myra untuk menemanimu di rumah supaya kamu tidak kesepian."


"Baik ibu, akan aku hubungi dia nanti."


Amine ingin sekali mengajak Ishla pergi, tapi dia masih mempunyai tanggung jawab terhadap perusahaannya yang tidak bisa ditinggalkan. Amine sudah sering meninggalkan Ishla ke luar negeri karena urusan pekerjaan. Amine berjanji saat tahun baru nanti dia akan mengajak putrinya itu berkeliling dunia. Tidak terasa akhirnya mereka sampai di bandara. Disana sudah ada asisten pribadi Amine yang sudah menunggunya. Ishla memeluk ibunya erat.


"Ibu pergi sayang,"


\*\*\*


Pagi itu Myra sedang dalam perjalanan menuju rumah Ishla. Di tengah perjalanan dia mendapat telepon dari Glan.


"Ada apa?"


"Kau tidak lupa bukan dengan


permintaanku semalam?"


"Tentu saja tidak, aku sekarang ini sedang menuju rumah Ishla. Kau tenang saja! Jika aku sudah mendapatkannya, aku akan langsung mengabarimu." Tidak lama akhirnya Myra sampai di rumah Ishla. Selma menyuruh Myra untuk masuk.

__ADS_1


"Apa Ishla ada di rumah, bi?"


"Dia sedang pergi ke bandara mengantar nyonya, mungkin sebentar lagi dia akan kembali."


"Kau ingin minum apa?"


"Apa saja, bi." Kurang lebih dua puluh menit Myra menunggu akhirnya Ishla tiba. Dia terkejut melihat Myra ada di rumahnya.


"Kapan kau datang?"


"Baru saja,"


"Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?"


"Aku ingin membuat kejutan kecil untukmu," senyum Myra.


Myra mengajak Ishla untuk berbelanja tapi, rasanya Ishla hari ini sedang tidak ingin pergi. Dia ingin menghabiskan waktunya di rumah. Myra memaksa Ishla untu pergi, dia ingin sekali mengabiskan waktunya berdua dengan Ishla setelah kemarin dirinya sibuk bekerja. Karena Myra yang terus memaksa akhirnya Ishla bersedia untuk pergi. Dia mengganti pakaiannya lebih dulu. Tiba di mall, mereka melihat-lihat barang yang akan mereka beli.


"Apa yang ingin kau beli?"


"Entahlah, aku masih melihat-lihat."


"Bagaimana dengan tas ini?" tanya Ishla.


"Itu sangat cocok denganmu."


Glan kembali mengirim pesan ke ponsel Myra, 'Pergilah ke toko perhiasan yang ada di depanmu! aku sudah menyiapkan semuanya disana' Myra melihat toko perhiasan yang disebutkan Glan, dia langsung mengajak Ishla pergi kesana.


"Kenapa kita pergi kesini? Apa kau ingin membeli cincin atau yang lainnya?"


"Hah? A- aku...


"Selamat datang, nona." sapa pelayan toko itu ramah. "Cincin seperti apa yang kau inginkan? Mari aku tunjukkan padamu!"


Ishla menatap Myra heran. Pelayan itu menunjukkan beberapa cincin terbaik yang dimiliki tokonya. "Jika kau tidak ingin membelinya, kenapa kita masuk kesini?" bisik Ishla pelan. Tidak lama seorang perempuan pemilik toko itu datang. Dia sendiri yang langsung melayani Ishla.


"Cincin apa yang kau inginkan, nona?" Ishla menatap Myra bingung. "Aku dan temanku ingin melihat-lihat dulu, jika ada yang cocok aku akan membelinya." Saat mereka masih melihat-lihat, seorang pria datang. Dia pergi untuk memilih cincin pernikahannya, tapi dia bingung ukuran jari perempuannya karena dia tidak ikut. Saat melihat Ishla, pria itu langsung menghampirinya.


"Permisi, boleh aku meminta bantuan mu?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Bantuan apa?" Pria itu meminta Ishla mencoba sebuah cincin, dia lihat jari Ishla tidak beda jauh dengan pacarnya. Ishla yang masih ragu akhirnya bersedia mencobanya karena paksaan dari Myra. Lebih dari tiga kali Ishla mencobanya, akhirnya cincin keempat sangat pas dijarinya. "Cincin ini sangat pas di jarimu, nona. Itu berarti akan pas juga dijari pacarku." Pria itu langsung membeli cincin itu dan berterima kasih pada Ishla karena sudah mau membantunya. Sebelum pergi, sebuah cincin sempat menyilaukan mata Ishla. Saat dilihat sebuah cincin dengan permata biru yang sangat indah.


"Apa yang kau lihat?" tanya Myra.


"Cincin itu!"


"Cincin yang mana?"


"Cincin dengan permata biru diatasnya."


"Waw... Itu sebuah cincin yang sangat elegan juga indah. Itu pasti akan sangat cocok dijarimu. Myra meminta pelayan untuk mengeluarkan cincin itu, dan meminta Ishla untuk mencobanya. Saat dicoba ternyata cincin itu sangat pas di jari Ishla. "Cincin itu terlihat sangat cantik dijarimu, nona." puji pelayan toko. Ishla langsung melepas cincin itu dan membawa Myra pergi dari sana. Saat melihat Ishla dan Myra keluar dari toko, Glan datang dan bertemu dengan pemilik toko itu.


"Ini, tuan. Baru saja gadis berambut panjang itu mencoba cincin ini, dan dia sangat menyukainya. Bahkan cincin ini sangat terlihat cantik di jarinya." Glan langsung membeli cincin itu dan meminta pemilik toko untuk mengemasnya.


\*\*\*


Di dalam sel tahanan terlihat Ethan yang sedang duduk dipojokan. Dua orang tahanan datang dan ikut duduk bersama Ethan. Mereka terlihat seperti akan melakukan rencana jahat. Saat malam tiba, Ethan mulai meluncurkan rencananya.


Buk!!! Buk!!! Buk!!! Dua orang tahanan menghajar Ethan. Saat akan melawan salah satu dari mereka mengeluarkan pisau dan menusukkannya di perut Ethan. Tidak lama polisi datang. "Ada apa? Kenapa kalian membuat keributan?" Tubuh Ethan tergeletak di lantai dengan perut berlumuran darah. Polisi langsung membawa Ethan ke rumah sakit dengan ambulan. Di tengah perjalan Ethan bangun dan menghajar polisi yang ada bersamanya. Seketika mobil berhenti. Saat si perawat mencoba membantu polisi, Ethan menghajarnya dan pergi melarikan diri dengan luka tusuk di perutnya. "Hey, jangan pergi!" teriak polisi. Dia langsung menghubungi kepala ketua untuk memberitahu jika Ethan Diaz melarikan diri saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ethan berlari ke dalam hutan. Dia berhenti sejenak untuk mengobati lukanya itu. Sementara itu, selesai makan malam Ishla menyuruh Myra untuk tidur di kamarnya. Dia terlihat sangat sibuk dengan laptop yang ada ditangannya.


"Kau sedang apa?" tanya Myra.


"Apalagi jika bukan urusan pekerjaan," Myra mengambil laptop itu dan menyimpannya. "Apa yang kau lakukan? Berikan padaku! Aku belum selesai mengerjakannya." Myra terdiam, pura-pura tidak mendengar perkataan Ishla. Dia beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil laptop tapi, Myra mencegahnya.


"Sudahlah, jangan terus memikirkan pekerjaan. Coba pikirkan tentang dirimu!"


"Apa maksudmu?" tanya Ishla tidak mengerti. Myra menarik Ishla untuk duduk disebelahnya. Dia menatapnya dengan aneh. "Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?" Myra mulai membahas tentang masa depan. Saat mendengar masa depan rasanya Ishla ingin sekali mengganti topik pembicaraan mereka. Tapi Myra sudah mulai mengajukan padanya beberapa pertanyaan.


"Bagaimana jika datang seorang pangeran berkuda putih datang membawamu?" Ishla tertawa geli. "Apa yang sedang kau pikirkan? Pangeran berkuda putih itu hanya ada dalam cerita, tidak ada dalam kehidupan nyata." Myra merasa sebal mendengar tanggapan Ishla.


"Sudahlah, aku akan pergi tidur sekarang." ucap Ishla sambil berjalan ke tempat tidurnya.


"Bagaimana jika dalam waktu dekat ini ada seorang pria yang melamar mu, lalu menikahimu?" ucap Myra. Ishla membalikkan badannya ke belakang. "Tentu saja aku akan menolaknya,"


"Walaupun kau mengenal orang itu, dan tahu jika dia mencintaimu, apa kau juga akan menolaknya?" Ishla sedikit bingung dengan semua pertanyaan Myra. Dia tidak langsung menjawabnya. "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Jika memang itu benar, siapa pria itu?"


"Cari tahu saja sendiri!" ucap Myra sambil berlari keluar.


"Dasar menyebalkan!" ucap Ishla sambil melempar bantalnya ke arah Myra.

__ADS_1


__ADS_2