CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
MENEPATI JANJI


__ADS_3

Malam sudah larut. Amine masih berada di rumah Dave untuk meminta bantuannya. Awalnya, Dave menolak karena dia sudah merasa putus asa dengan semua masalah hidup yang terus menerus menghampiri dirinya. Dia mencoba untuk mengakhiri hidupnya karena baginya hidup tidak lagi berarti setelah istri tercintanya pergi meninggalkannya lebih dulu.


"Apa kau tidak memiliki seorang kerabat?" tanya Amine.


"Mereka sudah tidak peduli padaku semenjak aku pensiun dari pekerjaanku. Aku sangat kecewa saat tahu jika mereka hanya menginginkan hartaku saja," ucap Dave.


"Lalu, putramu?" sambung Will.


Dave memberitahu mereka jika putranya itu sudah 8 tahun dipenjara. Dia difitnah oleh seseorang atas kasus pembunuhan. Sudah banyak pengacara yang dia sewa untuk membebaskan putranya itu, tapi mereka seakan mundur lebih dulu karena tahu siapa yang akan mereka hadapi. Mereka takut jika dengan membantu putranya pekerjaan mereka akan hilang.


"Putraku itu tidak bersalah! Dia dijebak oleh seseorang, dia sangat menderita disana. Dia harus menanggung semua dosa besar itu..." tangis Dave pecah. Jangankan untuk membebaskan putranya, dia saja sangat sulit untuk bisa menemui putranya dipenjara.


"Apa kau ingin bekerja denganku?" tanya Amine.


"Apa kau tidak memikirkan perasaanku, nyonya? Kau memintaku bekerja untukmu, sementara itu putraku disana sedang menunggu keadilannya!" ucap Dave sedikit emosi. Will mencoba untuk menenangkan temannya itu.


"Akan aku pastikan putramu bebas dalam waktu dekat!" ucap Amine pasti.


"Apa kau ini becanda? Pengacara hebat saja tidak ada yang mau membantuku, dan sekarang kau meyakinkanku dengan mengatakan jika putraku akan bebas? Tidak nyonya! Aku tidak akan percaya padamu begitu saja," ucap Dave.


"Baiklah, aku akan membawa putramu dihadapanmu secepatnya! Jika aku berhasil, kau harus bersedia membantuku!" Amine meminta Will untuk segera mengantarnya pulang. Dalam perjalan, Amine menghubungi pengacara pribadinya. Dia meminta pengacara itu untuk menangani kasus Dave.


\*\*\*


Tiba di rumah, Amine langsung menemui putrinya di kamar. Di sana dia melihat jendela kamar Ishla terbuka, Amine pergi untuk menutupnya. Saat membalikkan badan, Amine tidak sengaja menyenggol sesuatu yang ada di atas meja Ishla sampai sesuatu itu masuk ke bawah tempat tidur Ishla. Mendengar suara itu, Ishla langsung terbangun. Dia melihat ibunya berdiri di dekat tempat tidurnya.


"Ibu..." lirih Ishla pelan.


"Kau terbangun? Ini pasti karena ibu tidak sengaja menjatuhkan sesuatu di atas mejamu," ucap Amine.


Ishla langsung ingat setelah meminum obatnya itu, dia lupa menaruhnya di atas meja. Saat Amine akan mengambil benda itu, Ishla langsung mencegahnya.


"Kau akan apa ibu?"


"Ibu ingin tahu apa yang baru saja ibu jatuhkan?"


"Itu tidak perlu! Biar aku yang akan mengambilnya."


Ishla melihat ke bawah tempat tidurnya. Benar saja itu adalah obat miliknya. Ishla langsung menyembunyikan obat itu dan menggantinya dengan yang lain.


"Apa itu?" tanya Amine penasaran.


"Ini hanya botol vitaminku, ibu." ucap Ishla.


"Baiklah, kau lanjutkan tidurmu sayang. Selamat malam!"


"Selamat malam, ibu!"


\*\*\*


Pagi datang menyapa. Amine pergi ke kamar putrinya tapi sayang dia tidak mendapati Ishla di kamarnya. "Dimana dia?" ucapnya. Amine memeriksa kamar mandinya, tapi Ishla tidak ada di dalam. Di atas mejanya, Amine mendapati sebuah kertas kecil. "Ibu, aku pergi ke kantor lebih awal. Maaf, tidak bisa sarapan bersama denganmu," tulis Ishla dalam kertas itu. Saat akan pergi, Amine melihat sebuah kain yang ada di dekat tempat tidur Ishla. "Kain apa ini?" ucap Amine. Dia mengambil kain itu dan menanyakannya langsung pada Selma. Saat itu Selma sedang menyiapkan sarapan di dapur. Saat melihat kain itu ada di tangan Amine, Selma sangat terkejut.


"Apa kau tahu kain apa ini? Aku menemukannya di tempat tidur Ishla."


"Bagaimana ini? Apa sebaiknya aku ceritakan semuanya pada nyonya? ucap Selma dalam hati.


"Kenapa bibi diam saja?"


"Kemarin...


Saat Selma akan memberitahu Amine semuanya, ponsel Amine berdering. Dia pergi untuk mengangkatnya. Sementara itu, kainnya dia tinggal di dapur. Selma segera mencuci kain itu sebelum Amine datang dan menanyakannya kembali. Di satu sisi, seperti biasa Ishla dengan semangat mengerjakan semua pekerjaan kantornya. Tidak lama Myra datang. Saat melihat Ishla sudah kembali bekerja, Myra berlari untuk memeluknya.


"Aku sangat merindukanmu," ucap Myra sambil meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Kenapa kau menangis?" tanya Ishla.


"Aku tidak tahu, tapi rasanya belakangan ini aku sangat cemas dengan keadaanmu," ucap Myra kembali memeluk Ishla. Di waktu luangnya, Ishla terus menatap Myra yang sedang bekerja. Ishla sudah memiliki rencana untuk kedepannya. Saat akan pergi nanti, Ishla tidak akan khawatir jika Glan sendirian, dia yakin jika Myra dapat menggantikan posisinya dalam kehidupan Glan. Myra seorang perempuan yang cantik juga baik, laki-laki mana yang tidak mau menjadi pasangan hidupnya. Myra menyadari sikap Ishla yang sedari tadi menatapnya.


"Ada apa? Kenapa sejak tadi kau terus menatapku? Apa ada salah yang dengan penampilanku?" tanya Myra.


"Tidak! Hanya saja... aku ingin mengatakan jika kau sangat cantik, hatimu juga sangat baik," ucap Ishla.


Mendengar pujian Ishla, Myra tersipu malu. Dia meminta Ishla untuk berhenti menatapnya. Dia sangat tidak nyaman dengan siapapun yang menatapnya lama.


"Apa kau menyukai Glan?" pertanyaan Ishla membuat Myra sangat terkejut. Dia tidak percaya jika perkataan seperti itu keluar dari mulut Ishla.


"Tentu saja, tidak! Aku dan Glan hanya sebatas teman, tidak lebih dari itu! Kenapa kau menanyakan pertanyaan konyol seperti itu?" tanya Myra.


"Jika aku pergi nanti, maukah kau menggantikanku dalam kehidupan Glan?"


"Sudah cukup! Kau ini bicara apa? Dengar ini baik-baik! Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu dalam hidup Glan! Ishla untuk Glan, dan Glan untuk Ishla, tidak ada orang lain diantara kalian berdua!"


Myra mendekati Ishla, dia memegang tangannya kuat. "Kenapa kau mengatakan semua itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang kau sembunyikan dariku? Tolong jangan membuatku khawatir!"


Ishla tidak bisa mengatakan apapun, dia hanya bisa mendekap Myra erat sambil menangis dalam pelukannya. Saat Ishla sudah kembali mengerjakan tugas kantornya, sekretaris datang dan memberitahu Ishla jika siang nanti dia memiliki pertemuan penting untuk membahas proyek barunya.


"Dimana pertemuannya akan berlangsung?" tanya Ishla.


"Out door, nona. Pertemuan ini sangat penting dan banyak pengusaha besar yang ikut menghadirimya, termasuk tuan Glan."


"Bagaimana ini? Aku tidak bisa terlalu lama di luar sana," ucap Ishla dalam hati.


"Jika kau tidak bisa pergi, biar aku yang akan menggantikan mu," ucap Myra.


"Maaf, nona Myra. Tapi untuk pertemuan satu ini harus benar-benar dihadiri oleh pemilik perusahaan, jika tidak maka proyek besar yang sudah nona Ishla dapatkan akan jatuh ke tangan orang lain," sambung sekretaris itu.


"Baiklah, kau tidak perlu khawatir! Aku akan datang siang nanti," ucap Ishla.


\*\*\*


"Tolong tunjukan sikap hormatmu padaku, pak! Aku ini seorang pengacara, aku bisa saja melaporkanmu atas sikapmu itu," ucap pengacara Amine.


"Lepaskan anak itu!" ucap Amine yang muncul dari belakang.


"Kau siapa nyonya? Beraninya datang-datang dan langsung memerintahku seperti itu," ucap polisi.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku, pak. Kau harus segera membebaskan anak itu! Dia tidak bersalah, seseorang telah memfitnahnya," ucap Amine.


"Kau ini tahu apa, nyonya?"


Amine memanggil seseorang untuk masuk ke dalam.


"Siapa mereka?" tanya polisi.


"Dia adalah pelaku sebenarnya," ucap Amine.


"Haha... apa kau ini becanda nyonya?" ucap polisi.


Satu... Dua... Tiga...


Tidak lama telepon berbunyi. Saat mengangkatnya, polisi itu sangat terkejut. Dia baru saja dihubungi langsung oleh sang komisaris dan memerintahkan dia untuk segera membebaskan Davan. Bukan hanya itu, sang komisaris juga memecat polisi itu karena diketahui sudah bekerja untuk keluarga Amor. Melihat ekspresi wajah polisi itu, Amine sangat puas. Seorang polisi seharusnya menegakkan keadilan, bukan sebaliknya. Setelah menutup teleponnya, polisi itu memerintahkan anak buahnya untuk membebaskan Davan.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya polisi pada Amine.


"Aku adalah Amine Laraz, apapun yang aku inginkan akan aku dapatkan karena kerja kerasku, termasuk membuatmu dipecat dari anggota kepolisian!" ucap Amine.


Setelah Davan dibebaskan, Amine langsung membawanya menemui Dave. Di tengah perjalanan, Davan sedikit bingung dengan perempuan yang sudah membebaskannya.

__ADS_1


"Apa kau teman ayahku?" tanya Davan.


"Bukan! Aku hanya orang asing yang membutuhkan bantuan ayahmu, tapi sebelum itu, aku harus terlebih dahulu membebaskanmu dari penjara," ucap Amine.


"Sebelum kau tertangkap, apa kegiatanmu?" tanya Amine.


"Aku bekerja menjadi pelayan restoran," ucap Davan.


"Kenapa tidak kuliah?"


"Kuliah adalah cita-citaku, nyonya. Tapi sayangnya perekonomian keluarga yang kurang mendukung. Aku bekerja agar uang gajiku bisa aku tabung untuk kuliah nanti."


"Universitas mana yang kau inginkan?" tanya Amine.


"Oxford University," jawab Davan.


"Kenapa?" tanya Amine.


"London adalah tempat kelahiran ibuku, dan sekarang dia sudah tidak lagi Bersamamu. Aku hanya lebih ingin mengenal kota itu," jawab Davan.


\*\*\*


Siang itu, Ishla dan Myra bersiap untuk pergi meeting. Tiba-tiba Ishla mendapat informasi jika fashion show yang diadakan di Paris akan dimajukan lebih cepat. Acara itu akan berlangsung besok malam.


"Ada apa?" tanya Myra.


"Fashion shownya akan diadakan besok malam," jawab Ishla.


"Lalu, kita harus bagaimana sekarang?" tanya Myra.


Ishla meminta manajernya untuk memesan dua tiket untuk keberangkatannya sore nanti ke Paris. Ishla menyuruh Myra untuk pulang lebih awal. Dia memberi alamat butik yang merancang baju Myra untuk fashion show nanti.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaan di kantor? Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja," ucap Myra.


"Kau tidak perlu memikirkan pekerjaan, aku bisa menyuruh pegawai untuk menghandle pekerjaanmu untuk sementara. Kau fokus saja pada fashion show besok!"


Myra bergegas pergi ke alamat yang diberikan Ishla. Sementara itu, Ishla bersama sekretarisnya pergi menuju tempat meeting. Tiba disana, Glan sangat senang melihat kedatangan Ishla. Glan pergi dan duduk disebelah Ishla.


"Kau datang sendiri?" tanya Glan.


"Tidak! Aku bersama sekretarisku, dia sedang pergi ke toilet," ucap Ishla.


Tidak lama meeting berlangsung, para pengusaha besar pergi untuk melihat sebuah proyek besar yang sedang dibangun. Di dalam mobil, Ishla merasa khawatir karena jika dia terlalu lama di luar, kondisi tubuhnya akan memburuk. Pintu mobil Ishla terbuka, dia ragu untuk melangkah. Sebuah tangan siap untuk selalu menggenggamnya. Ishla melihat Glan sudah ada di depannya. "Berikan tanganmu!" ucap Glan.


Semua pengusaha pergi untuk melihat detail setiap proses pembangunan proyek itu. Ishla dan Glan pergi menuju lantai paling atas. Di sana sinar matahari sangat terik, Ishla sudah takut jika penyakitnya itu kambuh.


"Apa aku boleh meminta bantuanmu?" tanya ishla.


"Apa itu?"


Ishla meminta Glan untuk menemani Myra fashion show di Paris. Dia sudah memesan dua tiket untuk keberangkatannya ke London. Penerbangannya pukul 5 sore nanti. Mendengar permintaan Ishla, Glan tidak langsung menyetujuinya.


"Kenapa harus aku?" tanya Glan. "Kita bisa pergi bertiga."


"Aku tidak bisa pergi karena kondisiku yang belum pulih betul, karena itu aku ingin kau yang menggantikanku untuk pergi kesana," ucap Ishla. "Kau tidak perlu khawatir, bukan hanya Myra yang akan pergi tapi juga tiga orang lainnya yang akan ikut kesana."


"Aku mohon...


Glan tidak bisa melihat Ishla memohon seperti itu, tapi disisi lain dia juga tidak ingin pergi jauh dari Ishla. "Baiklah, aku akan pergi karena kau yang memintanya," ucap Glan.


"Terimakasih banyak, Glan...


Saat Ishla akan mengeluarkan ponsel dari dalam saku bajunya, dia mulai merasakan pusing di kepalanya, saat menatap layar ponselnya, Ishla bisa melihat hidungnya yang berdarah. Dia segera mengelapnya sebelum Glan mengetahuinya. "Kau harus kuat! Kau tidak boleh pingsan disini! Jangan sampai Glan tahu penyakitku ini!" ucap Ishla dalam hati. Setelah pertemuan itu selesai, Ishla meminta sopir untuk segera mengantarnya ke rumah. Di dalam mobil, Ishla terus menahan rasa sakitnya. Sesampainya di rumah, tubuh Ishla langsung terjatuh ke lantai.

__ADS_1


"Nona... bangunlah! " ucap Selma.


Selma membawa Ishla ke kamarnya. Dia langsung menghubungi dokter untuk memeriksa keadaannya.


__ADS_2