
Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung memeriksa kondisi Aiyla. Sementara itu, Ishla pergi untuk menemui Ashika. Tiba disana, Ishla bertemu dengan Kemal.
"Selamat pagi, paman."
"Selamat pagi, nak. Masuklah!"
"Tidak perlu, paman. Aku datang untuk menemui Ashika. Apa dia ada di dalam?" Kemal sangat menyayangkan jika Ashika baru saja pergi mengantar ibunya ke rumah sakit. Penyakit darah tinggi yang dirasakan Bahar kembali naik tadi malam. Ashika harus absen kuliah untuk mengantar ibunya, karena Kemal sedang banyak pekerjaan di bengkelnya. Ishla meminta alamat rumah sakit tempat Bahar berobat, dia akan pergi kesana untuk menyusul mereka.
\*\*\*
Di rumah, Azizah masih menunggu kabar dari Adlar. Dia terus berdoa agar cucunya, Aiyla baik-baik saja. Azizah tidak habis pikir jika Nilam sudah menyembunyikan hal sebesar itu darinya. Azizah melihat surat kabar yang ada di atas meja. Semua berita dalam surat itu tentang perusahaan baru Amine. Azizah pergi untuk menemui Amine di kantornya. Dia akan menanyakan langsung tentang rekaman CCTV itu, sekaligus mencaritahu motif Amine yang sempat membuat Ethan babak belur.
\*\*\*
Tidak lama dokter keluar dan memberitahu jika Aiyla baik-baik saja. Dia sudah sadarkan diri, hari ini juga Aiyla bisa langsung dibawa pulang. Saat Adlar dan Nilam masuk, Aiyla sudah turun dari tempat tidurnya.
"Kau akan pergi kemana, sayang?" tanya Adlar sambil memegangi tubuh Aiyla.
"Menjauh dariku!" pinta Aiyla.
"Tapi kau masih lemah, jika kau ingin pergi, biarkan ayahmu ini yang akan mengantarmu."
"Aku bilang, lepaskan aku! Aku bisa sendiri, kau tidak perlu membantuku." Aiyla meminta perawat untuk membawanya ke mobil. Dia akan pulang ke rumah sendiri.
"Itu tidak perlu, kau bisa pergi!" ucap Nilam pada perawat itu. Aiyla mengejar perawat itu sampai akhirnya terjatuh. Nilam mencoba untuk membantu putrinya, tapi lagi-lagi Aiyla menolaknya.
"Sudah aku katakan, jauhi aku! Kalian tidak perlu membantuku!" Di lorong rumah sakit yang lain, Ishla masih mencari keberadaan Ashika. Perawat bilang, Ashika dan Bahar berada di kamar nomor 304. Ishla sangat bingung, karena banyak sekali kamar di rumah sakit itu.
"Permisi, kamar 304 disebelah mana ya?" tanya Ishla pada salah seorang perawat.
"Dari sini kau lurus, lalu belok kanan. Kamarnya berada disebelah kiri." jawab perawat itu.
"Baiklah, terima kasih." Saat Ishla akan menuju kesana, langkahnya terhenti saat dia melihat keberadaan Aiyla, Adlar, juga Nilam di rumah sakit itu.
"Sedang apa mereka disini?" ucapnya. Ishla melihat tangan Aiyla yang diperban. Ishla sembunyi di balik tembok untuk mendengar semua percakapan mereka. Amarah yang ada pada Aiyla belum juga reda. Dia berusaha untuk bangun tetapi kakinya terasa sangat lemas. Adlar langsung menggendong Aiyla dan membawanya kembali ke tempat tidur. Ishla melihat semuanya di balik pintu. Dia melihat Adlar begitu perhatian pada Aiyla, dia membereskan rambut Aiyla yang sedikit berantakan.
"Maafkan ayah, sayang. Ayah tidak bermaksud untuk menyembunyikan semua ini darimu. Hanya saja, ayah menunggu waktu yang tepat untuk bisa mengatakan semuanya. Kau putriku, sampai kapanpun kau akan menjadi putriku. Aku sangat menyayangimu, sayang." ucap Adlar sambil mencium kening Aiyla.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku, ayah. Kau ayahku, hanya ayahku seorang. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu dariku." ucap Aiyla sambil memeluk ayahnya. Melihat kebersamaan mereka, Ishla merasa sangat sedih. Saat akan pergi, tidak sengaja dia menabrak seorang perawat dan menjatuhkan semua obat-obatan yang dibawanya.
"Maafkan aku," Ishla langsung pergi. Di dalam kamar, Adlar seperti mendengar suara Ishla. Dia melihat ke luar untuk memeriksanya. Hanya ada seorang perawat yang sedang membereskan semua obat-obatan yang terjatuh ke lantai. Di sebelah perawat itu, Adlar melihat sebuah kunci mobil yang tergeletak dilantai.
"Maaf, apa kunci ini milikmu?" tanya Adlar pada perawat itu.
"Bukan, tuan. Mungkin kunci itu milik gadis yang baru saja pergi."
"Gadis?
"Iya, tuan. Aku melihat dia berdiri cukup lama di depan pintu kamar ini. Saat berbalik, dia tidak sengaja menabrak ku dan langsung pergi." Adlar langsung mencari pemilik kunci mobil itu. Di parkiran, Ishla sibuk mencari kunci mobilnya. Dia sudah mencarinya dalam tas, tapi kunci itu tidak ada.
"Apa kunci itu terjatuh di dalam?" ucapnya. Saat Ishla akan kembali untuk mencari kunci mobilnya, dari jauh dia melihat Adlar yang sedang berjalan ke arah parkiran. Ishla dengan cepat mencari tempat sembunyi.
"Maaf, apa kau melihat seorang gadis yang berjalan kemari?" tanya Adlar pada seorang pengemudi.
"Tidak, tuan." Ishla bersembunyi di belakang salah satu mobil, dia melihat Adlar yang masih ada di tempat itu. Pandangan Ishla tertuju pada sesuatu yang ada di tangan Adlar.
"Kunci? Bukankah kunci itu milikku? Kenapa kunci itu bisa ada padanya?" Ishla yakin jika kuncinya terjatuh saat dia menabrak perawat itu. Saat Adlar sudah pergi, Ishla memutuskan pulang dengan taksi.
\*\*\*
Azizah sudah tiba di kantor Amine. Saat akan masuk, seorang penjaga menahannya.
"Peraturan seperti apa itu? Aku tidak memiliki kartu khusus seperti yang kau bilang. Jadi cepatlah minggir!"
Penjaga itu tetap melarang Azizah untuk masuk.
"Maaf, nyonya. Kau tidak bisa masuk." Azizah memberitahu penjaga itu siapa dia yang sebenarnya. Penjaga itu mendengar semua perkataan Azizah dengan wajah yang datar dan berdiri tegak layaknya patung. Penjaga itu mengabaikan Azizah dan kembali bekerja.
"Amine, keluarlah! Aku ingin bicara denganmu!" teriak Azizah. Salah satu pegawai keluar menemui Azizah. Dia meminta Azizah untuk tidak berteriak seperti itu di depan kantor bosnya.
"Tolong panggilkan Amine! Katakan padanya, Nyonya Azizah Diaz datang untuk menemuinya." Pegawai itu segera menemui Amine di ruangannya. Dia memberitahu Amine jika Azizah ada dibawah, dia datang untuk menemuinya.
"Untuk apa dia datang kemari?" ucapnya. Amine langsung pergi untuk melihatnya. Amine sempat tersenyum melihat wajah Azizah begitu kesal.
"Selamat datang, nyonya. Ada apa dengan wajahmu? Apa penjagaku yang membuat harimu menjadi buruk?" ledek Amine.
"Kenapa kau tidak membiarkan dia masuk?" tanya Amine pada penjaganya.
"Maaf, nyonya. Seperti yang kau tahu, aku tidak akan membiarkan siapapun masuk tanpa kartu perusahaan."
"Apa kau tidak tahu, perempuan ini adalah nyonya Azizah Diaz, kau harus mengenalnya lebih dekat lagi, jika tidak dia akan muncul dalam mimpimu setiap malam." Penjaga itu tertawa mendengar perkataan Amine.
__ADS_1
"Maaf, nyonya. Aku tidak bisa menahan tawa mendengar perkataan mu itu." Azizah terlihat semakin kesal. Amine langsung membawa Azizah ke ruangannya.
"Tolong buatkan teh dengan sedikit gula, dan bawa ke ruangan ku sekarang juga!" pinta Amine pada salah satu pelayan yang di kantornya. Tiba di ruangan, Amine mempersilahkan Azizah untuk duduk.
"Untuk apa kau datang menemuiku?" tanya Amine.
"Aku hanya ingin memperingatkanmu juga putrimu itu untuk tidak mengganggu keluargaku." Amine tertawa mendengar perkataan Azizah. Dia memberitahu Azizah jika dia sangat enggan untuk berurusan dengan keluarganya. Jikapun ada, itu hanya untuk membalas dendam.
"Membalas dendam? Dendam apa yang aku maksud?" tanya Azizah penasaran.
"Dendam yang sangat besar, yang kalian sendiri tidak akan bisa menghindar darinya." Amine memberitahu Azizah jika dia mengetahui semua kejadian tiga tahun yang lalu, dimana Ethan menabrak seorang gadis lalu pergi begitu saja. Amine menunjukkan semua bukti rekaman CCTV itu pada Azizah. Setelah melihat semuanya, dada Azizah terasa sangat sesak.
"Jika aku mau, hari ini juga rekaman CCTV ini akan sampai pada polisi. Saat kau kembali nanti, kau akan melihat cucu kesayangan mu itu harus pergi jauh darimu untuk menerima hukumannya." ucap Amine.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanya Azizah.
"Keadilan!" ucap Amine. "Aku hanya ingin keadilan untuk gadis yang menjadi korban tabrak lari Ethan."
"Siapa sebenarnya gadis itu? Apa hubungan dia denganmu? Kenapa kau ingin sekali membantunya?" tanya Azizah dengan nada marah.
"Kau tidak perlu tahu siapa gadis itu, yang perlu kau tahu, aku akan membawa keadilan untuk gadis itu, dan membuat Ethan dipenjara selama mungkin." Tubuh Azizah mulai gemetar. Saat akan bangun, tubuhnya hilang keseimbangan, membuat dia hampir terjatuh. Dia menelepon sopir untuk menjemputnya ke atas, dia sudah tidak sanggup lagi berjalan. Amine menghampiri Azizah dan duduk didekatnya. Wajah Azizah terlihat sangat pucat.
"Lihat aku baik-baik! Amine menatap tajam wajah Azizah. "Apa yang sudah kau lakukan padaku selama ini, sangatlah buruk dan melukai perasaanku. Kau membuatku terpisah dari Adlar. Kau sudah menghina, bahkan sering sekali menyebutku sebagai wanita penghibur. Ingatlah ucapan ku ini! Aku berjanji untuk membalas semua yang sudah kau lakukan padaku, juga putriku. Tentang Ethan, kau tidak perlu khawatir, karena aku tidak akan membocorkan rahasia ini pada polisi." Tidak lama sopir datang dan membantu Azizah untuk berjalan. Amine membuntuti mereka dari belakang. Saat akan masuk ke dalam mobil, Amine memegang keras tangan Azizah, dan sempat membisikkan sesuatu padanya.
"Balas dendam ini akan segera dimulai, bersiaplah untuk setiap apapun yang akan terjadi pada keluargamu! Mengenai Ethan, aku sendiri yang akan menghukumnya."
Perkataan Amine membuat Azizah semakin tertekan. Saat menuju perjalanan pulang, Azizah memegang dadanya yang terasa sakit, dan sesak. Dia meminta sopir untuk segera membawanya ke rumah sakit.
\*\*\*
Taksi yang dikendarai Ishla berhenti di sebuah hotel mewah. Dia masuk untuk menemui resepsionis.
"Permisi, aku Ishla Diannova Laraz. Aku yang satu jam lalu menghubungimu dan memesan satu kamar di hotel ini." Resepsionis itu memeriksa kembali data yang ada di komputernya.
"Baiklah, silahkan! Ini kunci kamarnya, lantai 9 dengan kamar nomor 117." ucap resepsionis itu.
"Baiklah, terima kasih." Sebelum beranjak pergi, Ishla meminta resepsionis itu menyembunyikan data dirinya dari siapapun. Dia tidak ingin ada yang tahu jika dirinya memesan sebuah kamar di salah satu hotel mewah di kota. Dia juga meminta resepsionis untuk mengganti nama aslinya, dengan nama samaran.
"Nama apa yang ingin kau buat, nona?" tanya resepsionis itu.
"Almya Baizah."
"Baiklah, aku akan segera menggantinya. Semoga kau nyaman menginap di hotel ini, dan semoga kau suka dengan semua pelayanan yang tersedia disini." ucap resepsionis.
__ADS_1
"Terima kasih, semoga harimu baik." ucap Ishla.