CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
PAMERAN LUKISAN


__ADS_3

Malam itu Nilam pergi menemui Adlar di ruang kerjanya. Sebelum masuk, Nilam mendengar percakapan Adlar dengan seseorang di telepon.


"Terus awasi Amine, jika perlu setiap gerak-geriknya aku harus tahu." Kedatangan Nilam mengejutkan Adlar. Dia langsung menutup teleponnya.


"Kenapa kau menyuruh orang untuk mengawasi Amine? Apa jangan-jangan... Selama ini kau masih sering bertemu dengannya di belakangku?"


"Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan, jadi tolong jangan menuduhku yang bukan-bukan." Adlar pergi dari ruangannya. Nilam terus mengikuti langkah Adlar.


"Tunggu aku! Kau pasti berbohong kan? Kau masih mencintainya bukan?"


"Sudah cukup!" teriak Adlar.


Pertengkaran mereka mengundang perhatian semua orang.


"Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar?" tanya Azizah.


"Adlar masih memiliki hubungan gelap dengan perempuan itu, Ibu. Dia meminta orang untuk mengawasi setiap gerak-geriknya."


"Itu tidak seperti apa yang kau pikirkan, Nilam. Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."


Malam itu, Aiyla dan Ethan baru saja datang. Dia mendengar pertengkaran ayah dan ibunya.


"Ada apa ini?" tanya Aiyla. "Kenapa kalian bertengkar?"


"Tidak ada apa-apa, sayang. Ibumu hanya salah paham saja padaku. Pergilah ke kamarmu, dan bersiaplah! Kita akan akan makan malam di luar."



Malam itu, Ashika pergi menemui Ishla. Dia memberitahu jika besok akan ada pameran lukisan di kampus. Ishla sangat ingin tahu siapa pemilik lukisan indah itu. Kenapa... Saat pertama melihat lukisan itu, langsung terlintas sesuatu di kepalanya, tapi itu entah apa.



Aghna melihat Aiyaz yang teru saja bekerja meski dia ada di rumah. Pekerjaannya itu seakan tidak pernah usai. Aghna membawa segelas teh ke ruangan Aiyaz.


Tok... Tok... Tok...


"Masuklah!"


"Kakak, ini aku bawakan teh untukmu."


"Terimakasih."


"Apa pekerjaanmu itu sangat banyak? Kau jarang sekali tidur saat malam."


"Itu sudah menjadi kebiasaan ku, kau tidak perlu khawatir."


Aghna memberitahu Aiyaz jika besok ada pameran lukisan di kampusnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Aiyaz sambil terus melihat layar laptopnya.


"Ishla ada disana. Apa kau tidak ingin menemuinya?" Mendengar nama Ishla, rasanya semua yang dilakukan Aiyaz seakan berhenti sejenak. Dia menutup laptopnya, dan mulai mendengarkan Aghna bicara.


"Apa kau memiliki sesuatu untuk di tunjukkan pada Ishla? Bisa jadi, setelah melihatnya dia akan mengingatmu."


Aiyaz ingat dengan lukisan miliknya, lukisan itu masih tersimpan di kampusnya. Aiyaz yakin jika besok lukisan miliknya akan diperlihatkan pada semua orang, dengan begitu Ishla juga akan melihatnya.


"Lukisan apa?" tanya Aghna.


"Besok kau akan melihatnya."



Adlar mengajak Aiyla makan malam di luar.


"Apa Ibu tidak ikut, ayah?" tanya Aiyla.


"Tidak, sayang. Hanya ada kita berdua saja."


Setelah Adlar pergi, Azizah, Nilam, dan Ethan berkumpul seperti akan melakukan sebuah serangan. Mereka membicarakan tentang mobil yang dilihat Nilam siang tadi.

__ADS_1


"Apa kau sudah mencaritahu siapa pemiliknya?" tanya Azizah.


"Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya, Ibu. Tapi sampai saat ini belum juga ada kabar."


"Apa kau tidak ingat, pada siapa kau memberikan mobil itu?" tanya Nilam.


"Aku tidak ingat, Ibu. Lagipula kejadiannya sudah tiga tahun yang lalu. Aku lupa wajah orang itu."


"Bagaimana ini?" Nilam terlihat sangat khawatir.


"Bersikaplah seperti biasa! Jangan sampai Adlar dan Aiyla tahu tentang ini."



Adlar tiba di sebuah restoran mewah. Sebuah pelayan menyambut kedatangan mereka dengan sebuah alunan musik yang indah. Dia menunjukkan pada mereka tempat yang sudah dihias dengan sangat indah.


"Ada apa ini, ayah?" tanya Aiyla.


Adlar sengaja mempersiapkan semua ini untuk putrinya. Sudah lama dia tidak menghabiskan waktu dengan Aiyla. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ini adalah makan malam spesial untuk ayah dan putrinya. Beberapa pelayan datang dengan membawa beberapa hidangan istimewa, salah satunya ada makanan favorit Aiyla.


"Ayah, ini makanan kesukaanku. Apa kau yang memesannya?"


"Tentu saja, makanlah!"


Saat makan malam, Adlar membuka pembicaraan.


"Apa pendapatmu tentang seorang suami yang meninggalkan istrinya begitu saja?" Pertanyaan Adlar membuat Aiyla heran.


"Pertanyaan macam apa itu, ayah?"


Adlar menceritakan kisah hidupnya dengan menggunakan nama orang lain.


"Bagaimana pendapatmu?"


"Jika aku ada di posisi perempuan itu, mungkin aku akan sangat kecewa dan tidak ingin lagi melihatnya."


"Bagaimana jika perempuan itu ternyata memiliki seorang anak? Apa yang harus laki-laki itu lakukan?"


"Walaupun laki-laki itu sudah memiliki keluarga baru?"


"Tentu saja, bagaimanapun anak itu darah dagingnya, ya... Walaupun orang tuanya tidak lagi tinggal bersama."


"Bagaimana jika laki-laki itu adalah ayahmu?" Aiyla langsung tersedak.


Uhuk... Uhuk... Uhuk..


Adlar memberikan segelas air minum padanya, "Minumlah dulu!"


"Tidak mungkin ayah seperti itu, kau sangat mencintai Ibu, bukan? Kau juga memilki aku dan Ethan. Untuk apa lagi kau mencari yang lain? Tetapi... Jika memang benar, aku tidak akan membiarkan orang lain memanggilmu ayah. Aku tidak akan membiarkan wanita manapun merebut ayah dari Ibu. Begitu juga anak perempuan itu, aku tidak akan membiarkan dia menyebutmu sebagai ayah."


Pagi-pagi sekali, Azizah dan Nilam sudah ada di tempat dimana kemarin Nilam melihat mobil Ethan. Sudah dua jam mereka menunggu di dalam mobil, tiba-tiba mobil itu melintas di depannya. Mereka mengikuti kemana mobil itu pergi.


"Kau harus menjaga jarak dengan mobil itu, jangan sampai mereka tahu."


"Baik, Ibu."



Pagi itu, setelah menjemput Ashika di rumahnya, dia pergi untuk menjemput Ishla. Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah mewah. Azizah dan Nilam masih memantau pergerakan mereka dari jauh. Mereka sangat terkejut saat melihat Ishla keluar dari rumah itu. Zafer mendorong Ishla dan menaikkannya ke dalam mobil.


"Siapa pemuda itu? Apa hubungan dia dengan gadis itu? tanya Azizah.


"Kelihatanya, dia seorang sopir Ibu."


Azizah meminta Nilam untuk terus mengikuti mereka.


Aiyla pergi menemui Aiyaz di kantornya. Sudah satu jam menunggu, Aiyaz belum juga tiba. Saat itu, Ishy datang untuk mengambil dokumen yang sebelumnya sudah ditandatangani Aiyaz di ruangannya.


"Ishy, dimana Aiyaz? Kenapa sampai detik ini juga dia belum datang?"

__ADS_1


"Hari ini Tuan Aiyaz tidak akan datang, Nona. Dia memiliki urusan penting di luar sana."


"Urusan apa?" tanya Aiyla.


Ishy ingat pesan Aiyaz, dia tidak boleh memberitahu siapapun kemana Aiyaz pergi, termasuk pada Aiyla.


"Maaf, Nona. Untuk itu aku sendiri tidak tahu."


Aiyla berjalan pergi sambil menghubungi ponsel Aiyaz.



Di dalam mobil, Aghna mendengar ponsel Aiyaz yang terus saja berbunyi.


"Kenapa kau tidak mengangkatnya, Kakak?"


"Biarkan saja."


Aghna melihat nama Aiyla yang tertera di ponsel Aiyaz. Sudah lebih dari lima kali Aiyla menghubunginya, tapi Aiyaz tetap tidak mengangkatnya.


"Aiyla yang menelepon mu, Kakak. Kau angkat saja! Siapa tahu ada sesuatu yang sangat penting yang ingin dia bicarakan padamu."


"Sudah, biarkan saja."



Pagi itu, semua orang telah berkumpul untuk melihat pameran lukisan yang diadakan kampus. Mereka sudah tidak sabar untuk melihatnya. Ishla yang baru saja datang, ikut menunggu acara itu di buka. Dia dan Ashika duduk di taman kampus. Zafer tidak bisa menemani mereka, dia harus pergi untuk mengantar Amine ke kantornya.


Tidak lama kemudian, Aiyaz dan Aghna tiba di kampus. Aiyaz melihat ke sekeliling, dia mendapati Ishla sedang duduk di taman. Aghna melihat ke arah Aiyaz memandang.


"Itu dia disana! Temui dia dan bicara padanya." Aghna pergi lebih dulu. Dia membawa Ashika dari dekat Ishla, agar Aiyaz bisa memiliki kesempatan untuk bicara dengannya.


"Lepaskan tanganku! Kau mau membawaku kemana?" Ashika mencoba melepaskan tangan Aghna darinya.


"Ikut saja! Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."


"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Ishla sendirian...


"Aghna! Kau akan membawa Ashika kemana?" ucap Ishla.


"Tenang saja, aku akan mengembalikan dia padamu nanti." teriak Aghna.



Aiyaz datang menghampiri Ishla.


"Selamat pagi."


"Selamat pagi "


"Kau disini?" tanya Ishla sambil tersenyum kecil.


"Aghna memberitahu ku tentang pameran lukisan ini, aku datang untuk melihatnya."



Tidak lama, pameran lukisan di buka. Semua orang berdesakan untuk bisa masuk dan melihat semua lukisan yang ada disana. Aiyaz membantu Ishla untuk mendorong kursi rodanya.


"Itu tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri." ucap Ishla.


"Izinkan aku untuk membantumu."Aiyaz membawa Ishla masuk ke dalam. Tidak ada yang membuat Ishla penasaran, kecuali satu lukisan yang berada di sudut ruangan. Ishla mendorong kursi rodanya kesana. Dia berada tepat di depan lukisan itu. Aiyaz melihat Ishla yang tertuju pada satu lukisan saja. Saat dilihat....


Sebuah lukisan indah kota Cappadocia. Lukisan itu tidak lain adalah milik Aiyaz.


"Apa kau menyukai lukisan ini?" tanya Aiyaz. "Ini adalah lukisan yang aku buat tiga tahun yang lalu."


"Benarkah?" Ishla terkejut saat mengetahui lukisan itu milik Aiyaz. Ishla sangat penasaran apa hubungan dia dengan lukisan itu.


"Apa kau bisa beritahu aku, kenapa kau melukis semua itu?"

__ADS_1


"Aku akan mengajakmu ke tempat itu, disana aku akan memberitahumu semuanya."


__ADS_2