
Pagi itu Ishla dan Ashika pergi ke kampus dengan diantar Zafer. Di kursi belakang Ashika melihat kakaknya yang terus saja menengok ke arah Ishla.
"Kakak, lihatlah ke depan! Jangan melihat terus ke samping, memang apa yang kau lihat?" Ashika mencoba untuk meledek kakaknya.
"Apa yang kau katakan? Diam saja dan nikmati perjalanannya."
Selesai sarapan, Aghna tidak melihat batang hidung Aiyaz sedikitpun, biasanya dia bangun lebih awal.
"Kakak! Aku sudah siap, ayo kita pergi!" teriak Aghna. Tidak ada jawaban dari Aiyaz.
"Kemana dia?" Aghna mencari Aiyaz ke kamarnya. Ketika tidak mendapati Aiyaz di kamarnya, Aghna kembali turun dan melihat Aiyaz yang tertidur di sofa. Aghna merasa kasihan jika harus membangunkannya, sepertinya Aiyaz sangat lelah karena pulang larut malam.
Terpaksa, pagi itu Aghna harus berangkat dengan menggunakan taksi. Saat menunggu taksi, tiba-tiba Aiyla lewat dan menyuruh Aghna untuk masuk ke mobilnya.
"Kemana kakakmu? Kenapa kau pergi sendiri?" tanya Aiyla.
"Dia belum bangun, tadi malam dia pulang sangat larut." Sebagai calon kakak ipar yang baik, Aiyla akan mengantar Aghna ke kampusnya.
Sesampainya di kampus, Ashika turun lebih dulu dan membawakan kursi roda Ishla. Ashika tidak bisa jika dia sendiri yang harus membantu Ishla ke kursi rodanya. Dia meminta Zafer untuk menggendong Ishla ke kursi rodanya.
"Terimakasih," ucap Ishla.
Ashika mendorong Ishla ke kelas. Aghna yang baru saja tiba, dia melihat Ishla dan menghampirinya.
"Selamat pagi." ucap Aghna ramah.
"Selamat pagi." ucap Ishla dan Ashika bersamaan. Aghna mengambil alih kursi roda Ishla, "Pergilah! Aku yang akan mengantar Ishla ke kelas."
"Itu tidak perlu, Aghna. Biar dia saja yang mengantarku. Ishla memperkenalkan Ashika pada Aghna. Dia adalah teman barunya, dia mengambil jurusan arsitektur sama seperti dirinya, dia juga akan tinggal bersama Ishla di rumahnya. Mendengar perkataan Ishla, ada rasa cemburu dalam hati Aghna sebagai seorang teman ketika Ishla harus dekat dengan orang lain. Aghna tidak harus lagi membantu Ishla, ada Ashika yang akan membantunya. Ashika membawa Ishla ke kelas, mereka meninggalkan Aghna di belakang.
"Apa aku ini bukan temannya lagi?" Aghna pergi ke kelasnya. Hari ini dosen yang biasa mengajar sudah kembali, Arash tidak perlu lagi datang ke kampus. Sekembalinya dari kampus, Zafer mengantar Amine ke kantornya. Di tengah perjalanan tiba-tiba mobil Zafer mengerem mendadak.
"Ada apa?" tanya Amine.
Zafer melihat sebuah mobil berhenti di depannya. Amine menyuruh Zafer untuk melihatnya. Aiyla terlihat sedang memperbaiki mobilnya, ada sedikit kerusakan pada mesin mobilnya sampai mesinnya mengeluarkan asap.
"Maaf nyonya. Mobil di depan mengalami sedikit masalah," Amine keluar untuk melihatnya. Ternyata pengemudi itu seorang gadis.
"Apa kau membutuhkan bantuan?" Amine terkejut ketika melihat gadis itu adalah gadis yang bersama Adlar di dalam mobil.
"Apa kau bisa memberikanku tumpangan? Ada pekerjaan penting hari ini, aku harus datang tepat waktu, jika tidak aku akan kehilangan pekerjaan ini. Jika tidak percaya, ini kartu namaku." Aiyla memperlihatkan kartu namanya pada Amine.
Aiyla Shahinaz Diaz, sudah jelas nama belakang gadis ini menunjukkan jika dia keturunan Diaz. Amine awalnya tidak ingin membantunya karena dia putri dari Adlar, tetapi bagaimanapun dia harus tetap menolongnya. Ketika kita akan membantu orang lain, tidak perlu melihat siapa orang itu. Jangan sungkan ketika akan berbuat baik, karena kebaikan yang kita beri akan kembali pada diri kita sendiri.
"Masuklah!"
"Dimana kau bekerja?" tanya Amine
Aiyla memberitahu Amine dimana kantornya. Amine menyuruh Zafer untuk mengantar Aiyla terlebih dahulu ke kantornya.
"Bagaimana denganmu?" tanya Aiyla.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku, lagi pula pekerjaan ini penting untukmu, bukan? Jadi jangan sia-siakan kesempatan ini."
Saat kelas selesai, Ashika membawa Ishla untuk minum teh di kantin.
__ADS_1
"Kau ingin pesan makanan?" tanya Ashika.
"Tidak perlu, teh saja."
Saat itu, Aghna berjalan melewati mereka, tapi tidak dilirik sedikitpun. Mereka terlalu asyik mengobrol sampai tidak melihat Aghna di hadapannya.
"Menyebalkan!" Aghna tidak jadi memesan makanannya, dia pergi karena merasa sudah diabaikan.
Semenjak kehadiran Ashika di dekat Ishla, Aghna tidak bisa lagi sedekat kemarin, Ishla sudah tidak peduli lagi padanya, dia sudah memiliki teman baru, jadi untuk apa Aghna harus peduli lagi padanya?
Mobil Zafer berhenti di depan kantor Aiyla, "Terimakasih banyak, Nyonya. Oh iya, aku belum tahu siapa namamu?"
"Itu tidak penting, yang terpenting sekarang kau masuk dan lakukan pekerjaanmu."
"Jika aku melihat mu dari masa lalu orang tuamu, mungkin aku sudah sangat membencimu. Sayangnya, aku melihatmu seperti melihat putriku sendiri," ucap Amine dalam hatinya. Dia menyuruh Zafer untuk segera mengantarnya ke kantor.
Aiyaz terbangun karena suara ponselnya yang terus berbunyi dari tadi.
"Halo!" Aiyaz mencoba untuk mengumpulkan energinya.
"Halo, Aiyaz."
"Ada apa paman?"
"Datanglah ke kantor siang ini, ada yang ingin aku bicarakan padamu."
"Baiklah."
Di ruang kerjanya, Amine sedang melihat-liha rancangan untuk proyek barunya. Dia berencana untuk membangun perusahaan atas nama putrinya, Ishla.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk! Sekretaris menemui Amine dan memberi sebuah surat undangan perusahan. Malam nanti sebuah acara peresmian perusahan baru dimana semua pemilik perusahaan harus hadir dan menyaksikannya.
Amine tidak terlalu suka perayaan yang dibuat perusahaan, baginya itu hanya membuang-buang waktu saja. Dia datang dan duduk sampai acara itu selesai, setelah itu bergantian mengucapkan selamat dan mengambil foto, tidak lama foto itu akan tersebar di koran maupun internet.
Huh... Membosankan bukan? Tapi bagaimanapun untuk pertama kalinya Amine harus hadir agar tidak memberi kesan buruk pada perusahaannya.
Siang itu Aiyaz menemui Adlar di kantornya. Dari wajah Adlar terlihat ada sesuatu penting yang ingin dia bicarakan.
"Selamat datang, Paman."
"Selamat datang, terimakasih sudah mau datang kemari. Duduklah!"
Adlar menceritakan pada Aiyaz tentang perubahan sikap Aiyala sejak kemarin siang. Adlar tahu jika ini semua ada hubungannya dengan Aiyaz.
"Apa kalian bertengkar?" tanya Adlar.
Aiyaz menceritakan kejadian kemarin siang dimana Aiya membawa beberapa wartawan ke kantornya. Itu sangat menganggu kenyamanan Aiyaz, dia menyuruh Aiyaz untuk pergi saat itu juga. Aiyla juga mungkin marah ketika Aiyaz tidak mengangkat teleponnya.
"Aku minta maaf atas sikap putriku, itu." Adlar meminta Aiyaz untuk mau membuka perlahan perasaannya untuk Aiyla. Dia benar-benar sangat mencintainya. Adlar tidak ingin melihat putrinya bersedih, dia hanya ingin kebahagiaan untuknya. Adlar memohon pada Aiyaz untuk bersiap diwawancarai dan mengenalkan diri pada semua orang jika dia adalah calon tunangan Aiyla. Adlar sangat takut jika keinginan Aiyla itu tidak bisa terwujud, dia akan berbuat nekat. Seorang ayah tentu saja tidak ingin melihat putrinya terluka.
__ADS_1
"Maafkan aku, paman. Aku tidak bisa menyakiti perasaan Aiyla dengan semua kebohongan ini."
"Lalu apa bedanya jika kau mengatakan bahwa kau tidak pernah sedikitpun mencintainya, bukankah itu akan lebih sakit?" Lebih baik terluka karena sebuah kebenaran, daripada harus bahagia di dalam sebuah kebohongan.
"Apa yang kurang dari Aiyla? Dia berusaha membuat dirinya lebih baik untuk bisa bersanding denganmu." Aiyla seorang gadis yang dimimpikan setiap pria tetapi tidak dengan Aiyaz, dia masih sangat mencintai Ishla dan berharap agar dia bisa kembali padanya.
"Kau masih berharap pada gadis itu? Dia pergi meninggalkanmu saat kau kritis, tidak bisakah kau melihat saat itu, Aiyla lah yang terus ada disampingmu."
Aiyaz benar-benar minta maaf karena tidak bisa menerima Aiyla sebagai calon tunangannya. Dia juga belum bisa membuka hatinya untuk Aiyla, sampai kapanpun hanya ada satu orang di dalam hati Aiyaz, Ishla Diannova Laraz, dia adalah cinta pertamanya. Cepat atau lambat Aiyla harus tahu kebenaran ini, Aiyaz tidak ingin Aiyla berharap banyak padanya, karena itu akan sangat melukai perasaannya.
Siang itu kelas sudah selesai. Ashika menghubungi Zafer untuk menjemputnya. Ishla melihat sikap Aghna yang dingin padanya.
"Aghna!" Beberapa kali Ishla memanggilnya dia tidak menengok sedikitpun. Entah Aghna memang tidak mendengarnya, atau bisa jadi dia pura-pura tidak mendengar, padahal jarak mereka tidak terlalu jauh.
"Tolong bawa aku kesana!" pinta Ishla
Aghna melihat Ishla yang menuju ke arahnya. Dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi.
"Aghna, tunggu!" Ishla mendorong kursi rodanya sendiri untuk mengejar Aghna.
"Ishla hati-hati, nanti kau bisa jatuh."
Ishla melihat ada lubang di depannya, dia mencoba untuk memberhentikannya, tapi..
Brug!!!
"Ishla!" teriak Ashika.
Langkah Aghna terhenti, dia melihat Ishla yang terjatuh di belakang. Aghna berlari untuk menolongnya.
"Kau tidak apa-apa?" ucap Ashika dan Aghna bersamaan. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Mari aku bantu!" Aghna pergi karena sudah ada Ashika yang menolong Ishla.
"Tunggu Aghna!"
"Kau kenapa bersikap seperti ini padaku?" tanya Ishla.
"Sepertinya aku tidak diperlukan lagi disini, jadi untuk apa?" Ishla tidak mengerti maksud perkataan Aghna, Ishla tidak harus memilih antara Ashika ataupun Aghna, mereka berdua adalah temannya.
Ashika menerima telepon dari Zafer kalau dia sudah ada di depan kampus. Ishla mengajak Aghna untuk pulang bersamanya.
"Aku tidak belas kasihanmu, lagi pula aku bisa pulang sendiri."
"Sudahlah, Ishla. Jika dia tidak mau, kau tidak perlu memaksanya. Jangan membuang-buang waktumu seperti ini, pulang dari sini kau harus terapi jalan, jadi untuk apa lagi kita masih disini?"
"Kau benar, aku terlalu lama disini. Tidak seharusnya aku memikirkan perasaan orang lain seperti ini, biarkan saja mereka bersikap sesukanya." Ishla meminta Ashika untuk membawanya pergi dari tempat itu. Aghna terdiam seperti tertampar oleh perkataan Ishla barusan.
"Apa aku salah jika cemburu melihat temanku sangat dekat dengan orang lain?" Aghna mengusap air matanya yang hampir saja menetes.
Sebelum pulang ke rumah, Ishla meminta Zafer untuk mengantarnya ke rumah sakit. Dia ingin sekali menemui Arash. Siang itu Arash baru saja selesai melakukan operasi. Dia sudah melepas kostum dokternya dan mengganti dengan pakaian biasa. Rencananya siang ini Arash akan mengajak Ishla makan siang dan terapi di tempat biasa. Ketika Arash keluar dari rumah sakit, sebuah mobil berhenti di depannya. Senyum Arash melebar ketika melihat Ishla dalam mobil itu.
"Kau datang?" tanya Arash.
"Tentu saja, hari ini jadwal untuk terapi bukan? Untuk itu aku datang kemari."
Mereka terus saja berbincang, tanpa melihat sekeliling. Mereka tidak tahu apa tidak sadar jika pembicaraan mereka itu didengar langsung oleh Zafer dan Ashika.
"Kalian pulang saja lebih dulu, aku akan pergi bersama Arash. Soal Ibu, aku sudah bicara padanya, hari ini aku akan pulang terlambat karena harus melakukan terapi." Arash menggendong Ishla ke dalam mobilnya. Zafer sangat patah hati melihat Ishla pergi dengan pria lain.
__ADS_1
"Sudahlah kakak, kau tidak perlu sedih seperti itu. Masih banyak gadis di luar sana yang ingin denganmu," Ashika seakan tahu apa yang dirasakan Zafer saat ini. Ashika melihat kedekatan Ishla dengan Dokter Arash biasa saja. Kalaupun ada sikap mereka yang istimewa, itu ibaratnya seperti seorang dokter pada pasiennya.