
Hari sudah pagi sinar mentari kembali menyapa.
"Selamat pagi, sayang."
"Selamat pagi, Ibu." Saat sarapan Ishla memberitahu Amine jika nanti sore dia akan bertemu dengan Aiyaz di tempat favorit mereka dulu.
"Apa kau yakin akan menjalin hubungan kembali dengan Aiyaz?" tanya Amine.
"Mungkin untuk saat ini, Iya. Tapi aku tidak tahu ke depannya akan seperti apa." Selesai sarapan mereka pergi ke kantor diantar Zafer.
Pagi yang cerah membuat Aiyla bersemangat untuk pergi ke kantor. Dia menjadi sangat nyaman berada di kantor dan mulai mempelajari banyak hal tentang perusahaan. Terbalik dengan Aiyla, Ethan lebih banyak menghabiskan waktunya di luar berkumpul dengan teman-temannya. Jiwa sebagai seorang CEO tidak terlihat sedikitpun dalam diri Ethan. Azizah dan Nilam ikut senang melihat Aiyla yang sekarang. Dia lebih fokus dalam pekerjaan barunya dan tidak lagi membahas tentang Aiyaz.
"Selamat pagi," ucap Adlar yang baru saja datang.
"Selamat pagi."
"Bagaimana? Apa kau sudah siap untuk presentasi hari ini?" tanya Adlar pada Aiyla.
"Tentu saja aku siap." Selesai sarapan Aiyla pergi bersama Adlar. Di dalam mobil, Adlar memberitahu Aiyla jika hari ini akan ada CEO dari New Zealand yang akan datang ke perusahaannya. Dia sedang mencari rekan kerja baru untuk perusahaaannya. Adlar berharap putrinya yang akan mendapatkan kontrak kerja sama itu.
Pagi itu, sebuah mobil terparkir di depan perusahaan Diaz Group. Seorang laki-laki keluar dari dalam mobil itu dengan setelan jas hitam dan kaca mata hitamnya. Dia berjalan di atas karpet merah yang sudah terhampar di lantai. Di sana sudah banyak orang yang menunggu untuk menyambutnya, termasuk Adlar dan Aiyla.
"Selamat datang di perusahaan kami, Tuan."
"Terimakasih, Tuan Adlar."
Pria tampan itu adalah Glan Devano Arktik. Seorang CEO muda dari salah satu perusahaan besar di New Zealand. Dia datang untuk mencari partner kerja baru untuk perusahaannya. Adlar membawa Glan ke ruangannya. Sebentar lagi presentasi akan dimulai. Glan akan melihat perusahaan mana yang akan menjadi teman bisnis perusahaannya.
Di ruangan Ishla terlihat sangat santai. Tidak ada sedikitpun beban dalam pikirannya. Dia sudah siap dengan presentasinya nanti. Tidak lama sekretaris Amine datang dan menemui Ishla di ruangan.
"Ada apa?" tanya Ishla.
"Kau harus melihat ini, Nona." Sekretaris itu menunjukkan sebuah tontonan live dari perusahaan Diaz Group yang menayangkan presentasi Aiyla pagi itu. Sejauh ini sudah lebih dari 5K orang yang menonton. Ishla menonton tayangan itu sampai selesai. Tidak lama, Amine datang dan ikut bergabung bersama mereka. Saat wajah Adlar muncul, Ishla meminta sekretaris Amine untuk menutup layar laptopnya.
"Ada apa, Nona? Bukankah tayangannya belum selesai?" Amine meminta sekretarisnya untuk keluar dari ruangan.
"Ada apa?" tanya Amine.
"Dia Adlar Diaz, putra dari Azizah. Dia salah satu orang yang mengingatkan ku pada kejadian tiga tahun yang lalu. Saat Aiyaz membawaku ke pesta itu, laki-laki itu ada disana dan dia hanya diam saja saat Nilam mempermalukan ku di hadapan banyak orang." Rasa sedih juga amarah bercampur dalam hati Amine. Jika saja Adlar tahu Ishla itu putrinya, dia tidak akan tinggal diam melihat Nilam mempermalukannya.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan terus mengingat kejadian itu. Kau harus fokus pada presentasi mu."
Glan memberikan apresiasi untuk presentasi Aiyla. Dia sangat menyukainya. Tapi untuk saat ini, Glan belum bisa memutuskan siapa yang berhak menerima kontrak dari perusahaannya. Masih ada beberapa perusahaan lain yang harus dia kunjungi hari ini.
Saat makan siang, Aiyaz pergi ke tempat yang menjadi favoritnya bersama Ishla. Dia menyuruh orang untuk menghias tempat itu secantik mungkin.
Selesai makan siang Aiyla pergi ke kantor Aiyaz. Dia harus membahas tentang kerja sama yang sedang dilakukan Diaz Group dengan perusahaannya. Untuk ke depannya, Aiyaz dan Aiyla akan sering bertemu karena mereka harus menyelesaikannya sebuah proyek perusahaan. Tiba di ruangan, Aiyla hanya melihat ponsel Aiyaz yang tergeletak di atas meja. Dia membukanya dan melihat seluruh isi ponsel itu. Aiyla mendapatkan sebuah pesan yang baru saja Aiyaz kirimkan untuk Ishla. '*Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu*.'
"Apa mereka akan bertemu?" ucap Aiyla. "Tapi dimana?" Aiyla tidak tinggal diam, dia akan melakukan apapun untuk membatalkan pertemuan mereka. Aiyla membawa ponsel Aiyaz bersamanya.
Siang itu, Ishla baru kembali dari luar. Dia melihat semua orang sudah bersiap untuk menyambut kedatangan CEO muda itu. Ishla pergi ke ruangan untuk merapikan pakaian dan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin di luar sana. Sebuah mobil terparkir di depan perusahaan. Amine sudah berdiri diluar untuk menyambutnya. Saat Glan turun dari mobil, semua orang terpana melihatnya. Wajahnya sangat tampan, tinggi tubuhnya juga sangat ideal.
"Selamat datang, Tuan Glan." ucap Amine mengulurkan tangannya.
"Terimakasih, Nyonya Amine." Semua memberi hormat pada Glan. Ishla berlari ke luar. Dia sempat melihat Glan dari atas.
"Pria itu?" Ishla mencoba mengingat sesuatu. Dia baru ingat jika pria itu yang hampir menabraknya saat akan pergi ke toko. Saat berbincang dengan Amine, Glan sempat melihat ke atas dan melirik Ishla. Langkahnya terhenti, mereka saling menatap satu sama lain.
"Ada apa, Tuan? Kenapa kau berhenti?" Glan terus menatap ke atas. Amine melihat ke arah Glan menatap, disana sudah ada Ishla yang sedang berdiri. Terlukis senyum kecil dari wajah Glan. Ishla langsung mengalihkan pandangannya. Amine meminta sekretarisnya untuk menyiapkan ruang untuk presentasi. Di ruangan Ishla merasa sangat gugup. Dia harus melakukan presentasi di depan pria itu. Ishla dikejutkan dengan suara pintu.
"Kenapa? Kau terlihat sangat gugup, padahal tadi kau biasa saja."
"Aku tidak tahu, Ibu. Tiba-tiba saja aku gugup seperti ini." Amine memegang tangan Ishla yang dingin. Dia meyakinkan putrinya jika semua akan berjalan lancar. Apapun hasilnya itulah yang terbaik.
"Ini saatnya kau pergi untuk presentasi itu. Tarik napas dalam-dalam, dan buang perlahan! Keadaan seperti ini sangat wajar, kau harus bisa mengatasinya."
"Baiklah, Ibu. Aku sudah siap." Ishla membawa semua dokumen dan pergi ke ruang presentasi.
"Semoga berhasil, sayang."
Saat masuk ke dalam ruangan, Glan sudah tersenyum lebih dulu pada Ishla.
"Selamat datang."
"Terimakasih." Sebelum memulai presentasi, Ishla terlebih dahulu memperkenalkan dirinya. Di dalam ruangan sudah ada orang yang sudah siap untuk merekam presentasi Ishla dan menayangkannya. Saat Ishla akan memulai presentasi, tiba-tiba...
"Boleh aku memberi saran?"
"Tentu saja, Tuan Glan."
__ADS_1
"Glan! Panggil aku Glan!"
"Tapi...
"Sudahlah!" Glan menyarankan Ishla untuk melepas ikat rambutnya. Ishla sangat cantik dengan rambut yang terurai. Saat itu juga Ishla melepas ikat rambutnya dan memulai presentasinya. Amine dan seluruh pegawai yang ada di kantor menyaksikan tayangan Ishla.
"Nyonya, lihatlah!" Seorang pegawai menghampiri Amine. "Sudah 2,5K orang yang menonton. Aku yakin jika putrimu akan mendapatkan kontrak kerja sama ini."
"Semoga saja."
Sesampainya di kantor, Aiyla melihat semua orang sedang berkumpul.
"Ada apa ini?" Semua pegawai langsung kembali ke tempat kerjanya. Aiyla mengambil salah satu ponsel pegawai dan melihatnya.
"Ishla? Bukankah pria itu yang baru saja datang ke kantor? Kenapa dia bisa ada bersama Ishla?" Aiyla langsung pergi ke ruangannya. Dia membuka laptop dan menyaksikan tayangan langsung dari Ishla. Dari awal sampai akhir, Aiyla akui jika presentasi Ishla jauh lebih bagus, bahkan yang melihat sudah lebih dari 10K orang. Dia mulai cemas jika dia akan kalah saing dari Ishla. Dia pergi menemui ayahnya.
"Ada apa?" tanya Adlar.
"Ayah harus melihat ini!"
"Ini sebuah presentasi yang sangat bagus, Nak. Lalu apa masalahnya dengan mu?"
"Bagaimana jika Tuan Glan lebih memilih Ishla daripada aku?" Adlar memberi pengertian pada putrinya jika dalam setiap persaingan ada salah satunya yang menjadi pemenang. Adlar tidak akan kecewa sedikitpun jika Aiyla tidak menang, dia bahkan sangat mengapresiasi putrinya karena sudah melakukan yang terbaik untuk perusahaaannya.
Setelah selesai, Glan langsung mengucapkan selamat pada Ishla. Dia memilih Ishla sebagai rekan kerja barunya.
"Selamat untukmu! Presentasimu sangat luar biasa. Aku sendiri belum tentu bisa melakukan apa yang kau lakukan hari ini. Terlebih lagi, aku sangat suka dengan materi yang kau ambil untuk presentasi. Itu akan menjadi inspirasi banyak orang diluar sana."
"Terimakasih, Tuan Glan."
"Kau memanggilku apa?"
"Maksudku, terimakasih banyak Glan." Saat keluar dari ruangan, Ishla melihat Amine tengah menunggunya.
"Bagaimana hasilnya?"
Ishla langsung memeluk Amine dan mengatakan jika dia berhasil menjadi rekan kerja baru Glan. Amine sangat senang mendengarnya. Semua pegawai memberi tepuk tangan atas keberhasilan yang sudah Ishla raih hari ini. Tidak lama Glan keluar dan memberikan ucapan selamat pada Amine karena mulai hari ini dan seterusnya perusahaan AL Group akan bekerja sama dengan perusahaan GDA Group. Setiap hari mereka akan saling bertemu untuk membahas tentang pekerjaan. Glan merasa sedikit aneh dengan kedekatan yang terjalin diantara Amine dan Ishla.
"Maaf, Nyonya. Apa aku boleh bertanya satu hal padamu?"
"Silahkan!"
"Aku melihatmu sangat dekat dengan Ishla. Bukan seperti atasan dan bawahan, tetapi...
"Dia putriku, Tuan Glan."
__ADS_1
"Putrimu?" Pernyataan Amine membuat Glan sedikit terkejut. "Kenapa kau tidak bilang dari awal jika Ishla itu putrimu?"
"Dia tidak ingin semua orang melihatnya sebagai putriku, dia ingin orang mengakuinya karena kemampuannya sendiri." Glan merasa bangga pada Ishla. Tidak sedikit orang di zaman sekarang ini yang menggunakan nama orang tua mereka untuk mendapat penghormatan dan kedudukan yang tinggi di mata masyarakat. Tetapi Ishla, dia mampu berdiri di atas kakinya sendiri tanpa melibatkan Amine dalam situasi apapun.