
Malam itu Adlar menemui Aiyla di kamarnya. Dia melihat putrinya duduk termenung di atas tempat tidurnya. Saat mengetahui kedatangan Adlar, Aiyla mencoba untuk menghapus air matanya.
"Tidak apa-apa sayang, kau sudah melakukan yang terbaik. Jangan menangis seperti ini! Masih ada kesempatan yang akan datang menghampirimu dan mungkin salah satunya akan menjadi milikmu." ucap Adlar sambil membelai rambut Aiyla.
"Kenapa aku selalu kalah dari gadis itu, ayah? Dia sudah merebut semua yang aku impikan, termasuk kerja sama ini."
"Sudahlah sayang, ini bukan kesalahan siapapun. Hanya saja sekarang ini takdir sedang tidak ada di pihakmu."
Pagi datang menyapa. Saat membuka jendela kamarnya, Nilam melihat mobil Ethan yang sangat kotor. Dia pergi ke bawah dan meminta pelayan untuk membersihkannya. Saat air mengenai mobil itu, warnanya langsung memudar. Nilam sangat terkejut melihat semua itu.
"Kenapa warnanya berubah seperti itu?" tanya Nilam pada si pelayan.
"Maafkan aku, Nyonya. Sepertinya seseorang telah merekayasa mobil ini dan mengubahnya sama persis dengan milik Tuan muda." Nilam langsung pergi ke kamar Ethan dan membawanya melihat mobil itu.
"Apa yang terjadi, Ibu? Kenapa mobilku menjadi seperti ini?" Ethan terus memperhatikan setiap sudut mobilnya. Nilam memberitahu Ethan jika dia sudah dibohongi. Mobil yang selama ini dia gunakan bukanlah mobil miliknya. Ethan terlihat sangat geram. Dia langsung pergi untuk menemui Zafer.
Pagi itu, Ethan sudah membuat kekacauan di rumah Bahar.
Tok... Tok... Tok... Ethan mengetuk pintu rumah Bahar sangat kencang.
"Ya Allah... Siapa yang mencoba untuk menghancurkan pintu rumahku ini?" Saat dibuka, Ethan langsung menerobos ke dalam tanpa sopan santun.
"Dimana Zafer?" Ethan terus mencari Zafer ke setiap ruangan.
"Hey! Apakah ibumu tidak pernah mengajarkanmu bagaimana cara bertamu ke rumah orang?"
"Diamlah!" bentak Ethan. "Dimana putramu itu? Aku ingin bertemu dengannya!" Tidak lama Kemal dan Ashika ke luar.
"Ada apa ini?" Kenapa kau datang dan membuat keributan di rumahku?" tanya Ashika. "Pergilah! Jika tidak, aku akan memanggil tetangga untuk mengusirmu dari sini." Ethan terlihat sangat marah. Dia segera pergi dan akan membuat perhitungan pada Zafer saat bertemu dengannya nanti.
"Kenapa dia terlihat sangat marah?" ucap Kemal dalam hati. "Apa dia sudah tahu tentang mobil itu?"
Pagi itu Ashika diantar Zafer ke kampus. Dalam perjalanan, dia menceritakan pada Zafer jika tadi pagi Ethan membuat kekacauan di rumahnya.
"Apa yang dia inginkan?" tanya Zafer.
"Aku tidak tahu, tapi dia datang untuk mencarimu, Kak. Dia terlihat sangat marah. Aku sendiri sangat takut melihat wajahnya." Tanpa Zafer ketahui, sejak tadi mobil Ethan terus mengikuti dari belakang. Setelah mengantar Ashika ke kampus, Zafer kembali ke rumah Amine. Di tengah perjalanan, mobil Ethan menikung mobil Zafer yang ada di depannya.
"Apa-apaan ini?" Zafer langsung keluar dari mobilnya. "Apa yang kau inginkan?" Ethan langsung menghajar wajah Zafer sampai memar. Tidak tinggal diam, Zafer menghajar balik wajah Ethan.
"Dasar pembohong!" teriak Ethan. "Kau sudah menipuku dengan mobil itu!"
"Apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak mengerti dengan perkataan mu itu." Ethan mendesak Zafer untuk mengatakan semuanya, tapi dia tetap bungkam.
"Baiklah, jika kau tidak ingin bicara, lihat saja apa yang akan aku lakukan!" Ethan melangkah pergi. Tanpa berfikir lagi Ethan langsung menghubungi seseorang dan membuat rencana besar untuk membuat Zafer mengakui semuanya.
Pagi itu, seseorang menghubungi Amine untuk memberitahunya jika perusahan milik Ishla sudah selesai dibangun. Amine sangat senang mendengarnya dia langsung pergi untuk melihat perusahaan barunya. Ishla sudah tiba di kantor. Dia pergi ke ruangannya, disana sudah ada Glan yang sedang menunggunya.
__ADS_1
"Selamat pagi." ucap Glan sambil tersenyum kecil.
"Selamat pagi. Untuk apa kau disini?"
Glan beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Ishla sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Apa kau tidak senang dengan keberadaan ku disini? Baiklah, kalau begitu aku akan pergi."
"Tunggu dulu! ucap Ishla sambil memegang tangan Glan. "Kenapa kau ini cepat sekali marah? Aku kan hanya bertanya... Glan melihat tangan Ishla yang masih memegangnya.
"Maaf... Ishla langsung melepaskan tangannya. Glan sangat senang bisa meledek Ishla setiap waktu. Mereka akan saling bertemu setiap hari karena pekerjaan. Glan terus saja menatap Ishla yang sedang memeriksa beberapa dokumen perusahaannya.
"Apa ibumu tidak akan datang?" ucap Glan membuka pembicaraan.
"Ibu sedang pergi untuk suatu urusan, tidak akan lama dia pasti kembali."
"Apa kau sudah sarapan?" tanya Glan.
"Aku belum sempat sarapan." Glan berjalan ke arah Ishla dan menutup semua dokumen yang sedang dibacanya.
"Apa yang kau lakukan?" Glan menarik tangan Ishla dan membawanya pergi.
"Kau akan membawaku kemana?"
"Ikut saja! Nanti kau juga akan tahu sendiri."
Hari ini Aiyla sangat senang karena bisa bertemu dengan Aiyaz. Mereka akan mengerjakan proyek bersama. Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah keluarga Diaz. Aiyla langsung pergi untuk melihatnya. Aiyaz hanya membuka kaca mobilnya tanpa harus turun dari mobil.
"Siapa yang datang?" tanya Azizah.
"Aiyaz sudah ada di depan, aku akan segera pergi."
Sebelum ke kantor, Aiyla meminta Aiyaz untuk pergi ke sebuah restoran. Dia mengajak Aiyaz untuk sarapan bersama. Tiba disana, Aiyla terkejut saat melihat Ishla.
"Bagaimana Ishla bisa selamat? Siapa yang sudah menolongnya?" ucap Aiyla dalam hati. Saat Aiyaz akan mencari tempat duduk, dia terlebih dahulu melihat Ishla.
"Ishla?" ucapnya. Aiyaz menghampiri Ishla. "Kau disini?"
"Kau?" Glan ingat jika pria itu yang pernah dia temui di rumah Ishla kemarin malam. Ishla memperkenalkan Glan pada Aiyaz.
"Bergabunglah bersama kami! Itu pasti akan sangat menyenangkan." ucap Ishla.
Aiyaz memanggil Aiyla dan menyuruhnya untuk duduk bersama Ishla dan Glan.
"Aiyla?" ucap Glan. Dia memberitahu semua orang jika Aiyla gadis yang smart dan pekerja keras. Untuk presentasinya yang kemarin Aiyla pantas mendapat apresiasi dari banyak orang.
"Apa kalian datang bersama?" tanya Glan.
"Tentu saja, setiap hari kami akan selalu bersama karena urusan pekerjaan. Aku dan Aiyaz sedang mengerjakan proyek yang sama." ucap Aiyla.
"Itu berarti kita sama, kau dengan Aiyaz dan aku dengan Ishla." ucap Glan.
__ADS_1
Saat kelas akan berlangsung, tiba-tiba ponsel Ashika berbunyi. Dia keluar untuk menjawabnya. Sebuah nomor tidak dikenal yang masuk ke dalam ponsel miliknya.
"Halo!"
"Cepatlah datang kemari! Ibumu mengami kecelakaan." Ashika sangat terkejut mendengarnya. Dia meninggalkan kelas dan langsung pergi ke alamat yang diberi si penelepon. Ashika sangat panik. Dia berlari untuk mencari taksi, di kejauhan dia melihat sebuah mobil dan memberhentikannya.
"Bisakah kau mengantarku ke alamat ini?" ucap Ashika sambil menunjukkan alamat yang ada di ponselnya.
"Masuklah! Aku akan mengantarmu kesana."
Tiba di alamat itu, Ashika merasa curiga karena itu hanya sebuah bangunan yang sudah rusak. Dia mencoba untuk menghubungi si penelepon tapi tidak aktif.
"Cepat turunlah, Nona! Kita sudah sampai."
"Tempat apa ini? Dimana Ibuku?"
Sopir itu membawa paksa Ashika masuk ke dalam. Di sana sudah ada Ethan yang sedang menunggunya.
"Selamat datang di tempatku ini, Ashika."
"Apa maksudmu?" tanya Ashika.
Ethan memberitahu Ashika jika yang meneleponnya tadi adalah dirinya. Dia sudah berhasil membuat Ashika masuk ke dalam perangkapnya. Ethan menyuruh anak buahnya untuk mengikat Ashika di tempat itu.
"Apa yang akan kau lakukan Ethan? Tolong lepaskan aku! Jika Zafer tahu, dia tidak akan memaafkanmu."
"Aku terpaksa melakukan semua ini, saat tahu kau hilang, kakakmu itu akan sangat khawatir. Untuk menyelamatkanmu mau tidak mau kakakmu itu harus mengatakan semua kebenarannya." Ethan meninggalkan Ashika di tempat itu. Dia hanya meninggalkan satu orang untuk mengawasi Ashika.
Saat Zafer akan menjemput Ashika, salah satu temanya memberitahu jika Ashika meninggalkan kelas sejak siang tadi. Dia sempat mendengar perbincangan Ashika dengan seseorang di telepon.
"Apa yang kau dengar?" tanya Zafer.
"Orang itu mengatakan jika Ibunya mengalami kecelakaan." Zafer bergegas pergi mencari Ashika. Dia mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak tersambung. Zafer langsung pergi menemui Amine dan memberitahu tentang hilangnya Ashika.
"Bagaimana bisa Ashika hilang?" tanya Amine.
"Dia pergi meninggalkan kampus siang tadi, aku sudah mencoba untuk menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif."
"Apa kau mencurigai seseorang?"
"Aku mencurigai Ethan." Zafer memberitahu Amine jika pagi tadi dia sempat berkelahi dengannya. Dia sangat marah karena sudah tahu jika mobil yang selama ini dia gunakan bukanlah mobil miliknya.
"Aku yakin jika hilangnya Ashika ada kaitannya dengan Ethan. Dia menggunakan Ashika supaya aku bisa mengatakan yang sebenarnya." Amine akan mengurus semuanya. Dia meminta Zafer supaya berita hilangnya Ashika tidak sampai pada kedua orangtuanya. Amine janji sebelum pagi dia akan memastikan Ashika sudah kembali dalam keadaan selamat.
Ishla masih ada di ruangannya. Dia terlihat sangat letih hari ini. Banyak sekali tugas perusahaan yang harus segera diselesaikan. Matanya sudah mulai berat, dia tidak bisa lagi melanjutkan pekerjaannya. Ishla pergi ke luar untuk mencari udara segar. Dia mendatangi sebuah cafe kecil di pinggir jalan. Ishla memesan secangkir kopi panas. Saat menunggu kopinya datang, Ishla sempat ketiduran. Saat bangun, dia melihat Glan yang sudah ada didepannya. Ishla membuka matanya lebar-lebar.
"Kau? Untuk apa kau disini?"
"Bisakah tidak bertanya hal semacam itu? Aku bosan mendengarnya."
"Baiklah, maafkan aku... Glan datang untuk menemani Ishla minum kopi. Setelah selesai, Glan mengantar Ishla sampai di kantor. Dia terus mengikuti langkah Ishla sampai di ruangannya. Glan membuka jas dan membaringkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu. Ishla sangat aneh melihatnya.
"Jika kau ingin tidur, kenapa tidak pulang saja? Apakah kantor ini apartemen milikmu? Menyebalkan!"
__ADS_1
"Apa kau mengatakan sesuatu?" ucap Glan.
"Tidak, teruskan saja tidurmu itu!"