
Dua hari sudah berlalu, tapi Ishla masih terbaring koma di rumah sakit. Malam itu pesawat pribadi milik Glan tiba di bandara. Dia langsung bergegas pergi untuk melihat keadaan Ishla di rumah sakit. Tiba disana, Glan bertemu dengan Amine dan Keenan.
"Bagaimana kondisi Ishla?" tanya Glan.
"Seperti yang kau lihat, nak. Dia belum juga sadarkan diri." jawab Amine.
Glan meminta izin pada Amine untuk masuk menemui Ishla. Kedatangan Glan tidak lama disusul oleh Myra. Saat Glan berada di ruangan, dia meminta Ishla untuk segera membuka matanya. Glan sangat menyesal karena dia tidak bisa menolong Ishla saat kejadian. Saat Ishla sadar nanti, dia berjanji akan selalu ada untuk menjaga dan melindunginya. Setelah Glan keluar, giliran Myra yang masuk untuk melihat Ishla. Air matanya tidak bisa lagi terbendung.
"Aku sudah kembali," bisik Myra pelan.
"Bangunlah! Aku membawa kabar bahagia untukmu." Tangis Myra semakin menjadi-jadi. Saat akan pergi, Myra melihat jari tangan Ishla yang bergerak.
"Dokter....!" panggil Myra.
"Ada apa?" tanya Amine yang terlihat sangat panik.
"Jari ishla baru saja bergerak, nyonya." jawab Myra.
Tidak lama dokter datang. Saat dia memeriksa keadaan Ishla, hasilnya tetap sama. Tidak ada kemajuan sedikitpun padanya. Mendengar pernyataan dokter rasanya itu mustahil. Myra meyakinkan semua orang jika dia tidak berbohong dengan ucapannya itu. Dia benar-benar melihat jari tangan Ishla bergerak.
\*\*\*
Malam itu, Adlar baru saja selesai dari pemakaman. Saat tiba di rumah, dia melihat keadaan rumah yang sangat berantakan. Adlar pergi ke menemui Aiyla di kamarnya. Saat melihat kamar Aiyla yang gelap, Adlar pergi untuk menyalakan lampunya. Dia melihat putrinya itu sedang duduk di lantai sambil berderai air mata.
"Ayah... kenapa semua ini terjadi pada keluarga kita?" ucap Aiyla. "Ibu baru saja pergi meninggalkan kita, dan sekarang nenek juga kakak pergi meninggalkanku."
Adlar ikut duduk di lantai bersama putrinya. Dia memeluk Aiyla untuk memberinya kekuatan.
"Kau harus sabar dengan semua ini, sayang. Kau harus bisa merelakan kepergian mereka semua..."
Setelah beberapa hari kematian ibu dan putranya, Adlar memutuskan untuk membawa Aiyla pergi dari Istanbul. Dia akan menjalani kehidupan baru bersama putrinya. Sebelum pergi, Adlar secara diam-diam pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Ishla.
Pagi itu, hanya ada Amine yang sedang menunggunya Ishla di rumah sakit. Adlar hanya bisa melihat mereka dari jauh. Dia tidak memiliki keberanian untuk menemui Amine. Sudah cukup Amine dan Ishla menderita karena perlakuannya selama ini. Sebelum Adlar meninggalkan rumah sakit, dia memberikan sebuah surat kepada perawat yang menangani Ishla.
"Surat apa ini tuan?" tanya perawat itu.
"Ketika Ishla sadar nanti, tolong berikan surat ini padanya!" ucap Adlar.
"Baik tuan."
Dari rumah sakit Adlar langsung menuju bandara. Aiyla sudah menunggunya disana. Dia dan Aiyla akan memulai hidup barunya di Fransisco, Amerika. Saat di Amerika nanti, Adlar akan membuat jadwal terapi dengan dokter yang ada disana untuk kesembuhan Aiyla. Tidak lama pesawat menuju Fransisco akhirnya lepas landas.
\*\*\*
Hari demi hari, menit demi menit, kini musim sudah silih berganti. Dua tahun lamanya Ishla terbaring koma di rumah sakit. Semua orang menjalani kehidupannya seperti biasa. Amine sibuk bekerja, walaupun begitu dia tidak pernah lupa untuk melihat keadaan putrinya di rumah sakit. Sementara itu, Glan dan Myra sudah memiliki perusahan masing-masing dimana kedua perusahaan besar itu saling bekerja sama. Ishla adalah sesuatu yang sangat berharga bagi Glan maupun Myra. Saat waktu luang, mereka selalu pergi bersama untuk menjenguk Ishla.
Sore itu, setelah pulang dari kantor Amine langsung pergi ke rumah sakit. Tiba di sana seorang perawat meminta Amine untuk menemui dokter di ruangannya.
Tok... Tok... Tok...
"Silahkan masuk!" ucap dokter.
__ADS_1
"Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan padaku dokter?" tanya Amine.
"Duduklah nyonya!"
Dokter meminta Amine untuk segera mengambil keputusan. Sudah dua tahun ini Ishla koma, tapi tidak ada tanda-tanda kemajuan yang dia tunjukkan. Dokter meyakinkan Amine jika Ishla sudah tidak ada. Dia terlihat seperti ada karena bantuan semua alat yang terpasang pada tubuhnya.
"Bagaimana jika kami melepas semua alat bantu yang ada pada pasien?" ucap dokter.
"Kau ini bicara apa dokter? Putriku itu masih hidup! Dia masih hidup!" ucap Amine dengan tegas. Dia terlihat emosi setelah mendengar keputusan dokter yang menurutnya tidak masuk akal. Amine memperingatkan dokter itu untuk tidak melakukan apapun tanpa seizin darinya. Jika terjadi hal buruk pada Ishla karena kelalaian pihak rumah sakit sendiri, Amine berjanji akan menutup semua praktek yang ada di rumah sakit itu dan menyeret semua orang yang terlibat ke rana hukum.
\*\*\*
Pagi itu, Aiyaz tengah bersiap untuk pergi ke acara wisuda adiknya, Aghna. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini Aghna sudah menyelesaikan S1 nya di bidang arsitektur. Saat Aiyaz sudah siap, dia tinggal menunggu satu orang lagi. Tidak lama seorang perempuan menuruni anak tangga dengan anggunnya. Dia adalah Ayana Permata Diaz, seorang perempuan yang dinikahi Aiyaz satu tahun yang lalu.
"Kau terlihat sangat cantik, sayang." ucap Aiyaz memuji kecantikan istrinya.
"Terimakasih," jawab Ayana tersipu malu.
"Apa kau sudah siap?" tanya Aiyaz.
"Tentu saja," jawab Ayana sambil menggandeng tangan Aiyaz.
Hanya berselang beberapa jam, akhirnya mereka tiba di kampus. Aghna sangat senang melihat kakaknya juga kakak iparnya bisa hadir dalam acara wisudanya. Sebelum sesi penutupan, pihak kampus mengumumkan jika mahasiswi terbaik tahun ini jatuh kepada Aghna. Semua orang memberi tepuk tangan yang sangat gemuruh atas apa yang sudah dicapai Aghna selama ini. Saat Aghna sedang mengambil sesi foto bersama kakaknya, Ayana pergi untuk mengangkat telepon. Saat kembali, wajah Ayana terlihat sangat sedih.
"Ada apa?" tanya Aiyaz.
"Aku baru saja mendapat kabar jika kakek meninggal dunia karena serangan jantung." ucap Ayana.
Saat malam tiba, Ayana pergi menemui Aiyaz untuk membicarakan tentang warisan itu. Ayana tidak ingin mengambil keputusan sendiri karena bagaimana pun Aiyaz adalah suaminya. Sebagai seorang istri yang baik, Ayana juga harus tahu seperti apa pendapat Aiyaz tentang semua itu.
"Apa kau sudah memiliki jalan keluar untuk masalah ini?" tanya Ayana.
"Jika kau ingin tinggal, kau akan memilih Istanbul atau London?" tanya Aiyaz.
"Kemanapun kau pergi, aku akan ikut bersamamu. Aku tidak bisa pergi semauku, karena sudah ada kau yang berhak atas diriku sepenuhnya." ucap Ayana dengan sangat bijaksana.
"Baiklah, kalau begitu kita akan tinggal disini." ucap Aiyaz.
"Lalu, bagaimana dengan Aghna?" tanya Ayana.
"Aku akan membawanya kemari, biarkan dia melanjutkan S2 nya disini." ucap Aiyaz.
\*\*\*
Dua tahun sudah Aiyla tinggal di Amerika. Kini dia sudah bisa berjalan kembali. Setelah lulus S1 nya, dia mulai membuka usaha sebagai seorang desainer. Sudah ada beberapa cabang butik miliknya yang tersebar di kota. Banyak sekali pria yang dekat dengan Aiyla, tapi tidak seorang pun yang berhasil memenangkan perasaannya. Saat melihat kedatangan pembeli di butiknya, Aiyla meminta pegawai untuk segera melayaninya.
"Selamat datang, nona." sambut pegawai Aiyla ramah.
"Terimakasih," jawab perempuan itu.
"Apa yang kau butuhkan, nona?"
__ADS_1
"Aku sedang mencari gaun yang cocok untuk pernikahanku. Jika boleh, aku ingin bertemu langsung dengan pemilik butik ini." pinta perempuan itu.
Mendengar keinginan pembeli itu, tidak lama Aiyla datang menghampirinya. Saat melihat Aiyla, perempuan itu langsung memuji keindahan gaun yang ada di butik miliknya. Semua gaun yang ada disana sangat anggun dan elegan, tidak heran jika setiap acara-acara penting banyak orang kelas atas yang datang untuk membeli gaun di tokonya. Setelah berbincang-bincang, perempuan itu meminta Aiyla untuk menunjukkan beberapa gaun terbaik untuk acara pernikahannya. Aiyla menyuruh pegawai untuk mengambil beberapa gaun dan menunjukkannya pada perempuan itu. Saat si perempuan itu mencoba beberapa gaun pernikahan, Aiyla kembali teringat dengan masa lalunya. Dia terlihat sangat cantik dengan gaun pernikahannya itu, tapi sayang pernikahannya harus gagal karena ulah nenek dan kakaknya. Jika tidak mungkin Aiyla hari ini sudah menjadi istri dari Aiyaz, dan menjalani kehidupan yang sangat bahagia.
\*\*\*
Malam ini Glan dan Myra pergi menjenguk Ishla. Besok adalah hari libur. Mereka ingin menghabiskan waktunya bersama Ishla di rumah sakit. Saat masuk ke ruangan, Myra melihat Amine yang tertidur di dekat Ishla. Myra melihat air mata Amine yang sempat meneres saat dia tidur. Dia sangat tahu seperti apa perasaan Amine saat ini. Kelihatannya saja dia kuat, tapi mungkin hati kecilnya itu sangat rapuh melihat putri tercintanya yang koma selama dua tahun. Dalam tidurnya, Amine sempat bermimpi bertemu dengan putrinya, Ishla. Di sebuah ruangan yang gelap, Amine melihat setitik cahaya di sebuah sudut ruangan. Saat akan menghampiri cahaya itu, dia melihat seorang perempuan yang melintas di depannya.
"Siapa disana?" ucap Amine.
"Ibu!" ucap Ishla tersenyum lebar.
"Ishla? Untuk apa kau disini?" tanya Amine.
"Aku sedang menunggu seseorang ibu, tidak akan lama lagi akan ada yang datang untuk menjemputku." ucap Ishla.
"Apa kau akan pergi meninggalkan ibu seorang diri?"
"Maafkan aku ibu, tapi sepertinya dia sudah semakin dekat denganku. Saat aku pergi nanti, jaga diri ibu baik-baik yah..."
Amine melihat seseorang yang turun dari atas. Dia membentangkan sayapnya begitu lebar. Tidak lama sosok itu membawa Ishla terbang bersamanya.
"Ishla... !" teriak Amine menembus keheningan malam. Mendengar teriakan Amine, Glan dan Myra langsung pergi melihatnya.
"Minumlah dulu, nyonya!" ucap Myra sambil memberikan segelas air.
Amine menggenggam tangan putrinya erat. Dia memohon kepada tuhan untuk kesembuhan putrinya. Dia tidak ingin jika Ishla sampai pergi meninggalkannya.
"Kau kenapa nyonya?" tanya Glan.
Amine menceritakan semua mimpinya itu pada Glan juga Myra.
"Semua terlihat nyata, orang bersayap itu membawa Ishla pergi bersamanya." ucap Amine berderai air mata.
"Kau tenanglah, nyonya. Ishla pasti akan baik-baik saja. Kami semua disini sama-sama berdoa untuk kesembuhannya." ucap Myra.
Saat semua berkumpul menemani Ishla, Myra sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Ishla. Dia tidak segan untuk menanyakan semua itu pada Amine. Tidak lama Amine menceritakan kejadian itu secara detail. Glan terlihat sangat marah, dia berjanji akan membalas semua perbuatan yang Ethan lakukan pada Ishla.
"Apa kau sudah melaporkan Ethan kepada polisi nyonya?" tanya Glan.
Amine tersenyum kecut. Dia memberitahu Glan dan Myra jika Ethan sudah meninggal. Mendengar semua itu Myra sempat tidak percaya.
"Siapa yang sudah membunuhnya nyonya?" tanya Myra.
"Neneknya sendiri." ucap Amine. "Untuk menebus kesalahannya itu, Azizah melakukan aksi bunuh diri dengan menembakkan pistol tepat di kepalanya."
"Lalu, bagaimana dengan pernikahan Aiyla dan Aiyaz?" tanya Glan.
"Tentu saja batal," jawab Amine.
Setelah kejadian itu, Amine tidak lagi melihat Adlar bersama putrinya. Sementara Aiyaz, dia sudah menikah satu tahun yang lalu dengan seorang putri dari keluarga ternama yang ada di London.
__ADS_1
"Inilah suratan takdir, nak. Kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan kita ke depannya." ucap Amine.