CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
ISHLA, AKU ADALAH AYAH KANDUNG MU!


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Amine langsung pergi ke kamar putrinya. Di sana, Ishla masih terlihat masih bersedih. Amine datang untuk memeluknya.


"Sudahlah, jangan menangis terus seperti ini! Maafkan ibu karena sudah mengajakmu ke acara itu, jika tidak ini semua tidak akan terjadi."


"Tidak, ini semua bukan salahmu. Jangan bicara seperti itu!" ucap Ishla. Sementara itu, Nilam yang baru saja kembali terlihat sangat shock. Dia tidak bisa berjalan dengan baik sampai vas bunga yang ada di dekat tangga tersenggol dan jatuh. Nilam baru tersadar dan melihat banyak pecahan kaca yang berserakan di lantai.


"Ada apa ini?" tanya Azizah.


"Tidak ada apa-apa, Ibu. Hanya saja aku tidak sengaja menjatuhkan vas bunga itu." Nilam meminta pelayan untuk membersihkan semua pecahan kaca itu, sedangkan dia pergi ke kamarnya. Azizah melihat ada yang aneh dengan sikap Nilam. Saat akan melangkah pergi, Azizah mendengar suara pintu terbuka. Ketika dilihat, itu ternyata Adlar.


"Selamat datang, nak! Kau darimana saja?" tanya Amine.


"Terimakasih, Ibu. Aku pergi sebentar untuk mencari udara segar." ucap Adlar. Sama halnya dengan Nilam, sikap Adlar juga terlihat sangat aneh. Azizah yakin jika sudah terjadi sesuatu pada Adlar dan Nilam yang belum dia ketahui.



\*\*\*


Ishla terlihat masih bersedih, dia duduk di dekat jendela kamarnya menatap pemandangan selat Bosphorus yang indah saat malam hari. Sementara itu, Adlar di ruang kerjanya mencari tahu banyak tentang putrinya, Ishla. Adlar sangat bingung untuk bisa mengatakan semua kebenarannya. Dia merasa dirinya sangat buruk sebagai seorang ayah. Jika saja dulu Adlar tahu Ishla adalah putrinya, mungkin dia tidak akan tinggal diam saat Nilam mempermalukannya di hadapan banyak orang.


Argh... Adlar memberantakan semua barang yang ada di atas meja kerjanya. Cepat atau lambat, Ishla harus tahu semua kebenarannya. Sementara itu, Nilam melihat Aiyla sudah tidur. Dia masuk dan duduk di dekat tempat tidurnya sambil membelai rambut panjangnya. Nilam tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Aiyla jika dia tahu ayahnya itu memiliki putri lain, dan dia adalah Ishla, gadis yang sangat dibencinya. Di satu sisi, Glan merasa sangat kasihan pada Ishla. Kehidupan yang dia jalani selama ini ternyata tidak mudah. Dia hidup bersama ibunya, tanpa dia tahu siapa ayah kandungnya. Glan mencoba menghubungi Ishla untuk menanyakan keadaannya, ponselnya berdering tapi sayang, Ishla tidak mengangkatnya. Glan sangat memahami perasaan Ishla saat ini, dia sangat bersedih dan membutuhkan waktu untuk sendiri. Glan berharap dia bisa menemui Ishla di kantor besok pagi.



\*\*\*


Pagi-pagi sekali, Adlar pergi untuk menemui Amine. Dia akan mengatakan semuanya hari ini juga. Saat semua orang turun untuk sarapan, Aiyla tidak sengaja melihat ruang kerja ayahnya terbuka.


"Tidak biasanya ruang kerja itu terbuka," ucapnya. Aiyla sangat penasaran dengan ruangan itu, selama ini tidak ada yang berani masuk ke dalam tanpa izin dari ayahnya. Saat berada di dalam ruangan, Aiyla segera menutup pintunya rapat. Dia melihat ruangan itu sangat rapi dan bersih. Aiyla membuka setiap laci yang ada di ruangan itu. Di salah satu laci, Aiyla menemukan sebuah foto ayahnya bersama dengan Amine. Saat dibalik, ternyata ada sebuah tulisan di belakang foto itu, '*My love*'.


"Apa maksud semua ini?" ucapnya.


Aiyla melihat laptop ayahnya masih menyala di atas meja. Dia membuka semua file dan berkas yang ada. Aiyla sangat terkejut melihat foto-foto kebersamaan ayahnya dengan Amine. Aiyla pergi dari ruangan itu sebelum ada yang melihatnya. Pagi itu, Ishla dan Amine sedang menikmati sarapan paginya di dermaga. Ishla sudah merasa lebih baik. Saat mereka berbincang, Selma datang dan memberikan surat kabar pada Amine. Dia melihat acaranya tadi malam menjadi berita yang sedang ramai dibicarakan. Walaupun malam telah berlalu, tapi rasanya setiap perkataan Ishla masih berbekas dalam hati Amine. Dia merasa sangat sedih karena sudah menyembunyikan siapa ayah kandungnya.


"Apa kau merindukan ayahmu, sayang?" tanya Amine. "Apa kau ingin menemuinya?"


"Sudahlah, ibu. Jangan membahas itu lagi! Aku yakin takdirku yang akan membawaku menemuinya." Saat mereka selesai sarapan, Selma memberitahu Amine jika seorang pria datang untuk menemuinya.


"Siapa?" tanya Amine.


"Aku tidak tahu, Nyonya. Dia sedang menunggumu di luar." Amine pergi untuk melihatnya.


"Adlar? Untuk apa kau datang kemari?" ucapnya.


"Dimana Ishla? Aku ingin bicara dengannya." Saat Amine menyuruh Adlar untuk pergi dari rumahnya, tiba-tiba Ishla datang.

__ADS_1


"Siapa ibu?" Ishla terkejut saat melihat Adlar datang menemui ibunya. "Kau? Untuk apa kau datang kemari?" Adlar tidak bisa menahan lagi rasa rindunya. Dia langsung memeluk putrinya itu.


"Oh putriku... Aku sangat merindukanmu, nak." Ishla langsung melepas pelukan Adlar.


"Apa yang baru saja kau katakan?" tanya Ishla.


"Ini waktu yang tepat untuk aku mengatakan yang sebenarnya. Aku adalah ayah kandungmu...


Ishla menggeleng tidak percaya. Tidak mungkin Adlar Diaz adalah ayah kandungnya. Ishla melihat ibunya terdiam tanpa membantah semua perkataan Adlar.


"Ibu... Kenapa kau diam saja? Semua yang dikatakannya bohong bukan? Tidak mungkin dia ayahku, iya kan?" tanya Ishla.


"Semua itu benar, nak. Dia adalah ayah kandungmu." Ishla tertawa mendengar semua ini, tetapi air matanya terus mengalir dari kelopak matanya. Ishla menolak Adlar sebagai ayah kandungnya. Dia ingat pada masa lalunya, saat Nilam mempermalukan dia dihadapan semua orang, Adlar ada disana menyaksikan semua itu, dan dia hanya diam saja.


"Tidak, kau bukan ayahku!" Ishla langsung pergi ke kamarnya dan mengunci pintunya. Saat Adlar akan pergi menyusulnya, Amine menahannya.


"Apa kau puas sudah mengatakan semuanya? Apa kau tidak berpikir jika semua ini akan menyakiti perasaannya?"


"Aku minta maaf, tapi...


"Sudahlah! Aku tidak ingin lagi mendengar semua perkataan mu. Jadi aku mohon padamu, tolong pergi darisini! Sudah cukup kau membuat putriku bersedih." pinta Amine.


\*\*\*


Saat Aiyla menuruni anak tangga, Nilam melihat sikap putrinya yang sedikit aneh, pandangannya terlihat kosong. Aiyla duduk untuk sarapan.


"Ada apa sayang? Kenapa kau bersikap seperti itu?" tanya Adlar. Aiyla menunjukkan foto yang dia temukan di laci lemari tempat Adlar bekerja.


"Apa maksud dari foto ini? Kenapa ayah begitu dekat dengan Amine? Apa kalian memiliki hubungan gelap?" Semua terkejut melihat foto yang ditunjukkan Aiyla.


"Itu hanya sebuah foto, bukan apa-apa." ucap Adlar.


"Kau bilang sebuah foto? Lalu, kenapa di dalam laptop milikmu banyak sekali foto wanita ini? Apa itu hanya foto biasa?" Nilam terlihat sangat marah. Selama ini, ternyata Adlar masih menyimpan foto Amine.


"Apa kau berselingkuh ayah?" sambung Ethan.


Plak!!! Satu tamparan keras mendarat di wajah Ethan.


"Jaga bicaramu itu! Aku ini ayahmu, jadi bersikaplah lebih sopan!" Suasana pagi yang semula tenang, berubah menjadi kacau.


"Apa hubunganmu dengan wanita ini? Kenapa dibelakang foto ini bertuliskan, 'My love?" tanya Aiyla.


Nilam merebut foto itu dari Aiyla dan menyobeknya. Saat Nilam akan pergi, Adlar menahannya.


"Kemana kau akan pergi? Apa aku yang harus menjawab semua pertanyaan putrimu?" Nilam terdiam kesal. Adlar membawa Aiyla ke ruangan dan memintanya untuk lebih tenang. Adlar sudah muak dengan semua kebohongan ini. Aiyla sudah tumbuh besar, dia harus tahu yang sebenarnya. Adlar memberitahu Aiyla jika Amine adalah mantan istrinya.

__ADS_1


"Kenapa kau masih menyimpan foto dirinya?" tanya Aiyla.


"Karena aku masih sangat mencintainya." Perkataan Adlar membuat hati Nilam bagai teriris pisau." Aiyla tidak menyangka jika selama ini ayahnya tidak mencintai ibunya, dia masih mencintai mantan istrinya. Keluarga yang terlihat harmonis dan bahagia ternyata sebuah kebohongan besar. Adlar sungguh minta maaf jika sudah membuat perasaan Aiyla bersedih, tapi memang itu kebenarannya. Dia menikah dengan Nilam hanya atas permintaan ibunya, bukan karena cinta. Dia sudah mencoba untuk melupakan Amine dan mencintai Nilam, tapi rasanya itu tidak akan pernah berhasil. Amine adalah salah satu wanita yang Adlar cintai dalam hidupnya.


Di satu sisi, Amine mencoba membujuk Ishla untuk membuka pintunya. Dia sangat menyesal karena sudah menyembunyikan semua ini darinya. Tidak lama, Ishla keluar. Amine langsung memeluk putrinya itu. Ishla masih terlihat murung, dia tidak mengatakan sepatah katapun. Amine langsung mengajaknya untuk pergi ke kantor.


"Tidak, ibu. Aku akan istirahat di rumah saja." ucap Ishla.


"Tapi, nak...


"Sudahlah, jangan khawatir! Aku baik-baik saja." Ishla mengantar Amine sampai ke gerbang. Saat mobil Amine hilang dari pandangan, Ishla menelpon seseorang. Tanpa sepengetahuan ibunya, Ishla sudah memesan kamar hotel untuk dia menginap. Ishla membutuhkan waktu untuk sendiri tanpa ada seorangpun yang mengganggunya.



\*\*\*


Saat akan pergi ke luar, Aiyla mendapati sebuah surat kabar yang tergeletak di depan pintu rumahnya. Saat dilihat, berita yang sedang hangat adalah tentang acara peresmian perusahan baru Amine yang digelar tadi malam. Halaman demi halaman Aiyla buka dan disana tertulis jika Amine Laraz memberikan perusahaan baru itu pada putrinya, Ishla Diannova Laraz. Saat suasana mulai tenang, tidak lama Aiyla masuk kembali dan membuat kekecauan baru. Dia menunjukkan surat kabar itu pada semua orang. Dia menatap wajah ayahnya dalam-dalam.


"Apa Ishla adalah putrimu dengan Amine?" tanya Aiyla tegas. Azizah melihat Nilam yang begitu gelisah, dia terus saja memainkan jarinya.


"Sudahlah, nak. Apa lagi semua ini?" tanya Nilam. "Ayo ikutlah bersamaku! Aku akan menceritakan semuanya padamu." Aiyla menolak ajakan ibunya. Dia tidak akan pergi sebelum mendapat jawaban dari pertanyaannya.


"Apa Ishla itu putrimu?" tanyanya sekali lagi.


"Iya, dia putri ayahmu dengan wanita itu!" jawab Nilam. Semua terkejut mendengar perkataan Nilam, termasuk Adlar.


Waw...


"Kebohongan apalagi yang kalian sembunyikan dariku, Hah?" Aiyla sudah sangat lelah memikirkannya. Terlalu banyak kebohongan yang terjadi di rumah ini, sampai dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Semua orang yang dia cintai ternyata sudah membohonginya. Aiyla merasa seperti gadis bodoh yang tidak tahu apapun.


"Apa kalian tidak pernah menganggapku ada di rumah ini? Tega sekali kalian semua berbohong padaku." Aiyla melihat neneknya dan datang menghampirinya. Dia selalu mengatakan bahwa dia sangat mencintai dirinya. Dari semua orang yang ada di rumah, neneknya yang paling menyayanginya.


"Nenek, apa kau juga tahu semua ini?" Azizah hanya terdiam.


Waw...


"Selamat! Kalian semua adalah seorang pembohong yang sangat profesional. Kalian sudah berhasil membohongiku sampai sejauh ini. Bravo!" Kesabaran Aiyla sudah habis. Dia melihat sebuah vas bunga yang ada di atas meja, lalu melemparnya.


"Nak, apa yang kau lakukan?" tanya Azizah.


"Apa yang aku lakukan? Harusnya aku yang bertanya pada kalian semua, apa yang sudah kalian lakukan terhadapku? Kenapa kalian tega melakukan semua ini padaku?" Saat Adlar akan menenangkan Aiyla, dia mengambil pecahan vas itu dan menggoreskannya ke tangan.


Aww... Aiyla merasa sangat kesakitan. Terlihat banyak darah yang mengucur dari tangannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Nilam.

__ADS_1


Aiyla sudah merasa sangat lemas. Wajahnya terlihat sangat pucat, penglihatannya sudah mulai kabur, tidak lama tubuhnya jatuh ke lantai.


"Aiyla, sayang. Bangunlah!" Adlar dengan cepat membungkus tangan Aiyla dengan kain untuk menghentikan darahnya, mereka langsung membawa Aiyla ke rumah sakit.


__ADS_2