CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
KUNJUNGAN ETHAN


__ADS_3

Malam itu sopir membawa Ethan mengunjungi kediaman Kemal.


"Kau akan membawaku kemana?"


"Nyonya memintaku untuk mengantarmu menemui seseorang. Kau pasti mengenal orang itu."


"Aku? Mengenalnya?" Sopir meminta Ethan untuk duduk santai di belakang, sebentar lagi mobil mereka akan sampai di tempat tujuan.



Adlar masih mengikuti mobil Amine dari belakang.


"Cepatlah! Jangan sampai dia mengejar kita."


"Baik, Nyonya."


Malam itu, di kota sedang mengadakan perayaan yang membuat jalanan sangat macet. Amine menyuruh Zafer untuk memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Kau akan kemana, Nyonya?"


"Aku akan pergi dengan taksi. Kau terus saja jalan, alihkan perhatiannya. Jika dia bertanya tentangku, kau katakan saja tidak tahu."


"Baik, Nyonya." Amine naik ke dalam taksi dan pergi. Zafer terkejut saat mengetahui mobil Adlar sudah menghadang di depannya. Adlar meminta Zafer untuk turun. Saat dilihat, ternyata di dalam mobil itu hanya ada Zafer seorang diri.


"Dimana Amine?" tanya Adlar.


"Aku tidak tahu, Tuan!" Zafer kembali masuk dan mengendarai mobilnya dengan sangat kencang.


"Sial! Kenapa aku harus kehilangan dia lagi?"



Aiyla baru saja tiba di rumah. Dia tidak menghiraukan siapapun. Dia langsung pergi ke kamarnya.


"Kau baru pulang, sayang?" Aiyla tidak menghiraukan pertanyaan ibunya, dia terus saja berjalan menaiki anak tangga.


"Ada apa dengan semua orang? Kenapa sikap mereka aneh sekali hari ini?"


Di kamar, Aiyla memberantakan semua barang miliknya. Dia melempar kaca dengan vas bunga yang ada di dekat tempat tidurnya.


"Aaahh... Teriakan Aiyla membuat Nilam langsung pergi melihatnya.


"Kau kenapa, sayang?" Nilam melihat kamar Aiyla yang berantakan. Dia juga melihat banyak pecahan kaca di kamarnya. Nilam mencoba untuk menenangkan Aiyla.


"Apa yang terjadi?" ucap Nilam sambil merapikan rambut Aiyla yang berantakan. Aiyla mencoba untuk tetap sabar, dia harus bisa mengendalikan amarahnya.


"Apa ini tentang Aiyaz?" Aiyla harus bisa menutupi semuanya. Dia tidak ingin Nilam tahu tentang rencananya.


"Aku baik-baik saja, Ibu."


"Lalu, kenapa kau melakukan semua ini?"


"Aku hanya sedang pusing saja, Ibu. Banyak sekali masalah yang harus aku hadapi di kantor."


"Kau bisa menceritakannya pada Ibu. Tidak harus melakukan semua ini." ucap Nilam. "Apa kau sudah mengatakan semuanya pada Aiyaz?"


"Sudah."


"Apa yang dia katakan padamu?"


"Tidak ada, Ibu. Tapi sikapnya menunjukkan jika dia sangat senang dengan keputusan ku itu." Aiyla harus bisa lebih tenang lagi, dia harus membuat semua orang percaya dengan keputusannya itu. Dia akan memikirkan cara untuk bisa membuat Ishla jauh dari Aiyaz.



Tidak lama mobil yang dikendarai Ethan berhenti di depan sebuah rumah.


"Rumah siapa ini?" tanya Ethan.


"Kau masuklah, Tuan!" Ethan melangkahkan kakinya sampai ke depan pintu. Ethan belum sempat mengetuk pintu, dia kembali menemui sopir yang menunggunya di dalam mobil.


"Apa kau sedang bermain-main dengan ku? Jika orang di dalam rumah itu bertanya siapa aku, aku harus bilang apa?"


"Katakan saja kau ingin menemui orang bernama Kemal! Setelah kalian saling bertemu, kau akan paham apa yang harus kau lakukan."


Ethan kembali dan mengetuk pintu rumah itu.


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


Ashika pergi untuk membuka pintunya. Seorang laki-laki berdiri tepat di hadapannya. Ethan melihat penampilan Ashika dari atas sampai bawah.


"Siapa gadis ini? Dia terlihat sangat cantik." ucapnya dalam hati.


"Kau mencari siapa?" Ethan terus memandang wajah Ashika. Dia tidak sadar jika Ashika sedang bertanya padanya.


"Halo!! Ethan tersadar dari lamunannya.


"Kau mencari siapa?"


"Aku... Tidak lama Bahar datang. Dia menyuruh Ashika untuk masuk. Bahar melihat laki-laki itu terus menatap Ashika.


"Hey! Jaga matamu itu!" ucap Bahar. "Siapa kau? Untuk apa kau datang kemari?"


"Aku ingin bertemu dengan Kemal."


"Siapa yang datang? Kenapa kau tidak menyuruhnya untuk masuk?" ucap Kemal yang muncul dari belakang.


Saat melihat Kemal, Ethan langsung mengenalinya.


"Kau? Bukankah kau orang yang memperbaiki mobilku tiga tahun yang lalu?"


Kemal terdiam sejenak. Dia mencoba untuk mengingat sesuatu.


"Ya... Kau orang yang datang padaku saat itu." Kemal mempersilahkan Ethan untuk masuk.


"Ada apa kau datang, Tuan?"


"Aku ingin mengambil mobilku kembali." Kemal terkejut dengan tujuan Ethan datang menemuinya. Ashika mendengar perbincangan mereka di dalam kamar.


"Jika mobil itu miliknya, itu berarti dia yang sudah menabrak Ishla tiga tahun yang lalu." Ashika langsung menghubungi Zafer, dia harus tahu semua ini.



Adlar baru saja tiba di rumah. Dia menemui ibunya yang sedang duduk di ruangan.


"Selamat malam, Ibu." ucap Adlar.


"Kau darimana saja?" Perkataan Azizah terdengar sangat tegas.


Azizah meminta Adlar untuk ikut ke ruangannya. Ada sesuatu yang ingin Azizah tanyakan padanya. Saat mereka menuju ruangan, Nilam melihat mereka dan mengikutinya diam-diam.


"Ada apa, Ibu?"


"Untuk apa kau menemui perempuan itu?"


"Darimana Ibu tahu?"


"Jangan bertanya balik padaku, kau jawab saja pertanyaan ku itu!"


Nilam tidak bisa menahannya lagi, dia langsung masuk dan melabrak Adlar.


"Oh, jadi benar kecurigaanku itu? Kau masih bertemu dengannya di belakangku." Azizah sangat tidak suka dengan sikap Nilam yang tiba-tiba saja datang, dan merusak suasana. Dia menyuruh Nilam untuk keluar dari ruangan, tapi Nilam diam saja. Dia tidak akan pergi, sebelum dia tahu apa saja yang sudah Adlar lakukan dengan perempuan itu di belakangnya.



Malam itu juga Ashika langsung menghubungi Zafer.


"Halo Kakak!"


"Ada apa?"


"Cepatlah kemari! Pemilik mobil itu datang dan ingin meminta mobilnya kembali."


"Baiklah, aku akan segera datang."


Zafer tidak akan pergi sendiri, dia harus memberitahu Amine tentang masalah ini. Amine memberhentikan taksi di pinggir jalan dan meminta Zafer untuk segera menjemputnya. Sopir sangat khawatir karena Ethan belum juga kembali. Dia turun untuk memastikan jika Ethan baik-baik saja. Azizah menghubungi sopir untuk segera membawa Ethan kembali.


Tok... Tok... Tok...


"Siapa lagi yang datang?" Bahar pergi untuk melihatnya. Ethan melihat sopirnya sudah menunggu di luar. Dia pamit untuk pergi dan akan kembali besok pagi. Ashika keluar dari kamar, dan menghentikan langkah Ethan.


"Tunggu!" Ashika tidak sengaja memegang tangan Ethan.


"Maaf... Ashika langsung melepaskan tangannya. Dia meminta ibunya untuk menyuruh sopir itu masuk. Ashika membawa ibunya ke dapur.


"Kalian berbincang saja dulu, aku dan ibu akan membuatkan makanan untuk kalian."

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Bahar saat di dapur.


"Aku mencurigai pemuda itu sebagai pelaku tabrak lari Ishla." Bahar menutup mulutnya tidak percaya.


"Bagaimana kau sangat yakin dia orangnya?"


"Kita lihat saja nanti, aku sudah menyuruh kakak untuk datang kemari." Ashika meminta ibunya agar bisa menahan pemuda itu untuk tetap di rumahnya.


Ashika dan Bahar membawa minuman dan makanan untuk mereka. Sopir itu terlihat seperti membisikkan sesuatu pada Ethan.


"Ada apa?" tanya Kemal.


"Aku harus pergi, semua orang sudah menungguku di rumah." Ashika memberi kode pada ibunya untuk mencegah mereka pergi.


"Minumlah dulu, Nak! Aku sengaja membuat minuman itu untukmu."


"Terimakasih, tapi aku harus segera pergi." Saat Ethan melangkah pergi, di luar sudah ada Zafer dan Amine yang baru saja datang.


"Ethan? Untuk apa dia disini?" ucap Amine dalam hatinya.


Ethan melihat kembali mobil miliknya. Sebelum pergi, dia sempat memegang mobil itu penuh bangga. Mobil itu selalu menemani Ethan kemanapun dia pergi. Kecelakaan itu terlintas kembali dalam pikiran Ethan. Dia langsung melepaskan tangannya dan bergegas pergi.


Setelah kepergian Ethan, semua orang berkumpul di ruangan.


"Untuk apa dia datang kemari?" tanya Amine.


"Dia ingin meminta mobilnya kembali, Nyonya."


"Jika dia memang benar pemilik mobil itu, sudah pasti dia orang yang telah menabrak Ishla tiga tahun yang lalu."


"Lalu, untuk apa dia datang dan meminta mobilnya kembali?" tanya Zafer.


"Mobil itu adalah bukti kejahatannya, sebab itu dia ingin mengambil mobil itu dan menghancurkannya. Jika mobil itu hancur, tidak ada lagi barang bukti yang tersisa. Dia akan hidup dengan tenang tanpa ada seorangpun yang bisa menuntutnya."


"Tepat sekali! Kau sangat cerdas, Nak. Aku suka cara berpikirmu itu." ucap Amine.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Zafer.


"Kita akan membuat rencana supaya dia mengakui kejahatannya."


"Bagaimana?" tanya Ashika.


"Aku akan memikirkannya dulu, setelah itu aku akan memberitahu kalian."



Nilam terus memojokkan Adlar dengan tuduhan yang sama sekali tidak masuk akal. Azizah sangat pusing melihat mereka yang belakangan ini selalu bertengkar.


"Sudah cukup!" ucap Adlar dengan tegas."


"Aku memang menemuinya hari ini, tapi itu semua aku lakukan untuk...


"Untuk apa?" ucap Nilam tidak sabar mendengar pengakuan Adlar.


"Aku hanya ingin tahu tentang putriku."


Nilam terkejut setelah mendengar Adlar mengatakan hal itu. Dia tertawa tidak percaya, dia berpikir jika Adlar hanya sedang melakukan lelucon. Tawa itu hilang seketika, saat Nilam melihat wajah Azizah yang sangat serius menanggapi perkataan Adlar.


"Ibu kau kenapa? Apa kau percaya perkataan putramu itu?"


"Aku tidak sedang main-main, aku mengatakan hal yang sebenarnya padamu. Aku memiliki seorang putri dari pernikahan ku bersama Amine." Nilam mengunci pintunya, dia memastikan tidak ada orang yang mendengar pembicaraannya.


"Tidak mungkin, kau pasti berbohong bukan?"


"Itu terserah padamu, percaya atau tidak, aku akan tetap mencaritahu siapa putriku itu." Adlar melangkah pergi.


"Tunggu! Kau tidak bisa melakukan ini padaku, juga Aiyla. Jika dia tahu yang sebenarnya...


"Biarkan dia tahu! Cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya. Nilam tidak akan membiarkan Adlar bertemu dengan putri kandungnya. Dia akan mencari cara untuk bisa melenyapkan anak itu. Nilam tidak ingin posisi Aiyla sebagai putri Adlar tergantikan. Sebelum Adlar menemukannya, Nilam akan lebih dulu menemukannya. Nilam melihat Azizah yang sedari tadi diam tanpa berbicara sepatah katapun.


"Ibu, tolong lakukan sesuatu! Aku tidak ingin posisi Aiyla terancam di rumah ini."


"Sudahlah diam!"


"Ingat ini, Ibu! Jika Adlar sampai bertemu dengan putri kandungnya dan membawa dia tinggal disini, aku akan memberitahu semua orang jika putri itu berasal dari rahim seorang wanita malam. Bagaimana jika semua orang tahu, seorang Adlar Diaz pernah menikahi seorang wanita penghibur, apa kata mereka? Nama baik keluarga ini akan hancur."


"Berani sekali kau mengancam ku seperti itu! Sebelum semua itu terjadi, aku akan melemparmu lebih dulu dari tempat ini. Aku akan melihatmu tinggal di jalanan. ucap Azizah dengan tatapan tajam. "Sebelum bicara, lihatlah dirimu lebih dulu! Jika bukan karena aku, kau tidak akan hidup seperti sekarang ini. Jangan lupakan itu!"

__ADS_1


__ADS_2