CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
KESALAHAN DI MASA LALU


__ADS_3

Siang ini Amine pergi untuk menemui Selim. Adlar yang sedari tadi memantau Amine, mengikuti mobilnya dari belakang.


Di tengah perjalanan, Amine melihat kaca spion mobilnya, dia merasa curiga dengan mobil di belakangnya yang terus saja mengikutinya. Amine memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, dia keluar dan menggebrak kaca mobil itu.


"Hey, turunlah!" Amine terkejut ketika melihat Adlar yang turun dari mobil itu.


"Kau? Untuk apa kau mengikuti ku?" tanya Amine dengan nada marah.


"Aku ingin bicara denganmu, Tolong beri aku sedikit waktu!"


"Tidak ada lagi waktu yang tersisa," ucap Amine.


Dua puluh lima tahun sudah Adlar meninggalkan Amine tanpa memberi kabar sedikitpun. Sekarang dia datang seakan ingin memperbaiki semuanya. Sikap Adlar sudah sangat melukai perasaan Amine. Rasanya dia ingin melenyapkan Adlar dari dunia ini. Jangankan untuk berbincang, bertemu dan melihat wajah Adlar saja Amine sudah enggan.


"Jangan ikuti aku lagi!" tegas Amine pada Adlar.


"Tapi aku ingin bicara denganmu,"


Amine pergi tanpa menghiraukan perkataan Adlar sedikitpun. Dia harus segera menemui Selim di tempat biasa.


Seperti biasa, siang itu Aiyla pergi menemui Aiyaz di kantornya.


"Aiyaz," teriak Aiyla sambil melambaikan tangannya.


"Kenapa dia harus datang kemari?" gerutu Aiyaz dalam hatinya.


"Apa kau sudah makan siang?" tanya Aiyla sambil menggandeng tangan Aiyaz.


"Belum, aku masih harus menyelesaikan pekerjaan ini."


"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Aiyaz.


Sore ini Aiyla akan melakukan wawancara, dia ingin Aiyaz menemaninya sekaligus Aiyla ingin memperkenalkan Aiyaz sebagai calon tunangannya.


"Sepertinya aku tidak bisa, banyak sekali pekerjaan yang harus segera aku selesaikan." Aiyaz langsung menolaknya.


"Baiklah, jika tidak bisa sekarang, aku akan membuat jadwal untuk wawancara ini agar kau juga bisa ikut."


"Itu tidak perlu!"


Aiyla pergi begitu saja tanpa mendengar keluhan Aiyaz. Sejak kehadiran Aiyla hidup Aiyaz seperti ada dibawah tekanan. Apapun yang diminta Aiyla harus diikuti, tidak bisa Aiyaz mengatakan tidak untuk Aiyla. Aiyaz tidak ingin melukai perasaan Aiyla nantinya, dia tidak ingin memaksakan perasaannya untuk bisa menerima Aiyla sebagai calon tunangannya.


Siang itu Ishla baru saja menyelesaikan mata kuliahnya. Dia menunggu Arash yang masih mengajar. Ishla sangat senang dengan mata kuliahnya hari ini. Dia bisa menyelesaikan semua tugas dengan nilai sempurna. Saat itu Arash sedang menjelaskan di depan kelas, Aghna terus saja menatapnya kagum.


"Apa ada yang bisa menjawabnya? Aghna! Arash menunjuk Aghna untuk menjawab pertanyaan yang ada di depan kelas. Aghna belum juga sadar dari lamunannya. Teman sebangkunya menyenggol tangan Aghna.


"Aduh...Ada apa?" ucap Aghna sedikit kesal.


"Mr. Arash menyuruhmu untuk mengerjakan soal yang ada di depan." Pandangan Aghna langsung ke depan. Dia bingung pertanyaan apa yang ada di papan tulis.


"Ayolah maju ke depan dan jawab pertanyaan ini!" Arash sangat disiplin dan tegas dalam mengajar.


"Ketika aku menjelaskan tadi, sepertinya kau yang sangat memperhatikan."


Aghna tertunduk malu, tadi itu dia bukan sedang memperhatikan tapi terpesona dengan ketampanan Arash yang membuat dia jadi tidak fokus saat belajar.

__ADS_1


"Maaf, Mr. Arash. Aku tidak bisa mengerjakan soal itu." Aghna sama sekali tidak tahu pertanyaan macam apa yang ada di papan tulis. Sebagai hukumannya, Arash menyuruh Aghna untuk mencatat sepuluh data mahasiswa dengan jurusannya dan meminta tanda tangannya.


"Apa aku harus melakukan semua itu?" tanya Aghna.


"Jika kau tidak mau, tidak apa-apa. Nanti tugas akhir mata kuliah saya nilai mu kosong." Aghna tidak ingin ada nilai kosong di rapotnya, dia ingin menjadi lulusan terbaik jurusan kedokteran. Aghna membawa buku dan menuntaskan hukumannya. Kelas selesai semua bisa pulang, kecuali Aghna. Dia harus menemui Arash untuk memperlihatkan bahwa dia sudah melakukan hukumannya dengan benar.


Arash melihat Ishla sudah ada di luar kelasnya. Dia pergi untuk menghampirinya.


"Kau sudah selesai?" tanya Arash.


"Aku selesai setengah jam yang lalu."


"Kalau begitu, maafkan aku karena membuatmu lama menunggu."


"Tidak masalah,"


"Kau sudah makan siang?"


"Belum," Arash mengajak Ishla makan siang di kantin. Kantin di kampus sangat luas, seperti sebuah restoran mewah. Bukan hanya makanan yang tersaji disana, tetapi juga ada kedai kopi.


"Kau mau pesan apa?" tanya Arash.


"Samakan saja denganmu!"


Dinding kantin terbuat dari kaca, pinggirannya dihias dengan dedaunan hijau yang merambat, lampunya seperti berada dalam sebuah pot kecil yang menggantung. Di sana kita bisa menikmati panorama indah yang tersaji.


Amine tiba dan langsung menghampiri Selim, "Maaf membuatmu menunggu lama."


"Tidak apa-apa, Nyonya."


"Bagaimana? Kau sudah mendapatkannya?" tanya Amine.


"Benarkah?" Selim memberikan alamat rumah pria itu. Mereka keluarga kecil yang bahagia, istrinya mengurus pekerjaan rumah, putranya bekerja sebagai pelayan restoran, dan putrinya dia kuliah jurusan Arsitektur.


"Apa kau ingin aku mengantarmu kesana, nyonya?" tanya Selim.


"Tidak perlu, aku akan menyelidikinya sendiri," Amine sangat berterimakasih pada Selim untuk semua ini. Siang itu Amine langsung pergi ke alamat yang diberikan Selim.


Setelah selesai melaksanakan hukumannya, Aghna sibuk mencari keberadaan Arash.


"Dimana dia?" Aghna kesal sendiri.


"Apa kau melihat Mr. Arash?" tanya Aghna pada salah satu mahasiswa.


"Tadi, aku lihat dia pergi ke kantin."


Aghna menemui Arash di kantin. Benar saja dia sedang makan siang dengan gadis di kursi roda itu. Aghna datang dan langsung duduk di sebelah Arash, napasnya masih terengah-engah, Ishla bingung siapa gadis itu.


"Kau ini sangat tidak sopan ya, main duduk saja tanpa izin," ucap Arash.


Aghna langsung berdiri dan meminta maaf atas sikapnya itu. Dengan sangat lembut Ishla mempersilakan Aghna untuk duduk.


"Duduklah! Kau mau pesan apa? Kau pasti belum makan siang bukan?"


"Belum," Aghna kagum melihat sikap baik gadis di kursi roda itu. Dia sangat ramah dan langsung menawarinya makan. Ishla memesan makanan dan minuman untuk Aghna. Aghna berpindah tempat duduk, yang semula dekat Arash, dia duduk di dekat Ishla.

__ADS_1


"Aku Ishla, jurusan arsitektur." ucap Ishla sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Aghna Sofia, kau bisa memanggilku Aghna, aku jurusan kedokteran." Ishla melihat buku yang di bawa Aghna, "Buku apa itu?" tanya Ishla sambil menyedot minumannya.


Aghna menceritakan tentang kelasnya tadi, karena tidak bisa menjawab pertanyaan sebagai hukumannya dia harus mencatat sepuluh mahasiswa dengan jurusannya dan meminta tanda tangannya. Aghna melihat Arash dan menyerahkan buku itu padanya. Aghna sudah sangat kelelahan, hanya kurang satu orang lagi. Dia akan mendapatkannya setelah makan siang. Tidak lama pesanan Aghna datang, dia makan dengan sangat lahap tidak peduli orang melihatnya seperti apa.


"Pelan-pelan makannya, nanti kau bisa tersedak."


Sepulang kuliah, Arash akan membawa Ishla ke sebuah tempat dimana dia akan melakukan terapi jalan disana.


"Apa kau mau pesan yang lain?" tanya Ishla.


"Tidak, ini sudah cukup. Terimakasih banyak," Ishla meminta Aghna untuk memperlihatkan bukunya, hanya satu yang tersisa. Ishla menulis nama dan jurusan lalu menandatanginya, dan menyerahkannya pada Aghna.


"Hukuman mu kini sudah selesai, kau bisa pulang sekarang!" Aghna sangat senang karena bisa menyelesaikan hukumannya.


"Kenapa kau membantunya?" tanya Arash.


"Apa salah jika aku membantu dia? Lagipula aku ini juga mahasiswi di kampus ini."


"Terimakasih untuk hari ini, kau sudah menyelamatkan ku dari dia," ucap Aghna sambil melirik Arash. Dia pergi meninggalkan kantin begitupun Arash dan Ishla.


Ethan menuruni anak tangga satu persatu, "Ibu... Kau dimana?" panggil Ethan.


Pelayan datang dan memberitahu Ethan jika ibunya sudah menunggu dia di halaman belakang rumah.


"Ibu, ada apa? Kenapa kau memanggilku kemari?" Bukan hanya Nilam yang ada di sana, Azizah juga ada disana.


"Duduklah!"


Nilam membahas kejadian tadi malam, tentang Ethan yang membawa mobil dengan mengebut. Itu bukan hanya membuat Aiyla takut, Nilam juga sangat takut jika kejadian tiga tahun yang lalu terulang kembali.


"Kau tenang saja, Ibu. Tidak ada yang melihatku malam itu, saat itu jalanan sangat sepi, hanya kendaraan ku yang melintas. Lagipula aku tidak sengaja menabraknya, saat itu kepalaku sangat berat karena mabuk dan mataku tidak bisa melihat jelas ke depan," ucap Ethan dengan santainya.


"Kau ini terlalu bodoh, Ethan!" ucap Azizah.


"Apa kau pikir tidak ada CCTV di tempat itu?" Ethan tidak berpikir sejauh itu.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan nenek?" tanya Ethan dengan wajah cemas.


"Pergi ke tempat itu, cari tahu apa ada CCTV disana, atau tidak." Ethan langsung bergegas menuju tempat dimana dia menabrak gadis itu.


Azizah mengirim Ethan ke Amerika bukan tanpa alasan, dia ingin menyelamatkan Ethan dari masalah besar yang dilakukannya, kejadian yang menimpa Ethan hanya Azizah dan Nilam yang tahu, mobil yang dipakai Ethan saat itu sudah Azizah lenyapkan. Tidak ada lagi barang bukti yang tersisa, jikapun ada itu adalah rekaman CCTV.


Arash membawa Ishla ke tempat yang sangat indah. Disana dia leluasa untuk melatih Ishla berjalan kembali.


"Kau akan melakukan terapi di tempat ini," ucap Arash. "Kau sudah siap?"


"Aku siap," tegas Ishla.


Ishla melangkahkan kaki kanannya terlebih dahulu, diikuti kaki kirinya, Ishla mulai berdiri dia berpegangan kuat pada kursi rodanya, tapi terjatuh. Arash mencoba untuk membantunya, tapi Ishla menolaknya.


"Ayo! Kau pasti bisa," ucap Arash menyemangati Ishla.


Ishla mencoba bangun kembali, tetapi ketika akan jatuh untuk kedua kalinya, Arash langsung menangkapnya. Wajah mereka sangat dekat, mereka saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


"Maaf,"


Arash tersadar dari tatapannya itu. Hari ini Ishla akan berlatih berjalan dengan dipegangi Arash. Ishla mengumpulkan kekuatannya, langkah demi langkah Ishla lakukan walau kakinya masih kaku dan sangat berat, tapi Arash akan siap menangkapnya kapan saja Ishla terjatuh.


__ADS_2