
Sesampainya di sana, Aiyaz melihat Aiyla sudah menunggunya.
"Apa yang ingin kau katakan? Aku tidak punya banyak waktu."
"Tenanglah... Duduk saja dulu! Kita bisa memesan makanan lebih dulu, atau..
"Aku harus pergi...
"Baiklah," Aiyla memberitahu Aiyaz jika dia sudah membatalkan pertunangan mereka. Aiyaz sangat senang mendengarnya. Dia akhirnya bebas dari Aiyla, tidak akan ada lagi yang akan menghalanginya untuk bersama dengan Ishla. Selesai mereka berbicara, Aiyaz langsung pergi meninggalkan Aiyla sendiri di tempat itu.
"Tunggu!" ucap Aiyla sambil memegang tangan Aiyaz. "Apa kau bisa mengantarku pulang?
"Maaf, aku harus pergi." ucap Aiyaz sambil melepaskan tangan Aiyla.
Aiyla mengikuti Aiyaz dari belakang. Dia melihat Ishla berada di dalam mobil Aiyaz.
"Kemana mereka pergi?" Aiyla mengikuti mobil Aiyaz dari belakang.
Azizah masih penasaran dengan pemilik mobil itu. Dia pergi ke tempat dimana dia melihat mobil itu kemarin. Kurang lebih satu jam, mobil itu melintas di depannya.
"Ikuti mobil itu, Pak!" ucap Azizah pada sopir.
"Baik, Nyonya."
Setelah lama mengikuti mobil itu, akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah rumah. Terlihat Zafer turun dari dalam mobil dan membawa beberapa barang belanjaan untuk orang tuanya.
"Selamat datang, Nak. Masuklah!" ucap Bahar.
Di dalam mobil, Azizah meminta sopir untuk mencaritahu siapa pemilik mobil itu.
Pagi itu, kebetulan ada tetangga dekat rumah Bahar yang sedang menyapu halaman.
"Maaf, apa kau mengenal pemuda yang tinggal di rumah itu, Nyonya?" tanya sopir.
"Dia Zafer, putra Kemal."
"Lalu, apakah mobil itu miliknya?"
"Mobil itu pemberian Kemal saat hari ulang tahunnya. Ya... Walaupun mobil itu bukan baru."
"Maksudmu, Nyonya?"
"Aku dengar sih, seseorang datang ke bengkel milik Kemal dan memberikan mobil itu padanya begitu saja."
"Baiklah, terimakasih."
Sopir memberitahu Azizah mengenai informasi yang baru saja dia dapat dari tetangga itu. Azizah ingat jika Ethan membawa mobil itu ke bengkel dan menyuruh orang bengkel untuk memperbaikinya. Tidak lama, Zafer keluar dan pergi lagi dengan mobil itu.
"Terus ikuti mobil itu!"
"Baik, Nyonya."
Di dalam mobil, Aiyaz memutar sebuah lagu kesukaannya.
"Lagu ini? Ishla sangat menikmati lagu itu dan ikut bernyanyi.
"Kau menyukainya?" tanya Aiyaz.
"Ini salah satu lagu kesukaan ku." Aiyaz tahu jika ini adalah lagu kesukaan Ishla, karena itu dia memutarnya. Tidak lama, akhirnya mereka sampai di kota Cappadocia.
Sebuah kota yang sangat unik dengan jenis bebatuan yang beragam juga terdapat banyak lokasi wisata yang bisa didatangi, mulai dari menaiki balon udara hingga bertualang bersama kuda. Kota ini juga mendapat julukan 'the land of beautiful horses' atau tanah kuda yang indah.
Aiyaz membawa Ishla ke sebuah tempat yang ada disana.
"Tempat ini... Bukankah yang ada dalam lukisan itu?" ucap Ishla.
"Kau benar, aku melukis tempat ini."
Dari jauh, Aiyla masih memantau mereka berdua. Dia sangat marah melihat Aiyaz yang semakin dekat dengan Ishla.
__ADS_1
"Untuk apa Aiyaz membawa Ishla ke tempat ini?" ucap Aiyla.
Di tempat itu, Aiyaz menceritakan semuanya. Tiga tahun yang lalu, di tempat ini dia pernah menyatakan perasaannya pada seorang perempuan. Senangnya lagi ketika tahu bahwa perempuan itu memiliki perasaan yang sama padanya. Tidak butuh waktu lama, perempuan itu akhirnya menerima cinta Aiyaz.
"Perempuan itu pasti sangat beruntung memiliki seorang kekasih sepertimu." ucap Ishla.
"Bukan dia, tapi aku yang paling beruntung bisa memiliknya."
"Lalu, dimana perempuan itu? Kenapa kau tidak bersamanya?" Aiyaz terdiam sejenak. Dia ingin sekali mengatakan jika perempuan itu adalah Ishla. Tapi Aiyaz sudah berjanji pada Amine untuk tidak memaksa Ishla mengingat masa lalunya.
"Kenapa kau diam saja? Apa terjadi sesuatu pada perempuan itu yang kau tidak ketahui?"
"Sudah lama kami berpisah, tetapi takdir mempertemukan kami kembali. Namun sayang...
"Apa yang terjadi?" tanya Ishla penasaran.
"Dia mengalami amnesia karena sebuah kecelakaan." Ishla sangat sedih mendengar kisah cinta Aiyaz dengan perempuan itu.
"Lalu, dimana dia sekarang?"
"Dia ada di dekatku."
"Benarkah? Aku ingin sekali bertemu dengannya. Apa kau bisa membawaku padanya?"
"Sebentar lagi kau akan tahu siapa perempuan itu."
Mobil Zafer berhenti di depan sebuah perusahaan. Tidak lama Amine keluar dan masuk ke dalam mobil itu.
"Perempuan itu? Ada hubungan apa diantara mereka?" Azizah terus mengikuti mobil Zafer dari belakang.
Siang ini, Amine akan mengadakan meeting di luar kantor. Dia menemui rekan kerjanya di sebuah restoran yang sangat mewah.
"Apa kau ingin aku menunggu mu, Nyonya?"
"Tentu saja, ikutlah masuk dengan ku!
Setibanya di sana, Amine langsung memesan tempat untuk meeting kerjanya. Sedangkan Zafer, berada di meja lain tidak jauh dari Amine.
"Baiklah, Nyonya. Terimakasih."
Azizah masuk ke restoran itu dan duduk berseberangan dengan Amine. Dia terus memantau Amine dengan pemuda itu. Amine terus melihat jam yang ada di tangannya, dia merasa heran sampai saat ini rekan kerjanya belum juga datang.
"Ada apa ini? Tidak biasanya mereka terlambat seperti ini." Tidak lama, Adlar datang dan duduk satu meja dengan Amine.
"Maaf aku terlambat." ucap Adlar.
"Kau? Untuk apa kau disini? Cepat pergi dari tempat ini!"
Adlar memanggil pelayan dan memesan makanan. Sikap Adlar membuat Amine sangat marah.
"Apa yang kau lakukan? Cepat pergi dari sini! Sebentar lagi aku akan mengadakan meeting penting dengan rekan kerjaku. Aku harap kau tidak mengacaukan semuanya." Adlar tersenyum mendengar perkataan Amine. Dia memberitahu Amine jika rekan kerjanya itu tidak akan datang. Adlar sudah membuat janji untuk bisa menemui Amine dengan mengatas namakan rekan kerjanya.
"Jadi semua ini...
"Ya, ini rencana ku agar bisa bertemu denganmu."
"Dasar pembohong! Berani sekali kau melakukan hal seperti ini padaku!" Perhatian semua orang teralihkan pada Amine dan Adlar. Azizah sangat terkejut ketika melihat Adlar bersama perempuan itu. Zafer tidak lama menghampiri Amine.
"Apa kau baik-baik saja, Nyonya?"
"Siapkan mobil! Kita akan pergi sekarang juga!"
"Baiklah." Saat Amine akan pergi, tangan Adlar menahannya.
"Kau tidak bisa terus menghindar dariku seperti ini."
"Lepaskan tanganku! Sudah aku bilang berapa kali, jangan pernah lagi menemuiku apalagi ikut campur dalam urusanku!"
"Aku hanya ingin tahu dimana putriku?"
Perkataan Adlar membuat Azizah sangat terkejut.
__ADS_1
"Putriku? Putri siapa yang Adlar maksud? Apa jangan-jangan...
Azizah tidak bisa membayangkan jika Adlar benar-benar memiliki putri dari perempuan itu. Dia langsung pergi dari tempat itu sebelum ada yang melihatnya.
Hari sudah mulai sore. Aiyaz dan Ishla masih berada di tempat itu. Mereka menikmati pemandangan balon udara yang ada di sana.
"Lihat disana! Sepertinya sangat menyenangkan berada di dalam balon udara seperti itu." ucap Ishla.
"Kau ingin mencobanya?" tanya Aiyaz.
"Aku ingin sekali, tapi tidak dengan keadaanku yang seperti ini." Ishla melihat kakinya yang tidak bisa apa-apa.
"Jangan bersedih, jika kau sembuh nanti, aku berjanji untuk membawamu menaiki balon udara itu." Sebelum pulang, Aiyaz dan Ishla menikmati kuliner yang ada disana. Aiyaz memegang tangan Ishla dengan tatapan yang sangat serius. Ishla sedikit terkejut saat tangan Aiyaz memegang tangannya. Dia tidak bisa menyingkirkan tangan Aiyaz karena sudah merasa nyaman dengan sentuhan tangan itu.
"Ada apa?" ucap Ishla.
Sikap romantis mereka membuat Aiyla semakin panas. Dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
"Saat pertama melihat mu, aku langsung jatuh cinta padamu. Apa kau ingin menjadi pasangan hidupku?" Perkataan Aiyaz membuat jantung Ishla berdetak tidak karuan.
"Ada apa denganku? Kenapa rasanya jantung ini akan copot?" ucap Ishla dalam hati. Aiyaz tertawa melihat ekspresi wajah Ishla. Dia langsung melepaskan tangannya.
"Hahaha, lihatlah wajahmu merah seperti itu!"
"Apa yang baru saja kau katakan?"
"Oh, itu... Aku memberitahumu saat aku menyatakan perasaanku pada perempuan itu. Ya... Kurang lebih seperti itu."
"Kau hampir saja membuat jantungku copot." Ishla langsung menutup mulutnya. Tidak seharusnya dia mengatakan semua itu.
"Benarkah? Apa kau memiliki perasaan padaku?"
"Hey, yang benar saja." ucap Ishla. "Kita baru saja bertemu, tidak mungkin aku memiliki perasaan padamu." Aiyaz sangat senang melihat Ishla tertawa seperti itu. Dia seakan kembali pada masa lalunya, dimana selalu ada kebahagian yang terpancar di wajah Ishla karena sikapnya.
Hari sudah mulai gelap, Aiyaz membawa Ishla pergi dari tempat itu.
Sesampainya di rumah, Azizah langsung meminta pelayan untuk membuatkan secangkir teh untuknya. Dia menyenderkan tubuhnya di kursi yang ada di ruang tengah. Tidak lama Nilam datang dan duduk bersamanya.
"Ibu, kau darimana saja seharian ini?" Terlalu banyak sesuatu yang dipikirkan Azizah, sampai-sampai dia tidak menjawab pertanyaan Nilam.
"Nyonya, ini kopinya!" Azizah tersadar dari lamunannya. Dia meminta pelayan untuk memanggil Ethan.
"Ibu, kau kenapa? Sikapmu sangat aneh setelah kembali dari luar."
"Tidak apa-apa."
"Kau memanggilku, Nenek?" ucap Ethan yang baru saja datang.
"Duduklah!" Tidak berselang lama, Azizah juga memanggil sopir untuk menemuinya. Nilam semakin heran dengan sikap Azizah hari ini.
"Ada apa, Ibu?" tanya Nilam.
Azizah meminta sopir untuk mengantar Ethan ke tempat yang baru saja dia kunjungi. Dia yakin jika Ethan memberikan mobil itu pada orang yang bernama Kemal.
"Tempat apa?" tanya Ethan.
"Ikut saja dengannya! Dia yang akan memberitahumu nanti di jalan." Sebelumnya, Azizah sudah meminta sopir untuk membawa Ethan ke rumah pemuda itu. Dia sangat yakin jika keluarga itu ada hubungannya dengan mobil milik Ethan.
"Kau tahu tugasmu apa?" tanya Azizah pada sopir itu.
"Aku tahu, Nyonya. Aku akan melakukan tugas itu sebaik mungkin."
"Baguslah, cepat pergi sebelum larut malam!"
Nilam masih bertanya-tanya tentang apa yang akan Azizah lakukan pada Ethan. Dia sempat berpikiran buruk jika Azizah bisa saja melakukan hal buruk pada Ethan. Sikap Azizah sangat tidak bisa ditebak. Dia harus tetap berhati-hati.
"Apa yang kau pikirkan? Apa kau berfikir jika aku akan melenyapkan Ethan?" Nilam terkejut seakan Azizah tahu apa yang ada dalam pikirannya.
"Aku bisa saja melakukan itu, tapi ingat ini! Dia bukan hanya putramu, dia juga cucu tertua keluarga ini. Mana mungkin aku melakukan hal itu pada cucu ku sendiri."
__ADS_1