CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
MYRA , SI PELAYAN HOTEL


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap, tetapi Amine masih mencari keberadaan Ishla. Dia tidak bisa mencarinya sendiri, Amine meminta bantuan Glan untuk mencari Ishla. Sedangkan di kamar hotel, Ishla terus menatap layar ponselnya. Dia merasa tidak enak karena tidak menjawab telepon ibunya.


Tok... Tok... Tok...


"Masuklah!" Seorang pelayan datang dengan membawa makan malam untuk Ishla.


"Selamat menikmati, nona." ucap pelayan itu.


"Terima kasih," ucap Ishla.


Sebelum pergi, pelayan itu sempat berdiri lama di kamar Ishla, dan terus menatapnya.


"Kenapa kau masih berdiri disitu?" tanya Ishla heran.


"Kau Ishla Diannova Laraz, bukan? Putri Amine Laraz. Aku baru melihatmu di surat kabar pagi ini. Aku sangat prihatin dengan kehidupanmu, kau tumbuh tanpa seorang ayah." ucap pelayan itu.


Ishla tidak habis pikir beraninya pelayan itu berbicara seperti itu, seakan dia yang paling tahu tentang kehidupannya.


"Jika sudah selesai, kau boleh pergi!" Pelayan itu bukannya pergi, tetapi dia dengan berani menghampiri Ishla dan duduk didekatnya. Pelayan itu menatap Ishla dengan tatapan yang sangat serius.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Ishla.


"Apa kau sudah menemukan ayah kandungmu?" tanya pelayan itu.


"Apa hubunganmu dengan semua itu? Kenapa kau ingin sekali tahu tentang kehidupanku?" Ishla terlihat sangat jengkel pada pelayan itu. Dia menarik tangan pelayan itu dan membawanya keluar. Tidak lupa, Ishla juga mengembalikan semua makan malam yang dibawa pelayan itu.


"Ambil ini kembali! Aku tidak membutuhkannya," ucap Ishla sambil menutup pintu kamarnya dengan kencang. "Berani sekali dia mengatakan semua itu padaku! Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya!" Ishla turun ke bawah untuk menemui bagian resepsionis.


"Siapa manajer di hotel ini?" tanya Ishla.


"Tuan Ahmed Fikri, nona. Apa ada masalah?" tanya resepsionis itu.


Ishla meminta resepsionis untuk membawa dia bertemu dengan manajernya.


"Maaf, nona. Tapi dia tidak bisa diganggu untuk sekarang ini. Kau bisa turun kembali pukul 8 malam, setelah manajer menyelesaikan urusannya."


"Baiklah," ucap Ishla.


\*\*\*


Sebelum meneruskan pencarian Ishla, Amine sempat pulang lebih dulu ke rumah. Dia sangat terkejut melihat keadaan rumahnya yang berantakan.


"Selamat datang, nyonya Amine." ucap Selma.


"Apa yang terjadi?" tanya Amine.


Selma memberitahu Amine jika tadi ada seorang penyusup masuk ke rumahnya, dan membuat kacau seisi rumah. Dia sempat menghubunginya, tapi tidak dijawab. Amine memeriksa ponselnya, benar saja ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Selma.

__ADS_1


"Apa penyusup itu berhasil di tangkap?" tanya Amine.


Selma membawa Amine ke gudang. Disana sudah ada Ethan yang sudah Zafer ikat tubuhnya dengan tali. Dia masih belum sadarkan diri, karena pukulan keras yang dilakukan Selma padanya.


"Ethan? Untuk apa dia datang dan mengacaukan seisi rumahku?" tanya Amine dalam hatinya. Amine merasa sangat bingung, karena masalah terus saja bermunculan. Amine meminta Selma memanggil Zafer untuk datang ke ruangannya. Di ruang kerjanya, Amine belum juga mendapat kabar dari Glan. Saat sedang bingung, tiba-tiba saja ponsel Amine berbunyi, dia pikir itu dari Ishla, tapi ternyata Adlar yang meneleponnya. Amine mematikan teleponnya. Tidak lama, Zafer datang.


"Duduklah!" pinta Amine.


Untuk malam ini, mungkin Amine tidak akan di rumah. Dia akan sibuk mencari keberadaan Ishla. Saat mengetahui Ishla hilang, Zafer sangat terkejut. Untuk itu, Amine meminta Zafer untuk tinggal di rumahnya, dan memperketat penjagaan. Tentang Ethan, Amine hanya menyuruh Zafer untuk tetap mengawasinya, jangan sampai dia lolos begitu saja.


"Baiklah, nyonya. Kau tidak perlu khawatir," ucap Zafer.


\*\*\*


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Ishla kembali turun untuk menemui manajer hotel itu. Dia datang ke resepsionis dan memintanya untuk mengantarkannya menemui sang manajer. Tiba di ruangan, manajer itu sangat terkejut melihat kedatangan Ishla.


"Nona Ishla? Apa aku tidak salah lihat? Masuklah!" pinta manajer itu. "Apa kau menginap di hotel ini?"


"Bukan aku, temanku yang menginap disini. Aku hanya menemani dia saja." ucap Ishla.


"Ada apa kau menemuiku?" tanya sang manajer.


Ishla memberitahu ketidaknyaman yang ia dapat dari salah satu pelayan hotel. Dia datang dengan membawa makan malam, juga sangat ingin tahu tentang kehidupannya. Bahkan, dia berani bertanya tentang ayah kandungnya. Mendengar semua itu, sang manajer sangat minta maaf atas ketidaknyamanan yang Ishla dapatkan. Ishla meminta sang manajer untuk memecat pelayan itu.


"Siapa nama pelayan itu?" tanya sang manajer.


"Aku tidak tahu namanya, tapi aku sangat mengingat wajahnya." ucap Ishla.


Sang manajer membawa Ishla ke luar. Dia menyuruh semua pelayan untuk datang menghadapnya. Ishla melihat wajah mereka satu persatu, Ishla menunjuk pelayan yang berdiri dipojok sebelah kiri.


"Dia orangnya," ucap Ishla.


Sang manajer membubarkan semua pelayan, kecuali satu pelayan yang ditunjuk Ishla. Dia meminta pelayan itu untuk pergi ke ruangannya.


"Ada apa bos? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya si pelayan bingung.


"Hari ini juga, kau dipecat!"


Si pelayan terkejut tidak percaya. Sang manajer memberitahu, jika dia sudah membuat ketidaknyamanan terhadap salah satu penghuni hotel. Dengan sangat berat, akhirnya si pelayan itu pergi untuk membereskan semua barangnya. Saat menuju pintu keluar, si pelayan melihat Ishla yang sedang berdiri di dekat pintu. Pelayan itu terlihat sangat kesal karena dia yakin Ishla yang sudah mengadu kepada sang manajer tentang perbuatannya itu. Si pelayan terus berjalan melewati Ishla. Seketika, Ishla berjalan di belakang si pelayan itu, lalu menghalangi jalannya.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menghalangi jalanku? Cepatlah minggir!" ucap pelayan itu.


"Yasmine Almyra, seorang mahasiswi terbaik lulusan manajemen perusahaan." ucap Ishla. "Tapi, kenapa perempuan sepertimu rela menjadi seorang pelayan hotel? Padahal kau bisa mencari pekerjaan lebih baik dari ini."


"Dari mana mau tahu semua itu?" tanya Myra.


"Tidak ada yang tidak bisa aku dapatkan, semua yang aku inginkan akan aku dapat dengan mudah, termasuk tentang dirimu."

__ADS_1


"Baiklah, jika begitu aku peringatkan padamu untuk tidak mencampuri urusanku! Apapun pekerjaanku, kau tidak berhak menilainya. Semua orang mungkin mengenalmu, tapi tidak denganku. Aku harus bekerja untuk mendapatkan semua yang aku inginkan." ucap Myra sambil bergegas pergi. Ishla mengikuti Myra dari belakang. Sampai akhirnya taksi yang ditumpangi Myra berhenti di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar, namun cukup untuk ditinggali oleh dua sampai tiga orang. Ishla turun, dan melihat Myra masuk ke dalam rumahnya. Ishla pergi untuk mencaritahu kehidupan Myra. Saat tahu pintu rumah Myra terbuka, Ishla pergi untuk melihatnya. Di dalam, sudah ada ibu Myra yang sedang menyiapkan makanan untuk putrinya, Myra. Saat datang, Myra langsung memeluk ibunya sambil menangis.


"Maafkan aku, ibu." ucap Myra.


"Kau kenapa putriku? Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?" tanya si ibu.


Myra memberitahu ibunya jika dia sudah di pecat oleh bosnya. Myra sangat sedih karena harus mencari pekerjaan lain untuk tetap bisa mencukupi kebutuhan hidupnya juga untuk biaya berobat ibunya yang tengah sakit.


"Sabarlah, nak! Ibu yakin kau akan mendapatkan pekerjaan yang lebih dari sebelumnya."


"Tapi, Bu... Mencari pekerjaan sekarang ini sangat sulit. Aku pikir dengan menjadi mahasiswi lulusan terbaik akan memudahkanku mendapatkan pekerjaan, tapi tidak." Myra sangat sedih karena untuk membeli obat ibunya saja dia tidak bisa.


"Sudahlah, jangan memikirkan semua itu. Ibu masih bisa menggunakan uang tabungan untuk membeli obat juga keperluan kita sehari-hari."


"Tidak ibu, uang itu kau tabung untuk biaya operasimu. Jika sampai terpakai, itu berarti kau tidak bisa melakukan operasi itu. Aku tidak ingin kehilangan dirimu, aku sangat mencintaimu, ibu...


Ishla sempat meneteskan air mata mendengar kehidupan Myra juga ibunya. Ishla langsung pergi sebelum keberadaannya diketahui Myra.


\*\*\*


Saat mobil Amine akan keluar, mobil Adlar sudah terparkir di depan dan menutupi jalannya.


"Cepatlah minggir! Aku tidak punya banyak waktu untuk berurusan denganmu."


"Aku ingin bicara padamu, ini tentang Ishla." Saat mendengar nama Ishla, Amine langsung turun dan tertarik untuk mendengar perkataan Adlar.


"Ada apa?" tanya Amine.


Adlar memberitahu Amine jika kunci mobil itu dia temukan di rumah sakit. Saat itu, kebetulan Adlar sedang membawa putrinya, Aiyla ke rumah sakit karena dia mencoba untuk melukai tangannya. Adlar menebak jika Ishla sempat melihatnya dengan Aiyla di rumah sakit itu, dan menguping semua percakapan mereka. Mungkin itu sebabnya Ishla pergi.


"Aku sungguh minta maaf, Amine." ucap Adlar.


"Jika memang Ishla pergi seperti apa yang kau bicarakan, memang apa yang sebenarnya terjadi sampai Ishla bisa pergi seperti ini?" tanya Amine.


"Di rumah sakit, aku sempat mengatakan pada Aiyla, jika dia sampai kapanpun akan tetap menjadi putriku, tidak akan ada yang bisa menggantikannya." Amine sangat marah mendengar semua itu. Adlar sama sekali bukan ayah yang baik untuk Ishla. Amine mencoba untuk tetap tenang, yang pertama harus dia lakukan adalah menemukan Ishla. Saat mobil Adlar masih menutupi jalannya, Amine pergi menggunakan taksi. Dia mencoba melacak keberadaan Ishla dengan ponselnya. Amine menyuruh sopir taksi untuk pergi ke salah satu hotel yang ada di kota. Amine sangat senang karena akhirnya dia bisa menemukan Ishla. Sesampainya disana, Amine pergi menemui resepsionis.


"Permisi, aku ingin menemui putriku, Ishla Diannova Laraz." Resepsionis itu meminta Amine untuk menunggu. Dia sudah berjanji pada Ishla untuk tidak memberitahu siapapun tentang keberadaannya. Resepsionis itu mencoba menghubungi Ishla lewat telepon yang terhubung ke kamarnya, tapi tidak ada jawaban dari Ishla. Amine terus melihat jam yang ada di tangannya.


"Apa kau bisa memberitahu dimana kamar putriku menginap?" tanya Amine.


"Maaf, nyonya. Tapi disini tidak ada orang yang mengatasnamakan Ishla Diannova Laraz." Amine sempat bingung, padahal jelas ponselnya menunjukkan jika Ishla berada di hotel itu. Amine meminta resepsionis itu untuk mencari kembali data dengan nama itu. Di sisi lain, Ishla sudah tiba di hotel. Saat akan berjalan masuk, dia melihat ibunya ada di hotel itu.


"Ibu? Untuk apa dia disini?" Ishla segera mencari tempat sembunyi sebelum Amine melihatnya. "Darimana ibu tahu jika aku ada disini?" Ishla mengecek ponselnya, dia lupa untuk mematikan GPS yang tersambung ke ponselnya.


"Maaf, nyonya. Aku sudah mengecek semua data, tapi tetap saja tidak ada orang yang bernama Ishla."


"Baiklah, terima kasih." Amine bergegas pergi. Ishla sangat sedih melihat ibunya seperti itu. Dia pasti sangat mengkhawatirkannya. Tapi untuk saat ini, Ishla benar-benar butuh waktu untuk sendiri. Sesampainya di kamar, Ishla mengirim pesan yang isinya, "Ibu, maafkan aku karena sudah membuatmu sangat khawatir. Untuk sekarang ini, aku sedang ingin sendiri. Ibu jangan terus mencariku, karena jika sudah saatnya nanti, aku akan kembali padamu. Jaga dirimu dengan baik! I love you, Mom!"

__ADS_1


__ADS_2