CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
PERTEMUAN PERTAMA


__ADS_3

Setelah selesai dari kampus, Arash pergi menemui Ishla. Arash tidak akan tenang jika belum melihat Ishla. Seperti ada benih cinta yang tumbuh dalam hati Arash. Sebelumnya dia belum pernah dekat dengan perempuan yang membuatnya nyaman seperti Ishla. Entah kenapa, Ishla yang sederhana dan tidak banyak bicara itu mampu meluluhkan hatinya.



Sore itu Ishla tengah berada di dermaga, dia ingin menikmati senja sore ini. Arash baru saja datang dan langsung menemuinya di dermaga. Arash melihat sebuah lukisan yang ada di dekat Ishla,


"Waw... Siapa yang membuat lukisan seindah ini?" Ishla melihat Arash yang baru saja datang. Dia tersenyum lebar, "Kau pikir siapa?" tanya Ishla balik.


"Tentu saja si cantik, ini!" ucap Arash sambil mengusap kepala Ishla.


"Kau ini... Ishla tersipu malu. Arash berdiri di dekat Ishla. Udara sudah mulai dingin, angin berhembus kencang, cahaya senja lama kelamaan akan semakin hilang dan malam akan segera datang.


"Apa seharian ini kau terapi jalan?" tanya Arash.


"Tidak, waktuku habis untuk membuat lukisan ini."


"Bagaimana pekerjaanmu di kampus hari ini? Apa kau menghukum Aghna lagi?" tanya Ishla.


Hari ini cukup melelahkan untuk Arash. Mengenai Aghna dia sedikit pendiam untuk hari ini. Arash memberitahu Ishla jika Aghna menanyakan dirinya, sepertinya dia ingin mengenalkan Ishla pada kakaknya, Aiyaz.


Setibanya di rumah, Amine melihat keberadaan Ishla bersama Arash di dermaga. Dia begitu senang melihat kedekatan mereka berdua. Amine melihat putrinya itu selalu tertawa bahagia saat di dekat Arash.


"Permisi, Nyonya. Di luar ada bibi Hediye yang ingin menemuimu," ucap Selma.


Bibi Hediye adalah tetangga di dekat rumah Amine.


"Ada keperluan apa bibi datang kemari?" tanya Amine. "Masuklah! Kita akan bicara di dalam."


Hediye menolaknya, dia hanya ingin memberitahu Amine jika tadi siang ada seorang laki-laki yang mencarinya. Dia pikir rumah Hediye adalah rumahnya, saat datang dia langsung menanyakan Amine.


"Apa kau tahu ciri-cirinya seperti apa?" tanya Amine.


Dia sedikit tinggi, wajahnya kelihatan sangat berwibawa, dia juga mengenakan pakaian sangat rapi, dia seperti seorang pengusaha yang ada di film-film. Amine langsung tertuju pada Adlar, tidak ada lagi laki-laki yang mencarinya, selain Adlar.


"Apa kau mengatakan tentang ku padanya, Bibi?"


"Kau tenang saja, aku tidak mengatakan apapun padanya."


"Terimakasih, Bibi."



Aiyla masih mengurung dirinya di dalam kamar. Dia menunggu Aiyaz meneleponnya dan meminta maaf. Aiyla merasa sangat kesal karena Aiyaz tidak kunjung menghubunginya. Aiyla tidak tahan lagi, dia yang akan menghubungi Aiyaz lebih dulu.


Tut... Tut... Tut...


"Kenapa dia tidak mengangkat teleponnya?


Argh.. Aiyla melempar ponselnya. Jika seperti ini terus bisa-bisa dia gila. Aiyla pergi ke luar untuk menghirup udara segar, dia akan menemui teman-temannya di sebuah klub malam.



Malam itu Arash dihubungi oleh salah satu rumah sakit kota, dia meminta Arash untuk menggantikan dokter disana, kebetulan salah satu dokter di rumah sakit itu baru saja meninggal beberapa hari yang lalu. Rumah sakit kota kekurangan tenaga medis untuk menangani pasien setiap harinya. Mereka dengar Arash Yavuz seorang dokter yang cukup terkenal dari Kanada. Arash menerima jabatannya itu, mungkin dia akan sangat sibuk sebagai dokter sekaligus dosen.


"Maaf, Nyonya. Mungkin aku akan sangat jarang datang kesini, karena pekerjaan baruku ini. Aku tidak bisa menjaga Ishla setiap saat. Tapi aku berjanji untuk membantu Ishla terapi jalan sampai dia sembuh."


"Tidak apa-apa, rumah sakit kota lebih membutuhkanmu dari pada Ishla, jangan sungkan untuk datang saat kau punya waktu luang." Amine memberitahu Ishla bahwa besok akan ada teman baru untuknya, juga seorang sopir pribadi untuk mengantar Ishla kemanapun dia pergi.


"Teman baru? Siapa?" tanya Ishla penasaran.


"Kau akan melihatnya besok."

__ADS_1



Semua pegawai sudah pulang, hanya Arash yang masih ada di kantor. Dia melihat beberapa panggilan masuk dari Aiyla di ponselnya. Tiba-tiba ponsel Aiyaz berdering,


"Halo, Kakak! Kau dimana? Kenapa masih belum pulang juga?" Aghna sangat mengkhawatirkan kakaknya, tidak biasanya dia pulang malam.


"Aku akan segera pulang." ucap Aiyaz.



Saat makan malam, Nilam menyuruh pelayan untuk memanggil Aiyla di kamarnya.


"Maaf, Nyonya. Nona Aiyla tidak ada di kamarnya."


"Kemana dia pergi?" tanya Nilam.


Nilam memberitahu Adlar jika dari siang tadi suasana hati Aiyla sedang tidak baik. Dia terus mengurung dirinya di kamar, dan sekarang entah kemana dia pergi. Makan malam menjadi kacau karena kepergian Aiyla tanpa diketahui oleh siapapun.


"Ibu, aku akan pergi untuk mencarinya."


"Aku ikut denganmu," Nilam dan Ethan sama-sama pergi untuk mencari Aiyla.


Aiyla tiba di sebuah klub malam. Saat masuk, cahaya lampu sudah membuat kepalanya pusing, aroma asap roko juga tercium sangat kuat, banyak wanita seusianya yang menemani banyak pria hidung belang. Aiyla duduk di kursi yang masih kosong, dia memesan minuman sambil menunggu temannya datang.


Tiba-tiba, seorang pria duduk di dekat Aiyla. Dia seusia ayahnya. Aiyla langsung menghindarinya.


"Hey! Seseorang menepuk pundak Aiyla dari belakang.


"Kau kemana saja? Aku sudah menunggumu lama disini," suara Aiyla terdengar seperti berteriak karena alunan musik yang terlalu keras.


"Ayo kita minum!"


"Let's go...



"Berani sekali dia berteriak padaku," Aiyla terlihat sedang bicara sendiri sambil menunjuk-nunjuk.


"Aiyla?" Aiyla mencoba membuka matanya lebar-lebar, tapi sepertinya dia minum banyak.


"Kau siapa?" tanya Aiyla setengah sadar. Aiyaz mencium bau minuman dari mulut Aiyla.


"Apa kau mabuk?" tanya Aiyaz.


Kepala Aiyla rasanya sangat berat, dia tidak lagi kuat berjalan, akhirnya Aiyla pingsan.


Aiyaz membawa Aiyla ke dalam mobilnya.


Malam itu semua keluarga masih terlihat sangat panik, tidak lama Aiyaz datang dengan membopong Aiyla.


"Apa yang terjadi?" tanya Nilam.


Aiyaz membawa Aiyla ke kamarnya. Aiyaz menemukan Aiyla berjalan sendirian dalam keadaan mabuk.


"Dia mabuk?" tanya Nilam.


Adlar mencium bau minuman dari napas Aiyla. Dia meminta pelayan untuk membuat air perasan jeruk lemon. Adlar sangat berterimakasih pada Aiyaz, jika tidak ada Aiyaz mungkin hal buruk akan terjadi pada Aiyla. Nilam tidak bisa membayangkan jika putrinya itu diapa-apakan oleh pria di luar sana. Nilam segera menghilangkan pikiran buruknya itu, yang terpenting Aiyla sudah kembali ke rumah.


Aiyaz baru saja tiba di rumah. Dia melihat Aghna sudah tertidur di sofa. Dia menggendong Aghna ke kamarnya. Aiyaz membaringkan tubuhnya di kursi melepas rasa lelahnya. Dia mengeluarkan foto Ishla yang ada di dompetnya. Aiyaz ingat ketika dia lelah, Ishla selalu ada untuknya. Saat merasa lelah, Aiyaz selalu menyandarkan kepalanya di pundak Ishla. Semua terasa nyaman dan beban yang ada rasanya hilang begitu saja. Ishla tidak meninggalkan Aiyaz sampai dia benar-benar tidur. Semua akan berlalu, itu yang selalu dikatakan Ishla padanya. Mata Aiyaz mulai berat dan tertidur sambil memegangi foto Ishla.


__ADS_1


Malam itu Ishla masih duduk di kursi rodanya. Dia melihat pantulan cahaya bulan di Selat Bosphorus. Birunya air laut membuat Ishla tenang dan damai. Tidak satupun kapal yang melintas saat malam. Laut terlihat sangat hening dengan gelombang kecil yang menerpanya. Ishla memasang earphone di telinganya, dia mendengar musik kesukaannya dan mulai hanyut terbawa dalam alunan musik itu.



Pagi datang menyambut, Zafer dan Ashika sibuk mempersiapkan diri. Mereka tidak sempat sarapan, mereka pergi ke alamat yang diberikan Amine dengan menggunakan taksi.


"Semoga berhasil, Nak." Kemal dan Bahar memeluk mereka berdua.


"Terimakasih, Ibu."



Zafer sudah tidak sabar dengan pekerjaan barunya menjadi sopir pribadi, begitupun dengan Ashika dia tidak tahu untuk apa Amine menyuruh dia datang ke rumahnya.


Ishla sudah bersiap, dan turun untuk sarapan. Ishla melihat banyak sekali makanan yang dibuat bibi Selma.


"Selamat pagi, sayang." ucap Amine yang baru saja datang.


"Selamat pagi, Ibu. Kenapa banyak sekali makanan? Apa Ibu akan kedatangan tamu?"


Amine hanya tersenyum, "Kau akan melihatnya sendiri."



Pagi itu Aiyla terbangun dengan kepalanya yang masih pusing. Dia langsung membersihkan tubuhnya, hari ini dia akan melakukan pemotretan. Aiyla akan menjadi model iklan salah produk kecantikan. Dia memastikan jika bau minuman itu tidak menempel lagi di mulutnya. Aiyla turun untuk sarapan. Semua menatapnya penuh tanda tanya, Aiyla duduk dan tidak menghiraukan mereka sama sekali. Aiya memasang earphone saat sarapan, dia tidak ingin mereka bertanya banyak tentang hal semalam. Dia sangat benci ketika harus mendengar ocehan mereka. Nilam yang saat itu duduk di dekat Aiyla, dia langsung melepas earphone dari telinga putrinya itu.


"Kenapa kau mabuk semalam?" tanya Nilam.


"Apa salahnya jika aku mabuk? Itu terserah padaku, Ibu tidak perlu lagi ikut campur dalam masalahku."


Semua terkejut mendengar perkataan Aiyla. Sejak kapan Aiyla berani mengatakan hal seperti itu, sekalipun dia marah, dia selalu bisa menahan amarahnya. Tapi sekarang, seakan dirinya sudah berubah sejak kemarin siang.


"Jangan mengaturku lagi! aku sudah dewasa, aku bisa mengurus diriku sendiri." ucap Aiyla sambil melangkah pergi meninggalkan meja makan.



Taksi yang ditumpangi Ashika dan Zafer sudah sampai di alamat yang diberikan Amine. Mereka takjub melihat rumah mewah dihadapannya.


"Wah... Rumah ini besar sekali, ucap Ashika. "Ini tiga kali lipat dari ukuran rumah kita."


Ashika melihat rumah besar itu dijaga oleh beberapa orang, sepertinya tidak sembarang orang bisa masuk. Zafer mencocokkan alamat rumah itu dengan yang ada di kertas, Ya... benar, ini alamat rumahnya." Ketika akan masuk salah satu penjaga menghentikannya.


"Kalian ini siapa?" tanya penjaga itu.


"Nyonya Amine yang menyuruh kami datang kesini," ucap Ashika.


Penjaga itu tidak percaya begitu saja, dia menghubungi Nyonya Amine melalu sebuah alat seperti telepon rumah yang menempel di dekat pintu masuk. Penjaga cukup menekan alat itu dan berbicara. Wah, sangat canggih alat itu. Tidak lama ada jawaban dari dalam, akhirnya penjaga itu membiarkan mereka berdua untuk masuk.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh Amine.


"Selamat datang," ucap Amine.


"Terimakasih banyak, Nyonya."


Tidak lama Ishla muncul dari belakang.


"Wah... Dia sangat cantik," ucap Ashika pelan. Pertemuan pertama Zafer dengan Ishla tidak biasa, Zafer terus menatap Ishla, kedua mata mereka saling menatap satu sama lain. Hanya ada senyum yang terpancar di wajah Ishla dan semua itu membuat kecantikan Ishla semakin bertambah. Amine membawa Zafer dan Ashika ke meja makan.


"Aku tahu kalian belum sarapan, bukan? Untuk itu aku membuat makanan sebanyak ini untuk kalian." Walau mereka baru bagi Amine, tapi dia menganggap mereka sudah seperti anak dari kerabat dekatnya sendiri. Amine memperkenalkan Ashika pada Ishla, dia juga sama kuliah dengan jurusan arsitektur. Hari ini Ishla dan Ashika akan pergi bersama, mereka akan diantar Zafer ke kampus.


"Aku dan Ishla?" Amine memberitahu Ashika jika dia sudah menanggung semua biaya kuliahnya sampai selesai. Untuk itu mulai hari ini Ashika bisa kuliah kembali. Ashika sangat terharu mendengarnya, dia hanya bisa mengucapkan kata terima kasih pada Amine. Mulai sekarang, Zafer akan mengantar kedua gadis ini kemanapun mereka pergi. Amine tidak membeda-bedakan siapapun, dia berlaku adil pada semua orang.

__ADS_1


"Makanlah! Jika kalian membutuhkan sesuatu, katakan saja! Jangan sungkan, anggap saja rumah ini seperti rumah kalian sendiri."


__ADS_2