
Malam sudah mulai larut, Ishla masih terlihat duduk di dekat jendela sambil menatap langit malam yang gelap tanpa cahaya rembulan. Dia memikirkan semua masalah yang terjadi belakangan ini, terlebih lagi tentang Myra. Dia merasa sangat bersalah karena sudah membuat Myra dipecat dari pekerjaannya. Walau kesan pertama bertemu dengannya sedikit menjengkelkan, tetapi dibalik itu semua Myra adalah seorang perempuan yang sangat kuat. Dia rela bekerja siang malam untuk dapat mencukupi hidupnya, juga biaya operasi ibunya. Ishla ingat, jika dia sekarang sudah memiliki perusahaan sendiri pemberian ibunya. Ishla dapat mempekerjakan siapa saja yang dia mau. Besok adalah hari pertama perusahaan itu beroperasi, akan banyak sekali tugas yang harus Ishla tangani di perusahaannya, terutama saat akan melakukan interview terhadap setiap pekerja yang masuk. Ishla melihat setiap data orang yang melamar ke perusahaannya. Sebagian dari mereka ada yang sudah Ishla resmikan untuk bekerja di IDL Company, sebagian lain menunggu hari esok.
\*\*\*
Taksi yang ditumpangi Amine telah sampai di depan rumah. Zafer dan Selma yang sedari tadi menunggu kabar tentang keberadaan Ishla merasa sedih karena mengetahui Amine belum berhasil menemukannya. Selma melihat wajah Amine sangat sedih, dia kembali ke dapur untuk membuatkan teh panas dengan sedikit gula untuknya. Tiba di kamar, Amine melihat layar ponselnya menyala. Sebuah pesan masuk dari Ishla, Amine segera membukanya. Setelah membaca pesan itu, Amine mencoba menghubungi ponsel Ishla, tapi tidak tersambung. Amine sangat kesal dan putus asa sampai ponselnya itu dia lempar ke atas tempat tidur. Tidak lama, Selma datang dengan membawa teh panas untuknya.
"Permisi, nyonya. Aku membuatkan teh kesukaanmu, minumlah supaya kau merasa lebih baik!" ucap Selma.
"Tidak Selma! Aku sedang tidak ingin apapun, aku hanya ingin putriku kembali."
Amine memberitahu Selma jika Ishla sudah mengetahui siapa ayah kandungnya. Dia sempat tidak mempercayai, karena ayahnya itu adalah Adlar Diaz, putra Azizah Diaz sekaligus ayah dari Aiyla.
"Bukankah itu baik, jika Ishla akhirnya tahu siapa ayah kandungnya?" tanya Selma.
"Itu mungkin menurutmu, tidak dengan yang dirasakan Ishla."
Putri siapa yang bisa menerima jika ibu yang telah melahirkannya disakiti? Sama halnya dengan Ishla, dia sangat marah pada Adlar karena sudah meninggalkan Amine juga dirinya. Saat semua baik-baik saja, dia datang dan memberitahu Ishla yang sebenarnya. Ishla masih tidak percaya jika Adlar adalah ayah kandungnya. Bukan hanya itu, bahkan Ishla sangat kecewa pada Adlar di masa lalunya karena dia hanya diam tanpa bereaksi apapun saat Nilam istri barunya, mencoba mempermalukan Ishla dihadapan banyak orang. Nilam mengatakan jika Ishla adalah anak yang tidak jelas asal-usulnya, dia anak yang tidak tahu siapa ayahnya, dia anak dari seorang wanita penghibur. Selma terkejut tidak percaya mendengarnya.
Aargh... Amine melempar gelas yang berisi teh ke lantai. Selma terkejut dibuatnya. Amine terlihat sangat marah, emosinya sudah tidak bisa lagi dibendung.
"Aku kuat demi putriku, apapun yang mereka katakan tentangku, aku tidak peduli! Tapi saat mereka menyakiti perasaan putriku, perasanku yang merasakan sakit lebih dulu." Amine menjelaskan pada Selma jika selama ini Ishla adalah seorang anak yang kuat, dia rela menunggu waktu lama untuk mengetahui ayah kandungnya, hanya untuk menjaga perasaannya agar tidak mengingat kembali masa lalunya. Dia tidak peduli orang lain ingin berkata apa tentangnya, yang terpenting untuknya, dia hanya bisa melihat ibunya dalam keadaan baik-baik saja. Tapi sekarang, saat hati Ishla hancur, Amine tidak bisa melakukan apapun. Dia bahkan tidak tahu keberadaan Ishla sekarang ini.
"Sudahlah, nyonya. Dalam waktu cepat, Ishla pasti akan kembali. Aku tahu, dia tidak bisa hidup jauh darimu." Selma mencoba untuk menenangkan Amine.
"Benarkah?" tanya Amine dengan keadaan yang sangat kacau.
"Bersabarlah! Dia itu putrimu, dan dia akan kembali padamu."
Amine pergi untuk mencuci wajahnya, sedangkan Selma dia membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai.
\*\*\*
Malam itu, Adlar menemani ibunya di rumah sakit. Dia tidak bisa tenang sebelum mendapat kabar dari Amine tentang keberadaan Ishla. Dia takut akan ada persaingan diantara Ishla juga Aiyla. Mereka akan saling membenci setelah mengetahui mereka adalah saudara se-ayah. Adlar sangat takut jika nantinya dia harus memilih satu diantara mereka. Saat Adlar sedang memikirkan banyak hal, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Halo ayah! Bagaimana keadaan nenek sekarang?" ucap Aiyla.
"Kau tidak perlu khawatir, nenekmu baik-baik saja. Kemungkinan besar, besok nenekmu sudah bisa pulang. Kenapa kau masih belum tidur?" tanya Adlar.
__ADS_1
"Aku sangat mengkhawatirkan keadaan nenek. Tapi setelah tahu dia baik-baik saja, rasanya aku akan bisa tidur. Baiklah, kalau begitu aku tutup teleponnya dulu. Selamat malam ayah!"
"Selamat malam, putri ayah."
\*\*\*
Pagi sudah kembali menyapa. Cahayanya mulai menyebar menyelami setiap orang yang masih terlelap dalam tidurnya. Pagi itu, Ishla segera bersiap untuk pergi mengunjungi Myra. Dalam perjalanan, tidak lupa Ishla membeli makanan untuk sarapan Myra dan ibunya. Kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya taksi yang ditumpangi Ishla berhenti tepat di depan rumah Myra.
Tok... Tok... Tok...
Tidak lama, keluarlah seorang wanita yang usianya kurang lebih empat puluh lima tahun. Dilihat dari dekat, wajah perempuan itu terlihat sangat pucat, mungkin itu akibat dari penyakit yang dideritanya.
"Kau mencari siapa, nak?" tanya perempuan itu dengan lembut.
"Aku teman Myra, bibi." ucap Ishla.
"Baiklah, silahkan masuk!"
Pagi itu kebetulan Myra belum turun. Dia baru selesai mandi, berbeda saat masih bekerja, Myra selalu bangun lebih awal. Dia seorang perempuan yang sangat disiplin.
"Ini bibi! Aku bawakan sarapan untukmu juga Myra." ucap Ishla sambil memberikan makanan itu.
"Tidak apa-apa bibi, lagi pula aku tidak keberatan dengan semua itu."
Saat mereka sedang berbincang, Myra turun dan terkejut melihat kedatangan orang yang sudah membuatnya dipecat ada di rumahnya. Myra tidak segan untuk langsung mengusir Ishla dari rumahnya.
"Apa yang kau lakukan, nak?" tanya sang ibu.
"Dia orang yang sudah membuatku dipecat dari pekerjaanku." ucap Myra.
"Apa?" ibu Myra sedikit terkejut.
Ishla menjelaskan tujuan dia datang menemuinya. Dia ingin meminta maaf untuk apa yang terjadi tadi malam. Sebagai gantinya, Ishla menawarkan Myra untuk bekerja di perusahaannya. Myra semakin marah, dia berpikir jika Ishla sedang merendahkannya. Dia berusaha membeli harga diri Myra dengan pekerjaan yang ditawarkannya.
"Aku tidak berminat dengan pekerjaan yang kau tawarkan itu!" Myra menolaknya mentah-mentah.
"Benarkah? Walaupun aku menjadikanmu sebagai asisten pribadiku, kau masih menolaknya?" ucap Ishla.
"Asisten pribadi?" ucap Myra tidak percaya. "Bagaimana mungkin kau menawarkan pekerjaan seperti itu padaku? Siapa kau sebenarnya?" tanya Myra.
__ADS_1
"Aku pemilik IDL Company, perusahaan yang baru saja berdiri."
Ibu Myra melihat surat kabar yang baru saja tiba pagi ini. Dia sempat melihat ada foto Ishla di dalamnya. Saat dibaca lebih detail, ibu Myra terkejut saat mengetahui Ishla adalah putri Amine Laraz.
Myra memikirkan tawaran Ishla itu, dia ingin selain menolak untuk mempertahankan harga dirinya, tapi dia ingat jika ada ibu yang harus dia biayai semua pengobatannya. Ishla mengingatkan Myra pada perkataannya semalam, jika dia bisa mendapatkan apapun dengan mudah. Hari ini jika Myra bersedia, Ishla akan menempatkannya di posisi tinggi di perusahaannya. Dia sangat yakin jika semua itu sudah terbukti dengan Myra menjadi lulusan terbaik di kampusnya.
"Bagaimana? Apa kau bersedia dengan pekerja baru itu?" tanya Ishla.
Myra menatap ibunya dengan penuh harap, jika pekerjaan ini akan dapat membantu perekonomian keluarga juga operasi ibunya.
"Baiklah, aku menerimanya." ucap Myra.
"Baiklah, selamat bergabung di perusahan ku! Kau bisa langsung bekerja hari ini juga, alamat tempat kau bekerja akan aku kirimkan nanti. Kalau begitu, aku harus segera pergi karena masih ada urusan lain."
Setelah Ishla pergi, Myra terlihat begitu bahagia. Dia memeluk ibunya dengan sangat erat.
"Akhirnya... Aku bisa kembali bekerja," ucapnya.
Sang ibu sudah memberitahu Myra jika Allah akan mengganti pekerjaan lamanya dengan pekerjaan yang lebih baik lagi. Myra segera bersiap untuk hari pertamanya bekerja. Dia terlihat begitu bersemangat, dia tidak ingin mengecewakan ibunya.
\*\*\*
Semua sudah berjalan seperti biasa, dimana Aiyla sudah mulai bekerja kembali menyelesaikan proyek barunya bersama Aiyaz. Di satu sisi, ada Ashika dan Aghna yang berusaha dalam tugas akhir kuliahnya. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar untuk menyelesaikan semua tugas kuliahnya. Pagi itu, Glan datang dan langsung menemui Amine di ruangannya.
"Selamat pagi, nyonya." sapa Glan.
"Selamat pagi, silahkan duduk!"
Glan ingin sekali bertanya tentang keberadaan Ishla, tetapi dia melihat Amine begitu sibuk pagi ini. Dia terus saja menandatangani semua berkas tanpa menghiraukan Glan yang ada dihadapannya.
"Apa kau datang untuk menanyakan Ishla?" tanya Amine sambil fokus menatap Glan.
"Bagaimana kau tahu?" Glan tersenyum kecil.
Amine sudah mulai mengenal Glan, dia bukan hanya sekedar rekan kerja Ishla, dia juga sering menghabiskan waktu bersama dengannya. Entah apa yang Glan rasakan terhadap Ishla, tetapi dia mencoba untuk tidak menanyakan semua itu, dia harus bekerja dengan profesional, masalah yang ada diantara Ishla dan Glan tidak perlu dibahas di kantornya.
"Dia pasti kembali, Glan. Hanya saja, aku tidak tahu kapan. Dia sedang ingin sendiri, tanpa ada orang lain yang mengganggunya." ucap Amine.
Mendengar perkataan Amine, itu sudah terdengar sangat meyakinkan jika Ishla akan kembali dalam waktu dekat ini. Hari ini Glan harus bekerja tanpa kehadiran Ishla disampingnya. Dia memilih pegawai lain untuk menggantikan posisi Ishla ini untuk sementara waktu.
__ADS_1