
Malam itu Ethan pergi secara diam-diam tanpa memberitahu siapapun, dia pergi untuk melakukan balapan liar. Ethan memiliki jiwa seorang pembalap, tidak sedikit mobil yang menjadi korban Ethan saat melakukan balapan liar. Aiyla baru saja tiba di rumah, dia melihat Ethan yang pergi mengendap-endap, Aiyla menahan tawa melihat sikap kakaknya itu. Dia mengagetkan Ethan dari belakang.
"Duar!!!" Ethan terperanjat kaget, Aiyla tertawa geli melihat tingkah konyol Ethan.
"Hahaha... Ethan langsung menutup mulut Aiyla, dan membawanya masuk ke dalam mobil. Aiyla menyingkirkan tangan Ethan dari mulutnya.
"Kau membuatku kehabisan napas, Kakak."
"Kau akan membawaku kemana?" tanya Aiyla.
Ethan terus bungkam, dia hanya menyuruh Aiyla untuk memasang sabuk pengaman dan berpegangan kuat. Seperti biasa Ethan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aiyla tidak berani menatap ke depan, selama perjalanan dia menutup matanya. Ethan akan mengajak Aiyla menonton balapan liar, malam ini Ethan akan bersenang-senang tanpa ada seorangpun yang bisa mengganggunya.
Makan malam telah siap, Ashika menuntun Kemal ke meja makan. Saat akan makan, Zafer menerima pesan dari teman kerjanya, dia mengajak Zafer untuk menonton balapan liar kebetulan besok hari libur Zafer bekerja.
"Sudahlah, jangan memainkan ponsel saat makan. Nanti makanannya segera dingin," ucap Bahar. Saat makan Zafer memikirkan alasan yang tepat untuk bisa keluar rumah. Selama ini dia tidak pernah berbohong pada orang tuanya, kejujuran sudah sangat melekat dalam dirinya. Tidak mungkin Zafer memberitahu yang sebenarnya, bisa-bisa orangtuanya tidak akan mengizinkannya.
Selesai makan, Ashika membantu ibunya mencuci piring. Setelah itu dia masuk ke kamar, dan tidak lama keluar lagi,
"Ya ampun, kenapa aku bisa lupa?" perhatian semua orang teralihkan pada Ashika.
"Ada apa? Kau membuat ibumu kaget saja," Ashika lupa membeli cat air untuk tugasnya besok. Zafer memiliki ide yang sangat cemerlang. Dia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa pergi menonton balapan.
"Biar aku saja yang membelinya," ucap Zafer.
"Aku ikut kakak, cat air yang aku butuhkan sedikit berbeda dengan kebanyakan cat air biasa," Zafer terpaksa harus pergi bersama Ashika.
"Baiklah, ayo!"
"Jika sudah dapat, cepatlah kembali!"
"Baik, Ibu. Kau tidak perlu khawatir."
Ethan tiba di arena balapan. Di sana sudah banyak orang berkumpul.
"Bukalah matamu! Kita sudah sampai." ucap Ethan.
Aiyla membuka matanya perlahan. Dia terkejut ketika tahu sedang berada di arena balapan. Aiyla keluar dari mobil dan berjalan di belakang Ethan.
"Hey, kau sudah kembali?" ucap seorang pria. Dia adalah teman lama Ethan saat SMA.
"Apa kau akan ikut?" tanya temannya.
Ethan tersenyum lebar, tentu saja dia akan ikut balapan. Lagipula sudah lama dia tidak balapan seperti ini.
"Kakak, apa kau yakin akan ikut balapan?" tanya Aiyla. "Bagaimana jika ayah, ibu, dan nenek tahu?"
"Mereka tidak akan tahu, jika kau tetap tutup mulut."
"Tapi Kakak...
Ethan tidak mau mendengarkan Aiyla, dia tetap saja ingin ikut balapan.
"Apa hadiahnya?" tanya Ethan.
"Itu hadiahnya!" Ethan melihat sebuah mobil keluaran terbaru dimana hanya sedikit orang di dunia ini yang memiliki mobil seperti itu. Jika Ethan bisa mendapatkannya, dia akan menunjukkannya pada semua orang. Tetapi, jika kalah mobil mereka yang akan menjadi taruhannya.
Setelah mendapatkan cat air yang dibutuhkan Ashika, Zafer langsung menancap gas mobilnya menuju arena balapan.
"Kakak, kau salah mengambil arah." Zafer memberitahu Ashika jika dia akan pergi untuk ikut balapan liar. Ashika terkejut mendengarnya.
"Jangan gegabah, Kakak. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Ibu dan ayah yang akan khawatir." Ashika mendapat telepon dari ibunya,
"Halo, Ibu!"
"Sudah tiga puluh menit kalian pergi, dan belum juga kembali. Kalian dimana, Hah?" Ashika menutup teleponnya. Dia merasa sangat bersalah pada ibunya.
__ADS_1
"Jika ibu menelepon lagi, apa yang harus aku katakan kakak?"
"Itu terserah padamu! Jika kau mengatakan yang sebenarnya, itu sama saja kau membuatku dalam masalah besar."
Tidak lama ibunya menelepon kembali, dari suaranya sudah terdengar kalau dia sangat marah karena Ashika menutup teleponnya begitu saja.
"Kalian ini dimana?" Ashika menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara ibunya membuat telinga Ashika sakit.
"Aku masih mencarinya Ibu, sudah aku katakan cat air yang aku butuhkan sedikit berbeda dari biasanya." Bahar percaya dengan apa yang dikatakan putrinya, dia tahu Ashika tidak akan berbohong padanya.
"Baiklah, Ibu tutup dulu teleponnya."
Tidak lama Zafer sampai di arena balapan. Dia ikut daftar dalam balapan liar itu. Semua sudah bersedia di tempat masing-masing.
"Kakak, apa kau yakin akan ikut balapan ini?" tanya Ashika dengan wajah cemas.
"Do'akan saja agar aku bisa membawa hadiah mobil itu pada ayah dan ibu."
"Tapi jika kau kalah, mobilmu yang akan dipertaruhkan."
"Tidak masalah, yang penting aku sudah berusaha dalam balapan ini."
"Kalian semua siap?"
Satu... Dua... Tiga....
Balapan telah dimulai. Ashika terus mendo'akan Zafer supaya tidak terjadi hal buruk padanya. Di sisi lain, Aiyla bingung sedari tadi ibunya terus meneleponnya.
Nilam sangat khawatir terhadap Aiyla, dia sudah menanyakannya pada Aiyaz tapi dia tidak tahu dimana keberadaan Aiyla. Nilam mencoba melacak GPS milik Aiyla. Dia menemukan lokasinya dan langsung menuju kesana.
Dari jauh mereka sudah terlihat, kira-kira siapa yang akan mencapai garis finis terlebih dahulu? Iya, semua bersorak karena Giorgino yang menjadi pemenangnya. Ethan terlihat sangat marah karena harus kalah dari musuh bebuyutannya itu. Dia memberi kunci mobil pada Giorgino, seperti kesepakatan di awal yang kalah harus mempertaruhkan mobilnya. Zafer sedih melihat mobil pemberian ayahnya harus menjadi milik orang lain.
"Apa yang aku katakan tadi, jangan ikut balapan ini!" Ashika tidak cukup kuat untuk menahan air matanya.
"Jika sudah seperti ini, apa yang akan kau katakan pada ayah dan ibu, Hah?" Ashika menangis tersedu-sedu. Dia ingat mobil itu adalah hadiah dari ayahnya untuk Zafer di hari ulang tahunnya. Sekarang mobil itu menjadi milik orang lain. Ashika memberhentikan taksi dan pergi meninggalkan Zafer.
"Ibu?" Aiyla terkejut melihat ibunya turun dari mobil. Ethan menatap Aiyla tajam,
"Apa kau yang sudah memberitahu ibu kalau aku disini?"
"Tidak, aku tidak memberitahu siapapun."
"Kau bohong!" Ethan berteriak pada Aiyla. Nilam tidak tinggal diam, dia menampar wajah Ethan dihadapan Aiyla.
"Apa yang ibu lakukan?" tanya Aiyla sambil menangis. Nilam menyuruh Aiyla untuk lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Tidak bisakah kau bicara lebih lembut pada adikmu?" Nilam memberitahu Ethan dia menemukan mereka karena melacak GPS milik Aiyla. Nilam menyuruh Ethan untuk membawa mobilnya dan pulang bersama.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Nilam.
"Dimana mobilmu?" Nilam mencari-cari keberadaan mobil Ethan.
Ethan memberitahu ibunya bahwa dia baru saja mengikuti balapan liar, dan kalah. Sebagai perjanjiannya yang kalah harus menyerahkan mobilnya pada sang pemenang. Nilam tidak tahu lagi harus berbuat apa. Baru beberapa hari Ethan disini, dia sudah membuat begitu banyak masalah.
"Masuklah ke dalam mobil!"
Malam itu Amine masih memikirkan pemilik dari mobil itu. Dia membuat keluarga Kemal seperti sebuah peta konsep. Jika benar Kemal pemilik mobil itu, apa mungkin dia pelakunya, jika dia tidak mengingatnya itu sangat masuk akal karena dia sedang mabuk saat itu, dan tidak jelas siapa yang dia tabrak. Di sisi lain, Amine mengingat perkataan Selim tentang keluarga kecil ini. Mereka semua keluarga yang baik, dan tidak pernah mencari masalah pada siapapun. Jika Kemal seorang pemabuk tidak mungkin istrinya sampai semarah itu. Kemungkinan besar Kemal bukanlah pelaku tabrak lari itu.
Ya... Amine ingat Selim pernah mengatakan jika Kemal memliki seorang putra bernama Zafer, dia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Bisa jadi Zafer yang saat itu membawa mobil dan menabrak Ishla. Siang tadi, Amine tidak melihat Zafer di rumah itu mungkin karena dia bekerja sampai malam. Amine akan mendatangi rumah Kemal kembali dan mencari tahu tentang Zafer.
Malam itu Aiyaz dan Aghna sedang asyik menonton film. Aghna menceritakan jika kuliahnya hari ini terasa sangat berat. Terlebih lagi dia harus mendapat hukuman dari Arash, dosen yang sangat menyebalkan tetapi tetap saja sangat istimewa di mata Aghna.
"Kau tahu kak, aku baru saja mendapatkan teman baru di kampus."
__ADS_1
"Siapa namanya?" tanya Aiyaz.
"Ishla." Mendengar nama itu Aiyaz langsung menghentikan filmnya.
"Ishla?" ucap Aiyaz terkejut.
"Ishla?" Aghna ikut terkejut dan baru menyadari jika nama temannya itu sama dengan nama perempuan yang ada di masa lalu Aiyaz.
"Seperti apa dia?" tanya Aiyaz.
Aghna menceritakan ciri-ciri Ishla pada Aiyaz. Sama persis dengan Ishla kekasihnya, Aiyaz yakin itu memang Ishla. Aiyaz meminta Aghna untuk membawa dia menemui Ishla besok.
"Tapi...
"Tapi apa?" tanya Aiyaz penasaran.
"Dia lumpuh, sepanjang hari Arash yang selalu menjaga dan menemani Ishla kemanapun dia pergi. Dia juga yang membatu Ishla terapi jalan. Mereka terlihat sangat dekat, seperti seorang kekasih.
Hati Aiyaz menciut setelah mendengar penjelasan Aghna. Tidak mungkin itu Ishla kekasihnya, di mata Aiyaz dia adalah sosok perempuan yang mendekati sempurna tanpa ada cacat sedikitpun.
Aghna lupa tidak menanyakan nama lengkap Ishla, tapi Aghna beritahu Aiyaz bahwa dia benar-benar perempuan yang sangat baik. Dia sudah menolong Aghna untuk menyelesaikan hukumannya. Bukan hanya itu, dia juga sangat perhatian. Dia memesankan makanan dan minuman untuk Aghna. Mendengar perkataan Aghna, Aiyaz semakin penasaran dengan sosok Ishla yang diceritakan Aghna.
"Tolong pertemukan aku dengan temanmu yang bernama Ishla itu!" pinta Aiyaz.
"Baiklah, besok aku akan mengantar kakak untuk menemuinya."
Di perjalanan, Ethan meminta maaf pada Aiyla karena sudah berteriak padanya.
Aiyla bersumpah pada Ethan kalau bukan dia yang memberitahu ibunya tentang keberadaannya.
"Sudahlah, aku percaya padamu. Tidak mungkin kau berbohong padaku," ucap Ethan.
"Ibu, bagaimana jika ayah dan nenek tahu tentang ini?" tanya Aiyla.
"Biarkan ibu berfikir dulu."
Jika Azizah tahu tentang ini, dia masih bisa memafkan dan memberikan kesempatan kedua, tetapi jika sudah terdengar di telinga Adlar, dia tidak akan tinggal diam. Mungkin saja dia akan mengembalikan Ethan ke Amerika.
Taksi yang ditumpangi Ashika sudah tiba di depan rumah. Ashika masuk dan langsung pergi ke kamarnya. Dia tidak menghiraukan ibu dan ayahnya yang ada di ruang tengah. Dia mengunci pintu kamarnya.
"Aih, aih...Ada apa dengannya?" tanya Bahar heran. Dia melihat Ashika datang sendiri.
Bahar meminta Ashika untuk keluar dan menceritakan padanya apa yang terjadi.
"Buka pintunya, Ashika!" Bahar sudah hilang kesabaran. Dia terus menggedor-gedor pintu kamar Ashika.
"Aku sudah membukanya, Ibu mau apa?" Bahar melihat mata Ashika sebam.
"Apa kau baru saja menangis?" tanya Bahar.
"Aku tidak apa-apa Ibu, sudahlah aku ingin tidur sekarang." Tidak lama Zafer datang, dia melihat Ashika yang berdiri di depan kamarnya, Bahar melihat mereka saling menatap dan tidak lama Ashika menutup pintu kamarnya.
"Apa kau dan adikmu bertengkar?" Bahar heran dengan sikap kedua anaknya itu. Bahar tidak melihat mobil Zafer yang terparkir di depan halaman rumah.
"Dimana mobilmu? Tadi kau pergi membawa mobil, tapi sekarang kau pulang naik taksi."
Zafer menceritakan pada ibu dan ayahnya, baru saja dia ikut balapan liar dan kalah. Dia menyerahkan mobil sebagai taruhannya.
"Ya Allah, Zafer... Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Bahar. "Itu pemberian dari ayahmu, dan kau hilangkan begitu saja?" Kemal tidak banyak bicara, entah dia harus sedih atau kecewa, dia pergi ke dalam kamarnya. Bahar tidak menyangka putra yang selama ini didiknya berani berbohong padanya.
"Apa Ashika tahu tentang ini?" tanya Bahar. Ashika tidak tahu apapun, Zafer memaksanya untuk ikut menonton balapan itu, dia juga yang sudah menyuruh Ashika berbohong untuk tidak mengatakan semuanya.
"Aku sangat kecewa padamu, Nak."
Zafer meminta Bahar untuk mendengar penjelasannya dulu, dia melakukan semua itu untuk membantu Ashika membayar uang kuliahnya, jika tidak dia akan dikeluarkan. Zafer tidak punya cara lagi untuk mendapat uang sebanyak itu, kecuali mengikuti balapan liar tadi. Jika Zafer menang, mobil yang dia menangkan sebagia hadiah bisa dijual dan membayar uang kuliah Ashika. Kemal sangat sedih mendengarnya, dia tidak bisa melakukan apapun untuk keluarganya. Ashika keluar kamar dan memeluk Zafer,
"Maafkan aku, Kakak. Jika saja aku tahu dari awal niat mu ini, pasti aku akan mendukungmu, bukan malah memarahimu seperti tadi, " ucap Ashika sambil berlinang air mata. Bahar sangat terharu melihatnya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu memikirkan semua itu, Ibu dan ayah yang akan mencarinya. Kau fokus saja kuliah, dan kau Zafer, kau fokus saja pada pekerjaanmu itu."