
Hari mulai sore. Amine sudah tiba dikediaman Dave. Saat pintu rumah diketuk, tidak lama keluarlah Dave.
"Untuk apa kau datang kemari, nyonya?" tanya Dave.
Saat melihat putranya muncul dari belakang, Dave benar-benar tidak percaya. Melihat putranya ada di depannya sekarang membuat Dave seperti mimpi.
"Ayah..."
"Davan, putraku?" Dave langsung memeluk putranya penuh haru. "Apa ini benar kau?"
"Aku sangat merindukanmu ayah, aku sangat merindukanmu..."
"Ayah juga sangat merindukan putra ayah ini, maaf karena selama ini aku tidak bisa berbuat apapun untuk membebaskanmu," ucap Dave.
Davan memberitahu ayahnya jika perempuan yang bersamanya yang sudah membebaskannya. Dia bahkan membuat polisi yang bekerja untuk keluarga Amor dipecat. Dave mempersilahkan Amine untuk masuk. Dia meminta Dave untuk membuatkan minuman untuknya. Dave sangat berterimakasih untuk apa yang sudah Amine lakukan untuk putranya. Bertahun-tahun dia mencari seseorang untuk membantunya, tapi tidak satupun dari mereka yang mau menolongnya. Sementara itu, Amine yang baru dikenalnya dengan mudah bisa membebaskan Davan dari penjara itu.
"Ini minumannya, nyonya!" ucap Davan sambil menyuguhkan secangkir teh.
"Terimakasih," ucap Amine.
Melihat Amine sudah menempati janjinya, hari itu juga Dave bersedia untuk bekerja dengan Amine. Dia akan menjadi nahkoda kapal seperti yang diminta. Amine sangat senang mendengarnya. Tidak lama terdengar suara bel rumah berbunyi. Davan pergi untuk melihatnya.
"Kau siapa tuan?" tanya Davan.
"Dia orang suruhan ku," ucap Amine yang tiba-tiba muncul.
"Semua yang kau minta sudah ada di dalam amplop ini, nyonya." ucap orang itu. Sebelum berpamitan, Amine memberikan amplop itu pada Davan.
"Apa ini?" tanya Davan.
"Kau bisa membukanya sendiri!"
Davan membuka amplop itu dan terdapat tiket pesawat, paspor, juga visa.
"Untuk apa semua ini?" tanya Davan bingung.
"Bersiaplah! Jadwal penerbanganmu menuju Landon besok pagi. Aku sudah mendaftarkan mu di Oxford University, tidak akan lama lagi kau akan menjadi mahasiswa disana."
Mendengar perkataan Amine, Davan sungguh tidak percaya. Tuhan telah mengirimkan seorang malaikat seperti Amine.
"Bersiaplah untuk besok!" ucap Amine.
Davan sangat berterimakasih pada Amine. Sudah lama dia memimpikan semua ini, dan akhirnya dia bisa menggapai cita-citanya untuk kuliah di London.
"Nyonya, kenapa kau sangat baik pada kami? Kami hanya orang asing bagimu, tidak perlu kau melakukan hal sebesar ini untuk putraku," ucap Dave.
"Bukan aku yang mau, tapi kehendak tuhan sendiri yang menginginkan putramu untuk kuliah di London. Hanya saja, semua itu dia berikan melalui diriku," ucap Amine.
"Baiklah, besok akan ada sopir yang datang untuk mengantar mu ke bandara. Aku permisi dulu," pamit Amine.
\*\*\*
Sore itu, Glan pergi untuk menjempit Myra di rumahnya. Mereka akan pergi bersama ke bandara. Sementara itu, Myra sedang sibuk mengemas semua barang yang akan dibawa kesana. Leah sangat bangga pada putrinya itu karena menjadi perwakilan perusahaan IDL Company, dimana perusahaan itu perusahaan yang sangat besar dan dikenal banyak orang diluar sana.
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Leah pergi untuk membukanya. Dia langsung mempersilahkan Glan untuk masuk. Dari atas, Myra seperti mendengar suara laki-laki yang sudah tidak asing lagi. Dia turun untuk melihatnya. "Glan? Untuk apa kau datang kemari?" Glan memberitahu Myra jika dia akan ikut bersamanya ke Paris untuk menggantikan Ishla.
"Apa Ishla tidak akan ikut?" tanya Myra.
"Tidak! Dia harus lebih banyak istirahat," ucap Glan.
Myra merasa sedih karena tidak bisa pergi dengan Ishla. Semangat yang ada dalam dirinya seakan hilang saat tahu Ishla tidak ikut bersamanya.
"Kenapa kau terlihat sedih?" tanya Leah pada putrinya.
"Aku sedih karena saat fashion show nanti, Ishla tidak dapat menyaksikannya langsung," ucap Myra.
"Tidak apa, sayang. Kau harus tunjukkan pada Ishla jika kau mampu untuk memenangkan fashion show itu," ucap Leah menyemangati putrinya. Sejak tadi, Glan melihat jam di tangannya. Dia meminta Myra untuk bersiap. Mereka harus segera pergi ke bandara karena jadwal penerbangannya tiga puluh menit lagi. Myra berpamitan pada ibunya, dia meminta agar sang ibu selalu mendoakannya dimana pun dia berada.
"Sampai jumpa, ibu!"
"Sampai jumpa, sayang!"
Di sisi lain, Selma masih harap-harap cemas tentang kondisi Ishla. Tidak lama dokter keluar dan memberitahu Selma jika Ishla tidak bisa berlama-lama berada diluar, sinar mentari yang mengenai tubuhnya akan dengan cepat membuat kepalanya merasa pusing, dan tidak menutup kemungkinan sering keluar darah dari hidungnya. Mendengar pernyataan dokter, Selma merasa sangat bingung. Dia tidak paham dengan semua yang dikatakan dokter.
"Ini obat untuk meredakan sakit kepalanya, selebihnya dia harus sering melakukan kemoterapi." ucap dokter.
"Aku tidak mengerti maksudmu, dokter. Memangnya... apa penyakit yang dimiliki Ishla?"
"Leukimia, dimana sel darah putih lebih dominan daripada sel darah merah yang ada di dalam tubuh," ucap dokter.
"Jadi... selama ini nona menderita Leukimia?" ucap Selma tidak percaya.
Setelah mengantar dokter ke pintu depan, Selma kembali menemui Ishla di kamarnya. Dia belum juga sadarkan diri. Selma merasa sangat sedih mengetahui semua itu. Dia langsung menghubungi Amine untuk memberitahu semuanya. Takdir sepertinya belum mengizinkan Selma untuk memberitahu semuanya, usahanya itu kembali gagal saat telepon rumah berbunyi. Dia pergi untuk mengangkatnya.
"Halo, bi. Aku Glan."
"Oh, tuan muda. Kenapa kau menelepon lewat telepon rumah?" tanya Selma.
"Aku sudah mencoba menghubungi Ishla beberapa kali, tapi ponselnya tidak aktif. Apa dia sudah kembali ke rumah?" tanya Glan.
Selma sempat terdiam, dia bingung harus mengatakan apa pada Glan. "Dia belum pulang, tuan muda. Sepertinya dia masih ada di kantor," ucap Selma. "Apa ada hal penting yang ingin kau sampaikan pada nona Ishla?"
"Jika dia sudah kembali, tolong beritahu dia jika aku dan Myra sudah ada di dalam pesawat. Sebentar lagi pesawatnya akan lepas landas," ucap Glan.
"Baik, tuan. Nanti akan bibi sampaikan pada nona." Tidak lama Amine menutup teleponnya. "Maaf tuan jika aku sudah berbohong, aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu,"
\*\*\*
Malam itu, Ethan bersama anak buahnya sedang mengintai rumah Amine. Dia baru saja mendapat kabar jika Ishla ada di dalam rumah itu bersama pelayannya. Ethan menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan rencananya itu. Jam sudah menunjukkan pukul 22. 00 malam. Ethan menugaskan anak buahnya untuk menculik Ishla. Saat sedang menunggu Ishla di kamarnya, Selma dikejutkan dengan suara dari luar. Dia pergi untuk melihatnya. Salah satu anak buah Ethan sempat melihat Selma, dia langsung mengejarnya. Dengan sekuat tenaga Selma menahan pintu rumah besar itu, tapi tubuhnya terpental ke lantai.
"Siapa kau?" tanya Selma.
"Dimana gadis itu?"
Anak buah Ethan yang lain masuk dan berpencar mencari Ishla. Tidak lama mereka menemukan Ishla, dan langsung membawanya pergi.
"Kalian mau membawa dia kemana?" tanya Selma.
"Diam kau!" Anak buah Ethan mendorong Selma sampai kepalanya terbentur dan pingsan. Di dalam mobil, Ethan langsung memerintahkan anak buahnya menuju dermaga. Malam sudah cukup larut. Di pintu masuk, Amine melihat penjaganya terluka dan pingsan. "Ishla?" ucapnya. Amine langsung berlari ke dalam. Dia melihat Selma yang pingsan di dekat pintu. "Selma... bangunlah!" Tidak lama Selma membuka matanya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Amine.
"Mereka membawa nona pergi, nyonya..." tangis Selma pecah. Dia meminta maaf karena tidak bisa menjaga Ishla degan baik. Amine pergi ke kamar putrinya, tidak lama dia kembali.
"Obat apa ini?" tanya Amine.
"Itu obat dari dokter untuk nona Ishla, nyonya. Obat itu untuk meredakan sakit kepala yang dirasakan nona."
"Apa yang kau sembunyikan dariku? Kenapa kau tidak memberitahuku jika tadi dokter datang?" ucap Amine mulai emosi.
"Nona menderita penyakit Leukimia, nyonya..."
"Bagaimana mungkin? Putriku terlihat baik-baik saja!" Selma menceritakan semuanya yang terjadi pada Ishla sejak kemarin siang sampai tadi sore. Tubuh Amine merasa lemas, dia duduk termenung di lantai. "Kenapa kau menyembunyikan hal sebesar ini dariku, sayang?" tangis Amine pecah.
"Apa kau tahu siapa yang membawa putriku?" tanya Amine.
"Tidak nyonya, aku hanya tahu jika mereka berempat," ucap Selma.
Amine meminta bantuan Will untuk datang ke rumahnya. Dia menunjukkan CCTV rumahnya pada Will.
"Apa kau tahu siapa mereka?" tanya Amine. Will menghentikan rekaman CCTV itu, dan memperbesar gambarnya.
"Itu mobil yang pernah aku lihat, nyonya." ucap Will.
"Dimana?" tanya Amine.
"Kedua mobil itu keluar dari rumah besar Ethan," ucap Will dengan yakin.
Amine sudah menduga jika Ethan dalang dibalik penculikan Ishla.
"Dermaga!" ucap Will spontan. "Apa mereka membawa Ishla ke dermaga?"
Amine meminta Will untuk membawa Dave ke dermaga. Amine menugaskan Will untuk memantau situasi disana. Sementara itu, Amine akan pergi untuk melakukan sesuatu.
\*\*\*
Malam itu, di kediaman Diaz sangat ramai. Mereka tengah mempersiapkan segala hal untuk acara penting besok. Terlihat Azizah sedang duduk sambil menunggu kabar dari Ethan. Sementara itu, Aiyla memeriksa semua persiapan sehingga tidak ada yang kurang. Di satu sisi, Aiyaz terlihat termenung di kamarnya. Dia terus menatap baju pengantin yang ada didepannya. Besok adalah hari paling bahagia untuk Aiyla, tapi tidak untuknya. Aiyaz mengingat semua kenangan indah yang pernah dia lalui bersama Ishla dulu. Dia harap semua itu hanyalah mimpi panjang yang akan segera berakhir. Aiyaz mencoba memejamkan matanya sejenak. Tidak lama dia terbangun karena sentuhan tangan lembut yang mengenai wajahnya. Saat membuka mata, Aiyaz melihat Ishla didekatnya.
"Kenapa kau bersedih seperti itu?" tanya Ishla. "Apa kau menyesal karena akan menikahi Aiyla?"
"Aku hanya ingin menikah denganmu, bukan dengan yang lain!" jawab Aiyaz.
"Sekeras apapun kau menolak semua ini, jika ini sudah menjadi sebuah takdir untukmu, kau tidak akan pernah bisa untuk menghindarinya," ucap Ishla.
Sebelum Ishla pergi, dia meminta Aiyaz untuk selalu membuat Aiyla bahagia dan tidak meninggalkannya dalam situasi apapun. Saat Aiyaz akan menyentuh wajah Ishla, tiba-tiba dia menghilang. Aiyaz langsung terbangun dari tidurnya. Dia pikir semua itu nyata, tapi ternyata itu hanya mimpi. Dia pergi untuk mencuci wajahnya.
Di satu sisi, Will masih memantau keadaan disekitar dermaga. Dia melihat lampu di kapal itu menyala. Setiap hal kecil yang Will lihat, harus segera diketahui Amine. Dave yang berada di dalam mobil sempat bingung kenapa dia hanya memantau, bukan langsung pergi ke kapal.
"Untuk apa kita disini?" tanya Dave.
"Nyonya Amine memerintahkanku untuk mengawasi kapal yang ada disana!" ucap Will.
"Memangnya ada apa dengan kapal itu?" tanya Dave penasaran.
"Seseorang telah menculik putri nyonya Amine, dan kemungkinan besar dia ada didalam kapal itu," jawab Will.
__ADS_1
Mendengar putri Amine diculik, Dave siap untuk membantunya mengingat semua kebaikan yang sudah Amine berikan padanya juga putranya.