
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ishla melihat Glan sudah tertidur pulas. Masih ada beberapa dokumen lagi yang harus Ishla periksa. Untuk menghilangkan kesunyian, Ishla memutar musik kesukaannya. Dia baru merasakan apa yang selama ini dirasakan ibunya. Tidak mudah menjadi seorang pegawai kantor apalagi menjadi pemilik perusahaan, mereka harus memikul tanggung jawab yang sangat besar untuk memajukan perusahannya. Sementara itu, Amine pergi menemui Ethan.
Tok... Tok... Tok... Seorang pelayan pergi untuk melihatnya.
"Maaf, Nyonya. Kau mencari siapa?" tanya pelayan itu.
"Apa aku bisa bertemu dengan Ethan?" Pelayan itu masuk dan memberitahu semua orang jika Amine datang ingin menemui Ethan.
"Dimana dia?" tanya Adlar.
"Dia ada di depan, Tuan." Adlar langsung pergi menemui Amine.
"Masuklah! Kau bisa menemui Ethan di dalam."
"Tidak, terimakasih. Aku akan menunggunya disini."
"Ada apa kau datang kemari?" tanya Nilam dengan wajah sinis.
"Aku ingin bicara dengan putramu." Tidak lama Ethan datang. Amine meminta Ethan untuk ikut bersamanya. Adlar merasa sangat aneh dengan sikap Amine.
"Kau tidak bisa membawa putraku pergi! Jika ingin mengatakan sesuatu, katakan saja disini!" ucap Nilam.
"Apa kau tidak ingin menemui Zafer?" ucap Amine sambil melirik Ethan.
"Siapa Zafer?" tanya Adlar bingung.
"Sudahlah, percuma saja putramu menjelaskannya, kau tidak akan mengenalnya. Dia itu teman lama Ethan." ucap Nilam. Tanpa berfikir lagi, Ethan ikut bersama Amine. Di tengah perjalanan, mobil Amine di hadang mobil lain. Mereka membawa Ethan dan Amine pergi.
"Siapa kalian?" tanya Ethan.
"Sudahlah, kau diam saja! Jangan banyak bicara!" Orang tidak di kenal itu mengikat tangan Ethan dengan tali dan menutupi wajahnya dengan kain hitam. Di rumah, Bahar merasa sangat khawatir karena sampai saat ini Ashika belum juga kembali. Tidak lama Zafer datang dan memberitahu orangtuanya jika Ashika tidak akan pulang malam ini, ada tugas kelompok dari kampusnya yang harus di selesaikan. Bahar merasa sangat lega mendengarnya. Akhirnya dia bisa tidur dengan tenang malam ini. Zafer sangat merasa bersalah karena harus berbohong pada kedua orangtuanya. Dia hanya tidak ingin orangtuanya merasa khawatir dengan hilangnya Ashika. Dia sangat berharap jika Amine berhasil membawa Ashika kembali besok pagi.
Mobil yang membawa Amine dan Ethan berhenti di pinggir jalan dekat hutan. Orang itu membawa Ethan masuk ke dalam hutan dan mengikatnya di sebuah pohon besar. Saat kain penutup wajahnya di buka, Ethan melihat dirinya di kelilingi pepohonan besar dan orang itu meninggalkannya seorang diri di dalam hutan yang gelap itu. Tidak lama, Ethan melihat seberkas sinar yang menuju ke arahnya. Dia berpikir jika orang itu datang untuk menolongnya, tepati saat dilihat ternyata itu Amine.
"Kau? Cepat lepaskan tali ini dari tanganku! Aku sangat kesakitan."
"Keluarlah!" teriak Amine. Beberapa orang berjalan ke arah Amine.
"Kalian? Apa maksud semua ini?" Amine merasa sangat kasihan pada Ethan, dia mudah sekali dikelabui. Orang yang sudah menculiknya tidak lain adalah orang suruhannya.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau melakukan semua ini padaku?" tanya Ethan.
"Siapa yang mencoba menyakiti orang terdekatku, dia akan berurusan langsung denganku!"
__ADS_1
"Apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak mengerti." Amine meminta Ethan untuk segera melepaskan Ashika. Dia tahu jika Ethan yang ada di balik hilangnya Ashika.
"Jaga bicaramu itu! Jika memang aku yang menculik gadis itu, mana buktinya?" Amine tidak banyak basa basi, dia menyuruh anak buahnya untuk memukul Ethan sampai dia mengatakan dimana keberadaan Ashika.
Malam sudah mulai larut. Glan sempat terbangun karena ponselnya yang terus berbunyi. Saat dibuka, banyak sekali pesan yang masuk dalam ponselnya. Semua tidak jauh dari urusan pekerjaan. Glan melihat jam yang ada ditangannya sudah menunjukkan pukul 01. 15 malam. Dia melihat Ishla yang tertidur di meja kerjanya. Glan mengangkat Ishla dan membaringkannya di atas sofa.
Malam itu, Aiyaz masih sibuk membuat desain untuk proyek barunya. Dia merasa sangat kesepian, di sela waktu istirahatnya dia mencoba menghubungi Ishla dan ternyata ponselnya berdering, itu artinya Ishla belum tidur. Saat ponsel Ishla berdering, Glan yang harus mengangkatnya.
"Halo!" Aiyaz sempat terdiam saat tahu yang menjawab teleponnya bukan Ishla, melainkan seorang laki-laki.
"Siapa kau? Dimana Ishla?" tanya Aiyaz.
"Ishla baru saja tidur. Dia sangat kelelahan setelah mengerjakan beberapa dokumen perusahaan." Suara itu tidak asing di telinga Aiyaz, dia sudah bisa menebak jika itu adalah Glan. Aiyaz langsung menutup teleponnya. Dia kembali menghubungi Selma untuk mencaritahu keberadaan Ishla.
"Halo, bi! Apa Ishla ada di rumah?"
"Maaf, Tuan. Nona belum juga pulang. Nyonya Amine bilang, dia akan lembur malam ini."
"Baiklah, terimakasih." Aiyaz merasa kesal dan cemburu saat Ishla dekat dengan laki-laki lain. Tapi bagaimanapun, kedekatan Ishla dengan Glan itu hanya sebatas pekerjaan saja, tidak lebih.
Buk! Buk! Buk!
Ethan sudah merasa sangat kesakitan, wajahnya memar karena pukulan keras orang-orang itu.
"Sudah hentikan!" ucap Amine pada anak buahnya. "Apa kau masih ingin bungkam?" tanya Amine pada Ethan.
"Benarkah? Baiklah, sebelum kau mengatakan semuanya, besok pagi aku akan membuat berita tentang hilangnya dirimu. Semua akan panik, termasuk ayah dan ibumu." Amine pergi meninggalkan Ethan. Dia meminta anak buahnya untuk berjaga semalaman di hutan itu. Sementara itu, Ashika terus saja menangis. Dia sangat merindukan ayah juga ibunya. Bangunan itu terlihat sangat menakutkan, juga gelap. Tidak ada orang disana selain dirinya dan satu anak buah Ethan. Ashika mencoba membuka tali yang ada di tangannya tetapi tali itu sangat kuat. Sepanjang malam, Zafer tidak bisa tidur karena terus memikirkan keadaan Ashika. Sampai saat ini, belum juga ada kabar dari Amine. Dia takut jika sampai besok pagi Ashika belum juga ditemukan.
"Nak, kau sedang apa? Kenapa kelihatannya kau sangat gelisah?" tanya Kemal.
"Tidak, ayah. Aku hanya teringat pada Ashika. Dia sedang apa disana, aku tidak tahu. Apakah dia sudah tidur atau belum, aku juga tidak tahu." Kemal melihat Zafer yang sangat peduli terhadap adiknya, Ashika.
"Tunggulah besok! Dia pasti akan kembali." ucap Kemal meyakinkan putranya.
Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, Amine segera menemui Ethan. Tiba disana, Amine melihat Ethan sedang tertidur. Dia menyiramnya dengan segelas air.
"Apa yang aku lakukan?" Ethan melihat hari sudah pagi. Amine menunjukkan sebuah rekaman tentang kejadian tiga tahun lalu dimana Ethan saat itu menjadi pelaku tabrak lari dari seorang gadis di dekat toko buku.
"Darimana kau mendapatkan rekaman itu?" Ethan tercengang saat melihatnya.
"Itu tidak penting darimana aku mendapatkan rekaman ini." Ethan terlihat sangat marah. Dia mencoba untuk memberontak, tetapi anak buah Amine kembali menghajarnya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Ethan dengan tubuh yang sudah lemas karena semua pukulan yang dia terima dari semalam.
__ADS_1
"Lepaskan Ashika! Jika tidak, hari ini juga rekaman ini akan sampai di tangan polisi. Setelah itu, kau akan menikmati hidup barumu di dalam penjara." Ethan tidak punya pilihan lain selain memberitahu keberadaan Ashika. Dia menyuruh anak buahnya untuk melepaskan Ashika, disana akan ada orang suruhan Amine yang akan menjemputnya. Setelah anak buahnya pergi, hanya ada Amine dan Ethan yang tersisa di hutan itu.
"Apa kau sudah memikirkan apa yang akan kau katakan pada keluargamu?" tanya Amine.
"Tentu saja, aku akan mengatakan siapa sebenarnya dirimu." ucap Ethan. Amine tertawa mendengar semua itu.
"Hahaha, benarkah? Apa kau seberani itu? Silahkan saja, tapi ingat! Aku memiliki semua bukti tentang kejahatamu itu, jika kau mengatakan yang sebenarnya pada semua orang, maka bersiaplah karena kapanpun aku mau, bom ini akan meledak! Duar!!!
Pagi itu, semua orang sudah berkumpul di meja makan, kecuali Ethan.
"Dimana Ethan?" tanya Nilam. "Apa dia belum pulang?" Seorang pelayan datang dan memberitahu jika Ethan tidak ada di kamarnya.
"Kemana perempuan itu membawa Ethan pergi?" Suara bel rumah berbunyi.
"Tuan muda?" Pelayan itu memberitahu semua orang jika Ethan sudah kembali.
"Nak, apa yang terjadi pada wajahmu? Kenapa kau terluka seperti ini?" tanya Nilam.
"Sudahlah, Ibu. Aku baik-baik saja. Lagi pula, ini hanya luka kecil, tidak perlu dipermasalahkan." Ethan pergi ke kamarnya. Nilam melihat Adlar yang sedari tadi diam saja.
"Apa kau lihat apa yang sudah perempuan itu lakukan pada putra kita?"
"Apa yang kau katakan? Apa kau pikir Amine yang sudah melakukan semua ini? Hah? Tidak mungkin!"
"Lalu siapa? Apa kau pikir orang lain? Coba kau pikirkan ini baik-baik! Perempuan itu datang tadi malam dan membawa Ethan pergi dengan alasan akan membawa Ethan bertemu Zafer. Saat pulang, Ethan sudah terluka seperti itu, apa kau sama sekali tidak curiga padanya?"
"Ayah, ibu, sudah hentikan! Kenapa kalian terus saja bertengkar? Aku capek mendengarnya, aku ingin keluarga ini damai seperti dulu." Aiyla tidak bisa lagi menahan air matanya. Adlar langsung memeluk putrinya itu dan membelainya lembut.
"Maafkan ayah dan ibu, sayang. Terkadang kami tidak bisa menahan emosi dan akhirnya sering terjadi perdebatan."
Pagi itu, Ashika sangat senang karena sudah terbebas dari Ethan dan anak buahnya. Dia melihat sebuah mobil yang datang untuk menjemputnya. Saat masuk, ternyata di dalam mobil itu sudah ada Amine. Dia langsung memeluk Amine karena merasa sangat ketakutan.
"Sudahlah, semua sudah berlalu. Yang terpenting adalah kau baik-baik saja." Amine mengantar Ashika kembali ke rumahnya.
"Selamat datang, Nyonya. Silahkan masuk!" ucap Bahar.
"Siapa yang ada datang?" tanya Zafer. Saat melihat kedatangan Amine bersama Ashika, Zafer langsung pergi untuk memeluk adiknya itu. Dia sangat senang akhirnya Ashika sudah kembali dengan selamat. Zafer sangat berterimakasih pada Amine karena sudah menyelamatkan Ashika dari orang jahat itu. Bahar dan Kemal merasa sedikit aneh dengan sikap Zafer pada Ashika.
"Kau ini kenapa? Adikmu baru saja pulang dari kampus, tetapi kau bersikap seperti adikmu ini tidak akan lagi kembali ke rumah ini."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ibu. Dia itu adikku, wajar saja jika aku sangat merindukannya. Kau tahu sendiri, jika putramu ini tidak bisa jauh dari adiknya."
"Aih, Aih... Apa yang kau katakan itu, nak?" Bahar sampai tertawa mendengarnya. Amine sudah meminta Ashika untuk tidak mengatakan apapun pada orang tuanya, mereka hanya tahu jika dirinya baru saja pulang dari kampus, jangan sampai mereka tahu tentang masalah ini. Biarkan saja ini semua menjadi rahasia diantara Amine, Zafer, juga Ashika.