
Setelah keluar dari ruangan, Glan melihat seorang penjual es krim dimana es krim itu sama persis dengan yang pernah ia berikan pada Ishla di taman saat dia sedang sedih. Glan pergi untuk membeli es krim itu. Di satu sisi, Aiyaz menarik tangan Ishla dan membawanya pergi. "Kau akan membawaku kemana?" Aiyla yang melihat hal itu, langsung mengikuti mereka dari belakang. Myra yang baru saja keluar dari ruangan, bingung mencari keberadaan Ishla. Tidak lama Glan datang dengan membawa dua es krim. "Dimana Ishla?" Myra menatap Glan bingung. "Bukankah dia tadi bersamamu? Aku baru saja keluar, dan ini sedang mencarinya." Glan memberikan es krim itu pada anak yang sedang berjalan di dekatnya, dia pergi untuk mencari keberadaan Ishla. Sementara itu, Ishla dengan tegas meminta Aiyaz untuk melepaskan tangannya. "Lepaskan tanganku! Jangan pernah menyentuhku lagi!" Aiyaz meminta maaf pada Ishla karena dia sadar selama ini dialah yang salah, dia sudah menuduh Ishla yang bukan-bukan sampai akhirnya hubungan mereka harus berakhir.
"Apa kau bersedia untuk memaafkan ku?" tanya Aiyaz sambil memegang tangan Ishla.
"Sudah aku bilang, jangan sentuh aku!" Ishla langsung pergi dari sana, di arah yang sama dia berpapasan dengan Aiyla. Saat Aiyaz akan mengejar Ishla, Aiyla mencoba menahannya.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku!"
"Kenapa kau tetap mengejar Ishla? Sudah jelas dia tidak ingin melihatmu lagi," ucapnya. Ishla harus segera kembali, khawatir jika Glan dan Myra mencarinya.
"Itu dia!" ucap Myra sambil menunjuk Ishla yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kau dari mana saja? Kami sejak tadi mencarimu," ucap Glan.
Aiyaz masih mengejar Ishla, tapi Glan dengan cepat mencegahnya.
"Kau mau apa?" tanya Glan.
"Jangan halangi aku untuk bertemu Ishla!" Glan meminta Myra untuk membawa Ishla pergi dari sana. Di satu sisi, Aiyla sudah merasa capek karena Aiyaz belum juga membuka hati untuknya, dia masih menginginkan Ishla untuk kembali padanya. Aiyla sangat bersedih karena keberadaannya selama ini tidak pernah dianggap sedikitpun oleh Aiyaz yang dia pikirkan hanya Ishla, dan Ishla saja. Di tengah keramaian, Aiyla berdiri di tengah jalan. Dia mencoba untuk melakukan bunuh diri. Semua orang berteriak meminta Aiyla untuk menyingkir dari jalanan, tapi niat bunuh dirinya itu seakan kuat.
"Hey, nak! Apa yang kau lakukan di tengah jalan seperti itu? Menyingkirlah sebelum ada kendaraan besar yang menabrak mu!" teriak seseorang yang melihat aksi Aiyla. Myra dan Ishla yang menyaksikan semua itu, ikut terkejut.
"Apa yang akan dia lakukan disana? Apa dia sudah bosan hidup?" ucap Myra. Ishla pergi untuk menghampiri Aiyla.
"Ishla... Kau akan pergi kemana?" Myra memberitahu Glan jika Ishla pergi menemui Aiyla yang ingin bunuh diri. Glan dan Aiyaz langsung menyusul mereka kesana.
"Apa yang kau lakukan di tengah jalan seperti ini?"
"Biarkan saja aku mati! Untuk apa aku hidup jika tidak bisa memiliki apa yang aku inginkan."
"Apa yang kau inginkan?"
"Aiyaz!"
__ADS_1
"Apa dengan cara ini kau bisa mendapatkan Aiyaz? Tidak! Dia akan semakin menjauh darimu setelah melihat apa yang kau lakukan ini."
"Jangan sok peduli padaku! Kau senang bukan, aku seperti ini? Dengan begitu kau akan kembali pada Aiyaz dan memiliki dia seutuhnya."
Ishla meyakinkan Aiyla jika dia dan Aiyaz tidak ada lagi hubungan apapun, Aiyaz baginya hanya seorang pria asing. Dari jauh, terlihat sebuah truk yang melaju dengan kecepatan kencang. Semua orang berteriak menyuruh Aiyla juga Ishla segera menyingkir. Ishla melihat truk itu semakin dekat, "Ayolah! Coba pikirkan keluargamu, terutama ayahmu. Dia akan sangat sedih jika melihat putri yang dia cintai terluka." Aiyaz dan Myra meneriaki mereka untuk pergi dari sana. Glan melihat truk itu terus melaju walau tahu di depannya ada dua orang gadis yang sedang berdiri. Sementara itu, si sopir truk meminta semua orang untuk menyingkir dari jalanan karena rem truk itu blong. Glan langsung berlari menyelamatkan Ishla. Dia menarik tangan Ishla, dan menjatuhkan tubuhnya ke jalan. Saat dilihat, ternyata sudah banyak orang yang berkerumun. Ishla pergi untuk mencari tahu. Dia mendapati tubuh Aiyla yang sudah berlumuran darah.
"Aiyla...
Ishla meminta seseorang untuk segera memanggil ambulan. Tidak lama ambulan datang dan membawa Ishla ke rumah sakit. Ishla terus saja menangis. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menolong Aiyla. Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung menangani Aiyla. Perawat meminta data diri Aiyla untuk segera memberitahu keluarganya.
\*\*\*
Siang itu, Adlar sedang duduk berbincang bersama ibunya. Tidak lama pihak rumah sakit menelepon, dan memberitahu Adlar jika putrinya mengalami kecelakaan. Adlar dan ibunya langsung pergi ke rumah sakit. Sementara itu, Keenan dan Amine baru saja selesai menonton film. Keenan berencana untuk mengajak Amine makan siang, tapi sebelum itu dia menghubungi Ishla untuk mengetahui keberadaannya. Saat menerima telepon, Amine mendengar tangis Ishla yang tersedu-sedu.
"Kau kenapa menangis, sayang?" tanya Amine khawatir. Setelah Ishla memberitahu ibunya tentang kecelakaan Aiyla, dia dan Keenan langsung pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Adlar melihat kehadiran Ishla disana. "Kau disini juga?" tanya Adlar. Ishla hanya bungkam dan terus menangis dengan kondisi Aiyla. Tidak lama dokter keluar dan memberitahu semua orang jika Aiyla sudah melewati masa kritisnya, namun sayang dia harus mengalami kelumpuhan akibat benturan keras pada kedua kakinya. Semua orang terkejut mendengar pernyataan dokter. Tidak lama, Amine dan Keenan datang. Amine langsung memeluk putrinya itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Amine.
Myra memberitahu semuanya pada Amine. Tanpa diketahui, ternyata Azizah mendengar semua pembicaraan mereka dan langsung menyalahkan Ishla untuk semua yang dialami Aiyla saat ini.
"Apa kau masih mencintai Aiyaz?" tanya Adlar.
"Apa peduli mu padaku? Kau ini siapa berani menanyakan hal ini, dan itu padaku?"
"Hebat sekali, nak! Kau lupa jika kau sedang bicara dengan ayahmu sendiri." ucap Azizah memperkeruh suasana.
"Ayah? Sejak kapan dia menjadi ayahku? Bahkan, dia sendiri tidak menganggap ku sebagai putrinya. Apa pantas aku memanggilnya seorang ayah?" Ishla sangat sedih dengan keadaan seperti itu, sebelum pergi dia sempat menegaskan pada Adlar jika dia dan Aiyaz sudah tidak ada hubungan apapun lagi.
"Aku tidak peduli kau menyalahkan aku ataupun tidak dalam kecelakaan ini, setelah putrimu sadar nanti, tolong beritahu padanya jika dia menginginkan Aiyaz, ambil saja! Dia bukan lagi milikku! Aku tidak takut kehilangan siapapun, karena putrimu itu sudah mengambil kebahagiaanku sejak dulu, dia mengambil orang yang menurutku sangat berharga, yaitu sosok ayah. Tapi... Saat aku tahu kau adalah ayahku, semuanya nol! Tidak ada lagi yang aku harapkan dari sosok seorang ayah sepertimu." Ishla pergi dengan rasa sedih yang begitu mendalam. Keenan langsung mengejar Ishla, dan menggenggam tangannya erat. Di luar, sudah ada Glan yang sedang menunggunya. Dia langsung menghampiri Ishla, tapi Ishla mencoba menjauh. Ishla menatap Glan tajam,
"Kenapa kau menyelamatkan aku? Kenapa?" ucap Ishla penuh amarah.
"Kenapa....
__ADS_1
Glan menangkap tubuh Ishla yang akan jatuh.
"Tentu saja aku menyelamatkanmu, aku tidak ingin kau kenapa-napa."
"Jika saja tadi kau tidak menolongku, mungkin tidak hanya Aiyla yang celaka, tapi juga aku...
"Kenapa kau mengatakan hal itu?" tanya Glan heran.
"Karena jika aku pun celaka, itu semua akan lebih baik." Ishla merasa sangat pusing, dia tidak mampu lagi berdiri dan akhirnya dia jatuh pingsan. Keenan menyuruh Glan untuk memasukkan Ishla ke dalam mobilnya. Amine yang masih berada di dalam rumah sakit, dia melihat Aiyaz yang sedari tadi diam tanpa berkutik sedikitpun. Amine menganggap Aiyaz sebab kecelakaan ini terjadi. Dia terus saja mengejar Ishla, padahal mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun. Aiyaz lah yang seharusnya disalahkan atas semua kecelakaan ini. Azizah yang mendengar tuduhan Amine, tidak bisa menerimanya. Dia mencoba membela Aiyaz dihadapan Adlar.
"Untuk apa kau memutar balikkan fakta, Amine? Sudah jelas-jelas putrimu penyebab cucuku celaka," ucapnya.
Amine terlihat sangat senang karena apa yang selama ini Ishla rasakan, akan dirasakan juga oleh Aiyla. Dia akan duduk di kursi roda seperti Ishla dulu. Amine sangat puas seakan apa yang dulu terjadi pada putrinya bisa dirasakan sendiri oleh Aiyla. Sebelum pergi, Amine memperingatkan Aiyaz untuk tidak mendekati putrinya lagi. Jangankan dekat, untuk menemuinya saja dia tidak bisa. Mulai sekarang, antara Amine, Ishla, dan keluarga besar Diaz tidak ada hubungan apapun. Amine memberitahu Adlar jika dia sudah menemukan seseorang yang jauh lebih baik darinya. Dia yang mulai sekarang akan menjadi ayah dari putrinya.
"Sudah cukup pengorbanan yang selama ini putriku lakukan pada kalian, Sekarang tidak lagi!"
"Apa yang memang sudah putrimu lakukan pada keluarga kami?"
Amine memberitahu semua orang jika dulu saat Aiyaz mengalami kecelakaan dan membutuhkan darah, Ishla lah yang menjadi pendonor Aiyaz saat itu. Hanya saja dia meminta dokter untuk merahasiakan semua itu. "Jika bukan karena putriku, mungkin kau sudah lama meninggal! ucap Amine penuh amarah. Aiyaz tertegun mendengar semua kebenaran itu.
"Jadi... Ishla yang sudah menyelamatkan nyawaku saat itu?"
"Benar! Tapi apa yang kau perbuat padanya? Kau selalu mengingkari janjimu padanya, kau selalu membuatnya bersedih, kau bahkan menuduh dia yang bukan-bukan. Kau sama sekali tidak percaya pada perempuan yang selama ini sudah berkorban besar untukmu," Tidak lama ponsel Amine berbunyi. Amine langsung pergi saat Keenan memberitahunya jika Ishla pingsan.
\*\*\*
Siang itu, Ethan pergi ke rumah besar Diaz. Dia ingin bertemu dengan neneknya. Tiba disana, Ethan tidak melihat siapapun. Dia pergi menemui pelayan untuk menanyakan keberadaan neneknya.
"Dimana nenek?" tanya Ethan.
"Nyonya besar juga Tuan baru saja pergi ke rumah sakit, bibi dengar nona Aiyla mengalami kecelakaan." Ethan langsung pergi untuk melihat kondisi adiknya di rumah sakit. Tiba disana, Ethan melihat mereka dari jauh. Dia tidak ingin orang tahu penyamarannya. Saat Ethan duduk, dia mendengar perawat yang sedang membicarakan tentang seorang gadis yang mengalami kecelakaan. Ethan sempat bertanya pada perawat itu, "Jika aku boleh tahu, siapa gadis yang sedang kalian bicarakan?" Perawat itu menunjuk ke ruang dimana Aiyla dirawat. "Gadis yang berada di ruangan itu, dia cucu dari keluarga Diaz."
"Bagaimana kondisinya sekarang ini?"
__ADS_1
"Dia sudah berhasil melewati masa kritisnya, tapi sayang karena benturan yang cukup keras pada kedua kakinya, dia mengalami kelumpuhan. Jika begitu, aku permisi dulu, tuan!" Ethan seakan tidak percaya jika adiknya itu lumpuh. Bagaimanapun caranya, dia harus segera bicara dengan neneknya untuk mengetahui semua kebenarannya.