CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
KEPULANGAN ETHAN


__ADS_3

Malam itu Aiyaz sampai di depan rumah keluarga Diaz, tidak lama Aiyla ke luar dan masuk ke dalam mobil.


"Aku pikir kau lupa," ucap Aiyla sambil memasang sabuk pengamannya. Tidak banyak bicara Aiyaz langsung menancap gas mobilnya menuju bandara. Selama perjalanan Aiyla terus saja menatap ponselnya. Dia baru saja memenangkan kontes kecantikan tahun ini, fotonya tersebar luas di internet.


"Apa kau sudah melihatnya?" tanya Aiyla.


"Apa yang harus aku lihat?" ucap Aiyaz dengan nada datar.


"Kau belum melihatnya? Kau ini... Lihatlah! Aku baru saja dinobatkan sebagai model tercantik tahun ini," Aiyla memaksa Aiyaz untuk melihatnya. Terdengar suara klakson mobil dari depan,


"Awas!!! teriak Aiyla.


Aiyaz segera menginjak rem mobilnya. Hampir saja Aiyaz bertabrakan dengan mobil di depannya. Untuk mengambil napas lega, Aiyaz menepikan mobilnya sebentar.


"Kita hampir saja celaka gara-gara kau!" Aiyaz marah pada Aiyla.


"Kau menyalahkan ku?"


"Jika saja tadi kau tidak memaksaku melihat foto itu, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya." Aiyla menangis, ini pertama kalinya Aiyaz marah padanya.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu menangis." Aiyaz menghapus air mata di wajah Aiyla. Mereka melanjutkan perjalanannya menuju bandara.


Keluarga Diaz masih menunggu kedatangan Ethan. Nilam terlihat gelisah ketika mendengar putranya itu akan kembali. Dia terus berjalan kesana kemari seperti mengkhawatirkan sesuatu.


"Apa yang kau khawatirkan?" tanya Adlar. "Harusnya kau senang akhirnya dia kembali dari Amerika dan bisa berkumpul lagi di rumah ini.


"Duduklah, Nak!" Nilam menatap Azizah. Dia seperti memberi kode agar Nilam tetap tenang. Sikap mereka seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Malam itu Amine mendapat sebuah pesan dari Selim, "Temui aku besok siang di tempat biasa!" Amine yakin ada yang ingin Selim bicarakan tentang rekaman CCTV itu.


Malam itu Ishla masih membuka matanya, dia turun dari tempat tidurnya untuk terapi jalan. Ishla mencoba untuk berdiri di atas kakinya sendiri, tapi dia hilang keseimbangan dan terjatuh. Ishla mencoba untuk bangun, tetapi jatuh lagi. Ketika dia mencoba untuk bangun tidak sengaja gelas di dekat tempat tidurnya tersenggol dan jatuh. Suara itu terdengar oleh Amine.


"Suara apa itu?" Amine langsung melihat Ishla di kamarnya.


"Aww... Tangan Ishla terkena pecahan gelas itu saat ingin membersihkannya.


Amine datang mendapati Ishla di lantai dengan tangannya yang terluka.


"Kau kenapa sayang?" Amine melihat tangan Ishla yang terus mengeluarkan darah.


"Ayo! Ibu akan membantumu berdiri." Amine memanggil Selma untuk membersihkan semua pecahan gelas itu. Amine pergi untuk membawa kotak obat.


"Maafkan aku, Bi. Aku membuatmu membereskan itu semua." Ishla merasa sangat bersalah karena sudah merepotkan orang di sekitarnya.


"Berikan tanganmu! Ibu akan mengobatinya." Ishla merintih kesakitan. Amine mengobati luka Ishla sambil meniupnya agar rasa sakitnya sedikit berkurang.


"Kenapa kau bisa terjatuh?" ucap Amine sambi membungkus tangan Ishla dengan perban.


"Aku mencoba untuk terapi jalan ibu, tapi aku terjatuhm"


"Lihat Ibu, sayang! Jangan memaksakan dirimu untuk itu, keadaanmu masih lemah, kau harus lebih bersabar lagi,"


"Aku hanya tidak ingin merepotkan siapapun, terutama Ibu."


"Apa yang kau katakan? Ibu direpotkan? Tidak sama sekali, sampai kapanpun ibu akan selalu merawat mu, seorang ibu tidak pernah merasa terbebani oleh anaknya, begitupun dengan seorang anak mereka bukanlah sebuah beban yang harus ditanggung, mereka adalah sebuah harapan untuk orang tuanya di masa yang akan datang."


"Tapi ibu...


"Kau harus bersabar, jangan patahkan semangatmu itu hanya karena keadaanmu sekarang ini, yakinlah akan tiba saatnya dimana kau bisa berjalan kembali."


Amine menemani Ishla sampai dia tidur. Amine terus menatap wajah Ishla yang tertidur, Amine sangat sedih karena Ishla tumbuh besar tanpa kehadiran seorang ayah disampingnya. Sampai hari ini Amine masih merahasiakan pada Ishla siapa ayah kandungnya. Ishla hidup tanpa dia tahu seperti apa sosok seorang ayah, dari dulu Amine lah sosok ibu sekaligus ayah bagi Ishla. Amine mengingat kejadian siang tadi, dia melihat Adlar bersama putrinya, kelihatanya Adlar sangat menyayanginya.


Aiyaz dan Aiyla tiba di bandara. Dia menemui Ethan yang dari tadi sudah menunggunya. Ethan menyuruh Aiyaz untuk membawakan semua barangnya ke dalam mobil. Ethan adalah tipikal orang yang bersikap seenaknya, keras kepala, dan sombong karena dia berasal dari keluarga Diaz. Ethan menyuruh Aiyaz untuk duduk di belakang karena dia sendiri yang akan membawa mobilnya. Ethan melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Aiyla berpegangan sangat kuat, begitupun Aiyaz.


"Turunkan kecepatannya, Kakak! Aku sangat takut."


"Kau bisa mencelakakan kami semua," sambung Aiyaz. Ethan tidak peduli dengan perkataan mereka berdua, dia dengan santainya membawa mobil diatas rata-rata.


Mobil itu tiba di depan kediaman Diaz. Ethan menyuruh pelayan untuk membawakan semua barangnya ke dalam.


"Itu mereka!" ucap Nilam.


"Selamat datang, Nak. Adlar menyambut kedatangan putranya itu dengan pelukan.

__ADS_1


"Bagaimana kabar kalian?"


"Kami baik." Ethan menghampiri Azizah dan memeluknya,


"Apa kabar, Nenek?"


"Aku baik, Nak."


Adlar sangat berterimakasih pada Aiyaz karena sudah menjemput Ethan di bandara. Tidak lama Aiyaz berpamitan pulang. Nilam melihat kekesalan di wajah putrinya.


"Kau kenapa, sayang?" tanya Nilam sambil memegang wajah Aiyla.


"Tanyakan saja pada dia!" ucap Aiyla ketus.


"Ada apa?" tanya Nilam heran.


"Sudahlah, hanya hal kecil. Dia memang sering membesar-besarkan masalah."


"Kau bilang membesar-besarkan masalah?"


Aiyla menceritakan semuanya pada semua orang. Dari bandara menuju ke rumah Ethan lah yang membawa mobil. Dia melaju diatas kecepatan rata-rata. Dia dan Aiyaz menyuruhnya untuk tidak mengebut tapi dia tidak mau mendengarkan.


"Benarkah Ethan?" tanya Azizah.


"Maafkan aku, Nenek." Azizah dan Nilam saling menatap.


"Percuma saja kau tinggal di Amerika untuk mengurus perusahan milik keluarga tapi, tetap saja jiwa pembalap mu itu masih ada." Aiyla langsung pergi ke kamarnya.


"Ethan, lbu ingin bicara denganmu."


"Besok saja, lbu. Aku sangat lelah dan ingin istirahat."


Pagi yang cerah membuat Ishla bersemangat untuk hari pertama kuliahnya. Tidak lama Arash datang,


"Selamat pagi."


"Selamat pagi."


Ishla hanya tersenyum, Amine memberitahu Arash mulai hari ini Ishla akan kuliah di universitas yang sama dengannya. Dia akan mengambil jurusan arsitektur, dia ingin jika mimpinya sebagai seorang arsitek bisa tercapai. Ishla akan memulai dari nol, keterbatasan yang dia miliki tidak akan memudarkan impian masa kecilnya itu. Arash ikut senang mendengarnya. Mereka segera menyelesaikan sarapannya.


"Selamat pagi."


"Selamat pagi, sayang." Pagi itu Aiyla tidak ikut sarapan. Dia akan langsung pergi menemui Aiyaz.


"Apa kau tidak sarapan dulu?"


"Tidak Ibu, aku sudah terlambat."


Nilam menyuruh pelayan untuk memanggil Ethan. Tidak lama pelayan itu kembali, "Ada apa? Apa Ethan belum bangun?" tanya Adlar. Pelayan itu mengangguk mengiyakan. Adlar mendapat telepon dan langsung pergi ke kantor.


"Aku pergi dulu, lbu." ucap Adlar sambil mencium ibunya.


"Hati-hati, Nak."


"Kenapa kau masih berdiri disini?" Nilam melihat pelayanannya yang masih ada di depannya.


"Maaf, Nyonya. Sepertinya tuan muda mabuk. Aku melihat ada beberapa botol minuman di kamarnya." Nilam tidak percaya dan langsung pergi ke kamar Ethan.


"Ya ampun, anak ini...


Nilam mengguyur Ethan dengan segelas air. Ethan langsung terperanjat bangun.


"Berani sekali kau menyiramku!" teriak Ethan.


"Kau mau apa?" Ethan akhirnya sadar jika itu adalah ibunya. Nilam langsung menyuruh Ethan untuk segera bersiap. Nilam menemui Azizah di ruang tengah.


"Apa dia berulah lagi?" tanya Azizah datar.


"Aku harus bagaimana lagi Ibu? Aku sudah menyuruh dia untuk membuang kebiasaan buruknya itu, tapi dia tetap saja melakukannya." Nilam sangat takut jika Adlar mengetahui Ethan mabuk, dia bisa melakukan hal nekat. Dia tidak peduli jika itu putranya sendiri. Azizah menyuruh Nilam untuk terus memantaunya. Dia tidak ingin Ethan membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya.


Aiyaz membulatkan matanya ketika melihat Aiyla datang ke rumahnya. Dia semakin dekat, dan sudah berdiri di depan pintu.


"Siapa yang datang pagi-pagi sekali?" Aghna berjalan ke arah pintu. Tiba-tiba saja Aiyaz menarik tangannya.

__ADS_1


"Kau ini kenapa?" Aiyaz memberitahu Aghna jika yang datang itu Aiyla. Aiyaz sangat malas jika harus berhubungan dengan Aiyla.


"Lalu aku harus apa?" tanya Aghna.


Suara bel rumah terus berbunyi, "Tunggu sebentar! Aku datang!" teriak Aghna dari dalam.


"Jika dia menanyakan ku, bilang saja aku sudah pergi." Aiyaz segera pergi dan bersembunyi di kamarnya.


"Dimana Aiyaz?" tanya Aiyla sambil mencari-cari keberadaan Aiyaz. Aghna membawa Aiyla ke meja makan dan menyuruhnya duduk untuk menemaninya sarapan.


"Apa kau sudah sarapan, Kakak?" tanya Aghna mengalihkan perhatian Aiyla.


"Tidak, aku kesini ingin menemui Aiyaz. Dimana dia?" tanya Aiyla.


"Kakak sudah pergi pagi-pagi sekali, dia bilang ada pekerjaan yang harus dia selesaikan pagi ini juga." Wajah Aiyla terlihat sedikit cemberut. Dia mencoba untuk menghubungi ponsel Aiyaz, tiba-tiba saja terdengar suara telepon berdering,


"Ponsel siapa itu?" Aiyla mencari asal suara itu. Dia melihat ponsel Aiyaz tertinggal di lemari dekat pintu masuk.


"Ya ampun, kakak! Aghna menepuk jidatnya. "Kenapa ponsel mu bisa tertinggal disini?" Aiyla mengambil ponsel itu, "Aku akan mengantar ponsel ini pada Aiyaz." Aghna langsung merebut ponsel itu dari tangan Aiyla. "Tidak perlu repot-repot kakak, aku sendiri yang akan mengantarnya." Ketika akan pergi, Aiyla melihat mobil Aiyaz masih terparkir di samping rumah.


"Itu mobil Aiyaz, bukan?" Aiyla menunjuk mobil itu. "Kau bilang Aiyaz pergi, tapi mobilnya...


"Kakak pergi menggunakan taksi, dia bilang mobilnya akan diservis siang nanti."


"Ooh, Baiklah."


Aiyla Akhirnya pergi juga. Aghna menyuruh Aiyaz untuk turun. Dia merasa gugup tidak tahu alasan apa lagi yang harus dia buat agar Aiyla percaya bahwa Aiyaz tidak ada di rumah.


"Ini ponselmu!"


Selesai sarapan, Ishla dan Arash pergi ke kampus. Saat lampu merah, mobil Arash bersebelahan dengan mobil Aiyaz. Aghna menengok ke samping dan membuka kaca mobilnya. Aghna tersipu malu ketika Arash melihat ke arahnya. Arash hanya melempar senyum pada Aghna, dia tahu jika perempuan itu adalah mahasiswi di kampusnya. Aiyaz menutup kaca mobilnya, dan melaju pergi.


Setelah mengantar Aghna ke kampus, Aiyaz langsung pergi ke kantor. Aghna melihat Arash yang baru saja turun dari mobilnya. Dia juga menurunkan kursi roda dari bagasi mobilnya. Aghna melihat Arash menggendong seorang perempuan ke atas kursi roda itu.


"Siapa gadis itu? Kelihatanya mereka sangat dekat." Aghna merasa penasaran dengan gadis itu. Dia pergi menemui Arash,


"Selamat pagi, Pak!"


"Selamat pagi," Aghna terus memperhatikan gadis yang berada di kursi roda itu. Dia sangat cantik, tetapi sayang dia lumpuh.


"Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Arash sambil mendorong kursi roda Ishla.


"Tidak, Pak."


"Aku permisi dulu," Aghna melihat Arash mendorong gadis itu menuju sebuah ruangan. Dia mengintai mereka berdua dari jauh.


"Apa dia juga kuliah disini?" tanya Aghna bingung sendiri. Aghna melihat Arash yang begitu perhatian pada gadis itu.


Setelah gadis itu masuk Arash pergi meninggalkannya. Aghna melihat dari dekat gadis itu,


"Ooh... Jadi gadis itu mengambil jurusan arsitektur...


Pagi ini Adlar pergi untuk menemui Amine di perusahaannya. Setelah kejadian kemarin siang, Adlar mencari tahu tempat Amine bekerja, ternyata Amine pemilik salah satu perusahaan besar yang ada di Istanbul.


"Maaf Nyonya, ada orang yang ingin menemuimu," ucap sekretaris Amine.


"Siapa? Apa dia sudah membuat janji terlebih dahulu?" tanya Amine.


"Dia CEO perusahaan Diaz,"


"Untuk apa dia datang kemari?" tanya Amine dalam hatinya.


"Aku tidak ingin menemui siapapun, jika orang itu belum membuat janji terlebih dahulu,"


"Baiklah, Nyonya." Sekretaris memberitahu Adlar jika Amine tidak akan menemuinya sebelum membuat janji terlebih dahulu.


"Apa Amine ada jadwal kosong siang nanti?" tanya Adlar pada sekretaris itu.


"Maaf, saya tidak bisa memberitahu siapapun tentang privasi Nyonya Amine."


Dari lantai atas Amine bisa melihat Adlar yang baru saja pergi dari kantornya.


"Aku tidak akan memberimu kesempatan setelah apa yang kau lakukan padaku di masa lalu, kau dan keluargamu harus membayar mahal untuk semua yang kalian lakukan padaku dan putriku."

__ADS_1


__ADS_2