
Pagi ini Arash datang untuk menemui Ishla untuk terakhir kalinya. Dia baru saja mendapat kabar bahwa Alice, ibunya terkena serangan jantung. Dia harus terbang ke Kanada saat ini juga. Sebelum itu Arash ingin berpamitan pada Amine dan Ishla.
Pagi itu Amine sangat senang dengan kedatangan Arash. Dia mengajaknya untuk sarapan bersama.
"Bagaimana dengan pekerjaan mu?" tanya Amine.
"Semua berjalan lancar, Nyonya." Amine seakan tahu maksud dari kedatangan Arash jika bukan untuk menemui Ishla. Wajah Arash terlihat sedikit pucat.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Mungkin aku hanya sedikit lelah." Arash mengatakan pada Amine mengenai keberangkatannya ke Kanada. Dia memberitahu jika ibunya mengalami serangan jantung. Amine terkejut mendengarnya.
"Lalu, bagaimana keadaan ibumu sekarang?" tanya Amine.
"Dia masih harus dirawat untuk beberapa hari ke depan." Arash meminta maaf karena tidak bisa menepati janjinya untuk selalu ada disamping Ishla. Ini semua bukan kemauannya, tetapi keadaan yang memaksa dia harus pergi. Amine mencoba menguatkan Arash, jika ibunya pasti akan segera membaik. Amine sangat berterimakasih untuk semua yang sudah Arash lakukan untuk Ishla.
Hari demi hari, keadaan Aiyla sudah semakin baik. Dokter mengizinkan dia untuk pulang. Setelah kecelakaan itu, Aiyaz selalu ada disamping Aiyla. Semua orang senang dengan sikap baik Aiyaz pada Aiyla. Saat semua sedang berkumpul, tiba-tiba Nilam mengusulkan untuk mempercepat pertunangan mereka. Semua orang menyetujuinya.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Aiyla pada Aiyaz.
"Aku?" Tiba-tiba ponsel Aiyaz berdering, dia baru saja menerima telepon dari Aghna, dia meminta Aiyaz untuk segera menjemputnya di kampus.
"Aku harus menjemput Aghna di kampus. Kita akan membicarakan ini lagi nanti."
"Baiklah." Saat berada di dalam mobil, Aiyaz setidaknya bisa bernapas lega. Dia tidak tahu kenapa sikapnya berubah belakangan ini, dia seperti bukan dirinya. Dia yang awalnya menolak pertunangan itu, kini dia akan menerimanya dengan terpaksa. Dia sudah melangkah terlalu jauh, tidak mudah untuk kembali ke titik awal.
Siang itu Amine akan melakukan rapat dengan beberapa klien penting. Saat keluar dari lift, dia melihat Mustafa memasuki kantornya.
"Kakek?" sapa Amine. "Apa kau ingin menemui seseorang disini?"
"Aku ingin menemuimu. Ada hal penting lain yang ingin aku bicarakan padamu." Amine sangat penasaran dengan itu, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan rapat penting ini.
"Maaf, Nyonya. Semua orang sudah menunggumu di ruang rapat." ucap sekretaris Amine.
Atas kebaikan Mustafa, dia meminta Amine untuk pergi ke rapat itu. Dia akan menunggu di kantornya.
"Tapi kakek, rapat ini bisa menghabiskan satu sampai dua jam. Itu membuatmu terlalu lama menunggu." Amine sangat merasa tidak enak hati pada Mustafa.
"Jangan khawatirkan aku, pergilah ke rapat itu. Kau harus menunaikan apa yang sudah menjadi tugas dan kewajiban mu disini." Amine meminta seseorang untuk membawa Mustafa ke ruangannya. Dia akan menunggu disana. Mustafa adalah tamunya, dia harus dilayani sebaik mungkin.
Siang itu Ishla pulang lebih awal. Dia melihat Arash yang sudah menunggunya.
__ADS_1
"Kau disini?" tanya Ishla. "Apa tidak ada pasien, sampai kau datang menemui ku disini?" Ashika tersenyum mendengarnya.
Wajah Arash terlihat sangat serius.
"Ada apa?" tanya Ishla.
"Aku ingin bicara denganmu, tapi tidak disini." Arash mengajak Ishla ke sebuah restoran kecil di pinggir selat.
Aiyaz sedari tadi hanya diam menatap ke depan.
"Kau kenapa?" tanya Aghna.
"Bibi Nilam akan mempercepat pertunangan ku dengan Aiyla."
"Benarkah?" Aghna sedikit terkejut mendengarnya. Aghna tahu jika kakaknya melakukan semua itu karena merasa kasihan pada Aiyla, bukan atas dasar cinta. Dia tidak ingin Aiyla kembali mencelakakan dirinya sendiri karena Aiyaz menolaknya.
"Lalu, apa kau akan menerima pertunangan itu?" tanya Aghna.
"Aku sudah masuk terlalu jauh, mau tidak mau aku harus menerima pertunangan ini." Siang itu Aiyaz mengajak Aghna makan siang di restoran dekat selat.
"Apa kau ingin memesan makanan?" tanya Arash.
"Aku tidak ingin, aku hanya ingin mendengar apa yang ingin kau katakan."
"Kau akan pergi?" Ishla terlihat sedih.
"Kenapa? Apa aku ini sangat merepotkan mu?"
Ssstt...
"Jangan bilang seperti itu, aku pergi kesana karena ibuku baru saja terkena serangan jantung." Ishla ikut sedih mendengarnya. Arash berjanji jika ibunya sudah pulih kembali, dia akan pulang secepatnya. Arash sangat ingin mengatakan pada Ishla bahwa dia sangat mencintainya, tapi dia tahan rasa itu untuk sementara waktu, ketika kembali nanti dia akan mengatakan semuanya pada Ishla.
Aiyaz dan Aghna baru saja tiba. Mereka mulai memesan makanannya. Saat itu Arash pergi menggambil ponselnya yang tertinggal dalam mobil. Aghna tidak sengaja melihat Ishla. Dia pergi untuk menemuinya.
"Kau disini?" ucap Aghna yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Iya. Aghna hanya melihat Ishla sendiri.
"Dimana Arash?" tanya Aghna sambil mencari-cari keberadaan Arash.
"Kau tahu jika aku datang bersama Arash?" Ishla tersenyum.
Bagaimana tidak, dimana pun ada Ishla, disitu pasti ada Arash.
Setelah memesan makanan, Aiyaz tidak melihat Aghna di tempat duduknya.
__ADS_1
"Kemana dia pergi?" ucap Aiyaz.
Aghna melihat Aiyaz yang bingung mencarinya.
"Kakak!" teriak Aghna sambil melambaikan tangannya.
"Kemarilah!" Aiyaz melangkahkan kakinya menuju tempat duduk Ishla.
Deg... Deg... Deg...
"Untuk apa kau disini? Cepatlah kembali, sebentar lagi makanannya akan sampai." Aghna menarik tangan Aiyaz.
"Ini temanku, Ishla. ucap Aghna sambil memutar kursi roda Ishla ke arah Aiyaz.
"Ishla, ini kakakku. Namanya Aiyaz."
"Ishla? Aiyaz sangat terkejut melihat Ishla ada di hadapannya.
"Apa ini semua mimpi?" Aiyaz meminta Aghna untuk mencubit tangannya.
Aww... semua ini adalah nyata. Ishla mengulurkan tangannya, Aiyaz terus menatap Ishla tidak berhenti.
"Kakak! teriakan Aghna membuat Aiyaz tersadar dari lamunannya.
"Kau darimana saja? Sudah lama aku mencarimu, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau meninggalkanku saat kecelakaan itu?" Ishla tidak mengerti apa yang dikatakan Aiyaz padanya.
"Kakak, apa dia ini...
"Iya, dia adalah cinta pertamaku. Aghna benar-benar tidak menyangka jika Ishla temannya itu adalah kekasih Aiyaz.
"Kau ini bicara apa? Siapa yang meninggalkanmu? Aku baru saja mengenalmu hari ini, dan kau bersikap seakan kau sudah mengenalku sejak lama." Tidak lama Arash datang, dia tidak menyangka akan bertemu Aghna dan Aiyaz di tempat yang sama.
"Kau mendapatkan ponselmu?" tanya Ishla.
"Aku sudah mendapatkannya," Arash memberitahu Ishla jika keberangkatannya sore nanti.
"Kau akan pergi?" tanya Aghna.
"Aku harus kembali ke Kanada, ibuku sakit disana."
"Baiklah, ayo kita pulang!" pinta Ishla
Aiyaz menatap kepergian Ishla begitu saja, dia tidak tahu kenapa Ishla bersikap seolah dia tidak mengenalnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Ishla tidak mengingatku sama sekali? Kenapa dia dia duduk di kursi roda itu?" Banyak sekali pertanyaan di dalam kepala Aiyaz. Dia tidak akan tinggal diam, dia akan mencari tahu semuanya.
__ADS_1