
Raja-------------
Jam 08 pagi Ia langsung di ajak berangkat ke Bandara oleh Baba dan Bunda. Rasa sedih kian menyelingi hatinya.
Ia kembali menatap kamarnya, yang entah sampai kapan Ia tinggalkan. Ia tersenyum getir karena mendadak hatinya kembali bersedih.
Kalau bukan karena baktinya kepada Bunda Ia sebenarnya enggan untuk pindah sekolah. Ada banyak hal yang terus ingin membuatnya menetap di sini. Ia bahkan akan mengabaikan ejekan dan hinaan para teman-teman tapi untuk menolak keputusan Bunda Ia tidak berani.
“Bang ayo berangkat” teriak Bunda dari bawah.
Dengan menghela nafas sebentar Ia membawa tas yang berisi pakaiannya. Menuruni satu persatu anak tangga yang akan menjadi hari terakhirnya disana.
Pertama sekali Ia berpamitan kepada para ART dirumahnya. Tangis hari menyelimuti langkah kepergian nya yang akan melanjutkan pendidikan di Turki.
Ia terus memantapkan hati. Semoga ini jalan terbaik. Batin nya sambil melangkah kan kakinya untuk memasuki mobil yang akan membawanya ke Bandara.
Matanya masih sempat melihat para pekerja rumahnya yang sedang melambaikan tangan untuk perpisahan. Ia kembali tersenyum namun dengan hati yang tak karuan.
“Abang sekolah yang bener !!” Bunda mulai membuka pembicaraan.
“Jaga diri baik-baik disana. Karena Bunda tidak bisa selalu mengawasi Abang”
“Selalu hubungi Bunda. Pokoknya setiap hari Abang harus Nelfon Bunda tak peduli apapun alasan nya”
Hingga tidak berapa lama terdengar Bunda mulai menangis. Ia menoleh dan mendapati mata Bunda yang sudah memerah. Cadar yang Bunda pakai mulai basah karena air mata. Sementara Baba menenangkan Bunda.
“Jangan nangis lagi Bun !!” ucapnya lembut.
Bunda mengangguk. “Maafin Bunda ya yang sudah memaksa Abang untuk pindah sekolah.” Bunda kembali terisak “Bunda lakukan ini yang terbaik untuk Abang”
“Iya Bun” jawabnya yakin.
Suasana tiba-tiba hening. Ketika mobil mereka melewati sekolah SMA Karya Utama yang menyimpan banyak kenangan. Lagi dan lagi Ia tersenyum getir demi mengingat berbagai kejadian semasa Ia sekolah disana.
Melewati taman yang sering Ia kunjungi. Melewati toko buku dimana Ia sering mampir bersama teman-teman nya termasuk Keyla.
Ah. Mengingat nama Keyla Ia tiba-tiba merasa rindu. Karena mereka tidak pernah bertemu lagi terakhir ya waktu Ia mengunjungi rumah Keyla saat hari pertama Foto mereka tersebar.
__ADS_1
Sungguh kehidupan tidak ada yang tau kedepan nya begitu pun dengan Raja yang tidak tau kalau semua itu akan terjadi dalam hidupnya. Biarlah ini akan menjadi pelajaran berharga dan menjadi cerita untuk anak cucunya kelak.
Hingga tak terasa mobil berhenti tepat di parkiran Bandara. Ia langsung keluar dari mobil dan membantu Baba membawa barang-barang. Tidak hanyak memang hanya ada dua tas dan satu kardus yang berisi oleh-oleh untuk Arda.
Kemaren saat mendengar Ia dan Baba akan ke Turki Arda langsung banyak memesan makanan Khas Indonesia katanya kangen. Makanya Bunda membawakan mereka banyak makanan seperti yang langsung di ambil dari restoran peninggalan Kakek dan Nenek yaitu orang Tua Bunda.
“Aku pamit ya Bun” Ia langsung memeluk Bunda dengan erat. “Jaga diri baik-baik !! doakan Abang biar sukses disana”
Matanya mulai berkaca-kaca, menyimpan cairan bening yang sekali kedip akan segera lolos seketika. Sekuat tenaga Ia menahan supaya tak menangis.
Namun mendengar isakan tangis Bunda membuatnya tak kuat kalau tak menangis. Biarlah Ia di katakan cengeng.
“Abang harus bisa jaga diri pokonya !! hanya itu pesan Bunda”
Bunda melepaskan pelukan nya. Lalu kemudian Bunda memeluk Baba.
“Hati-hati dijalan ya By !! kalau udah sampai hubungin Nia !!”
Sebenarnya dari dulu Ia bertanya apa panggilan kesayangan Bunda ke Baba. Karena Bunda selalu memanggil Baba dengan sebutan “By”
Ia memilih memainkan ponselnya. Namun baru saja Ia menghidupkan ternyata sudah ada panggilan masuk dari Ayah Gibran. Segera Ia menggeser Icon berwarna hijau untuk menjawab panggilan Video dari Ayah.
“Halo Assalamualaikum Bang !!” Suara Ayah di seberang sana.
“Iya Ayah walaikumsalam” jawabnya sambil tersenyum menatap wajah Ayah yang sudah menua.
“Sudah berangkat ke Bandara ??”
“Sudah Yah”
“Jaga diri baik-baik ya Bang !! nanti kalau ada waktu Ayah dan Mama akan mengunjungi Abang ke Turki”
“Iya Yah”
“Itu Ayah udah transfer uang untuk membeli kebutuhan Abang disana. Jangan boros-boros ya Nak kasian Baba dan Bunda”
Setelah cukup lama saling berbicara akhirnya sambungan telepon terputus. Juga pemberitahuan kalau pesawat yang akan Ia tumpangi ke negara Turki akan segera berangkat. Ia dan Baba di minta untuk masuk kedalam.
__ADS_1
Ia mencium punggung tangan Bunda, dengan air mata berderai. Karena esok Tangan lembut walau sedikit keriput ini tak akan bisa Ia cium lagi.
“Abang berangkat Bun Assalamualaikum”
“Walaikumsalam Nak, hati-hati di jalan !!” Bunda mencium kening nya sebentar.
Akhirnya Ia dan Baba masuk kedalam dan melakukan pengecekan oleh petugas Bandara. Menyerahkan barang bawaan kepada petugas untuk di cek ulang kalau mereka tak membawa barang yang berbahaya.
Setelah di nyatakan aman. Ia dan Baba kembali melangkah tapi sesekali Ia menoleh kebelakang dan melambaikan tangannya kepada Bunda yang masih terlihat.
KEYLA....
Sudah cukup jauh Ia berlari menembus jalanan ibu kota yang terlihat padat. Sekarang Ia mulai lelah. Tenggorokan nya seperti kering.
Namun Ia tak menyerah Ia kembali berlari. Hingga tiba di sebuah taman yang lumayan sepi. Ia duduk di sana dengan tangis tersedu-sedu.
Siapapun yang mendengar maka pasti akan merasa iba dengan nya demi mendengar tangis nya yang begitu memilukan.
“Rajaaaaaaaaa”
Akhirnya Ia berteriak. Dua orang yang duduk tak jauh darinya langsung menatapnya dengan heran. Namun Ia tak peduli.
“Kenapa kamu ninggalin aku Ja ?? kenapa kamu biarin aku sendiri menghadapi semua ini ?? Hiks---Hiks”
Kakinya terasa kaku untuk berdiri. Rambut panjangnya sudah berantakan karena tertiup angin. Wajar kalau kakinya sakit karena sudah berapa kilometer jalan yang Ia tempuh hingga sampai di taman ini.
Ketika matanya melihat ke atas sebuah Pesawat lewat ibarat mengartikan bahwa Raja sudah benar-benar pergi. Pergi yang jauh yang Ia sendiri tak tau kemana. Salahnya juga tak bertanya kepada Adel kemana Raja pergi.
Air matanya semakin deras. Pesawat yang lewat malah semakin membuatnya sakit.
Sekarang Ia dan Raja sudah terpisah begitu jauh. Jarak dan waktu yang entah sampai kapan memisahkan mereka. Menyakitkan bukan ??
“Kamu jahat Ja, kamu jahat udah biarin aku sendiri menghadapi masalah yang belum selesai ini. Kamu jahat yang udah biarin aku nangis terus. Aku banci kamu Ja” gumam nya pelan .
Dengan rasa yang sulit di jelaskan Ia kembali mengeluarkan kertas yang di lipat kecil. Lalu merobeknya menjadi serpihan kecil.
__ADS_1