Cinta Dan Sang Pemilik Cinta

Cinta Dan Sang Pemilik Cinta
Bab 20-Kecelakaan.


__ADS_3

Siang itu di negara Turki setelah 5 hari libur sekolah. Raja berniat untuk berkunjung ke Blue Mosque. Masjid terkenal di negara Turki. Awalnya ia ingin pergi sendiri namun karena Arda ingin ikut makanya mereka pergi berdua.


Menghabiskan masa liburan mereka dengan jalan berdua. Karena untuk pulang ke Indonesia bukan waktu yang tepat. Padahal jauh dari lubuk hati Raja kalau dia begitu ingin pulang.


“Sholat dulu Kak” ucap Raja setelah memasuki lingkungan Masjid tersebut.


Sudah banyak perubahan disana. Dulu Raja mengunjungi Masjid tersebut waktu ia masih berumur 4 tahun. Dan sekarang walaupun sudah berada di Turki Raja jarang sekali kesini. Hari-hari yang Raja lewati hanya belajar dan belajar. Supaya bisa menjadi orang yang sukses dan membahagiakan kedua orang tuanya.


Cukup lama Raja dan Arda berkeliling, setelah puas Arda mengajak Raja untuk pergi makan siang dulu sebelum pulang kerumah. Raja pun menyanggupi karena dirinya juga lapar.


Kedua nya tampak bercanda saat melintasi jalanan yang terlihat sepi. Hanya ada satu persatu kendaraan yang lewat. Mungkin lagi jam makan siang jadinya semuanya pada istirahat.


Namun saat menyebarang jalan sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melintas. Raja yang melihat itu langsung mendorong Arda supaya tak tertabrak. Akan tetapi mobil tersebut malah menabrak tubuh Raja dengan sangat kencang.


Tubuh Raja terpental sangat jauh. Darah segar sudah mengucur dengan deras.


“Astaghfirullah. Abang” teriak Arda sambil berlari untuk menggapai tubuh Raja.


“Bang bertahan !! Kakak akan segera bawa Abang kerumah sakit” ucap Arda dengan suara bergetar.


Antara takut, khawatir menjadi satu di diri Arda. Melihat Raja sudah tak berdaya seperti ini tentu pikiran nya tak bisa jernih lagi.


“Bana yardım et !! (Tolong saya !!)” Teriak Arda kepada beberapa orang yang sedang berkerumun menyaksikan tabrakan yang menimpa Raja.


“ambulans çağıracağım (Saya akan menghubungi ambulance)” ucap Bapak-bapak yang berdiri tak jauh dari Arda.


Arda hanya mengangguk, lalu tangan nya mengusap Kening Raja yang penuh dengan darah. Tanpa aba-aba Arda melepas kaos yang dia pakai kemudian membalurkan kaos tersebut di kening Raja untuk mencegah darah tersebut mengalir.


Namun tak hanya sampai Situ karena sekarang hidung Raja juga sudah mengeluarkan darah. Membuat tangisan Arda pecah melihat hal itu.


“Bang bertahan bang, !! ayo bangun tolong jangan bikin kakak Ar khawatir. Ayo Bang buka mata Abang !!”ucap Arda menggoyangkan tubuh Raja dengan kuat. Namun hasilnya nihil Raja tak kunjung membuka mata.


Dari kejauhan sudah terdengar suara mobil ambulance. Arda sampai berdecak kesal karena Ambulance terlalu lama datang terus semua orang tidak bisa di mintai tolong. Arda menyesal karena menyuruh sopir rumah nya pulang dulu tadi coba kalau sang sopir masih beradaa disana mungkin Raja sudah berada di rumah sakit.


Dengan di bantu petugas rumah sakit tubuh Raja di angkat untuk masuk kedalam ambulance. Begitupun dengan Arda yang sekarang sudah tak mengenakan baju, karena baju nya masih berada di kepala Raja.


“Kita akan kerumah sakit Bang, tolong bertahan Arda mohon !!”

__ADS_1


Tangan Arda gemetar, detak jantungnya begitu cepat. Mungkin jika tadi Raja tak mendorongnya ke pinggir jalan saat ini dialah yang berada di posisi Raja.


“Ya Allah selamatkan Bang Raja.” doa Arda dalam hati.


-----------


Sementara di Indonesia. Zenia sedang menonton televisi namun dia langsung kaget saat mendengar suara benda jatuh.


“Astaghfirullahal'Adzim” gumam Zenia sambil mengelus dadanya.


Zenia langsung melihat benda yang jatuh itu. Ia begitu kaget saat melihat foto Raja yang sudah jatuh kelantai dengan kaca yang pecah.


“Ya Allah apa yang terjadi dengan anak ku ??”


Pikiran nya langsung tak karuan. Ia takut terjad sesuatu dengan Raja.


“Suara apa Bun ??” tanya Zhalfa sambil menuruni tangga.


“Ya Allah kok foto Abang bisa jatuh ??” Zhalfa langsung kaget melihat foto Raja sudah tergeletak di lantai.


Namun Zenia tak menjawab. Pikiran nya benar-benar kalut sekarang.


“Bi tolong beresin ini ya !!” teriak Zhalfa lagi.


Zhalfa langsung membawa Zenia untuk kembali duduk di sofa. Lalu mengambil kan minum supaya Bundanya bisa sedikit tenang.


“Tolong hubungin Baba dek !!” pinta Zenia kepada putri bungsunya itu.


“Baik Bun” jawab Zhalfa.


Zenia benar-benar takut terjadi sesuatu kepada Raja. telinga nya masih mendengarkan percakapan Zhalfa dengan sang Suami. Ketika Zahran ingin berbicara dengan nya, ia hanya menolak. Bukan suara yang saatt ini ia butuhkan namun Sosok Zahran.


“Baba sudah dalam perjalanan Bun” ucap Zhalfa yang sudah mematikan ponselnya.


Zenia hanya mengangguk. Tidak lama Adel pulang.


“Bunda kenapa Dek ??” tanya Adel ke Zhalfa

__ADS_1


“Bunda syok. Tadi foto Abang jatuh makanya Bunda panik” jelas Zhalfa masih mengelus bahu Zenia dengan lembut.


“Ya Allah kok bisa jatuh ?? bukan nya setiap Bunda pasang foto itu selalu kuat”


“Paling ada angin Kak” ucap Zhalfa yang tidak ingin Bunda nya terlalu kepikiran.


“Teleponin Baba dek. Suruh pulang”


“Udah Kak. Udah aku telepon ini Baba udah di jalan”


Adel tak langsung mengganti baju, ia malah ikut duduk untuk menunggu Zahran pulang. Apalagi dengan kondisi Zenia yang tak berbicara sama sekali.


“Assalamualaikum” seru Zahran di ambang pintu.


“Walaikumsalam” jawab Adel dan Zhalfa serempak.


Zenia langsung bangkit dan memeluk sang suami dengan erat. Membuat Zahran bingung namun dia enggan bertanya. Ia masih menenangkan sang istri yang terlihat begitu ketakutan.


“Tenang sayang, insya Allah semuanya akan baik-baik saja” ucap Zahran dengan lembut.


“Tapi perasaan Bunda gak tenang Ba, Bunda takut terjadi sesuatu pada Raja”


Zahran membawa sang istri untuk duduk di sofa. Setelah itu barulah ia menghubungi Raja ataupun Arda.


Nomor Raja tidak aktif. Sementara Arda tidak menjawab. Berulang kali Zahran menghubungi nomor Arda tapi tak kunjung ada jawaban.


“Coba telepon kerumah Ba" usul Adel.


Zahran mengangguk. Ia langsung menghubungi nomor rumah dan menanyakan dimana Raja dan Arda.


“Den Raja sama Den Arda belum pulang Pak, tadi pamit mau ke Masjid Blue Mosque” jelas Art di seberang sana yang memang orang Indonesia asli.


Selesai menelpon kerumah Zahran kembali menghubungi Nomor Arda. Jangan tanyakan bagaimana perasaan nya sekarang tentu begitu panik sama seperti sang istri. Karena tidak biasanya Raja maupun Arda tak menjawab telepon darinya.


“Ini mereka berdua kemana ??” ucap Zahran gusar.


“Bagaimana Ba ??” tanya Zhalfa.

__ADS_1


“Nomor Abang Raja gak aktif. Kalau Kakak Ar gak di jawab. Tadi kata Bibi yang bekerja di rumah mereka berdua pergi jalan-jalan” jelas Zahran kemudian.


“Coba telepon terus Ba sampai di jawab !!”


__ADS_2