Cinta Dan Sang Pemilik Cinta

Cinta Dan Sang Pemilik Cinta
Tamu tak di undang.


__ADS_3

Didalam perjalanan pulang Keyla terus diam membisu, membuat Raja berpikir kalau sudah terjadi sesuatu pada istrinya, nanti aja pas pulang Raja akan bertanya pada Rara.


Sesekali Raja melirik kearah istrinya yang terus menatap luar jendela seperti memikirkan sesuatu yang berat.


"Apa yang terjadi padamu Neng ? kenapa diam terus seperti ini" batin Raja kemudian.


Hingga mereka sampai dirumah Gibran, Keyla tak kunjung berkata, ia setia dengan diamnya walaupun saat memandang sang suami Keyla masih menampilkan senyuman.


"Bang aku duluan ke kamar, capek" ucap Keyla langsung berlalu dari hadapan semuanya.


Sebelum Raja sempat menjawab, Keyla sudah berlalu dari hadapannya.


"Key kenapa Bang ?" tanya Gibran.


"Abang juga tidak tahu Yah, nanti biar Abang tanya"


Gibran menggukan kepalanya, mungkin sedang ada masalah dalam rumah tangga anaknya ia enggan untuk ikut campur. Ia yakin Raja pasti bisa mengatasi semuanya.


Sebelum menyusul sang istri, Raja bertanya pada Rara sebentar.


"Tadi kemana aja sama Mbak Key ?" tanya Raja.


"Cuman ke toko depan restoran kok Bang, itupun cuman lihat-lihat, terus pulangnya ketemu sama Kak Tasya, disana sikapnya Mbak Key berubah padahal apa coba salahnya Kak Tasya" jelas Rara.


Kini Raja sudah tau letak permasalahannya, istrinya tak mungkin sampai menangis jika memang tak ada masalah.


"Eh Bang, Kak Tasya makin cantik ya" ucap Rara membuat Raja mengernyit bingung.


"Terus kenapa ?" tanya Raja heran.


"Enggak kenapa-napa sih ! Kan Rara cuman bilang begitu" Rara menjawab dengan sinis "Udah ah Rara mau kekamar capek tau gak ngikutin Mbak Key keliling padahal beli aja kagak"


Raja menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik kecilnya, Rara memang sangat berbeda dengan Adel dan Zhalfa yang tutur katanya lembut dan sopan santun. Rara tipe cewek yang kalau bicara tak memandang apa orang itu akan sakit hati atau tidak.


Makanya selama ini Raja tak terlalu dekat dengan Rara, yang paling dekat dengan Rara adalah Cinta tapi kalau sudah ada Adel dan Zhalfa, Rara kerap di abaikan.


"Astaghfirullah" gumam Raja.


Lalu menyusul istrinya karena saat ini tinggal dirinya di ruang tengah, sementara Gibran sudah pamit untuk menjemput Ica di pengajian.


"Neng" panggil Raja dengan lembut. Ia duduk mendekati istrinya yang saat ini duduk di pinggir ranjang.


"Iya Bang" jawab Keyla tanpa menoleh sedikitpun.


"Kamu kenapa sayang ? apa yang telah di katakan Tasya sehingga kamu diam membisu"

__ADS_1


Keyla menoleh dan menatap wajah suaminya "Rara yang cerita ya Bang kalau tadi ketemu sama Tasya"


"Iya Sayang, coba ceritakan sama Abang apa yang menyebabkan kamu diam seperti ini"


Keyla tak menjawab ia justru menundukan kepalanya, ucapan Tasya tadi terus terngiang di telinganya.


"Besok jadi pulang Bang ?" tanya Keyla masih dengan kepala menunduk.


"Insya Allah jadi Neng, besok siang kita pulang ya"


"Kenapa siang Bang, kenapa gak pagi aja ?"


"Maaf Neng, kalau pagi Abang di suruh ngajar dulu sama Om Zaidan soalnya Om mau ada acara di luar makanya Abang yang gantiin"


Keyla mengela nafas panjang "Baiklah kalau begitu Bang" ucap Keyla menurut, walau di dalam hatinya ia sudah tak tahan tinggal di sini.


Satu takut kalau bertemu lagi dengan Tasya.


Kedua di rumah ini Keyla merasa seperti orang asing, karena sikap Ica berbeda sekali dengan Zenia yang ramah dan tulus menyayanginya


Ica akan bicara dengannya jika ada Raja saja, jika Raja tak ada Keyla seperti di anggap orang asing.


"Nanti pulang nginep dirumah Bunda yuk Bang,Key kangen sama Bunda" ucap Keyla.


"Baiklah Sayang, Abang juga kangen sama Bunda dan Zhalfa"


Malam harinya setelah sholat maghrib, Raja dan Keyla bergabung di ruang keluarga bersama Gibran, Ica dan Rara yang sedang menonton televisi.


"Belum tidur Bang" tanya Ica.


"Belum Ma" jawab Raja, lalu duduk di sofa bersebelahan dengan istrinya.


Suasana hening hanya ada suara televisi yang menayanhkan sebuah sinetron yang entah apa judulnya.


"Yah besok Abang pulang" ucap Raja memecahkan keheningan.


"Kenapa cepat sekali ? apa tidak nyaman tinggal disini ?" tanya Gibran.


"Nyaman Yah ,tapi Abang mau kerja, Key juga Kerja. Lain kali kita kesini lagi" jelas Raja supaya Gibran mengerti.


"Baiklah kalau begitu, Ayah hanya mendukung saja"


"Mbak Key kerja ?" sahut Rara kemudian "pantas mbak Key belum hamil karena sibuk kerja" ucap Rara lagi.


Tatapan mata Keyla tertuju pada Rara "Mbak kerja hanya setengah hari Ra, itupun kalau lagi ada tawaran jadi pengacara setelah itu Mbak di rumah" balas Keyla merasa tersinggung dengan ucapan Rara.

__ADS_1


Rara menganggukan kepalanya berulang, hingga dering ponsel milik Rara membuat si empunya langsung beralih menatap layar segi empat itu, lalu senyum Rara merekah.


"Bentar ya !" Rara berdiri dan langsung menuju pintu utama.


"Apa ada tamu ?" tanya Gibran.


"Gak tau Mas" jawab Ica.


Hingga seorang wanita cantik masuk bersama dengan Rara, saat itu juga jantung Keyla berdegup kencang melihat perempuan yang bersama Rara adalah orang yang sudah menorehkan luka di hatinya.


"Ma, Yah, malam ini Kak Tasya nginep disini ya ! gak papakan ?" tanya Rara pada kedua orang tuanya.


Gibran dan Ica saling pandang, berbeda dengan Raja yang menatap Rara dengan tajam.


"Boleh dong !" jawab Ica.


Tasya langsung menjabat tangan Gibran dan Ica dengan sopan.


Keyla meremas tangan sang suami, jantungnya berdegup kencang. Mengetahui kalau istrinya merasa tak nyaman Raja langsung membawa istrinya masuk kekamar.


"Ma, Yah kita duluan istirahat" ucap Raja pada kedua orang tuanya.


"Iya Nak" jawab Gibran.


Namun saat hendak melangkah, Tasya berucap.


"Kenapa cepat sekali sih Ja ke kamarnya ? akukan pengen kenal sama istri kamu" ucap Tasya menghentikan langkah Raja dan Keyla.


Raja menoleh lalu tersenyum "Istriku sudah cukup terkenal, kalau pengen kenal lagi silahkan cari di google siapa istri saya" jawab Raja berhasil membuat Tasya terdiam.


"Malam ini mbak Key tidur sama kita ya Bang, kan besok udah mau pulang" sahut Rara.


"Maaf tidak bisa, karena Abang gak bisa tidur kalau gak di peluk sama Mbak Key" jawab Raja kembali sambil menatap wajah istrinya dengan mesrah.


"Yuk Neng" Raja merangkul pundak istrinya dan menjauh dari semuanya.


"Udah kalian juga istirahat Ayah sama Mama juga mau istirahat" ucap Gibran.


"Baik Yah" Rara menurut.


Sementara Tasya terus menatap sepasang suami istri yang melangkah menuju kamar, hingga tangannya di tarik oleh Rara untuk masuk kekamar juga.


"Besok Raja mau pulang ya Ra ?" tanya Tasya setelah berada di kamar.


"Iya Kak"

__ADS_1


"Besok aku ikut ah, kangen sama Bunda Zenia" ucap Tasya lagi karena dulu sewaktu masih di pondok Tasya dekat dengan Zenia.


"Ikut aja Kak, tapi Bunda tu sayang banget sama Mbak Key" balas Rara


__ADS_2