
Hari ini semuanya bersiap untuk pergi ke Yogyakarta, karena besok adalah Wisuda Adel, sebagai pengganti Baba Zahran. Raja mengajak Om Zaidan untuk ikut. Selain karena Om Zaidan adik kandung Baba Zahran, Om Zaidan juga berwajah mirip dengan Baba.
Ada 4 mobil yang akan berangkat, mobil pertama di bawa oleh Raja beserta istri dan juga Zhafal serta Bunda Zenia.
Mobil kedua di bawah oleh Daddi Kenan dan juga momy Alya, dan mobil ke 3 dibawah oleh Om Zaidan beserta anak dan istrinya. Serta yang terakhir di bawah Om Fahri.
Mereka semua sengaja ramai-ramai untuk menyaksikan acara Wisuda Adel. Ini adalah wisuda pertama dan keberhasilan pertama anak kandung Baba Zahran. Dan Arda yang sebagai kakak malah wisuda akhir tahun.
Selama perjalanan ke Yogyakarta Bunda Zenia terus menatap luar jendela. Harusnya momen ini ia nikmati bersama sang suami. Namun semuanya itu hanya angan semata saat suaminya telah pergi lebih dulu.
"Harusnya ada Byby disini, harusnya Byby yang nyaksiin secara langsung wisuda Adel. Nia yakin Adel pasti akan sangat sedih saat acaranya di mulai nanti" batin Bunda.
"Bunda kenapa ?" tanya Zhalfa yang menepuk bahu Bunda dengan pelan. Pertanyaan Zhalfa justru membuat Raja dan Keyla menoleh kebelakang. Terlihat Bunda menyeka air matanya.
"Bunda gak papa Nak" balas Bunda berusaha tersenyum.
"Bunda keingat Baba ya ? sama Bun, Zhalfa juga ingat sama Baba"
"Jangan sedih lagi dong ! Key yakin Baba pasti lihat wisuda Adel nanti, hanya saja kita semua yang gak bisa lihat Baba" sahut Keyla
Bunda mengangguk, mungkin benar apa yang di katakan menantunya, disana sang suami pasti menyaksikan keberhasilan anak-anaknya. Ia pasti tersenyum penuh kebanggaan karena Adel berhasil menyelesaikan pendidikan kedokterannya. Tinggal lanjut ke Spesialis.
"Betul kata Key Bun, Baba pasti sangat bahagia lihat Adel udah wisuda !" Raja pun ikut menimpali.
"Jangan sedih ya, apalagi kalau udah sampai di tempat Adel. Kasihan Adel kalau kita semua nunjukin kesedihan" ujar Keyla.
"Iya Bun, kita harus semangat ! Kakak Adel butuh kita semua" sahut Zhalfa
Bunda tersenyum, walaupun suaminya telah pergi ia bersyukur anak-anaknya begitu peduli dengan dirinya. Bahkan Arda hampir tiap malam menghubungi dirinya.
"Terima kasih By udah mendidik anak-anak kita menjadi anak yang soleh dan soleha"
--
__ADS_1
Beberapa jam kemudian semuanya telah tiba di rumah konttakan milik Adel. Di teras rumah Adel sudah menunggu kedatangan keluarganya.
Melihat sang Bunda turun dengan cepat Adel berlari memeluk tubuh Bunda dengan erat. Ia rindu dengan Bunda karena terakhir bertemu saat habis pemakaman Baba.
"Bunda sehat kan ?" tanya Adel.
"Alhamdulillah Bunda sehat nak !"
Adel mencium punggung tangan sang Bunda, terus bergilir dengan yang lain. Setelah itu ia membawa keluarganya masuk kedalam rumah.
Rumah kontrakan minimalis yang di carikan Baba Zahran dulu. Begitu rapih dan sangat bersih. Awalnya Baba Zahran ingin membelinya langsung tapi Adel menolak katanya ia juga tidak akan menetap di kota ini.
Ini menjadi pertama kalinya untuk Raja mendatangi Adel. Ia tersenyum kearah adiknya itu. Semakin dewasa dan bisa menyikapi masalah yang ada.
"Emmm, Bang" ucap Adel mendekati Raja.
"Ada apa ? pastia ada sesuatu nih ?" tanya Raja heran.
"Iiih Abang tau aja"
Walaupun ragu Adel menatap wajah Raja dan Bunda secara bergantian "Ada yang ngajakin Adel nikah Bang !"
Raja langsung terdiam, senyum di wajahnya langsung hilang seketika. Ucapan Baba untuk yang terakhir kalinya kembali terngiang. "Kelak jika Adel dan Zhalfa menikah Baba mohon jadilah walinya !"
"Dia cuman ngutarain niatnya kok Bang, kalau Abang belum setuju tidak mengapa" Adel menunduk.
"Nanti kita bahas ini lagi ya Dek ! untuk sekarang fokus keacara wisuda kamu dulu"
Adel mengangguk setuju, ia juga salah membahas masalah ini. Ini waktu yang tidak tepat harusnya ia bicara besok atau lain kali.
"Iya Bang, maafin Adel"
✨✨✨✨✨✨
__ADS_1
Di sebuah gedung dimana terlaksankan nya acara wisuda untuk seluruh fakultas kedokteran. Adel sudah memakai baju wisuda serta toga yang melekat di kepalanya. Wajah Adel yang di hias natural begitu sangat cantik. Mereka semua mengenakan kebaya yang sama.
Wajah Adel sedikit sembab karena dari pertama di hias ia selalu menangis, apa lagi kalau bukan teringat dengan Baba, harusnya hari ini Baba ada untuk menjadi saksi dirinya maju kedepan untuk pemindahan tali toga.
"Adel pasti bisa !" Keyla memberikan semangat untuk adik iparnya itu.
"Makasih Mbak Key"
"Sama-sama, ya suda sana masuk ! nanti kita menyusul"
Adel mengangguk dan langsung meninggalkan semuanya, ia masuk duluan sementara pihak keluarga menyusul. Raja sudah memesan bangku khusus untuk keluarganya. Setelah siap Raja dan Daddi Kenan membawa keluarga nya memasuki gedung.
Mahasiswa yang di tugaskan paduan suara terus bernyanyi, mungkin sedang latihan. Sementara beberapa petugas mengatur tempat duduk untuk kedua orang tua siswa dan keluarganya yang lain..
Keluarga Adel duduk berdekatan, itu semua membuat Adel sedikit bahagia. Walaupun kurang anggota tapi setidaknya masih ada keluarga yang hadir. Bahkan saudara kembarnya juga hadir walaupun harus menempuh jarak yang sangat jauh.
"Baba lihatlah Adel udah wisuda untuk yang pertama, sesuai janji Adel kalau Adel akan jadi dokter yang hebat, Baba banggakan sama Adel ? tenang disana Ba, Adel akan bahagia disini" batin Adel yang dengan cepat menyeka air matanya, Sebelum ada orang yang kembali melihat air matanya.
Hingga akhirnya acara pun di mulai, diawali dengan sambutan dari para dosen. Setelah itu memanggil mahasiswa terbaik lulusan kedokteran tahun ini. Semua mahasiswa termasuk Adel begitu penasaran siapa yang meniadi lulusan terbaik.
"Untuk lulusan terbaik, fakultas kedokteran Universitas Gajah mada tahun 20** adalah ---" pembawa acara sengaja menjeda ucapannya.
"Zea Adellah Putri Arsalan. Putri dari Bapak Zahran dan Ibu Zenia. Silahkan untuk Siswi yang di sebut maju beserta orang tuanya ya !"
Mata Adel langsung berkaca-kaca, ia berdiri dan menjemput sang Bunda untuk maju kedepan. Adel berusaha tersenyum walaupun hatinya begitu perih karena tak ada kehadiran Baba di sini.
Adel menerima piagam dan juga beberapa hadiah lainnya, ia tetap mengembang senyum saat seorang dosen memasangkan slempang dengan tulisan Mahasiswi terbaik.
"Selamat ya Nak !" Bunda memeluk tubuh Adel dengan erat.
"Ini Adel sembahkan untuk Baba dan Bunda"
"Baba pasti bangga sama Adel, pasti nak !"
__ADS_1
Saat Adel melepaskan pelukannya dan kembali menatap kedepan, tiba-tiba matanya menatap bayangan putih yang sangat mirip dengan Baba. Adel tak berkedip matanya terus menatap kedepan apalagi saat Sosok Baba tersenyum kearahnya.
"Baba" gumam Adel "Baba hadir disini ? Baba tepati janji Baba ? terima kasih Ba, semua ini Adel sembahkan untuk Baba"