
Arda masih duduk dengan air mata yang terus menetes. Masih menunggu sang dokter keluar untuk memeriksa keadaan Raja.
Pikiran Arda begitu kalut sampai ia lupa kalau belum mengabari kedua orang tuanya mengenai kondisi Raja, jelas mereka harus tau semua ini.
Arda langsung mengambil ponselnya, ia bahkan terkejut saat melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari Baba. Dengan cepat Arda menelpon balik.
"Halo Ba" ucap Arda terisak, ia bahkan tak kuat menahan tangisan saat mendengar suara Baba.
"Astaghfirullah Kak, kalian kemana ? dari tadi Baba telepon kenapa gak dijawab" tanya Zahran di seberang sana.
"Maafkan Kakak Ba, hiks-hiks-hiks" tangisan Arda pecah.
"Kamu kenapa menangis ? mana Abang ?" tanya Zahran lagi.
"Abang Ba, Hiks-hiks, Abang Raja---"
"Tenang dulu Nak ! cerita sama Baba pelan-pelan, kenapa dengan Abang mu ?"
"Abang Raja kecelakaan Ba, Kakak Ar takut sekali" ucap Arda dengan suara bergetar.
***
Di Indonesia Zahran langsung terkejut mendengar kalau Raja kecelakaan, mungkin inilah jawaban kenapa perasaan istrinya selalu khawatir.
"Ada apa Ba ?" tanya Adel saat melihat Zahran diam terpaku setelah menelpon Arda.
"Ada apa sayang ? Raja sama Arda baik-baik saja kan ?" tanya Zenia.
"Tenang dulu, kamu jangan panik ya !" Ujar Zahran menenangkan sang istri.
"Raja kecelakaan" lanjut Zahran lagi.
"Apa ? kecelakaan kenapa By ? kenapa bisa Raja kecelakaan " tangisan Zenia begitu memilukan, dengan sigap Zahran memeluk sang istri.
Begitupun dengan Adel dan Zhalfa mereka berdua juga langsung menangis mendengar kalau Raja kecelakaan.
“Kita harus ke Turki sayang, Nia ingin melihat kondisi Raja” ujar Zenia terisak.
“Iya Sayang, Byby akan langsung mengurus penerbangan kita kesana” jawab Zahran dengan lembut.
__ADS_1
“Adel tolong kabarin Ayah Gibran !!” titah Zahran lagi.
“Baik Ba”
Dengan cepat Adel menghubungi Gibran karena walau bagaimana pun Gibran adalah Ayah kandung Raja. Gibran yang lebih berhak di Banding Zahran.
***********
Sementara itu....
Keyla sudah berada di negara Jepang. Entah kenapa hari ini perasaan nya sangat tidak enak. Rasanya ia ingin cepat pulang ke Indonesia.
“Apa Raja sudah pulang ke Indonesia ya ??” tanya Keyla pada diri sendiri.
Keyla masih mengira kalau Raja beneran pulang ke Indonesia. Tidak tau kalau saat ini di seberang sana Raja sedang berjuang antara hidup dan mati akibat kecelakaan yang menimpah nya.
“Kakak kenapa sih perasaan gak semangat banget di ajak liburan ke Jepang ??” tanya Zio sambil ikut duduk di samping Keyla.
“Emang Kakak gak minat jalan-jalan kesini, enakan di Indonesia tau gak. Disini gak ada teman” jawab Keyla
“Tinggal bilang sama Daddy kalau mau pulang. Jangan di bikin pusing Kak !!” ujar Zio lagi.
“Kakak lagi nungguin orang ya ?? Siapa dia Kak, apa laki-laki yang di jebak sama Kakak waktu itu ??” tanya Zio menebak.
“Apa sih, udah deh anak kecil jangan kepo sama urusan orang dewasa”
“Emang Kakak sedewasa apa sih perasaan masih manja sama Mommy dan Daddy”
Keyla tak lagi menangggapi ucapan Zio. Baginya akan menambah kekesalan saja.
*******
Di dalam ruangan bernuansa putih, dengan bau obatan yang menyengat ada seseorang yang sedang terbaring tak berdaya. Dia adalah Raja.
Akibat kecelakaang itu mengakibatkan kaki Raja patah, serta banyak luka luar maupun luka dalam. Beruntung sekarang Raja masih bisa di selamatkan tingga menunggu donor darah untuk Raja.
Dan pendonor adalah Ayah Kandung Raja yaitu Gibran yang saat ini sedang dalam perjalanan bersama Baba dan Bunda.
“Bang, maafin aku ya Bang, kalau saja tadi Abang tidak menolong ku semua ini tidak akan terjadi kepada Abang” ucap Arda dengan air mata menetes.
__ADS_1
Suara Adzan Maghrib berkumandang, Arda langsung melaksanakan sholat Maghrib di Mushola yang dekat dengan rumah sakit. Ia juga sudah berganti pakaian karena tadi sempat meminta di bawakan pakaian dari rumah.
Arda melaksanakan sholat Maghrib begitu khusuk, di setiap sujud nya Tak henti-henti air mata Arda menetes. Begitu sakit dan terluka perasaan nya sekarang saat melihat kondisi Abang yang begitu ia sayangi.
Walaupun Raja dan dirinya beda Ayah namun dari kecil Raja lah yang menjadi orang yang paling depan yang membelanya saat di marahin Bunda. Raja adalah sosok Kakak yang begitu penyayang.
“Ya Allah tak banyak yang hamba mu ini pinta sekarang, hanya satu yang hamba ingin kan tolong sembuhkan Abang Raja, bukalah matanya supaya bisa melihat dunia lagi. Bantu Abang supaya bisa melewati masa kritis nya. Hamba mohon Ya Allah” doa Arda begitu khusuk. Meminta kepada sang pencipta supaya Raja cepat sadar dan kembali melakukan aktivitas nya.
“Kabulkan doa hamba Ya Allah. Hiks---Hiks----Hiks” Arda kembali melakukan sujud nya. Begitu ingin ia supaya Raja cepat sadar.
Setelah melaksanakan sholat Maghrib Arda kembali keruangan Raja. Tetap sama seperti tadi saat dia hendak sholat Maghrib. Raja masih terpejam dengan hidung di pakaikan selang oksigen.
“Bang bangun !! Abang gak sholat Maghrib ?? Udah Adzan Bang ayo bangun, betah banget tidurnya” ucap Arda dengan air mata menetes.
“Ayo Bang Bangun !! Kalau Abang gak bangun siapa yang akan marahin Kakak lagi, siapa yang akan melindungi Kakak saat di marahin sama Bunda. Ayo bang bangun !! Itu Ayah Gibran sudah di jalan Bang”
Tangisan Arda kembali pecah. Ia duduk bersimpuh di lantai samping brankar tempat Raja terbaring. Dadanya terasa sesak saat melihat Raja tak kunjung membuka mata.
Kenapa semua ini harus terjadi pada Raja, kenapa bukan dirinya saja yang berada di posisi Raja.
“Ya Allah sembuh kan Abang” hanya kata itu yang selalu Arda ucapkan. Ia tak menginginkan yang lain selain kesembuhan Raja.
Kedua orang tua Arda dan juga Raja tiba di Turki sekitar jam 03 pagi, saat melihat sang Bunda Arda langsung memeluk tubuh Bunda dengan erat.
“Apa yang terjadi Nak ?? kenapa bisa Abang mu kecelakaan ??” tanya Zenia berusaha menahan tangisnya.
“Abang ke Tabrak mobil Bun, harusnya Arda yang ada di posisi Abang sekarang kalau bukan Abang yang menyelamatkan Arda”
“Astaghfirullahal'Adzim” gumam Zahran.
“Dimana ruangan Raja, Ayah mau lihat keadaan Raja dulu” tanya Gibran
“Mari Arda Anter Yah” ucap Arda.
Semuanya masuk kedalam ruangan Raja, disana tangis Zenia pecah melihat anak laki-lakinya terbaring tak berdaya di atas brankar. Serta selang infus yang menancap di tangan nya dan selang oksigen yang menjadi alat bantu Raja bernafas.
Sama dengan Zenia, Gibran pun tak kuasa menahan tangisnya. Zahran membiarkan Gibran dan Zenia menangis di samping Raja karena walau bagaimana pun Gibran adalah ayah Kandung Raja.
__ADS_1
“Raja ini Ayah Nak, ayo bangun Ayah udah di samping Raja sekarang”ucap Gibran dengan air mata berderai.