Cinta Dan Sang Pemilik Cinta

Cinta Dan Sang Pemilik Cinta
Mengingat Janji


__ADS_3

"Lalu bagaimana dengan janji kamu dulu Ja ? aku sengaja datang kesini untuk menagih janji" Ucap Tasya dengan air mata berderai.


Bukan hanya Keyla yang terkejut bahkan Raja juga ikut terkejut, karena ia sama sekali tak mengingat Janji yang telah ia ucapkan.


Wajah Raja menjadi tegang, apalagi melihat bendungan air mata sang istri yang sebentar lagi akan menetes dengan deras, begitupun dengan Tasya yanh sudah menangis. Raja menjadi bingung namun otak nya berpikir dengan keras tentang Janji yang Tasya Maksud.


Sayangnya, sekuat tenaga Raja berpikir tapi semua itu tak muncul di ingatannya, membuat Raja menghela nafas kasar lalu menatap wajah Tasya.


"Maaf Sya janji apa ya yang kamu maksud" tanya Raja dengan pelan, takut kalau Tasya akan tersinggung.


"Kamu beneran lupa Ja ? kamu beneran lupa ?" Tanya bertanya dengan berulang-ulang.


Raja menganggukan kepalanya, sementara tangannya menggenggam tangan sang istri dengan kuat, berharap Keyla akan terus berdiri di sampingnya.


"Kamu jahat Ja ! kamu memberiku harapan !"


Astaga...


Raja mengusap wajahnya dengan kasar, ia benar-benar tak ingat dengan Janji yang Tasya maksud.


Sementara Keyla hanya bisa menatap sang suami dan Tasya bergantian, perasaannya gunda gulana, takut bercampur kecewa terhadap suaminya.


Sekuat tenaga Keyla menahan air matanya supaya tak menetes, ia harus menunjukan jika dirinya kuat dan bukan wanita lemah.


"Abang" tiba-tiba suara berat memanggil, membuat Raja dan Keyla serempak melihat. Ada Gibran yang tengah berdiri tak jauh dari mereka.


"Ayah" Raja mengucap syukur dalam hati karena kedatangan sang Ayah akan membuat kesalah pahaman ini berakhir, ia juga harus menjelaskan semuanya pada Keyla.


"Katanya mau ajak Key pulang ? kok masih disini ?" Gibran kembali bertanya.


"Sebentar lagi kita pulang Yah" sahut Keyla kemudian.


Tatapan mata Gibran tertuju pada Tasya, ia mengernyitkan keningnya untuk mengingat siapa perempuan itu, maklum umurnya yang sudah tua Gibran sering lupa dengan nama seseorang.


"Saya Tasya Om yang dulu pernah mondok disini" akhirnya Tasya memperkenalkan dirinya langsung, karena ia tahu Gibran sedang mengingat siapa dirinya.


"Oh begitu, maaf saya lupa"


"Tidak apa-apa Om" Tasya meringis, mungkin karena sudah lama tak bertemu banyak orang yang melupakan dirinya, begitupun dengan Raja.


"Bang ayo pulang" ajak Keyla.


"Ya sudah Yuk !" Raja menuruti keinginan istrinya. "Sya kami pamit dulu hendak pulang, Assalamualaikum" pamit Raja pada Tasya.


Tapi justru Tasya tak menjawab ia hanya menatap kepergian Raja dan Keyla dengan tatapan nanar. Dadanya terasa sesak.

__ADS_1


Apa yang terjadi ?


Inikah sakitnya di beri harapan ?


Dan inikah sakit nya di lupakan.


"Nak Tasya sudah mau pulang" Gibran kembali bertanya memecahkan lamunan Tasya.


"Iya Om, Tasya mau pulang aja. Assalamualaikum" tanpa menunggu jawaban dari Gibran, Tasya sudah melangkahkan kakinya menuju mobil, padahal niat awlanya malam ini ia ingin menginap di pesantren walau hanya semalam saja. Namun saat kenyataan menyakitkan ada di hadapannya tentu ia tak akan sanggup.


"Aaaahhh" Tasya berteriak di dalam mobil, nafasnya memburu dengan cepat seiring isakan tangis nya.


"Ini salahku karena terlalu berharap"


"Harusnya aku tak pernah menganggap janji itu ada, aku terlalu bodoh !"


"Iya aku terlalu bodoh menanggapi semua ini"


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Sementara itu.


Raja dan Keyla sudah sampai di rumah, mereka di sambut oleh Mama Ica yaitu mama tiri Raja.


"Assalamualaikum Ma" seru Raja dan Keyla serempak kemudian mencium punggung tangan Ica bergantian.


"Iya Ma, kan barang kita udah di anterin tadi"


"Syukurlah kalau begitu, nanti kalian bisa nasehati Rara supaya jangan nikah dulu !" Ica tampak sendu saat membahas masalah Rara minta nikah.


"Insya Allah nanti Abang nasehatin Ma, jangan banyak pikiran dulu entar darah tinggi Mama kumat" Raja memandang wajah Mama tirinya. Karena setelah melahirkan Rara, Ica terkena darah tinggi dan sampai sekarang.


"Semoga saja Rara mau mendengarkan nasehat Abang dan Keyla, jujur Mama belum rela jika Rara menikah sekarang"


Keyla hanya mendengarkan pembicaraan Suami dan mertuanya, ia tak tahu harus menjawab apa karena pikiran nya sekarang juga sedang kacau. Pertemuan pertamanya dengan wanita bernama Tasya membuat pikiran Keyla kacau serta menumbuhkan banyak pertanyaan untuk suaminya.


Ica menyuruh Raja dan Keyla masuk kekamar untuk istirahat.


"Neng" panggil Raja dengan lembut.


"Hmmm" Keyla menjawab dengan tatapan dingin.


"Kenapa diam terus ? Neng marah sama Abang ?" Raja menggenggam tangan istrinya namun langsung Keyla lepaskan.


"Jelaskan dulu semuanya Bang ? siapa Tasya ? dan janji apa yang dia maksud ?" tanya Keyla menggebu-gebu.

__ADS_1


"Tenang dulu Neng ! jangan pakai emosi, iya akan Abang jelasin siapa Tasya" Jawab Raja yang kembali ingin menggenggam tangan istrinya tapi lagi-lagi Keyla lepaskan.


Raja menghela nafas panjang, ia tau perasaan istrinya saat ini, mungkin pikiran negatif sedang melanda Keyla.


"Tasya itu anaknya teman Baba, dia mondok di pesantren sejak SD, Abang emang dekat sama dia sejak kecil tapi kalau Janji yang ia maksud jujur Abang tak ingat Neng !" Jelas Raja kemudian.


"Bohong" Hardik Keyla.


"Astahgfirullah Neng, Abang gak bohong. Abang beneran lupa sama janji itu"


Mata Keyla menatap mata suaminya, mencari kebohongan namun sialnya mata Raja tak ada kebohongan sama sekali.


"Aku cuman takut Bang" Keyla terisak, air matanya yang sedari tadi ia tahan langsung menetes dengan deras..


"Aku takut kalau ternyata Abang berjanji untuk ----" Bahkan Keyla tak bisa melanjutkan ucapannya saking ia tak ingin apa yang ia pikirkan tak menjadi kenyataan.


"Key sangat mencintai Abang, Key takut kehilagan Abang" Keyla masih terus terisak, pundaknya naik turun mengiringi tangisnya.


Sementara Raja mendengarkan semua unek-unek yang di ucapkan istrinya, ia berharap setelah ini Keyla tenang dan tak memikirkan semua ini lagi.


Kedua tangan Raja melingkar di perut istrinya "Abang juga sayang banget sama Neng ! Sayang sekali ! Abang gak mungkin ninggalin Neng" bisik Raja di telinga sang istri.


Jari telunjuk Raja menyusut air mata istrinya, dadanya terasa sesak saat melihat cairan bening itu lolos dengan deras membasahi pipinya. Kemudian Raja mencopot jarum pentul yang menempel di hijab istrinya.


"Abang lepas ya !" Raja kembali berbisik.


"Iya"


Perlahan Raja membuka hijab istrinya, ikat rambut Keyla ia lepas juga sehingga rambut panjang Keyla tergerai sempurna.


"Udah ya jangan nangis lagi ! Abang gak kuat lihatnya"


"Tapi Abang beneran kan gak pernah pacaran sama Tasya itu ?"


"Astaghfirullah, Kan Neng tau kalau Abang gak mau pacaran"


Keyla terdiam ia tahu suaminya tak pernah pacaran, bahkan Bunda Zenia pun mengatakan hal serupa.


-...


**LIKE DAN KOMEN.


ADD FAVORIT


RATE BINTANG LIMA

__ADS_1


KASIH HADIA ( KOPI/BUNGA)


VOTENYA JANGAN LUPA**.


__ADS_2