
"Dan gue yakin dia adalah jodoh gue"
Ucapan Jihan tentu saja membuat Keyla sadar bahwa laki-laki yang tadi di ceritakan oleh Jihan adalah Ibra adik iparnya sendiri. Keya menggelengkan kepalanya sambil mengu lum senyum karena merasa lucu dengan kelakuan Jihan.
"Jihan, Jjhan" gumam Keyla.
Jihan mendekati Ibra, namun Ibra mala menjaduh seakan risih dengan kelakuan Jihan.
"Hai Mas Ibra. Ketemu lagi kita, padahal baru tadi siang kita ketemu" seloroh Jihan sambil memasang wajah seimut mungkin berharap Ibra akan tertarik.
"Emang kenapa ?" tanya Ibra heran.
"Itu tandanya kita jodoh tau gak Mas"
"Mana ada, kita ketemu itu karena gak sengaja, kok bisa di definiasikan jodoh"
"Loh, mas Ibra gak percaya, jodoh itu adalah sebuah tak kesengajaan"
"Ehem-ehem"
Obrolan keduanya langsung terhenti karena suara Raja. Jihan tersenyum kikuk tapi tetap berdiri disamping Ibra, tak peduli walau laki-laki itu terus menjauh dari sisinya.
"Ibra ini kenalin nama Jihan dia teman sekolahnya Abang" ucap Raja memperkenalkan Jihan pada Ibra.
"Dan Jihan, kenalin ini Ibra dia adik ku" lanjut Raja lagi.
"Wah berarti kita akan jadi iparan Key" balas Jihan bersorak saat mendengar kalau Ibra adalah adik Raja.
"Udah deh Ji, lanjut lagi makannya. Mereka juga kek nya mau makan" sahut Keyla kemudian.
"Abang sudah makan sayang, kalian aja yang lanjutin makannya, Abang sama Ibra mau ke atas dulu" kata Raja dengan lembut.
"Ya sudah nanti aku bikinin minum"
Raja tersenyum dan mengangguk, lalu mengajak Ibra keatas untuk keruang kerjanya. Ibra akan menempati kamar di lantai satu.
"Dia beneran adik ipar Lo Key ?" tanya Jihan setelah Raja dan Ibra pergi.
"Iya, Abinya Ibra itu adiknya Baba Zahran" jelas Keyla.
"Tapi kok pas nikahan kamu aku gak ketemu ya sama Ibra"
"Gak tau, padahal Ibra hadir kok tapi memang dia cuman bentar habis resepsi dia langsung balik lagi soalnya masih ada kerjaan"
"Dia umurnya berapa Key ? kok masih muda banget kelihatannya ?"
"Dia seumuran sama Zhalfa, tua Ibra sebulan di banding Zhalfa. Sama Arda dan Adel aja masih jauh"
Mendengar itu Jihan langsung melongo di buatnya, karena kalau Ibra seumuran dengan Zhalfa itu berarti ia akan mencintai brondong. Tapi kalau brondongnya seperti Ibra mah Jihan enggak papa. Lagian wajahnya masih sangat imut hampir sama dengan Ibra..
__ADS_1
"Dia kesini mau ngapain Key ?" tanya Jihan lagi.
"Kuliah sambil kerja, walaupun dia belum lulus kuliah Ibra udah berhasil bangun restoran di Kota D. Kesini karena di minta Abang buat bantuin di perusahaan atau di restoran, Ibra itu pinter banget Ji"
"Benar-benar calon suami idaman Key" Jihan geleng-geleng kepala sambil menopang dagunya menggunakan kedua tangannya.
"Cari yang lain aja Ji, umur kalian jauh amat terpautnya. 4 tabunan" ucap Keyla
"Enggak ah, aku udah jatuh cinta pada pandangan pertama sama Ibra"
...✨✨✨✨✨...
"Dia sering kesini Bang ?" tanya Ibra pada Raja setelah keduanya memasuki ruang kerja yang begitu luas.
"Tidak, udah lama Jihan gak kesini"
Ibra benar-benar kesal dengan kehadiran Jihan apalagi katanya tadi mereka jodoh ? yang benar saja ? bahkan Ibra belum kepikiran untuk menikah sebelum berhasil meraih S2 nya.
"Jihan memang suka bercanda, tapi anaknya asik kok, waktu SMA dia dekat sama Abang" jelas Raja karena melihat kekesalan di wajah Ibra.
"Apa dia suka ngomong cepla-ceplos gitu Bang ?"
Raja menjawab dengan anggukan, lalu duduk di kursi dimana beehadapan dengan Ibra. Raja membuka map berwarna merah lalu memberikannya kepada Ibra.
"Restoran ini hampir terbengkalai, Abang tidak ingin restoran ini tutup walau hanya cabang, Abang ingin seluruh peninggalan Baba terus terjaga" jelas Raja.
Entah bagaimana dulu Baba Zahran mengurus semuanya, hingga omsetnya terus stabil. Kecerdasan Raja tak sampai pada kecerdasan Baba Zahran. Karena memang antara dirinya dan Baba Zahran hanya anak tiri. Tak ada ikatan darah sama sekali.
"Untuk kuliah kamu Abang akan daftarin di Universitas Indonesia, bagaimana ?"
"Nanti saja Bang kalau udah S2, untuk S1 biar lanjut di tempat biasa saja biar gak ngulang lagian insya Allah Ibra akan segera wisuda"
"Waw hebat, Zhalfa saja masih 2 tahunan lagi wisuda, kamu hampir barengan sama Arda dan Adel"
"Iya bang Alhamdulillah"
...✨✨✨✨✨...
Karena Ibra tak juga turun, membuat Jihan kesal karena ia akan segera pulang. Mama Fina dari tadi terus menghubunginya agar Jihan segera pulang.
"Panggilin dong Key, aku kan mau pamit" pinta Jihan. Matanya terus menatap lantai atas berharap Ibra akan segera muncul lalu tersenyum kearah nya.
Atau Ibra melambaikan tangan dan mengatakan "Kita beneran jodoh"
"Woy" Keyla menyenggol bahu Jihan
"Mikir apa lagi ? pasti tentang Ibra" lanjut Keyla lagi.
"Apa sih Key ! ganggu aja"
__ADS_1
Ponsel milik Jihan kembali berdering. Tertera nama Mama di layar segi empat itu. Membuat Jihan mendesah kesal karena Mamanya tak sabaran. Tak tau apa kalau anaknya sedang mengejar calon mantu.
"Iya Ma aku pulang" ucap Jihan setelah menjawab panggilan dari Mama.
Suara cempreng Mama membuat gendang telinga Jihan hampir putus. Begitulah Mama Fina wanita fosesif jika Jihan belum pulang jika sudah sore. Namun jawaban Jihan selalu.
"*Iya Ma"
"Iya"
"Baik Ma"
"He.em"
"Iya*"
Selalu itu jawaban Jihan.
Setelah panggilan terputus Keyla langsung menyuruh Jihan pulang, karena tak enak juga dengan Mama Fina, nanti di kira Keyla yang menahan Jihan disini padahal memang dasar anaknya saja yang gak mau pulang.
Tapi sebelum melangkah kearah pintu terdengar suara langka kaki menuruni anak tangga, membuat langka Jihan terhenti lalu menoleh kebelakang. Ada Raja dan Ibra yang berjalan mendekat.
"Sudah mau pulang Ji ?" tanya Raja
"Iya Ja, udah di panggil sama Nyonya biasa kangen dia sama aku"
Ibra memandang Jihan tanpa ekspresi, tak membalas sedikitpun senyuman manis Jihan.
"Mas Ibra" Jihan kembali menggoda dan mendekati Ibra
"Panggil Ibra saja, jangan Mas lagian umur tuaan kamu kan, harusnya aku panggil Mbak Jihan" balas Ibra.
"Eh gak bisa gitu dong, dosa tau kalau manggil calon suami seperti itu"
"Jihan pulang deh ! entar Mama Fina beneran marah" sahut Keyla mengingatkan.
"Diem sih Key, aku kan lagi mencoba" balas Jihan sambil melirik Keyla sinis.
"Mas Ibra anterin aku pulang ! takut di jalan sendiri, udah mau maghrib lagi" Jihan kembali berucap dengan nada manja.
"Mau di anterin pulang ?" tanya Ibra seolah benar-benar akan melakukan nya.
"Iya" jawab Jihan senang.
"Rukun islam ada berapa ? kalau bisa aku anter pulang"
"6." jawab Jihan cepat.
"Ya sudah pulang sendiri, dan coba lagi !" setelah mengatakan itu Ibra langsung pergi menuju kamarnya.
__ADS_1