Cinta Dan Sang Pemilik Cinta

Cinta Dan Sang Pemilik Cinta
Harapan Berujung Menyakitkan


__ADS_3

Malam harinya Raja menemui Rara, ia ingin mendengar alasan kenapa adik kecilnya itu memilih menikah muda, padahal kuliah saja belum lulus.


"Aku tinggal sebentar ya Neng !" ucap Raja pada istrinya.


"Iya Bang, nanti Key menyusul" Keyla membalas, saat ini ia masih di kamar membiarkan suaminya berbicara pada Rara berdua.


Raja meninggalkan kamar, lalu menuju kamar Rara, di depan sana sudah ada Mama Ica yang menatap Raja dengan nanar. Terlihat sekali kesedihan di matanya.


"Semoga berhasil" Ica menepuk bahu Raja sebentar, lalu beranjak pergi dengan langkah teramt pelan.


"Aku gak bisa janji Ma, tapi aku akan berusaha" batin Raja.


Didepan pintu dengan warna yang mengkilap, Raja memutar gagang pintu, lalu mendorongnya dengan pelan setelah sebelumnya ia meminta izin pada Rara kalau hendak masuk dan Rara mengizinkan.


Diatas tempat tidur Rara sedang duduk bersila sambil menatap kearahnya.


"Pasti Abang di suruh Mama buat kesini" Seloroh Rara seakan tau apa tujuan Raja menemuinya di kamar.


Raja justru terkekeh "Sok tau kamu" balas Raja kemudian duduk di sebuah kursi dan menariknya untuk lebih dekat dengan sang adik.


"Emang Rara tau kok" cibir Rara sambil memutar matanya. Ia tentu kenapa Abangnya ingin menemui dirinya, tentu untuk membahas masalah pernikahannya.


"Dek" Raja menatap wajah Rara dengan lekat.


"Beneran mau nikah ?" tanya Raja lagi sebelum Rara menjawab panggilan nya.


Rara menghela nafas panjang sebelum berucap "Kan udah Adek jelasin Bang, adek ingin nikah"


"Kenapa secepat ini ? kan kuliah belum lulus"


"Kan bisa Bang tetap kuliah walaupun udah nikah, lagian mau jabatan setinggi apapun ujung-ujungnya akan tetap jadi ibu rumah tangga kan, ngapain coba capek-capek mikir terus rela ngeluarin uang banyak kalau ujung-ujungnya seperti itu" jelas Rara menggebu-gebu.


Dan jawaban Rara berhasil membuat Raja ternganga, ia tak percaya kalau Rara akan menjawab dan berpikir tentang semua itu.


"Tapi umur kamu masih terlalu dini untuk menikah dek ! kasian Mama yang sangat berharap kamu jadi sarjana"


Sekarang mata nyalang itu menatap Raja dengan tatapan tak bisa di artikan. Raja bahkan memalingkan wajahnya karena tatapan sang adik.

__ADS_1


"Umur seseorang tak bisa menentukan kedewasaan Bang, ada kok yang umurnya tua tapi ternyata pikirannya masih kek anak-anak dan ada juga sebaliknya" Rara kembali berucap.


Sekarang giliran Raja yang menghela nafas panjang, ternyata keinginan Rara untuk menikah sudah sangat besar.


"Siapa laki-laki itu ? bolehkan Abang bertemu dengan nya ?" tanya Raja dengan pelan.


"Namanya Iqbal, anaknya soleh dan rajin sholat, walaupun bukan lulusan pesantren seperti Rara, kami bertemu tak sengaja di sebuah toko buku, dan disana Rara berkenalan, Rara nyaman berada di dekatnya" jawab Rara dengan kepala menunduk, sembari membayangkan sosok Iqbal yang sudah mencuri separuh hatinya selama ini.


"Kerja dimana ?" Raja kembali memberi pertanyaan.


"Dia hanya kerja di indomaret Bang, tapi dia janji akan bertanggung jawab dengan kehidupan Rara nantinya" Kali ini Rara memberanikan menatap wajah Raja, lalu tak lama kemudian cairan bening mulai membasahi pipi Rara. "Tolong restuin Rara Bang, cuman Abang harapan terakhirku, setelah Mama dan Ayah sudah tak mau bicara padaku, aku ingin menyempurnakan ibadahku Bang"


Bahu Rara naik turun seiring dengan isakan tangisnya, membuat Raja menjadi tak tega.


"Abang cuman mendukung apa yang terbaik untuk kamu dek, Mama dan Ayah melakukan itu karena mereka tak ingin kamu salah jalan, mereka sayang kamu sama seperti Abang yang sayang sekali sama Rara"


"Hiks-hiks-hiks, Apa salah nya kalau Rara mau nikah ? apa karena calon suami Rara bukan lulusan sarjana ? atau karena suami Rara bukan orang berada seperti Abang dan Kak Arda yang mempunyai perusahaan. Atau seperti Mas Ibra --" Rara tak melanjutkan ucapannya lagi, bahu nya terus naik turun, dadanya terasa sesak.


"Bukan begitu dek, Kami semua tak mempermasalahkan yang namanya harta, kalau memang Rara yakin dengan pilihan Rara, Abang akan berusaha menjelaskan sama Mama dan Ayah, semoga mereka mau mengerti"


Sekarang senyum tipis terukir di bibir tipis Rara, ia sedikit legah karena akhirnya ada seseorang yang akan membantu pernikahannya.


"Baik Bang besok aku ajak Mas Iqbal menemui Abang"


"Ya sudah kalau begitu Abang balik kekamar, kamu istirahat !"


Rara menganggukan kepalanya, matanya menatap langkah kaki Raja yang meninggalkan kamarnya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Mentari katulistiwa tersenyum merekah, air embun masih bersemayam di atas daun-daun segar nan hijau, awan yang tak kalah biru berkumpul di atas sana,Tasya masih berdiam diri setelah membuka jendela lebar-lebar menyambut keindahan alam-Nya yang menggoda, membuat hati tenang nan tentram, menyejukan pandangan dan menyegarkan badan.


Hari ini cerah, namun tak secerah hatinya saat ini. rasa sakit yang masih membekas di hati setelah pertemuan singkat nya dengan laki-laki yang selalu ia sebut dalam doa telah melupakan nya tanpa alasan.


Menyedihkan !!!


Itu saja yang ada di pikirannyasaat ini. pikirannya jadi kacau karena peristiwa yang menyakitkan itu.

__ADS_1


Membuat tidak semangat saja.!!


Tasya tersadar dari lamunan setelah ia mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Lalu beranjak kearah pintu untuk membukanya.


"Ibu" panggil Tasya pada wanita paruh baya yang selama ini berjuang membesarkan dirinya.


"Hari ini mau ada acara apa Nak ?" tanya Sang Ibu


Tasya menggeleng "Tidak ada Bu, Tasya lagi males keluar" lanjutnya dengan suara lemah.


"Kenapa ?" tanya Ibu sambil menatap Tasya heran.


"Tidak apa-apa Bu, Tasya lagi males aja"


"Oh ya" tiba-tiba Ibu teringat sesuatu "Bagaimana acara kemaren ?"


Pertanyaan Ibu justru membuat Tasya kembali ingat dengan Raja yang memperkenalkan seorang wanita padanya sebagai istri.


"Ibu kenapa gak bilang kalau Raja sudah menikah"


Ibu terkejut lalu menatap wajah anaknya dengan heran "Memangnya kenapa ? kalian punya hubungan ?"


"Tidak" Tasya berbalik dan kembali masuk kekamar di susul sang ibu.


"Hanya saja ia laki-laki yang selalu Tasya sebut dalam setiap doa Tasya, laki-laki yang Tasya impikan menjadi suami Tasya kelak, namun nyatanya harapan itu berujung menyakitkan, karena kemaren Raja memperkenalkan istrinya pada Tasya"


Sang Ibu benar-benar tak tahu jika selama ini putrinya menaruh rasa pada Raja, pantas jika ia bertanya pada Tasya tentang siapa pemilik hatinya, Tasya selalu menjawab "Ada Bu, tapi kami masih berjauhan", Dan masalah pernikahan Raja tak ia kasih tau pada Tasya karena ia pikir tak ada gunanya.


"Ibu tidak tau Sya kalau kamu ada rasa sama Raja, ibu kira kalian hanya sebatas sahabat gak lebih"


-


-


.**LIKE DAN KOMEN.


ADD FAVORIT

__ADS_1


RATE BINTANG LIMA


KASIH HADIAH (KOPI/BUNGA**)


__ADS_2