Cinta Dan Sang Pemilik Cinta

Cinta Dan Sang Pemilik Cinta
Menemui Calon Rara


__ADS_3

Setelah sarapan bersama, Raja pamit kepada kedua orang tuanya dengan alasan ingin jalan-jalan dengan mengajak Keyla dan Rara. Ia sengaja menyembunyikan kalau akan menemui laki-laki yang membuat sang adik jatuh Cinta.


"Hati-hati ya" ucap Mama Ica tersenyum dengan ramah.


"Iya Ma, kami jalan dulu" balas Keyla kemudian.


Mereka bergilir untuk mencium punggung tangan kedua orang tuanya, setelah itu mereka semua langsung pergi untuk menemui Iqbal.


Sebelumnya Rara sudah mengabari Iqbal, beruntung hari ini Iqbal kerja malam hari jadi nya mereka bisa ketemuan.


Di sebuah restoran yang cukup ramai, Raja, Keyla dan Rara masuk, lalu mencari tempat duduk di dekat jendela. Mereka masih menunggu karena SMS dari Iqbal mengatakan kalau dirinya masih di perjalanan.


"Sabar ya Bang" ucap Rara tak enak hati karena sudah membiarkan Raja dan Keyla menunggu.


Keyla menatap Rara dengan senyuman "Iya dek, tidak mengapa"


"Mau pesan makanan dulu gak ?" Tanya Raja kemudian.


"Boleh" balas Keyla.


Raja memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan, setelah memesan mereka kembali bertiga.


Hingga dering ponsel milik Rara membuat ketiganya menatap benda segi empat itu.


"Dari Mas Iqbal Bang" ucap Rara sambil memperlihatkan layar ponselnya.


"Angkat dek"


Rara menggeser menu hijau dan panggilan tersambung pada Iqbal.


"Halo Assalamualaikum Mas Iqbal" ucap Rara sambil menoleh kebelakang untuk mencari dimana sosok Iqbal berada.


"Waalaikumsalam, Mas sudah sampai dek, kalian dimana ? biar Mas samperin"


"Kami di meja nomor 17 Mas, dekat jendela"


"Baiklah Mas kesana"


Tuuut.


Panggilan terputus, Rara kembali meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatap wajah Raja yang juga sedang menatapnya "Dia yang akan samperin kita disini Bang" jelas Rara sebelum Raja bertanya.


"Baik" Balas Raja, ini kali pertama ia akan bertemu dengan laki-laki yang akan melamar adiknya, jujur Raja sedikit tegang karena ia adalah kakak tertua. Tentu di hadapan laki-laki itu ia harus bersikap tegas.

__ADS_1


Tak berapa lama seorang pria memakai kaos putih dengan di lapisi jaket berwarna navy serta celana jens yang sudah memudar.


"Assalamualaikum" ucap pria itu sopan, ia membetulkan kaca matanya.


"Waalaikumsalam" balas Raja, Keyla dan Rara serempak.


"Saya Iqbal Mas" Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Raja.


"Silahkan duduk" Pinta Raja sambil menunjuk kursi sebelahnya sementara Keyla berpindah tempat duduk di samping Rara.


Iqbal menurut, ia menelan salivanya berkali-kali demi mendapati kalau ternyata keluarga Rara adalah anak konglomerat semua, berbeda sekali dengan dirinya yang hanya pegawai indo**** biasa, bahkan sebentar lagi masa kontraknya habis setelah itu Iqbal harus kembali mendaftar.


"Ehemm" Raja berdehem untuk memecahkan keheningan serta kegugupan Iqbal.


"Silahkan pesan makan dulu !" ucap Raja pada Iqbal "obrolan kita akan panjang kali ini" Raja menggeser buku menu kehadapan Iqbal.


"Ba-ik Mas" jawab Iqbal gugup. Tangannya yang bergetar meraih buku menu di atas meja, ia membaca satu persatu daftar menu dan harga tentunya.


"Mahal sekali" .gumam Iqbal, karena sebagian dari harga makanan disana sebanding dengan biaya hidupnya selama seminggu.


Mata Iqbal terus mengamati dan membaca setiap menu yang tertulis, hingga pilihannya jatuh pada es teh, ya walaupun harganya berbeda saat ia memesan pada warung tenda pinggir jalan, tapi setidaknya harga minuman itu tak akan menguras dompetnya dengan banyak.


"Es teh saja Mas" ucap Iqbal


"Tidak usah Mas, saya sudah makan di rumah" jawab Iqbal mencari alasan.


"Oh begitu" Raja manggut-manggut tanda mengerti.


Sementara Rara terus memperhatikan Abangnya dan laki-laki yang ia cintai, ia tahu kalau Iqbal berusaha irit.


Tidak berapa lama seorang pelayan datang dan menghidangkan makanan di atas meja, mata Iqbal membulat demi mendapati banyaknya makanan.


"Silahkan makan dulu !" pinta Raja


"Tapi saya cuman pesan minum Mas" balas Iqbal.


"Kalau kamu gak makan, maka semua ini akan mubadzir saya paling tidak suka yang namanya buang makanan, jadi makanlah !"


Keyla sudah menahan tawanya melihat sifat dingin sang suami, karena baru kali ini ia melihat Raja berbicara pada ekspresi, mungkin karena Raja ingin melihat seberapa seriusnya laki-laki yang duduk di samping suaminya kepada Rara.


Iqbal mulai menyuapkan makanan kedalam mulutnya, mengunyah dengan pelan seolah benar-benar menikmati makanan tersebut padahal di dalam hatinya ia merasa makanan itu seperti tak bisa lolos di kerongkongannya.


Iqbal melirik sekitar dan mendapati semuanya menikmati makanan mereka.

__ADS_1


"Setelah makan, tolong tinggalkan Abang berdua sama Iqbal" ucap Raja pada Keyla dan Rara.


"Baik Bang" jawab keduanya serempak.


Hingga akhirnya mereka selesai makan, Raja meminta seorang pelayan lagi untuk membereskan meja dan membayar makanan nya, Iqbal hendak mengeluarkan uangnya namun langsung di tahan oleh Raja.


"Biar saya saja" ucap Raja pada Iqbal.


Setelah membayar makanan, Keyla dan Rara pamit. Sejenak mata Rara memandang wajah Iqbal berisyarat minta pamit, dan semua itu terus dipantau oleh Raja.


"Ehem-ehem" ucap Raja membuat Rara langsung mengalihkan tatapannnya.


"Kami pamit Bang" Keyla mencium punggung tangan suaminya.


"Hati-hati Neng, kalau udah selesai Abang kabarin" jawab Raja dengan lembut.


Keyla mengangguk setelah itu mengaja Rara unuk pergi.


Sekarang di sana tinggalah Raja dan Iqbal, yang saling pandang karena saat ini Raja berpindah tempat duduk di hadapan Iqbal.


Melihat tatapan Raja membuat Iqbal gugup setengah mati, jantungnya berdegup kencang dan telapak tangannya sudah berkeringat dingin.


"Apa yang kamu lihat dari adek saya ?" tanya Raja.


"Tidak ada Mas, saya mencintai Rara dengan tulus tanpa melihat siapa dirinya" jawab Iqbal dengan tulus, namun tentu saja jawaban Iqbal tak membuat Raja puas, bisa sajakan laki-laki itu berbohong.


"Semalam Rara sudah ceritakan tentang kamu, tentang pekerjaan kamu, apa benar kamu sanggup membiayai adek saya dengan kerjaan kamu sekarang"


"Insya Allah Mas, saya akan berusaha dan saya tetap ingin Rara melanjutkan kuliah nya sampai selesai, saya akan berusaha"


Raja memandang wajah Iqbal, terdapat keseriusan di sana, membuat Raja sedikit yakin bahwa laki-laki itu benar-benar mencintai adeknya


"Lalu jika kalian sudah menikah kemana kamu akan membawa Rara ?" Raja kembali bertanya.


"Itu saya serahkan sama Rara mas, jika dia mau ikut saya akan saya bawa ke kontrakan sederhana saya, tapi jika ia menolak dan tetap ingin tinggal di rumah orang tuanya jadi saya yang akan ikut dia"


Raja menganggukan kepalanya, ia kembali menatap laki-laki itu dari atas sampai bawah. Penampilan Iqbal sangat sederhana berbeda dengan apa yang Raja kenakan.


"Kalau saya tak merestui hubungan mu dan Rara bagaimana ?" tanya Raja membuat Iqbal memberanikan diri menatap wajahnya.


"Saya akan terima dengan ikhlas"


Raja tersenyum "itu berarti kamu memang tak benar-benar mencintai adek saya, karena kalau kamu mencintai Rara kamu akan berjuang"

__ADS_1


__ADS_2