
Setelah mengatakan itu Raja langsung pergi meninggalkan Kaisar, ia begitu marah karena dalang di balik penculikan nyq Zhalfa adalah Kaisar sendiri.
Seandainya Kaisar tak menyuruh anak buahnya mengikuti Zhalfa selama ini, mungkin saja Zhalfa tak akan merasakan seperti ini.
"Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah" gumam Kaisar saat amarahnya begitu memuncak.
Siapa yang tidak akan marah melihat kondisi adik kesayanganya seperti itu, begitupun dengan Raja. Namun semua ini tidak di ketahui oleh Arda dan Adel karena takut mereka akan sangat khawatir. Awalnya Raja sudah ingin menghubungi Arda tapi Bunda melarang.
Raja langsung memasuki mobilnya kemudian menjalankan dengan kecepatan sedang.
Sementara itu. Kaisar hanya diam terpaku dengan kepala menunduk. Ucapan Raja begitu menusuk relung hatinya padahal Kaisar sudah menyiapkan hati supaya tak marah apapun keputusan Raja. Namun nyatanya ia tetap saja marah dan kecewa.
"Terserah apapun keputusan Raja yang penting aku akan tetap mencintai Zhalfa".
ππππππ
"Makan dulu yuk !" ajak Bunda pada Zhalfa.
Zhalfa menggeleng ***** makannya hilang semenjak kejadian itu, bahkan sekarang Zhalfa lebih banyak diam padahal dulu Zhalfa adalah orang yang cerewet.
"Kalau adek gak mau makan, Bunda sedih".
"Tapi Zhalfa belum lapar Bun, sebentar lagi ya !"
Bunda mengelus rambut Zhalfa, begitu halus dan lembut "Bunda tau apa yang adek rasain, tapi Bunda mohon jangan menyiksa diri lagi. Sudah cukup semuanya Nak. Bunda ingin Adek bangkit dan ceria lagi"
Air mata Zhalfa kembali menetes, sebenarnya ia sudah berusaha namun tetap saja rasanya sangat sulit. Apalagi kalau ia hendak tidur pada malam hari, bayangan itu terus melintas di pikirannya.
"Bunda tau semuanya tidak akan bisa Adek lupain, tapi Adek harus tetap berusaha untuk bangkit, masa depan Adek masih panjang sayang. Katanya mau jadi penulis terkenal"
Zhalfa menggeleng, entahlah cita-citanya sudah tak ada lagi di pikirannya. Yang ada di pikirannya saat ini hanya kekecewaan dan kemarahan.
Ceklek.
Pintu kamar Zhalfa terbuka, di susul dengan masuknya Keyla sambil membawa ponsel.
"Bun, ini Adel Video Call, katanya nelpon ke Ponsel Bunda gak di jawab" ujar Keyla.
"Iya, Bunda lupa kalau Ponsel Bunda ada di kamar"
"Ya sudah pakai Ponsel Key aja Bun"
__ADS_1
Keyla memberikan ponselnya pada Bunda, sementara dirinya berjalan dan duduk di samping Zhalfa. Ia tersenyum kearah adik iparnya itu.
"Mbak Key suapin ya !" ucap Keyla dengan lembut.
"Kalau Zhalfa gak mau makan entar Abang marah" lanjut Keyla lagi.
Zhalfa tak menjawab karena ia fokus mendengarkan Obrolan Bunda dan Adel. Sesekali Bunda mengarahkan ponsel kearah dirinya dan Zhalfa hanya melambaikan tangan untuk menyapa sang Kakak.
Keyla meniupi makanan yang sudah ia sendokan, kemudian memberikan nya kepada Zhalfa. Awalnya Zhalfa mau menolak tapi melihat wajah Keyla entah kenapa ia tak tega.
"Pintar, gitu dong ! Zhalfa harus banyak makan supaya cepat sembuh"
"Iya Mbak" Mata Zhalfa melirik perut Zhalfa yang sudah membuncit. Ia mengelus perut itu sehingga ia bisa merasakan tendangan si kecil.
"Masya Allah mbak, dia gerak" ucap Zhalfa antusias.
"Iya dia senang di elus sama Auntynya !"
"Cewek apa cowok Mbak ?"
"Belum tau, dia kalau di USG selalu nutupin Jenis kelaminya, Mbak aja bingung"
"Paling dia mau kasih kejutan Mbak, jadi sengaja dia tutupin"
πππππππ
Hari berlalu begitu cepat, tak terasa kandungan Keyla sudah memasuki 7 bulan. Dan karena malam ini malam Jumat Bunda mengadakan pengajian di rumah untuk mendoakan semoga persalinan menantunya nanti bisa lancar dan bayi serta ibunya selamat dan sehat.
Dari siang Rumah Bunda sudah ramai, bahkan kedua orang tua Keyla sudah berada disana. Mereka semua sangat antusias menanti kehadiran cucu pertama di keluarga itu.
Momy dan Bunda sudah masak dengan banyak, mereka sengaja tak memesan makanan atau mengambil makanan di restoran saja karena kedua orang tua itu memilih untuk memasak sendiri.
Setelah sore hari, tikar sudah di gelar. Ada Ibra, Zio dan Alwi yang membantu. Dan seperti biasa dimana ada Ibra pasti ada Jihan. Padahal Keyla sudah mengatakan untuk tidak mendekati Ibra lagi tapi Jihan tak menghiraukan.
"Minggir !" ucap Ibra.
"Kenapa Mas, kok di suruh minggir ?"
"Akukan mau gelar tikarnya, gak lihat apa ?"
Jihan menyengir, lantas bergeser sedikit tapi tak terlalu jauh. Wangi tubuh Ibra begitu menyengat hingga membuat Jihan merasakan ketenangan.
__ADS_1
"Ji, sini bantuin di dapur aja, ngapain sih berdiri disini terus" tanya Keyla mengagetkan Jihan.
"Ah kamu Key, ganggu aja"
"Gue nyesel ya ngundang Lu kalau cuman mau deketin Ibra saja, Lu gue undang buat doain kandungan Gue bukan buat dekatin Ibra terus" omel Keyla
"Ya sekali-kali Key, masa iya gak boleh"
"Kamu mah kalau di bilangin pasti begitu, banyak alasan"
"Kan kamu tau Key kalau aku cinta sama Ibra"
"Mending kamu lupain Ibra Ji, sebelum kamu sakit hati. Maaf ya bukan aku gak dukung kamu sama Ibra tapi Ibra itu sudah di jodohin sama Abinya"
Keyla terpaksa mengatakan semua itu, ia hanya tidak ingin Jihan terus merendahkan dirinya untuk mendapatkan balasan cinta dari Ibra, sudah cukup Jihan berjuang tapi semuanya nihil. Ibra tak pernah melirik Jihan sedikitpun.
"Kamu bohong kan Key, aku gak percaya sama ucapanmu" bantah Jihan.
"Terserah kamu mau percaya atau enggak, yang penting aku udah kasih tau semuanya"
Jihan diam membeku, kemudian kembali melirik Ibra yang saat ini sedang tertawa bersama Raja dan yang lain. Jihan mengingat tentang kedekatannya dengan Ibra selama ini. Ia menunjukan perhatian tapi tak pernah di balas oleh Ibra.
"Ayo bantuin Bunda sana !"
Jihan melirik Bunda yang sedang mengaduk sayur di atas kompor yang menyala, asap nya mengepul dan menimbulkan aroma yang wangi.
"Bunda, Jihan bantu ya !" ucap Jihan setelah berdiri di samping Bunda.
"Enggak usah, ini udah mau mateng kok" balas Bunda dengan nada lembut
"Apa aku tanya Bunda aja ya tentang Ibra ?" batin Jihan.
"Emmm, Bun. Jihan boleh nanya gak ?" ucap Jihan ragu.
"Tentu boleh, memangnya nak Jihan mau nanya apa ?"
Jihan menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Apa Ibra itu beneran udah di jodohin sama kedua orang tuanya ya Bun ?" tanya Jihan hati-hati
Bunda langsung melirik Jihan, kemudian tersenyum "Memangnya kenapa ? apa nak Jihan menyukai Ibra ?"
"Hehe, enggak Bun cuman nanya aja" ralat Jihan cepat, ia tak ingin Bunda mengetahui perasaan nya pada Ibra.
__ADS_1
"Memang kedua orang tua Ibra mau menjodohkan Ibra, tapi kan belum tentu Ibra mau, kata Abinya kalau Ibra gak mau ya di batalin"