Cinta Dan Sang Pemilik Cinta

Cinta Dan Sang Pemilik Cinta
Bab 28-Mencari Cincin


__ADS_3

Karena lamaran mendadak yang akan Raja lakukan, maka beginilah jadinya, Zenia sibuk menelpon kesana-sini untuk membantunya menyiapkan apa saja yang hendak di bawa untuk seserahan.


Jelas Zenia akan membuat acara lamaran ini begitu istimewah, karena Raja adalah anak pertamanya dan ia akan menjadi mertua sekarang.


“Dek besok kejakarta ya, Raja mau lamaran” begitu kata Zenia saat menelpon Zea semalam.


“Kok dadakan Kak ?”


“Entahlah tanya saja sama Abang, pulang-pulang langsung ngebet minta kawin”


Sekitar jam 10 pagi keluarga dari Semarang sudah sampai, rumah itu menjadi ramai karena banyak keluarga.


“Masih ada yang kurang dek ?” tanya Gibran kepada Zenia.


“Untuk sekarang cukup Mas, tapi coba tanya sama Raja dia udah cari cincin nya belum” ujar Zenia.


”Ok” Gibran mengangguk setuju “Mana Abang ?”


“Di kamar”


Setelah kepergian Gibran, Zenia kembali di sibukkan dengan pekerjaan, tapi sekarang di bantu oleh banyak orang...


-----


Gibran memasuki kamar Raja, ia melihat anak pertamanya dengan Zenia sedang duduk di atas ranjang sambil memandangi layar laptop.


“Cie yang mau nikah” seloroh Gibran yang berhasil mengagetkan Raja, rupayanya Raja tak mengetahui kedatangannya.


“Eh Ayah, sini masuk” titah Raja.


Gibran mendekat, sedangkan Raja langsung mematikan laptopnya dan meletakkan di atas meja, lalu duduk bersama Gibran.


Sudah begitu lama Raja tak berbicara dengan Gibran empat mata begini, karena setelah pulang dari Turki Raja belum sempat mengunjungi Ayah Kandungnya itu.


“Padahal Ayah belum mengucapkan selamat karena sudah berhasil menjadi seorang CEO di perusahaan, eh sekarang malah mau lamaran, jadi Ayah harus ngucapin selamat dua sekaligus dong” Gibran terkekeh membuat Raja tersipu.


“Ini semua berkat doa Ayah, keberhasilan yang Abang terima tak luput dari doa Ayah” jawab Gibran


“Bukan Nak” Gibran justru menggeleng membuat kening Raja mengkerut sambil menatap wajah Gibran


“Baba Zahran yang paling banyak mendoakan keberhasilan Abang, Ayah bangga padamu karena berhasil membahagiakan Baba dan Bunda” ucap Gibran lagi.


Raja menunduk, memang ia sudah tau kalau Baba Zahran yang paling banyak mendoakan dirinya agar bisa menjadi yang terbaik, apalagi saat ia mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Zahran lah yang selalu menjaga nya siang dan malam dan tak lupa memberinya semangat.


“Semua ini adalah takdir Bang, jangan pernah menyalahkan siapapun apalagi Allah”

__ADS_1


“Allah memberikan Abang cobaan karena Allah yakin kalau Abang bisa melewatinya”


“Abang tidak sendiri karena Ada Baba yang selalu mendoakan Abang, Yang selalu menjadi orang terdepan yang mendukung Abang”


“Tak jadi tentara pun tak apa, masih banyak cita-cita yang lain untuk Abang”


Tiba-tiba sekelibat bayangan tentang ucapan Zahran kembali terlintas di pikiran Raja.


Mungkin sejak kecil Raja lebih sayang kepada Zahran dari pada Gibran, namun ia selalu menempatkan Gibran di doa pertama yang ia sebut karena bagaimana pun Gibran adalah Ayah kandungnya.


“Ayah gak nyangkah tau gak, Abang udah mau nikah” Gibran menepuk bahunya dengan pelan.


“Abang juga gak nyangkah Yah” Balas Raja, karena memang ia tidak menyangka akan menikah dengan Keyla secepat ini.


“Abang sudah dapat cincinya ?”


Dan hal yang paling Raja sesali adalah ia belum mencari cincin untuk pertunangan nya nanti malam, ia terlalu bersantai sejak pagi sambil menonton sang Bunda yang entah sibuk menyiapkan apa, ia sendiri pun enggan bertanya.


“Belum Yah” jawabnya jujur


“Sudah ayah tebak, pasti Abang belum nyari cincin nya”


Raja meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Ayo Ayah temenin”


Di sebuah Mall ternama di Jakarta, Raja dan Gibran langsung masuk ke toko perhiasan, disana Sudah banyak perhiasan dengan segala model yang dapat Raja pilih.


Namun lagi dan lagi Raja kebingungan karena ia tak tahu ukuran jari manis Keyla.


“Terus gimana Bang ?” tanya Gibran.


Raja hanya diam, mungkin bagi orang yang mendengar, akan menganggap Raja tidak benar-benar ingin menikah.


“Coba ingat jarinya sama enggak sama Bunda, atau adik-adik di rumah” Gibran kembali bertanya.


Raja berusaha mengingat, ia menyamakan Keyla dengan sang Bunda namun tidak akan sama karena sekarang Zenia sudah gemukan, lalu menyamakan dengan Adel mungkin tidak akan cocok juga karena Adel sedikit gemuk, hingga nama Zhalfa yang ia tuju, jelas Keyla dan Zhalfa sedikit mirip badanya. Tidak terlalu kurus ataupun gemuk.


“Sepertinya agak mirip sama dedek Zhal Yah”


“Ya sudah coba hubungin Zhalfa dulu”


Raja mengangguk.


“Sebentar ya mbak” ucap Raja kepada pelayan toko yang sedari tadi memperlihatkan contoh perhiasan

__ADS_1


“Kalau Zhalfa nomor 16 biasanya Bang”


“Tapi gak tau kalau sekarang mungkin sudah nomor 17 soalnya kan Zhalfa udah lama gak beli cincin”


Kepala Raja mendadak pusing demi mendengar ucapan Zhalfa yang sama sekali tak memberinya petunjuk apapun.


“Ah Zhalfa pusing mending langsung nanya sama mbak Key deh”


Yang benar saja kalau Raja harus bertanya langsung kepada Keyla, padahal Raja ingin memberinya kejutan.


Namun tiba-tiba Raja mendapati sosok yang sangat ia kenal, dan Raja yakin ia pasti bisa membantunya..


“Zio” Raja langsung memanggil nama orang itu Zio adiknya Keyla.


“Abang Raja, kenapa ?” jawab Zio yang menatap Raja dengan heran, ia sudah tau kalau lelaki didepan ini akan melamar sang Kakak nanti malam karena Alya sudah memberi tahunya.


“Oh enggak, hmmm boleh nanya gak ?” tanya Raja


“Nanya apa Bang ?”


“Keyla kalau pakai Cincin nomor berapa ?”


Zio mengernyitkan keningnya. Menatap Raja dengan penuh tanda tanya.


“Jangan salah paham dulu, Abang bukan mau main-main hanya saja Abang beneran tidak tau Key pakai cincin nomor berapa, Zio tau gak kira-kira”


Zio tampak mengangguk, walau pandangan nya tak luput dari Raja.


“No 16 kayaknya Bang, soalnya sama kayak Mommy waktu itu Zio beliin Mommy juga pas di jari manisnya Kak Key”


Legah campur bahagia rasanya, setelah mendapat informasi akhirnya Raja kembali menghampiri toko perhiasan. Raja langsung membeli perhiasan yang paling bagus untuk Keyla.


“Yakin Pas ?” tanya Gibran


“Insya Allah Yah, tadi udah nanya sama adiknya kok”


Gibran sempat menahan tawa mendengar ucapan anak pertamanya itu, untuk hal sekecil ini saja Raja tidak tahu. Itu berarti menandakan kalau Raja memang tidak pernah pacaran. Dan Gibran bangga akan hal itu.


“Jika Abang sudah nikah nanti satu pesan Ayah, jangan pernah sakiti istri kamu, Ayah tidak ingin apa yang terjadi dengan Ayah dulu kamu alami juga, cukup masalalu Ayah jadi pelajaran untuk Abang”


Raja mendengarkan nasehat dari Gibran.


Dulu memang ia tak pernah paham kenapa kedua orang tuanya berpisah namun seiring jalan nya waktu dan ia juga tambah besar Raja akhirnya paham akan hal itu.


-

__ADS_1


-


BERSAMBUNG....


__ADS_2