Cinta Dan Sang Pemilik Cinta

Cinta Dan Sang Pemilik Cinta
Berita Duka


__ADS_3

"Bang Baba kenapa ?" tanya Zenia kembali.


Namun Raja terus tak menjawab membuat Zenia langsung mendekati suaminya, sosok yang begitu ia cintai kini terlentang tak berdaya dengan mata terpejam. Sekuat tenaga Zenia menahan air matanya tapi langsung mengucur dengan deras.


Sementara Keyla langsung keluar untuk memanggil dokter, ia tahu kalau sudah terjadi sesuatu pada Ayah mertuanya itu.


Beberapa orang perawat dan seorang dokter berlari memasuki ruangan Zahran. Dokter itu langsung mengecek keadaan Zahran.


"Apa yang terjadi pada suamiku dok ?" tanya Zenia menepiskan pikiran negatifnya.


Dokter menghela nafas panjang kemudian berucap "inna lillahi wa inna ilayhi rajiun, suami anda sudah berpulang bu"


Dan saat itu juga di detik yang sama tangis Zenia dan Raja pecah, mereka mendekat dan memeluk tubuh yang kini sudah kaku itu.


"Baba" ucap keduanya serempak.


"Kenapa Baba ninggalin Abang ? kami semua masih membutuhkan Baba"


Begitupun dengan Keyla, ia juga sudah meneteskan air matanya, kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum Key, ada apa Nak ?" tanya Mommy Alya di seberang sana.


"Hiks-hiks. Mom kesini Mom ! Baba Zahran ---"


"Kenapa Nak ? apa yang terjadi ? kenapa Key menangis ?"


"Baba Zahran meninggal Mom, tolong keruma sakit sekarang. Key gak tahu harus bagaimana untuk menolong mereka"


"inna lillahi wa inna ilayhi rajiun, rumah sakit mana Nak ?"


"Rumah sakit Abraham Mom cepetan"


"Baik Mommy dan Daddi akan segera kesana. Key tenangkan yang lain dulu ya ! bentar lagi Mommy sampai"


Setelah panggilan terputus Keyla duduk mendekati suaminya, ia juga merasa kehilangan karena sosok Zahran benar-benar panutan semua anak-anaknya.


"Kenapa secepat ini Ba ? kenapa ?" kembali Raja bergumam. Rasanya seperti mimpi melihat Zahran seperti ini.


Sementara Zenia tak tahu harus mengungkapkan kesedihannya bagaimana, Suami tercintanya sudah pergi, suami yang selalu memanjakan dirinya sudah tiada.


"By" Zenia mengelus rambut sang suami "Bagaimana caranya supaya Nia ikhlas menerima semua ini ? bagaimana By ?"


"Selama ini Byby selalu mengajari Nia tentang keikhlasan tapi Byby lupa ngajari Nia mengikhlaskan kepergian Byby. Kenapa Byby kejam sama Nia ? Nia sendiri disini By ? Hiks--Hiks--hiks"

__ADS_1


Keyla berpindah tempat ia memeluk tubuh ibu mertuanya yang masih terus terisak. Zenia pun memeluk Keyla balik menumpahkan kesedihan mendalamnya dipundak sang menantu.


"Ini mimpi kan Key ? Baba tidak mungkin ninggalin Bunda sendiri"


Entahlah harus bagaimana Keyla menjawab, jawaban paling menyakitkan itu harus terucap dari bibirnya.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, ada Zhalfa yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan heran, langkahnya begitu pelan mendekati semuanya, degup jantungnya begitu kencang.


"Bun" panggil Zhalfa.


Zenia mendongak dengan air mata yang begitu deras menetes bahkan cadar yang melekat di wajahnya sudah basah karena air mata.


"Baba kenapa Bun ?" tanya Zhalfa.


"Sini dek" panggil Raja


Zhalfa mendekat, lalu menatap Zahran yang kini kedua tangannya sudah di letakkan didada. "Tangan Baba kenapa begitu Bun ? lepasin Bun ! adek gak suka lihatnya" ucap Zhalfa dengan suara serak.


Zenia menggeleng "Baba sudah pergi dek, dia ninggalin kita semua tanpa pamit"


"Tidak, adek gak percaya tadi pas adek tinggal Baba masih tersenyum sama adek" bantah Zhalfa.


Raja menarik tangan Zhalfa lalu memelum adik kecilnya itu dengan erat.


"Ini gak mungkin kan Bang ? Baba gak mungkin ninggalin kita"


Tak berapa lama Mommy dan Daddi Keyla sampai, Keyla langsung memeluk tubuh sang Mommy dengan erat.


...✨✨✨✨✨...


Disebuah kontrakan elit seorang wanita cantik yang sedang mengenakan jas berwarna putih tengah menatap dirinya di pantulan cermin. Ia akan berangkat kuliah lagi hari ini untuk menentukan hasil sidang skripsinya karena kurang lebih dua bulan lagi insya Allah ia akan wisuda dan akan menyandang gelar kedokteran.


Cita-citanya menjadi seorang dokter sudah sejak kecil, dan bersyukur karena ia bisa mewujudkan cita-citanya.


Hingga ponselnya yang terletak di atas meja belajar menggelegar tanda ada panggilan masuk, Adel langsung melihat ponselnya dan mengernyit heran melihat nomor baru yang menghubunginya.


"Halo Assalamualaikum" sapa Adel dengan sopan.


"Wa'alaikumsalam, ini Adel ya ?"


"Iya betul, maaf dengan siapa saya bicara ?"


"Saya Mommynya Keyla, mertuanya Raja"

__ADS_1


"Oh ibu, ada apa Bu ? maaf Adel belum punya nomor ibu"


"Tidak apa-apa, Adel bisa pulang ke Jakarta sekarang gak ?"


"Memangnya kenapa ya Bu ? kok dadakan begini ?"


"Baba Zahran meninggal Nak, tolong Adel pulang Ya ! kata Bunda pemakaman akan di laksanakan kalau Adel dan Arda sudah pulang"


Mendengar kabar itu tentu saja Adel kaget luar biasa, padahal baru kemaren ia teleponan dengan Zahran sambil menceritakan tentang kegiatannya di Yogya, terus kenapa hari ini ia malah dapat kabar seperti ini.


"Ibu jangan bohong, ! Baba kemaren habis teleponan kok sama Adel"


Namun bukan jawaban yang Adel dengar karena sekarang telinga dengan jelas mendengar suara tangisan Bunda dan Zhalfa. Iya suara itu Adel sangat hapal suara itu.


"Tolong apapun yang terjadi sama Baba, tungguin aku pulang !"


Tuuut.


Panggilan terputus, air matanya menetes dengan deras. Ia menggenggam ponselnya dengan keras serta menggigit bibir bawahnya supaya tangisnya tak pecah.


Tapi percuma sekuat tenaga Adel menahan tangisnya malah itu akan membuat dadanya terasa sesak, ingatan nya tertuju saat kemaren ia teleponan dengan Zahran suara lembut itu banyak memberikan nasehat untuknya.


"Zea Adellah Putri Arsalaan. Putrinya Baba yang paling cantik, jaga diri baik-baik ya ! kelak jika sukses nanti jangan lupa sedekah ! jangan lupa sama orang tua. Adel punya adek lagi yaitu Zhalfa jadi Baba harap kalian akan selalu akur. Jangan bertengkar untuk hal-hal sepeleh, Semoga kalian berempat yaitu Raja, Arda, Adel dan Zhalfa akan selalu kompak, Baba sayang sama kalian semua, Baba titip Bunda ya jaga dia baik-baik jangan di bikin nangis terus"


Bagi Adel kemaren Baba hanya sedang mengungkapkan kata biasa saja, tapi ternyata itu kalimat terakhir yang Baba ucapkan untuknya.


"Baba, kenapa secepat ini ? Adel belum wisuda padahal Adel ingin Baba bisa menyaksikan Adel wisuda nanti"


Tak ingin menunggu lama Adel langsung memesan mobil untuk mengantarkan ke Jakarta, walau ia punya mobil pribadi tapi Adel lebih baik mencari kendaraan lain saja, karena menyetir disaat pikiran sedang kacau bukan lah hal yang baik.


...✨✨✨...


"Apa, Ini tidak mungkin baru kemaren Arda teleponan sama Baba, dan baru kemaren Baba kirimin Arda uang" teriak Arda di sambungan telepon


Sama seperti Adel, Arda pun tak ingat,kini laki-laki yang bernama lengkap "Zain Ardafa Putra Arsalaan" sedang terduduk tak berdaya di ruang kelas, padahal hari ini ia akan kembali menerbangkan pesawat karena memang Arda akan segera menjadi Pilot tapi semua itu harus di urungkan karena Arda harus pulang ke Indonesia.


****


LIKE DAN KOMEN.


ADD FAVORIT


RATE BINTANG LIMA

__ADS_1


KASIH HADIAH (BUNGAH / KOPI )


VOTENYA JANGAN LUPA.


__ADS_2