Cinta Dan Sang Pemilik Cinta

Cinta Dan Sang Pemilik Cinta
Bab 71


__ADS_3

"Kamu sudah besar tapi masih aja tukang ngadu" gerutu Daddi Kenan.


Namun ternyata semua itu di dengar oleh Momy Alya, "Ngadu apa Dad ?" tanya Momy.


Dengan gerakan cepat Daddi mematikan sambungan telepon, lalu menatap sang istri dengan senyum paling menggemaskan. Momy menatap heran suaminya ia tau kalau sudah begini ada yang di rahasiakan sang suami.


"Kamu kenapa ?"


Daddi menggeleng, bisa gawat kalau Momy Alya tau yang telah ia lakukan, bisa-bisa malam ini ia tidur di luar lagi.


Karena tak mendapat jawaban dari sang suami, Momy lantas menelpon Keyla, ia yakin bisa mendapatkan jawaban dari putrinya itu.


"Gawat !" batin Kenan.


"Sayang !" Kenan mendekati istrinya.


"Aku mau mandi, temenin yuk !"


Alya menatap suaminya dengan heran "Biasanya kan mandi sendiri, kenapa minta di temenin ?"


"Biar romastis Sayang ,kan udah lama kita gak romatisan"


Alya bergidik ngeri, "Enggak ah, kamu mandi aja sendiri ! lagian aku juga habis mandi"


Kenan memanyunkan bibirnya "Jahat " ucapnya kesal,.tapi tangan kirinya mengambil ponsel sang istri untuk ia sembunyikan kedalam saku celana.


"Ngapain nih bibir di majuin begini ? minta di ikat !"


"Kamu ini makin tua kenapa makin galak sih Mom"


Alya menyengir "Ya kamunya makanya jangan mancing emosi ku terus dong ! udah tua juga"


✨✨✨✨✨


Di Restoran ---


Jihan sengaja datang ke Restoran itu untuk menemui Ibra, menurut informasi yang ia dapat Ibra mengurus restoran milik keluarga Raja.


Sebelum turun dari mobil Jihan memperhatikan penampilan nya dahulu "Ok udah cantik, dan ingat rukun islam ada 5 bukan 6" gumamnya.


Ternyata Jihan masih mengingat pertanyaan Ibra waktu itu, ia sengaja menghapalnya supaya bisa mendekati Ibra.


Mata Jihan langsung berbunga-bunga saat melihat cowok tinggi yang mengenakan kemeja dengan lengan yang di gulung membuat pria itu semakin terlihat tampan saja di mata Jihan.


"Mas Ibra" ucap Jihan yang kini sudah berdiri di samping Ibra.


"Apa kabar Mas ?"


Ibra menatap Jihan tanpa ekspresi "Baik"


"Mas Ibra mau kemana ?"


"Pulang"


"Emmm, Mas aku udah hapal loh rukun islam yang Mas tanyakan" ucap Jihan dengan bangga.


Ibra kembali menatap Jihan, ia tak menyangka kalau wanita itu masih mengingat pertanyaa nya waktu itu. Ibra tertawa didalam hati padahal rukun islam adalah pertanyaan paling muda baginya. Tapi bisa-bisa nya Jihan salah.


"Mau aku sebutkan ?" tanya Jihan.


"Hmmmm" jawab Ibra malas.


"Rukun Islam ada 5.



__ADS_1


Membaca dua kalimat syahadat.




Mengerjakan Sholat.




Mengerjakan Puasa Ramadhan.




Membayarkan Zakat.




Naik Haji bagi yang sudah mampu."




Beberapa pengunjung menatap Jihan dengan heran ,karena bagaimana bisa Jihan menyebutkan semua itu dengan suara lantang yang bisa di dengar oleh semua orang.


"Bagaimana Mas ? Aku bisa kan minta di anterin pulang ?" tanya Jihan


"Bisa, dimana rumah mu ?" tanya Ibra. Tentu ia harus menepati janji untuk mengantarkan Jihan pulang apalagi Jihan sudah berusaha menjawab pertanyaan nya.


"Asik ! Makasih ya Mas" balas Jihan tersenyum bahagia "Ah gak sia-sia aku hapalin rukun islam selama ini" batin Jihan.


"Di perumahan cempaka, apa Mas Ibra sudah mau nganterin aku sekarang ?"


"Iya lebih cepat lebih baik"


Apa maksudnya ? Lebih cepat lebih baik . Tapi sudahlah yang penting Ibra mau mengantarnya pulang.


Ibra membuka pintu mobil bagian belakang, membuat Jihan mengernyit "Kok di belakang ?"


"Mau di anterin gak ?"


"Mau Mas, tapi aku kan ingin di depan"


"Kursi di depan hanya untuk orang istimewa dalam hidupku !"


Deggg.


Jantung Jihan rasanya berhenti berdetak, jadi ia bukanlah orang yang istimewah dalam hidup Ibra. Jihan menatap pintu mobil yang masih terbuka sementara Ibra sudah naik ke kursi kemudi.


Din-Din-Din.


Ibra membunyikan klakson mobil berulang kali membuat Jihan terhenyak kaget. "Jadi gak ?" teriak Ibra dari dalam mobil.


"Jadi mas" jawab Jihan. Tidak apa untuk kali ini ia duduk di belakang kelak entah kapan itu Jihan pasti akan berpinda duduk di samping Ibra


Bukankah harapan itu adalah doa ? jadi tidak apa-apakan kalau Jihan berharap bisa bersanding dengan Ibra.


"Mas Ibra sudah punya pacar ?" tanya Jihan memecahkan keheningan.


"Pacaran di larang takut ada Zina"

__ADS_1


"Kalau calon istri ?"


"Aku belum memikirkan untuk menikah"


"Kalau temat dekat ?"


"Pertanyaan mu begitu banyak, dan dimana rumah mu ? ini sudah sampai di perumahan cempaka"


Jihan melirik sekitar. Kenapa cepat sekali sampainya ? padahal Jihan baru saja memberikan beberapa pertanyaan, apa karena ia terlalu menikmati di antar Ibra makanya Jihan tak sadar kalau mereka sudah sampai.


"Berhenti di rumah berpagar merah Mas !" titah Jihan.


Ibra mengangguk, tepat di depan pagar besi berwarna merah yang Jihan katakan. Ibra menghentikan mobilnya.


"Makasih ya Mas !" ucap Jihan namun tak beranjak sedikitpun.


"Silahkan turun saya banyak kerjaan !" pinta Ibra.


✨✨✨✨✨✨✨


Sementara di rumah...


Raja dan Keyla sedang memindahkan perlengkapan bayi dan menyusunya dengan rapih di ruang kerja milik Raja. Mereka sengaja meletakkan semua itu supaya tak selalu menatap barang-barang tersebut.


"Biar Abang saja Sayang ! kamu jangan capek-capek ingat kamu sedang hamil" ujar Raja.


"Baik Bang" Keyla menurut, ia tak ingin membantah suaminya.


Hingga akhirnya semua nya selesai. Barang-barang bayi tersusun dengan rapih. Awalnya Keyla berniat untuk di sumbangkan saja ke panti asuhan tapi Raja melarang karena takut Daddi Kenan tersinggung dan akhirnya marah.


Selesai beres-beres Raja duduk di kursi kebesarannya dan menarik sang istri untuk duduk di atas pahanya.


"Abang".Pekik Keyla.


"Suuut, jangan teriak-teriak entar di dengar Bibi gak enak"


"Tapi Key mau turun Bang !"


"Nanti dulu Sayang, Abang mau mangku kamu dulu. Entar kalau udah hamil gede kan bisa mangku"


"Iyalah mana kuat Abang mangku Key, pasti berat"


Raja terkekeh, ia mencium pipi Keyla dengan gemas sehingga membuat Keyla merasa kegelian.


"Kalau udah lahiran Abang ajak Ke Turki mau ?"


"Mau ngapain Bang kesana ?"


"Rencananya Abang mau lanjut S2 itupun kalau kamu setuju"


"Ya pasti Key setuju lah Bang, kan demi karir Abang juga"


"Iiih pinternya istriku"


Keyla menyandarkan kepalanya di pundak sang suami, sementara Raja menghidupkan laptop untuk mengecek email yang David kirimkan, di layar utama terdapat foto keluarga saat pernikahan Raja dan Keyla.


"Abang" panggil Keyla.


"Hmmm"


"Kalau anak kita laki-laki Key ingin deh wajahnya seperti Baba Zahran !"


"Kenapa begitu ?"


"Supaya mengobati rasa rindu nya Bunda, Arda , Adel dan Zhalfa. Key yakin kalau mereka masih sangat berat merelakan kepergian Baba"


Raja menghela nafas panjang " bukan cuman mereka Neng, Abang juga walaupun Abang bukan anak kandung Baba, tapi Baba lah yang merawat Abang sampai besar."..

__ADS_1


"Emmmm. Kalau Bunda nikah lagi bagaimana Bang ?" tanya Keyla yang sangat menyimpang dari topik pembicaraan.


"Kalau Abang gak masalah Bunda mau nikah lagi, tapi cinta Bunda buat Baba itu udah besar banget mau keliling dunia sekalipun tidak akan ada yang sama seperti Baba"


__ADS_2