
Malam harinya setelah selesai acara pengajian, namun keadaan rumah masih sangat ramai, lantunan ayat suci Al-Quran terus terdengar. Bunda Zenia hendak masuk kedalam kamarnya, namun saat melewati ruang persholatan ia seperti melihat sosok suami yang sedang mengaji, dengan langkah cepat Zenia masuk kesana.
"By" panggil Zenia dengan suara serak menahan tangis.
"Ada apa Kak Nia ?" ucap Zaidan.
Detik itu juga air mata Zenia mengalir dengan deras, tadi ia benar-benar seperti melihat sosok suaminya yang sedang duduk bersila sambil membaca Al-Quran namun nyatanya ia salah lihat, yang berada di ruangan itu adalah Zaidan adik suaminya.
Tanpa menjawab sepata katapun Zenia pergi meninggalkan adik iparnya, melangkah dengan kaki panjang menuju kamarnya. Kamar yang biasa ia tempati bersama sang suami.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dengan lebar, kamar yang biasanya di huni dua orang kini hanya tinggal seorang, Zenia sudah tak kuat menahan tangisnya, ia ingin meraung dan melepaskan sesak didadanya
"Kenapa kamu tega By ? kenapa ? apa kamu tidak kasihan dengan hidupku ? Bagaimana caranya aku ikhlas By ?"
Dada yang terasa sesak itu kian mendesak seperti terhimpit benda besar. Zenia duduk di atas ranjang dimana suaminya sering tidur disana, seketika bayangan tentang kebersamaanya dengan Zahran berputar layaknya Film, bagaimana keduanya tertawa saling bercanda.
Zenia menggelengkan kepalanya ketika ingatannya tak pernah lupus dari sang suami. Ia mengelus bantal yang biasa Zahran gunakan. Kemudian Zenia bangkit dan berjalan menuju lemari, ia ingin mengenakan baju Zahran malam ini untuk menenangkan pikirannya yang gunda.
Sebuah kemeja berwarna hijau toska menjadi pilihan utamanya. Wangi khas tubuh Zahran masih melekat di kemeja itu, Zenia memeluk dan mencium dalam-dalam kemeja yang saat ini di dadanya.
Hingga matanya tertuju pada sebuah buku berwarna biru yang selama ini Zenia tak tahu.
"Buku apa ini" gumam nya
Ia mengambil buku itu lalu beranjak menuju sofa untuk melihat isinya, Zenia membalik sampul buku itu dan tertulis Untuk Istriku Tercinta Zenia Shakila.
"Ini tulisan mu By"
"Kenapa selama ini aku tak tahu mengenai buku ini"
Sebuah tulisan tangan Zahran sudah tertulis dengan indah di setiap lembar kertas berwarna putih.
__ADS_1
"*Assalamualaikum sayang ku"
"Entahlah kenapa Byby tiba-tiba ingin menulis di buku ini, seperti anak ABG saja kan ? ku harap Sayang jangan menertawakan Byby ya atas kekonyolan ini"
"Waktu itu pada hari Kamis tanggal 15 februari menjadi pertama sekali aku mengenal seorang wanita mengenakan dress selutut tapi begitu sangat cantik, ketika kakek dari wanita itu memperkenalkan nya padaku ia begitu angkuh tapi aku tetap tersenyum, ku kira dia berwatak seperti itu namun ternyata salah apalagi saat ku temui ia menangis sambil meraung membuat dada ini tiba-tiba terasa sesak. Dan mataku langsung membulat saat dengan jelas ia hendak bunuh diri*"
Zenia kembali mengusap air matanya, membaca tulisan dari sang suami. Ia ingat betul hari itu adalah hari pertemuan pertamanya bersama Zahran, laki-laki tampan bertubuh tinggi.
"*Ku kira itu hanya pertemuan kami sesaat namun ternyata Allah menakdirkan dia untuk menjadi istriku. Masya Allah. Aku benar-benar terharu karena bisa menjadi suami dari wanita cantik itu.
"Apalagi saat panggilan Byby terucap dari bibirnya membuat jantungku terasa berhenti berdekat, juga panggilan Baba dari seorang anak kecil yang membuat hariku menjadi lebih berwarna"
"Sayang istriku tercinta saat kamu membaca tulisan ini itu berarti Byby sudah pergi jauh. Byby tak tahu siapa yang paling dulu pergi kamu atau Byby, tapi Byby harap Bybylah yang pergi dulu, karena anak-anak masih sangat membutuhkan bundanya. Dan Byby juga tak mau merasakan rindu yang begitu besar hehe. bercanda sayang* !"
Tangis Zenia semakin pecah membaca kalimat demi kalimat yang tertulis disana.
"Lalu apa Byby pikir Nia gak akan merasa rindu ? atau anak-anak sudah tidak membutuhkan Babanya. ? kami semua membutuhkan Byby, dan rindu yang Byby maksud sudah bertakhta dengan besar di hati Nia by, entah dengan cara apa rindu ini terobati" ucap Zenia.
...✨✨✨✨✨...
Raja sudah mulai menjalani harinya walau masih terasa sangat berat, dan Arda serta Adel juga mau tak mau harus kembali ke tempat kuliah mereka apalgi Adel akan wisuda bulan depan.
"Aku berangkat dulu ya Sayang, kamu baik-baik dirumah. Jagain Bunda ya !" ucap Raja.
"Iya Bang, hati-hati di jalan ! Key akan jagain Bunda dengan baik kok" balas Keyla.
Setelah kepergian Baba Zahran keduanya memutuskan untuk tinggal di rumah utama sementara waktu, sampai Bunda Zenia kembali ceria seperti dulu, bukan seperti sekarang yang banyak diam.
Tubuh Bunda Zenia pun sedikit kurus, sepertinya ia masih sangat berduka kehilangan sang Suami.
Setelah Raja berangkat Keyla menuju dapur untuk membawakan Bunda Zenia sarapan.
"Bun" panggil Keyla setelah masuk kedalam kamar.
__ADS_1
Bunda Zenia mendongak "Iya Nak"
"Sarapan dulu Bun ! pasti Bunda belum sarapan kan"
"Nanti saja Nak, Bunda belum laper"
Keyla justru tersenyum "Bunda mau di marahin sama Abang lagi karena badan Bunda makin kurus"
Bunda menggeleng, "Tidak Nak"
"Makanya Bunda makan yang banyak !"
Mau tak mau Bunda Zenia menurut, ia memakan sedikit demi sedikit makanan yang di suapkan oleh Keyla.
Namun beberapa saat kemudian Keyla merasakan perutnya mual dan ingin muntah, dengan segera Keyla meletakkan makanan itu keatas meja lalu berlari kekamar mandi, perutnya terasa di aduk-aduk tak karuan.
Uweeek--Uweeekk.
Keyla mengeluarkan isi dalam perutnya, bahkan sampai cairan kekuningan pun ikut keluar membuat mulut Keyla terasa sangat pahit.
Karena khawatir Bunda langsung menyusul menantunya, ia membantu memijiti tengkuk Keyla yang sampai sekarang masih terus memuntahkan isi dalam perutnya.
"Key kenapa nak ?" tanya Bunda.
"Gak tau Bun udah mau seminggu Key ngerasa seperti ini" Keyla mengusap bibirnya menggunakan tisu "Perut rasanya gak enak banget, kepala pusing dan saat mencium aroma yang menyengat membuat Perut Key rasanya bergejolak" jelas Keyla lagi.
Bunda menempelkan punggung tangannya di kening Keyla "Gak panas kok" gumam Bunda.
"Aku gak papa Bun paling cuman masuk angin biasanya juga gitu, nanti minta Abang olesi minyak angin di punggung langsung sembuh kek nya"
"Key sudah datang bulan ?" tanya Bunda mengalihkan pembicaraan.
Keyla berpikir sebentar, ia kembali mengingat jadwal mensnya bulan lalu ia masih datang bulan tapi bulan ini belum sama sekali. Mungkin karena terlalu sibuk dengan kepergian Baba Zahran membuat Keyla lupa jadwal Mensnya.
__ADS_1
"Belum Bun"