
"itu berarti kamu memang tak benar-benar mencintai adek saya, karena kalau kamu mencintai Rara kamu akan berjuang"
Kalimat yang Raja ucapkan seperti sebuah hantaman besar untuk Iqbal, laki-kaki itu masih duduk termenung, masih menatap Raja dengan tatapan tak bisa di artikan.
Sementara sang pemilik suara memainkan ponselnya, tak peduli dengan tatapan Iqbal.
Benar apa yang di katakan Raja, jika memang Iqbal mencintai Rara ia akan berjuang tanpa memperdulikan omongan sekitar, tapi apa yang ia jawab, ia dengan tegas memberi tahu kalau ia akan mengikhlaskan Rara.
Sungguh alasan yang klasik bukan ?
"Obrolan kita sudah selesai, saya sudah tau jawaban kamu" ucap Raja hendak berdiri dari duduknya, namun dengan cepat Iqbal menahan.
"Tunggu dulu Mas !" ucap Iqbal.
Raja mengernyit menatap Iqbal "Ada apa lagi ?"
"Saya belum selesai bicara"
"Ya sudah bicaralah !" Akhirnya Raja kembali duduk, ia ingin mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh Iqbal.
"Pertama-tama saya mohon maaf Mas, tapi saya mohon tolong restui hubungan saya dan Rara, saya begitu mencintai Rara"
"Saya janji akan membahagiakan dia"
serentetan kaliamat Iqbal membuat Raja terus menatapnya, Raja mendengarkan dengan jelas apa ucapan Iqbal...
"Ucapan kamu selalu beda-beda, tadi katanya kamu akan mengikhlaskan Rara jika saya tak memberi restu, terus kenapa sekarang berubah lagi"
Iqbal kembali menelan salivanya, mungkin karena gugup dan merasa tak pantas sehingga kata itu terucap oleh mulutnya, padahal di lubuk hatinya yang paling dalam Iqbal sangat mencintai Rara.
"Saya akan berjuang Mas" ucap Iqbal dengan kepala menunduk, biarlah ia akan dikatakan laki-laki tak punya komitmen karena selalu beda-beda jawaban.
Raja meraih ponselnya, lalu menyerahkan kepada Iqbal. "Catat nomor kamu disini !" pinta Raja dengan tegas.
Dengan tangan gemetar Iqbal meraih ponsel mewah itu, lalu mencatat nomor HP nya dengan buru-buru "Sudah Mas" ucap Iqbal sambil memberikan ponsel Raja.
πππππ
Sementara itu.
Keyla dan Rara sedang asik berjalan-jalan, namun Rara tampak tak bersemangat karena ia begitu penasaran apa yang di katakan oleh Abangnya.
Berulang kali Rara mengecek ponselnya untuk melihat siapa tau Raja menghubunginya untuk kembali, namun nyatanya sampai sekarang tak ada pesan dari Raja dan itu membuat Rara menghela nafas panjang.
"Kenapa dek ? kok gelisah sekali ?" tanya Keyla pura-pura tidak tahu padahal ia tahu kalau adek iparnya itu sedang gunda.
__ADS_1
"Nungguin Abang, mbak. Kenapa lama sekali"
Keyla tersenyum "Sabar ya, mbak telefon dulu"
Rara mengangguk ia membiarkan Keyla menelpon Raja.
"Halo Assalamualaikum Bang" ucap Keyla setelah panggilan tersambung dengan Raja.
"Waalaikum salam, iya Neng"
"Sudah selesai belum Bang ?"
"Sudah Neng, kemarilah !"
"Baik kalau begitu"
Setelah itu panggilan terputus, "Ayo kembali ketempat Abang !! udah selesai katanya" ajak Keyla.
Mendengar itu Rara langsung semangat, "Yuk Mbak"
Namun saat hendak melangkah keluar dari toko itu mereka berpapasan dengan Tasya, seperti biasa Rara akan kegirangan saat melihat wanita cantik itu, seperti sedang bertemu dengan teman lama.
Begitupun dengan Tasya yang langsung menyambut Rara dengan senang, berbeda saat Tasya memandang Keyla terlihat raut kekesalan dimatanya yang dapat Keyla tangkap.
"Hai kita ketemu lagi" ucap Keyla basa-basi.
"Sama Abang dan mbak Key" jawab Rara antusias.
"Oh ya" Tasya tampak girang "Lalu dimana Raja ?"
"Di restoran depan sana ! Ini aku sama mbak Key mau balik kesana"
Dan kali ini Tasya menatap Keyla dari atas sampai bawah, menilai penampilan Keyla, lalu berbisik pada Rara.
"Raja sudah berapa lama menikah dek ?" bisik Tasya namun masih di dengar oleh Keyla.
"Sudah setahun Kak" jawab Rara "Iyakan Mbak Key" tanya Rara pada Keyla.
Keyla menjawab dengan anggukan, walaupun ia tak tahu tujuan Tasya menanyakan usia pernikahannya dengan Raja.
"Udah punya anak ?" kali ini pertanyaan Tasya di tujukan pada Keyla, membuat Keyla berani menatap wajah Tasya.
"Belum Kak, masih proses" Rara yang menjawab.
Tasya mencibir dan kembali menatap Keyla "Udah lama menikah tapi belum punya anak juga, atau jangan-jangan" Tasya sengaja menggantung ucapan nya.
__ADS_1
"Ayo dek, entar Abang lama nungguin" Keyla menarik tangan Rara, mengabaika Tasya sendiri.
Ucapan Tasya membuat relung hatinya terluka, ia tahu kemana arah pembicaraan Tasya tadi, sama seperti yang lain saat menanyakan tentang anak padanya.
Jujur ia sudah melakukan apa saja supaya cepat hamil, namun walaupun usaha sudah di lakukan dengan keras jika Allah belum menakdirkan untuk dirinya hamil, Keyla bisa apa ? Anak itu titipan dari yang maha kuasa.
Perlahan cairan bening itu mulai menetes, seiring dengan langkah kakinya menuju restoran tempat suaminya berada..Bahkan Keyla mengabaikan ocehan Rara.
"Mbak Key kenapa ?" kini Rara menyadari diamnya Keyla, di tambah punggung tangan Keyla yang menghapus air mata.
"Mbak Nangis" ucap Rara lagi.
Keyla menggeleng "Lebih cepat dek kasian Abang udah nungguin" jawabnya berbohong walaupun Rara pasti sudah tau kalau dirinya menangis karena suara seraknya.
Keyla merasa perjalanan menuju restoran terasa sangat jauh, ia sudah tak sabar bertemu sang suami lalu memeluknya dengan erat.
Hingga mata Keyla melihat suaminya berdiri di depan restoran sambil tersenyum kearahnya.
"Sendiri Bang ? Mas Iqbal mana ?" tanya Rara langsung setelah mereka berdiri di depan Raja.
"Didalam, silahkan ngobrol dulu ! tapi jangan dekat-dekat !" jawab Raja memberi peringatan.
"Baik Bang"
Barulah setelah kepergian Rara, Raja menatap kearah sang istri ia langsung heran melihat bekas tetesan air mata di pipi istrinya.
"Kamu nangis Neng ? ada apa ? siapa yang menyakitimu ?" tanya Raja beruntun.
"Aku mau pulang Bang, aku mau pulang ke Jakarta" ucap Keyla.
"Kenapa Sayang ? cerita sama Abang ada apa ?"
Keyla tak menjawab, ia tak ingin menjelaskan kalau tadi bertemu dengan Tasya dan ia menangis karena ucapan Tasya.
Tidak !!
Keyla tidak ingin di cap sebagai istri pengadu, lagian belum tentu juga ucapan Tasya akan berkata seperti yang ada di pikiran nya.
"Neng" Raja kembali memanggil.
"Ada apa ? kenapa Menangis ? cerita sama Abang" ucap Raja dengan lembut.
"Tidak ada Bang, tadi mungkin kena angin makanya mata Key sakit dan berair" jawab Keyla berbohong.
"Maafkan Key Bang ! maaf karena Key bohong sama Abang, Key hanya gak ingin Abang membenci seseorang, biarlah semua ini Key pendam sendiri" batin Keyla sambil menatap suaminya nanar.
__ADS_1
"Kita pulang ke Jakarta yuk Bang" Keyla kembali mengulang kata serupa.
"Baik Sayang besok pagi kita pulang"