
"Abang semalam kemana ?" tanya Keyla setelah dirinya dan sang suami menyelesaikan sholat Subuh berjama'ah.
Raja menoleh "Kekamar Bunda Neng, kenapa kok tahu Abang keluar ? perasaan pas Abang kembali kekamar kamu masih tidur dengan nyenyak"
"Semalam Key pingin pipis makanya kebangun, eh taunya Abang gak ada. Tapi mau nyariin Key ngantuk banget makanya tak biarin aja"
Raja justru tergelak, kemudian membelai rambut panjang istrinya. Tak lupa ia mendaratkan satu ciuman di kening sang istri.
"Neng, Abang mau bicara sama kamu" ucap Raja dengan mimik wajah yang serius.
Keyla menganggukan kepalanya "Silahkan Bang, akan Key dengerin kok"
Raja meraih pergelangan tangan istrinya kemudian menumpunya pada paha, ia genggam tangan sang istri dengan lembut. Semalam ia sudah membicarakan pada Bunda tentang permintaan Daddy yang ingin Keyla lahiran dengan jalan Caesar.
"Abang semalam sudah rundingan sama Bunda tentang proses lahiran kamu nanti. Jika memang dengan operasi kamu akan baik-baik saja Abang akan izinkan"
"Kok gitu Bang, kan kita udah setuju kalau persalinan nanti normal saja"
"Iya Abang ingat itu, tapi Abang gak ingin membantah Dadddy, kamu tau Daddy lakukan itu semua karena dia sayang banget sama kamu, dia tidak ingin putri yang paling ia sayangi kesakitan"
Keyla menundukan kepalanya, entahlah dia sendiri bingung dengan semua ini. Haruskah ia lahiran Caesar atau Normal saja sesuai permintaan Keyla sendiri.
"Key belum mau mutusin Bang, pokoknya Key akan tanya ke dokter dulu !" balas Keyla.
"Aaaawwwssss" tiba-tiba Keyla menjerit kesakitan, ia memegangi perutnya hingga membuat Raja panik.
"Sayang kenapa ? apanya yang sakit ?" tanya Raja penuh dengan kekhawatiran
"Enggak papa Bang, ini dedeknya nendang kencang banget makanya sakit"
Raja mengelus perut buncit sang istri, kemudian membungkukan kepalanya sehingga wajah Raja sejajar dengan perut istrinya.
"Sayang, kok nendangnga kencang sekali ? kasiankan Ibunya ?" ucap Raja dengan lembut. Sebenarnya keduanya belum meresmikan panggilan untuk anak mereka nanti. Keyla ingin anak nya memanggil Mama dan Papa, sementara Raja ingin Abi dan Umi. Tapi heran nya selama ini keduanya memanggil Ayah dan Ibu entahlah yang mana yang akan keduanya pakai.
Keyla terkekeh, ia mengelus rambut suaminya dengan gerakan lembut. "Abang udah siapin nama belum untuk dedeknya nanti ?"
"Belum Neng, nanti saja kalau dia udah lahir"
πππππ
Setelah sarapan bersama Raja langsung pamit untuk berangkat kerja, sementara Keyla ingin kerumah kedua orang tuanya. Ia ingin minta maaf karena semalam sudah membuat Daddy marah.
Karena tidak ingin Keyla menyetir mobil sendiri, akhirnya Raja mengantar Keyla terlebih dahulu.
__ADS_1
"Mau beli sesuatu gak Neng ?" tanya Raja tanpa mengalihkan tatapannya.
"Enggak Bang"
Raja mengangguk. Jalanan sudah macet padahal masih pagi.
Tidak berapa lama keduanya telah sampai di depan rumah mewah milik kedua orang tua Keyla. Raja menghentikan mobilnya tapi ia langsung pamit karena ada pertemuan di perusahaan pagi ini
"Titip salam buat Daddy dan Momy ya ! Maaf Abang gak bisa mampir"
"Iya Bang, mereka pasti akan ngerti. Abang hati-hati di jalan !"
"Jangan pulang dulu kalau Abang belum jemput"
Keyla mengangguk ia mencium punggung tangan sang suami dan di balas ciuman kening dari Raja.
"Assalamualaikum Bang"
"Wa'alaikumsalam" balas Raja.
Keyla membuka pintu mobil, ia berdiri di pinggir jalan sambil menatap kepergian sang suami. Setelah mobil suaminya tak lagi terlihat barulah Keyla masuk kedalam rumah megah itu.
Seperti biasa kedatangannya akan di sambut dengan antusias oleh Momy, sementara Daddy tak bicara sedikitpun. Ia hanya menatap Keyla tanpa ekspresi.
"Maafin Key ya Dad ! Maaf karena semalam Key bikin Daddy kesal dan marah. Bukan maksud Key untuk membantah Daddy"
Sebagai seorang Ayah, tentu saja Daddy akan luluh mendengar permintaan maaf anaknya. Daddy mengelus punggung Keyla.
"Maafin Daddy juga karena udah egois padahal kamu sudah punya suami yang lebih berhak memutuskan semuanya. Daddy terlalu lancang. Tapi harus Key tahu semua itu Daddy lakukan karena Daddy sayang sama Key, Daddy gak tega lihat Key kesakitan"
"Key tahu Dad, Key tahu semua itu" tak terasa air mata Keyla menetes, begitupun dengan Momy yang terharu melihat kedekatan Suami dan anaknya.
Keyla melepaskan pelukannya, lalu beralih memeluk Momy. "Maafin Key ya Mom"
"Iya Nak" balas Momy dengan lembut
ππππππ
Sementara itu di Restoran Jihan sudah datang, tapi hari ini ia ingin mengatakan semua nya pada Ibra. Ia ingin jujur tentang perasaannya jika Ibra tak mau membalas maka Jihan akan mundur.
Tidak apa-apa kalau ia akan di katakan wanita tak tahu diri karena mengungkapkan perasaannya pada cowok duluan, karena bagi Jihan lebih baik seperti itu dari pada memendam perasaan sampai tua.
Dari kejauhan Jihan sudah menatap seseorang yang sedang berjala menuju restoran, seperti biasa jika melihat kedatangan Ibra jantung Jihan akan berdetak dengan kencang.
__ADS_1
"Assalamualaikum Mas Ibra" sapa Jihan.
Ibra terlonjak kaget "Waalaikumsalam" balas Ibra sambil mengelus dadanya karena kaget.
"Kamu ngapain sih kesini pagi-pagi sekali ?" tanya Ibra lagi.
"Aku mau ngomong sama kamu Mas, penting banget"
"Maaf aku gak punya waktu, aku sedang sibuk"
"Please, bentar aja Mas. Janji deh gak bakalan lama"
Ibra menatap wajah Jihan sejenak, terlihat sekali kesungguhan di wajah Jihan membuat Ibra tak enak hati kalau harus menolak.
"Baiklah, kita ketaman di dekat sini" ujar Ibra.
Jihan tersenyum senang akhirnya ia bisa membuka semua perasaan nya "Makasih Mas"
Tanpa banyak tanya lagi, Ibra berjalan duluan sementara Jihan berjalan di belakang Ibra. Keduanya berjalan dengan diam karena gak ada yang mau membuka pembicaraan.
"Bicaralah ! jangan berbelit-belit" ujar Ibra
Jihan menghela nafas panjang "Sebelumnya aku mau minta maaf sama Mas Ibra karena selama ini udah ganggu ketenangan Mas Ibra, selalu bikin Mas Ibra kesal dan merasa terganggu dengan kehadiran Jihan"
Ibra tak menjawab sedikitpun tapi otaknya mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Jihan.
"Tujuan Jihan ngajakin Mas Ibra kesini, Jihan hanya ingin Mas Ibra tahu kalau selama ini Jihan suka sama Mas Ibra. Jihan sayang sama Mas Ibra"
"Mungkin bagi Mas Ibra perasaan Jihan hanya angin lalu, tapi Jihan jujur bahwa cinta Jihan untuk Mas Ibra tulus"
"Sekarang Mas Ibra tau kan kalau Jihan suka sama Mas. Enggak papa kok kalau Mas Ibra gak akan balas perasaan Jihan, karena Jihan sadar diri. Terima kasih karena Mas Ibra bersedia mendengar kan perasaan ku kali ini. Mulai hari ini Jihan gak bakal ganggu Mas Ibra lagi."
Ibra terhenyak kaget, bukan karena mendengar penjelasan tentang perasaan Jihan, melainkan tentang ucapan Jihan kalau mulai hari ini ia tidak akan mengganggu dirinya. Entahlah kenapa rasanya Ibra tak ingin kehilangan Jihan. Wanita cepla-ceplos itu berhasil membuat perasaan nya berbunga-bunga hanya saja selama ini Ibra terlalu pintar menutupinya.
"Kalau begitu Jihan permisi ya Mas. Assalamualaikum"
Sudah 3 langkah Jihan pergi, dengan cepat Ibra menghentikannya.
"Tunggu !"
"Ku mohon jangan pergi ! aku sudah nyaman dengan mu. Maafkan aku karena aku gak bisa jujur tentang perasaan ku"
"Kalau kamu bersedia aku akan melamar kamu dengan cepat !"
__ADS_1
Teriakan Ibra berhasil membuat langkah kaki Jihan berhenti. Ia mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa ucapan Ibra bukanlah khayalan semata.